
Yi Changyin membuka matanya setelah terlelap entah seberapa lama. Tubuhnya terasa remuk akibat aktivitas semalam yang tak seperti biasanya. Hingga ia hanya bisa menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang melayang-layang. Tak memperdulikan pria yang masih terlelap di sampingnya.
Pikirannya kembali singgah pada saat malam tadi. Ketika Feng'er yang menceritakan sedikit-sedikit tentang alam peri, kemudian danau penghancur jiwa yang bisa di tembus langsung dari puncak gunung Tianjin.
Membuat banyak pertanyaan di benaknya yang sebagian harus di telan sia-sia.
Mendorong ia untuk mendudukan diri walaupun masih terasa pegal-pegal di seluruh badannya. Ia beranjak berdiri, berjalan perlahan menuju ujung kasur.
Menyalakan energi spiritual di ujung jarinya, menyentuh udara kosong seperti ada benda di sana. Tak lama kemudian terbentuk menjadi cermin besar mengambang.
Ia menatap lamat-lamat pantulan dirinya dalam kaca. Sampai pergerakan di dalam berada di luar kendalinya.
Yi Changyin yang berada di dalam pantulan cermin adalah sosok Bai Suyue. Wanita itu tersenyum ke arahnya, tak lama Yi Changyin membalasnya samar.
"Ada apa? Apakah ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Bai Suyue langsung pada intinya.
"Mengenai pintu masuk alam peri, apakah..." Yi Changyin menggantungkan kalimatnya karena melihat Bai Suyue mengangguk.
"Ya, puncak gunung Tianjin adalah pintu masuknya."
Membuat Yi Changyin menganga.
"Tapi.. ketika masuk kau tidak akan langsung menemukan danau penghancur jiwa. Hanya yang seperti yang digambarkan nona Xiaoxuan.."
Membuat Yi Changyin mendongkak. Ia lebih tertarik pada poin terakhir dari kata-kata Bai Suyue. Yaitu 'hanya seperti yang di gambarkan nona Xiaoxuan.' Karena Bai Suyue tidak mungkin mengenal gadis itu. Mendorong ia untuk bertanya, "bagaimana.. kau bisa tahu?"
Bai Suyue terkekeh geli mendengarnya.
"Tentu saja aku tahu, aku tidak tidur. Aku adalah kau, kau adalah aku.."
Namun saat itu juga Yi Changyin memerah malu, "artinya.. perbuatanku tadi.."
Dan membuat Bai Suyue semakin terbahak.
"Tenang saja. Aku hanyalah gumpalan jiwa yang sebentar lagi akan menjadi milikmu. Untuk apa malu pada diri sendiri?"
Yi Changyin tertegun. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain menunjukkan wajahnya yang memerah pada bayangan wajahnya sendiri.
Walaupun apa yang di katakan Bai Suyue benar, tapi tetap saja wanita itu masih seseorang yang lain dari dirinya. Ketika seseorang yang lain menyadari apa yang dia lakukan malam tadi, tentu saja malu akan terasa sampai ubun-ubun.
"Lupakan hal tadi.. aku tahu kau masih bertanya-tanya mengapa pintu alam peri bisa berada di sini."
Yi Changyin sudah berniat menjawab, tapi Bai Suyue kembali mendahului. "Karena memang sedari dulu pintu alam peri berada atas daratan tengah, dan gunung Tianjin tepat terbentuk beberapa waktu sebelum perang di mulai. Juga.. perubahan kondisi alam peri yang tidak masuk akal. Aku akan menjawab itu semua."
Suasana begitu hening namun terasa begitu tegang, sebelum Bai Suyue melanjutkan kata-katanya, "fokuskan pikiranmu.."
Yi Changyin menurut begitu saja. Namun sedetik kemudian pandangannya seperti di masuki oleh sejumlah cahaya menyilaukan. Namun tak membuat ia terganggu. Hingga semua kembali normal, melihat tempat yang asing baginya..
Flashback on.
Bai Suyue menatap lubang jurang yang di penuhi dengan kabut awan berkilat-kilatkan petir itu dengan nanar. Yang sekelilingnya adalah kebun-kebun hijau menyegarkan mata.
__ADS_1
"Maafkan aku.." Ia bergumam sebelum akhirnya pergi menjauhinya dengan sebilah pedang tergenggam erat di tangannya. Dengan topeng yang kembali utuh seperti semula, tak terlihat tembus pandang.
Tubuhnya bersinar hebat, kemudian setiap langkahnya memberikan perubahan pada tempat itu. Ladang hijau yang terhampar berubah menjadi tanah kering yang tandus.
Gunung dan bukit bak menjadi debu dalam sesaat kemudian menghilang tanpa sisa. Rumah-rumah unik, wanita-wanita dan anak-anak menghilang tanpa jejak, seperti semua yang berada di sana.
Kini keadaan alam peri sudah seperti tanah terbengkalai yang kering dan tandus. Tanpa rintik hujan apalagi telaga air yang jernih. Berangsur-angsur awannya berubah menjadi merah berdarah.
Dan semua itu terjadi hanya karena kekuatan aneh Bai Suyue yang tidak dapat di definisikan.
Matahari bersinar semakin terik tapi tak membuat barisan jutaan orang yang berbaris itu mengeluh kepanasan.
Bai Suyue berhenti di depan mereka. Para prajurit yang terdiri dari pengawal istana peri yang benar-benar terlatih dan warga laki-laki yang sudah cukup usia. Mereka berbaris rapi sesuai dengan kelompoknya, berkuda dan tidak.
Pedang tersaring di pinggang, busur beserta anak panah sudah tersampai di punggung. Juga tombak dengan ujung yang runcing dan mengkilap yang akan bisa melayangkan nyawa dalam satu tusukan. Mereka.. telah siap untuk berperang.
"Semua wanita dan anak-anak akan terlindungi di bawah formasi.." Saat itu Bai Suyue mulai menjelaskan. Suaranya menggema dan nyaris terdengar jelas di berbagai juru jutaan manusia peri itu.
"Mereka tidak akan melihat atau merasakan peperangan kita. Hidup mereka akan tentram selamanya. Hanya saja tidak bisa keluar dari dunia para peri. Tapi.." Ia tersenyum. "Itu bukan masalah bagi mereka bukan?"
"Ratu peri memang bijaksana!!" Seru salah satu prajurit yang merupakan jendral pasukan dan berada di barisan terdepan. Yang di sambut oleh riuh pujian prajurit yang lain. Dan berhenti ketika Bai Suyue menunjukkan telapak tangannya.
"Tunggu sampai aku kembali. Ada yang harus ku kerjakan di luar sana." Tambah Bai Suyue pada sang jendral prajuritnya.
"Baik, Ratu!"
Bai Suyue sempat menyisir pandangannya pada jutaan prajurit itu. Sebelum akhirnya pergi berbalik dengan sebilah pedang ramping berwarna perak yang mengkilap di tangannya.
Kemudian ia muncul di atas gumpalan awan yang membumbung. Udara kosong yang mengalami fluktuasi kembali normal. Namun samar di matanya kalau terdapat lubang pintu masuk di sana.
Bai Suyue menatap ke bawah. Daratan luas alam manusia yang begitu menghampar. Tepat di bawahnya adalah hutan lebat dan tak berpenghuni. Bai Suyue sudah memeriksa hal itu dengan hitungan detik.
Kemudian pedang di tangannya ia tempatkan pada udara kosong. Pedang bersinar kekuningan yang begitu kuat. Bai Suyue terus mengendalikan formasi yang mengikat pedang itu untuk terus bertahan di atas permukaan kosong.
Sementara tanah jauh di bawah kakinya bergetar hebat. Menunjukkan pergerakan aneh dan tidak bisa di sebutkan kalau itu hanyalah gempa semata.
Tanah di sana retak-retak dan sebagian pohon tumbang karena sesuatu yang pastinya besar telah keluar secara paksa. Seolah tertarik oleh cahaya dari pedang pusaka kebanggaan Bai Suyue.
Pedang dengan kekuatan dentingannya yang bisa menggetarkan semesta dengan hebat. Juga mengeluarkan cahaya yang bisa saja membelah tempurung kura-kura. Tentu saja dengan kekuatan sayatan yang bisa membelah bulan dalam sekali tebasan.
(Note : 'kekuatan dentingannya bisa menggetarkan semesta dengan hebat' dan 'sayatan yang bisa membelah bulan' itu cuman perumpamaan. Yakali bisa menggetarkan seluruh alam semesta sampai meruntuhkan bintang-bintang dan bulan bisa dibelah dua yakan:v)
Para manusia yang tinggal di sekitar hutan itu terlihat panik. Ada yang berlarian tak tahu arah, melindungi anak istrinya, dan ada juga mulai membereskan barang-barang. Mungkin mereka mengira ini adalah semacam bencana alam.
Di sisi lain, tiba-tiba pedang Bai Suyue melemparkan cahaya aurora kesegala arah. Hingga perisai pelindung berbentuk tabung berdiri di semua arah perbatasan hutan.
Hingga getaran yang terasa hanya berada di dalam hutan tak berpenghuni itu. Para manusia yang sedari tadi kocar-kacir kini hanya tertegun kebingungan. Lalu melihat ke dalam tabung perisai tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Melihat jelas apa yang terjadi. Walaupun sosok kecil bersayap itu terlihat samar. Bahkan ada yang sempat mengatakan,
"Apakah dia malaikat dari surga?"
__ADS_1
Sementara di dalam tabung perisai getaran itu terasa semakin hebat. Dan Bai Suyue masih mengatur-atur formasi di tangannya dengan tenang. Hingga selesai dan sesuatu yang berwarna kuning mengkilat-kilat ia arahkan pada pedang pusaka miliknya.
Dari pedang, aura dan volume cahaya semakin kuat dan besar. Mengarah pada tengah-tengah yang menjadi sumber bergetarnya hutan ini. Bak makhluk besar di tusuk oleh sesuatu yang tajam, dari dalam tanah itu terdengar suara raungan yang begitu keras.
Membuat pohon-pohon di sana tumbang karena angin besar yang tiba-tiba datang di sana. Bahkan Bai Suyue yang sedang menatap titik tengah hutan terkena kibasan angin besar itu. Yang bagi tubuh mungilnya hanya seperti hembusan angin sepoi-sepoi.
Dan.. BOOMM!!
Tanah di titik tengah itu tiba-tiba meledak hingga tanah berhamburan keluar. Diiringi dengan raungan keras yang memekakkan telinga. Sangat mengerikan. Namun Bai Suyue hanya menatapnya tenang sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada.
Sesosok burung raksasa dengan bulu berwarna ungu selingan hijau. Berleher panjang dan berparuh berwarna merah tua. Ekor panjang berwarna putih bak ular dan dua tanduk berbulu senada bertahta di kepalanya
Monster itu menggila, ia terus meraung sambil berputar-putar di tempat dan kadang kali menabrak perisai dengan keras. Hingga membuat para manusia yang menyaksikan sedikit ketakutan dan menjauh dari sana.
"BERHENTI!!"
Teriakan Bai Suyue sukses membuat ia tersentak dan membelalakkan matanya. Dalam sekejap monster burung itu berada di hadapannya dengan kepala yang menunduk.
"Bagaimana, apakah kau menyesal, Zhen Niao?" Tanya Bai Suyue seperti seorang prajurit yang tengah mengintrogasi tahanannya. Dan berhasil membuat monster bernama Zhen Niao itu beringsut namun merasa tak bisa kabur sama sekali.
Zhen Niao hanya bisa mengangguk lesu yang membuat Bai Suyue menyunggingkan senyuman tipis.
(Note : Zhen Niao adalah nama yang diberikan kepada burung bulu beracun yang dikatakan telah ada di tempat yang sekarang disebut Tiongkok Selatan pada zaman kuno dan dirujuk dalam banyak mitos, catatan sejarah, dan puisi Tiongkok. Racunnya di kenal dengan nama Zhendu. Dan dagingnya sangat beracun, konon sering digunakan sebagai alat pembunuhan)
(Sumber : Wikipedia)
"Baiklah!" Bai Suyue berseru. "Karena puluhan ribu tahun lalu kau membahayakan banyak makhluk alam peri, dosamu tidak akan bisa bersih hanya karena di kurung dalam tanah yang panas."
Zhen Niao terbelalak dan terlihat memelas. Namun kembali beringsut saat Bai Suyue memelototinya. Walaupun ia sendiri memiliki rupa seram, tapi menurutnya gadis bertopeng itulah yang lebih seram.
"Aku ingin kau menjadi gunung dan menjaga pedangku.." Tambahnya yang membuat Zhen Niao menghela nafas pasrah.
"Kau akan tetap terjaga dan merasakan semua yang terjadi." Jedanya. "Dan juga.. tidak akan ada yang bisa menemukanmu." Bai Suyue tersenyum miring.
Membuat monster burung itu gemetaran.
Tanpa meminta anggukan persetujuan dari monster besar Zhen Niao, Bai Suyue sudah bergerak di luar dugaan. Dimana pedang pusaka yang kuat miliknya tertancap di kepala Zhen Niao, tepat di tengah-tengah tanduk berbulunya. Membuat ia meraung kesakitan dan ambruk ke tanah, menimbulkan gempa besar di dalam tabung perisai. Detik berikutnya sebuah pergerakan menakjubkan terjadi...
.......
.......
.......
Gambaran burung Zhen Niao👇
(Sumber : Google)
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1