
Srett!!
Yue Xingfei waspada karena kedatangan seseorang itu begitu cepat dan tak terdeteksi. Hingga pedang putih ramping dalam bayangan yang tak terlihat segera ia keluarkan.
"Siapa kau?!"
"Xuan Chen?!"
Yi Changyin dan Yue Xingfei berseru secara bersamaan. Membuat mereka saling melirik sebelum akhirnya Yue Xingfei menyarungkan kembali pedangnya.
"Maaf bibi, aku tidak mengenali suaranya." Ujar Yue Xingfei terlihat menyesal.
Yi Changyin hanya tersenyum menatapnya. "Tidak apa-apa. Tapi itu cukup untuk membuktikan kalau kau adalah orang yang berhati-hati."
Sejurus kemudian terdengar suara gesekan antar berlian. Di susul dengan menyembulnya kepala Xuan Chen dari luar.
Yi Changyin mengembangkan senyumannya. "Kemari.."
Dengan bangga, Xuan Chen menyibakkan tirai dan berjalan ke arahnya. Sementara itu Yue Xingfei pamit undur diri.
Ketika sempat saling berpapasan, Yue Xingfei melirik sekilas Xuan Chen. Dalam hatinya ia berkata, 'Mengapa pria ini seperti seseorang?" sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu kemudian melupakannya kembali.
Namun entah kenapa saat itu kepala Xuan Chen dilanda sakit yang kuat. Ia berhenti di tengah-tengah tangga, meminjit keningnya seraya merasakan pening yang menusuk-nusuk kepalanya.
"Xuan Chen, apa yang terjadi?" Tanya Yi Changyin panik.
Baru ia berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri Xuan Chen. Pria itu sudah terlebih dahulu terjatuh pingsan.
Untung saja Yue Xingfei dengan cekatan menahannya dari belakang. Memudahkan Yi Changyin untuk meraih dan memapahkan ke kursi singgasana.
Yue Xingfei tak jadi pergi, gadis itu kembali bergegas ke sampingnya di singgasana. Selagi Yi Changyin membaringkan tubuh Xuan Chen yang wajahnya sudah memucat.
"Dia seperti keracunan." Ujar Yi Changyin pada Yue Xingfei. Wajahnya terlihat sangat cemas.
Gadis itu termenung sesaat, sebelum akhirnya menemukan sesuatu. "Apakah.. karena racun alam peri?"
Yi Changyin tertegun mendengarnya. Sejurus kemudian ia mendesis sambil memijit pangkal hidungnya.
"Mengapa aku bisa melupakan hal itu?" Desisnya merasa miris dengan diri sendiri.
Ia lupa betul kalau di alam peri ini memiliki sebuah racun yang dapat menyerang siapa saja yang masuk sembarangan. Bukan karena tidak diizinkan, melainkan tidak memiliki darah alam peri.
Jika berlama-lama di sana, racun akan terus berkumpul memenuhi semua organ vitalnya. Setelah itu gejala akan mulai terlihat. Mulai dari pusing, lemas kemudian pingsan.
Bibir dan wajah yang pucat seperti kehabisan darah. Tidur berhari-hari juga sampai berbulan-bulan. Jika tidak terbangun dalam jangka waktu tiga bulan, maka ia sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Hal semacam ini pernah menjadi kehebohan karena seorang Dewa tertinggi yang keracunan ratusan ribu tahun lalu. Karena memang sampai saat ini tidak ada penawarnya, Dewa tertinggi itu meninggal dunia.
Menyalahkan alam peri pun tidak ada gunanya. Semua orang tahu, ratu alam peri hanya akan menyalahkan balik karena memasuki alamnya tanpa izin.
Hingga informasi ini pun di tutup. Akses masuk ke alam peri tidak dibuka lagi. Hingga di rumorkan bahwa siapa saja yang memasuki gua itu akan langsung masuk ke dalam danau penghancur jiwa.
Padahal, danau penghancur jiwa jauh berada di Utara, sedangkan pintu masuk atau keluar berada di Selatan.
Untung saja saat masa pemerintahan Bai Jiyuan atau ibu dari Bai Suyue, penawar dari racun itu ditemukan.
Hingga Bai Suyue yang merawat Feng'er dan Heilong disana selama puluhan tahun tidak merasa khawatir. Makanan yang keduanya makan pertama kali terdapat kandungan penawar sekaligus pembersih racun yang sudah memasuki tubuh.
Ya, sayangnya penawar itu hanya akan membersihkan racun yang jumlahnya sedikit. Sedangkan Xuan Chen sudah seharian penuh berkeliling alam peri bersamanya. Itu tidak akan berguna.
Sedangkan jika ingin penawar itu bekerja, racun harus sudah membuat ia menjadi seperti mayat hidup. Tidak mati ataupun tidak hidup. Dan Xuan Chen baru saja terkena gejala, belum jelas apakah racun itu sudah membuat organ vitalnya rusak atau tidak.
"Tidak ada cara lain selain aku menyerap racun ini." Saat itu Yi Changyin sudah membuat keputusan.
__ADS_1
Namun keputusan itu membuat Yue Xingfei menggeleng tidak setuju. "Walaupun bibi kuat, tapi kekuatan bibi belum pulih sepenuhnya. Aku takut, kau tidak akan bisa mengendalikan racunnya ketika bersarang di tubuhmu."
Yi Changyin hanya tersenyum haru melihat kekhawatiran sepupunya. "Xingfei, ini semua karena kecerobohanku, yang dapat membunuhnya kapan saja. Jadi.. siapa yang harus bertanggung jawab? Aku bukan?"
"Tapi kami berlima juga lupa akan hal itu. Harusnya kami juga bertanggung jawab bukan?!" Yue Xingfei tampak mendesak. Sepertinya gadis itu ingin ikut-ikutan menampung racun.
"Mereka berempat tidak bisa. Karena harus mengurus alam peri ini untukku. Dan kau, adalah penerusku. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu."
"Tapi一!"
Protesnya terpotong di udara, ketika tangan Yi Changyin mengusap pipinya.
"Kau adalah satu-satunya keturunan marga Yue. Satu-satunya sepupuku. Aku sungguh tidak mau kehilangan dirimu.." Yi Changyin tetap meyakinkan.
Namun wajah Yue Xingfei masih tak bisa meyakinkan. "Bagaimana dengan dirimu?"
Yi Changyin mendesis sambil menepuk-nepuk pundaknya. "Setelah kematian Dewa kegelapan akulah sosok terkuat di dunia ini. Jadi.. jangan khawatir."
Yue Xingfei hanya terdiam. Dia masih tak mau berbicara karena tak setuju dengan keputusan bibinya.
Dan Yi Changyin tidak bisa membuat Yue Xingfei pergi begitu saja. Gadis itu pasti akan terdiam sampai Yi Changyin memutuskan apa yang dia inginkan.
Akhirnya Yi Changyin menghela nafas. "Saat aku masih menjadi Dewi seperti biasa, aku selalu mendapatkan luka besar karenanya."
Hal itu membuat mata Yue Xingfei membulat, menunjuk Xuan Chen yang sedang terbaring pucat penuh emosi. "Dia?!"
"Itu semua di sebabkan olehku. Kemudian aku bertanggung jawab. Lihatlah.." Yi Changyin merentangkan kedua tangannya, menunjukkan kalau ia sedang baik-baik saja. "Apakah ada yang salah dengan tubuhku?"
"Semuanya baik-baik saja bukan?" Tanya Yi Changyin lagi meyakinkan.
Yue Xingfei akhirnya menundukkan kepala. Kemudian mengangguk. "Baiklah, tapi aku punya beberapa syarat."
"Apa itu?" Yi Changyin tetap menatapnya dengan senyuman.
"Biarkan dia menjauhimu."
"Aku tahu kalian sudah menikah secara sembunyi-sembunyi. Aku melihatnya dengan kakek bulan. Tapi.. kumohon jauhi dia. Aku takut hal lain akan terus menghampiri dan terus membuatmu terluka." Jedanya.
"Dan aku takut perjuanganmu akan sia-sia."
Sederetan kalimat Yue Xingfei yang terakhir, membuat ingatannya kembali singgah pada suatu saat, kira-kira satu tahun lalu. Mengingat ucapan-ucapan Shen Lan.
"Kau pikir menjadi Dewi tertinggi itu mudah?!" Bentak Shen Lan. "Coba kau pikirkan bagaimana menderita dan susahnya di kurung dalam pagoda penyucian itu? Yang bahkan bisa membuatmu mati sia-sia.
Belum lagi kau harus menerima lima puluh cambukan petir, apakah kau akan kuat di usiamu yang masih muda ini?"
Lalu setelah itu kau akan mengorbankan darah suci rubahmu?! Lalu mengabiskan setengah energi spiritual untuk memecahkan formasi?" Shen Lan berdecak kesal. "Aku sungguh tak yakin kau akan selamat jika seperti itu.."
"Dan.. aku takut apa yang kau perjuangkan akan sia-sia.."
Apakah benar? Yang di perjuangan hanya akan berakhir sia-sia?
"Bibi? Berjanjilah padaku.." Yue Xingfei tampak memohon.
"Aku tidak akan.."
"Bibi!"
"Aku tidak akan!" Kali ini nada Yi Changyin meninggi.
"Bibi! Dia memiliki banyak kemiripan dengan Wu Yun!"
Membuat Yi Changyin mendongkak sambil melotot. "Jangan sembarangan berbicara!"
__ADS_1
"Dia selalu membuatmu sakit, apakah kau tidak sadar?!" Nada bicara Yue Xingfei lebih tinggi lagi. Tersirat kekhawatiran yang kentara di matanya.
"Dan seharusnya ia keracunan beberapa jam lalu bukan?! Mengapa ia begitu kuat menahannya?! Apalagi selain Xuan Chen memiliki darah alam peri!"
"Itu tidak ada hubungannya dengan Wu Yun!" Nafas Yi Changyin memburu, ia juga merasa jantungan saat mendengar kata-kata Yue Xingfei. Namun hatinya tetap tidak percaya.
"Aku tidak percaya.. Bagaimana kau bisa beranggapan seperti itu? Sedangkan kau tidak pernah melihat wajah Wu Yun sekalipun. Bahkan aku tidak pernah!"
Kemudian Yi Changyin menunjuk pada Xuan Chen. "Dia Wu Yun? Tidak mungkin!"
"Bibi, apakah kau pernah melihat dia memakai topeng?" Tanya Yue Xingfei tiba-tiba. Auranya terasa sangat serius.
Yi Changyin menggeleng. Ekspresinya masih sama seperti tadi.
Gadis itu masih menatapnya lekat-lekat. "Saat itu.."
Kemudian Yue Xingfei bercerita tentang ingatannya saat kakek bulan membawa Yi Changyin dan Xuan Chen ke paviliun perjodohan.
Saat itu Yi Changyin dan kakek bulan sedang berbincang-bincang di ruang tengah. Hua Mu Dan tak terlihat oleh matanya. Sementara ia menghampiri Xuan Chen yang sedang melihat-lihat topeng cinta kakek bulan.
"Itu adalah topeng cinta, tuan muda."
Yue Xingfei memperkenalkan barang itu pada Xuan Chen. Begitu menarik perhatian, hingga pria itu segera memakai topengnya sambil menoleh ke arah Yue Xingfei.
"Apakah Yi Changyin akan menyukainya jika aku seperti ini?"
Belum dia menjawab, tiba-tiba suara Hua Mu Dan terlebih dahulu mencegah.
"Sebaiknya kau jangan memakai topeng itu."
Membuat ia dan Xuan Chen menatap Hua Mu Dan heran.
" Bukankah itu tidak masalah, kakak Hua?" Dia bertanya.
Hua Mu Dan menggeleng. "Sebaiknya, kau tidak memakai topeng apapun di hadapan nona Yi, atau kau akan menyesal."
Walaupun kata-kata Hua Mu Dan sangat aneh, tapi kentara terdapat kilat keseriusan di matanya. Membuat Xuan Chen urung untuk memakai topeng itu dan menunjukannya pada Yi Changyin.
"Karena saat itu aku tidak mempunyai ingatan tentang Wu Yun, aku tidak mempermasalahkannya lagi. Dan melupakan semuanya seolah tak pernah terjadi." Yue Xingfei melanjutkan ceritanya.
"Namun tadi.. ketika aku menatap dia dari samping, seketika aku mengingatnya dengan jelas."
"Juga kakak Hua, dia tahu. Namun berusaha menyembunyikannya." Tambahnya.
"Aku tidak percaya itu!" Seru Yi Changyin sambil menggebrak meja.
Yue Xingfei tahu, kalau Yi Changyin bukannya tidak percaya. Ratu semacam dia pasti selalu berfikir jauh, kenyataan seperti ini pasti akan dipertimbangkannya.
Namun karena Xuan Chen adalah satu-satunya pria yang berada di hatinya, Yi Changyin menjadi sedikit tidak percaya.
"Jika masih tidak percaya, cobalah.." Ujar Yue Xingfei sambil mengeluarkan sebuah topeng hitam dengan energi spiritualnya.
Yang langsung disambar oleh tangan Yi Changyin. Dia menatap Xuan Chen yang pucat dengan topeng di tangannya. Dengan nafas yang memburu dan jantung yang meloncat-loncat, perlahan tangannya bergerak demi memasangkan topeng pada wajah Xuan Chen.
Ini tidak berbahaya, karena topeng yang dikeluarkan Yue Xingfei adalah topeng hitam biasa.
Saat terpakai pas di wajah Xuan Chen, mata Yi Changyin membulat. Emosinya sudah meledak hingga ia melemparkan topeng itu dan membakarnya dengan api murni berwarna biru di udara.
"Tidak mungkin!!"
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉