The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XLV - Mimpi terburuk Sepanjang Masa


__ADS_3

Pemandangan aula utama akademi Tianjin yang beberapa jam lalu tampak rusak kini berangsur-angsur membaik. Berkat kerja keras beberapa orang yang masih berada di sana. Walaupun satu orang terus menerus memberenggut tanda tak sudi untuk mengerjakannya, Wei Qiao.


Semua orang hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sangat malas untuk menanggapi gadis manja itu. Namun tiba-tiba Aoyi Jinqi menghampirinya -tanpa disadari- dengan senyuman misterius.


Saat semakin dekat, dia pura-pura menyapu dan tidak melihat sosok di sana. Namun dengan sengaja, Aoyi Jinqi menabrak Wei Qiao hingga sesuatu jatuh tanpa di sadarinya.


"Ah, maaf kakak seperguruan.."


"Bisakah kau memperhatikan langkahmu?!" Teriak Wei Qiao mengundang tatapan dari orang-orang. Terutama Yu Qinghan yang menjadi pengawas di sana.


Tapi Aoyi Jinqi tak berkata-kata lagi. Dia tersenyum miring lalu berlalu begitu saja dengan berani. Membuat Wei Qiao semakin menyala-nyala. Merasa tak di hargai oleh adik seperguruan bungsunya.


"Kau?! Beraninya kau?!"


Semua orang hanya diam membiarkan Wei Qiao disana dan Aoyi Jinqi pergi tanpa permisi. Namun Yu Qinghan menangkap sesuatu di bawah kaki Wei Qiao. Tanpa ragu dia segera menghampirinya, mengambil benda itu dengan tanda tanya di wajahnya.


Dua benda yang merupakan plakat keluarga Wei dan jarum berkepala emas dia teliti dalam-dalam. Wei Qiao terbelalak melihatnya. Seketika jantungnya berpacu dua kali lebih kencang. Lengkap dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.


"Guru Yu.." Tangannya bergerak hendak meraih benda penting di tangan Yu Qinghan. Tapi pria itu segera menjauhkannya dengan ekspresi yang gelap. Pertanda dia sudah mengetahui apa yang terjadi.


"Darimana kau mendapatkan benda ini?" Tanyanya dengan dingin melebihi suhu di musim salju.


"Itu.. itu.." Wei Qiao tidak tahu harus berkata apa lagi. Lidahnya kelu seolah dibekukan oleh hawa dingin Yu Qinghan. "Aku.. aku.."


"Jelas-jelas disini tertulis nama keluarga Wei. Tapi.. ada sedikit yang mencurigakan.." Ucapan Yu Qinghan sontak menarik semua orang yang berada di sana untuk merapat.


Membuat Wei Qiao semakin gelisah. Diam-diam dia menatap tajam ke arah Aoyi Jinqi yang memperhatikannya dari jauh -masih dengan senyuman miring.


"Guru.. itu.. memang plakat keluarga Wei. Tidak.. tidak ada yang salah, bukan?" Ucap Wei Qiao gagap sambil meremas pakaiannya. Mulai menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan, hingga Yu Qinghan semakin tertarik untuk mempermainkannya, lalu mendorongnya ke dalam jurang hukuman yang mengerikan.


"Itu benar.. Tapi.." Yu Qinghan mengangkat tinggi-tinggi jarum berkepala perak itu. Wei Qiao sudah bersikap tak karuan, tak bisa lagi mengontrol ekspresinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi selain cemas.


Jelas membuatnya mengeluarkan lebih banyak keringat dingin, ketika wajah Yu Qinghan berubah menyeramkan. "Kau pikir aku tidak mengenali benda ini?!"


Wei Qiao tersentak dan langsung menekuk lututnya di hadapan Yu Qinghan. Dia tidak mau mengakui, tapi dunia ini memaksanya untuk mengakui. Dia pun hanya bisa menekuk lututnya tanpa berkata-kata apapun. Tertekan.


"Guru, memangnya benda apa itu?" Tanya Jing Rou, murid perempuan keempat akademi Tianjin. "Sampai kau merasa tidak nyaman melihatnya?" Tambahnya, mewakili semua murid dan pelayan yang sedang berkumpul mengelilingi Wei Qiao.


Yu Qinghan menghela nafas sebelum akhirnya menjelaskan, "plakat dan jarum ini saling berhubungan. Mungkin kalian belum pernah membacanya di paviliun Zhishi (Perpustakaan), karena buku itu memang berada di tempat yang susah untuk ditemukan."


Semuanya mengangguk mengerti. Walaupun setiap Minggu para guru menghimbau mereka agar membaca di sana, tidak mungkin akan terjamah semuanya dalam waktu tiga bulan. Terlebih ruangan itu sangatlah luas dan berisikan ribuan gulungan pengetahuan.


(Bnr gak sih nama perpusnya? Lupa di catat nih author wkwk)


Yu Qinghan melanjutkan, "jarum ini adalah artefak langka yang dapat mengurung siluman dalam plakat. Sekarang.. apakah kalian paham maksudku?"


Semua orang terdiam, mencerna ucapan Yu Qinghan dengan seksama. Namun tak berselang beberapa lama mereka mulai mengerti sesuatu. Mata mereka langsung tertuju pada Wei Qiao yang sedang bertekuk lutut di bawah.


"Jadi kau?!" Seru Jing Rou sambil menunjuk pada Wei Qiao.


"Tidak! Tidak! Ini pasti salah paham.." Wei Qiao mengelak. Tapi di sambut oleh ejekan semua orang. Membuat matanya memanas, kemudian menangis.


"Guru, mungkin ini hanya kebetulan. Plakatku.."


"Percayalah, aku dapat mencium bau yang sama dengan siluman yang mengacaukan akademi kita. Masih mau mengelak?"


Wei Qiao menggeleng kepala. Sambil menulikan telinganya dari cacian teman-temannya. Namun dia teringat pada sosok yang menabraknya tadi. Wei Qiao langsung menoleh ke arah Aoyi Jinqi yang -masih- tersenyum miring ke arahnya.


"Dia!" Tunjuknya ke arah Aoyi Jinqi. "Dia baru saja menabrakku dengan sengaja. Pasti dia yang sengaja menjatuhkan plakat beserta jarumnya untuk memfitnahku!!"


"Bukankah itu plakat milik keluarga Wei?" Sahut Yu Qinghan dengan sinis. "Lalu.. mengapa bisa ada pada murid bungsu?"


Wei Qiao mendadak tersudutkan kembali. Mengapa otaknya begitu bodoh?! "Itu.. itu.." Jedanya seraya menyusun kata-kata mendadak di pikirannya. "Dia bisa melakukan.. se.. segala cara untuk memfitnahku!"


"Berhenti membual.." Sahut Aoyi Jinqi tiba-tiba. "Aku melihat apa yang terjadi padamu hari itu.."


Wei Qiao semakin terbelalak, "apa kau bilang?!"


(Flashback on)


Malam yang sejuk di musim gugur ini membuat keinginannya tergerak untuk berjalan-jalan di sekitar akademi. Melihat-lihat pohon yang tampak rontok sepanjang perjalanan menuju pertigaan. -Sambil membanding-bandingkan antara alam iblis miliknya dan alam fana ini-


Sedikit menggosok-gosok tangannya yang terasa beku dan kebas. Tapi perhatiannya teralihkan pada objek menarik tak jauh di hadapannya. Tampak Wei Qiao sedang berhadapan dengan Yi Changyin dan Xuan Chen. Yang pastinya kedua orang itu sudah pulang dari alam langit, tempat musuh abadinya. Ya, permusuhan yang muncul tak ber-alas.


Tapi sepertinya dia telah ketinggalan berita, karena saat itu Yi Changyin dan Xuan Chen sudah bergerak ke arahnya. Dan Wei Qiao tampak bersungut-sungut di tempat. Ini bukan waktunya untuk menunjukkan diri pada mereka, Aoyi Jinqi memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon dekat sana.


"Ada apa? Kau harus segera tidur. Kakakmu akan mencemaskanmu."


"Tidak mau, aku lapar.."


"Kau kembali lah dulu. Aku akan mengantarkan makanan untukmu.."


"Tidak, aku ingin memasak bersamamu. Yaa?"


Kira-kira seperti itulah yang terdengar oleh telinga Aoyi Jinqi. Walaupun dia sedikit muak dengan kata-kata manja kedua anak muda ini. Walaupun dahulu sampai sekarang dia suka bermanja pada Zhang Bixuan, tapi kadang usia selalu menyadarkannya dan merasa aneh.


Namun adegan selanjutnya membuat dia tak berdaya. Yang benar saja, mereka akan berciuman?! Tapi pandangannya beralih pada arah lain. Yang sangat menarik perhatiannya.


Dimana Wei Qiao sedang berada tak jauh dari mereka. Mengeluarkan jarum berkepala emas yang sangat familiar di matanya. Jelas, dia adalah ratu iblis yang hampir mengetahui segalanya. Jarum yang mengikat siluman dalam sebuah plakat.


Dia melihat segala teknik dan gerakan yang di lakukan Wei Qiao. Jelas tebakannya tidaklah keliru. Aoyi Jinqi tahu betul siapa yang di tergetkan oleh Wei Qiao. Yaitu Yi Changyin.

__ADS_1


Terlalu lama gelisah, sampai dia tidak sadar kalau siluman itu sudah menyerang mereka lebih dulu dari yang di bayangkan. Namun tak mungkin dia untuk tidak membantu, Aoyi Jinqi diam-diam menyerang siluman itu dengan kekuatan iblisnya. Bertepatan dengan terlukanya Xuan Chen hingga muntah darah. Lalu di susul dengan teriakan Yi Changyin.


Dia masih berusaha untuk menyerang walaupun tak satupun yang lolos. Sebenarnya bisa saja jika dia menangkapnya dengan mudah. Tapi itu memerlukan ilmu sihir ratu iblis. Tidak mungkin jika dia harus mengungkapkan jati dirinya disini.


Ketika kekuatan tak bisa dia gunakan, maka otaklah yang harus bekerja. Setelah berkeliling tak lama, dia melihat Zhu Guhuo yang mungkin sedang menikmati angin malam sepertinya. Dia segera memancing kakak seperguruannya itu dengan sugesti. Lalu di sadarkan kembali saat melihat pertarungan antar siluman dan kedua murid istimewa itu.


Dan berhasil, Zhu Guhuo segera memukul gong peringatan. Tentu saja menganggu semua orang yang berada di akademi ini. Namun tiba-tiba, dia melihat siluman itu mengejar menuju aula utama. Dia mengikutinya demi berjaga-jaga. Bagaimanapun tugas dari sang raja iblis tidak boleh di lalaikan. Walaupun dia sendiri adalah ratu tersayangnya.


Dia melihat sendiri bagaimana akademi ini perlahan-lahan berantakan. Hatinya terbesit rasa sedih yang langsung dia tepiskan. Dia adalah ratu iblis, untuk apa sedih melihat kehancuran tempat kecil ini? Namun rasanya.. kali ini berbeda.


Tentu saja mereka masih melakukan aksi saling kejar-kejaran. Aoyi Jinqi dapat melihat Yi Changyin lebih pucat dari sebelumnya. Aman.. dia masih belum berpotensi untuk mati.


Namun kejadian selanjutnya membuat dia menggelitik. Saat Yi Changyin hampir mengeluarkan seluruh auranya, Xuan Chen datang melemparkan gadis itu hingga jatuh ke semak-semak. Dan pria itu.. menjadi pengganti untuk menahan serangan hitam dari siluman.


Akhirnya Aoyi Jinqi mulai membentuk energi spiritual hitam di tangannya. Belum dia menutupinya dengan aura alam langit agar tak bisa terasa oleh siapapun. Saat pria itu sudah terlihat tak kuasa lagi, Aoyi Jinqi segera mengerahkan kekuatannya.


Terjadilah ledakkan besar. Dan sebelum itu dia tahu kalau Xuan Chen menyadari seseorang telah menusuk mata merah menyala siluman itu. Hingga dia memekik kesakitan dan terbang secepat kilat berputar-putar di tempat seperti tak tahu arah.


Aoyi Jinqi memuntahkan seteguk darah, karena kekuatan tadi sangatlah menguras energi. Baik energi samarannya, maupun energi iblisnya. Setelah itu dia menetralkan kembali energinya dan menghampiri kerumunan. Dimana terdapat Yi Changyin yang sedang menyalurkan energi pada Xuan Chen. Dia menatap gadis itu dengan helaan nafas.


'Maaf hari ini aku hanya bisa melindungimu sampai detik ini..'


.......


.......


.......


Lautan langit biru dihiasi kepulan merah muda menawan. Di bawahannya terbentang daratan luas berwarna hijau. Rumput-rumput di sana berdiri sama rata hingga menyuguhkan pemandangan yang nyaman dan sejuk. Namun tidak ada pohon sebagai tempat berteduh. Juga tidak ada matahari sebagai pemanas tempat.


Namun.. adakah ujung dari tempat indah ini?


Xuan Chen menoleh ke kiri kanan, depan belakang hanya untuk memastikan keadaan. Ini bukan mimpi kan? Keningnya berkerut lembut dan iris hitam yang memancarkan kebingungan.


Dengan ragu Xuan Chen melangkahkan kakinya. Walaupun memakai sepatu tebal tapi kentara rumput di sana sangatlah lembut.


Namun tiba-tiba dia sangat terkejut, seseorang menarik lengannya dari belakang. Membuat dia perlahan berbalik dan satu sosok bak bidadari surga tertangkap jelas oleh retina matanya.


"Yi Changyin?" Gumam Xuan Chen.


Gadis yang memiliki paras cantik, yang di kenalnya sebagai Yi Changyin itu tersenyum lalu memeluknya. Namun sedetik kemudian gadis itu berlari ke depan, menjauhinya.


Ketika dia hendak mengejar. Sadar atau tidak, lingkungan telah berubah total. Padang rumput yang luas tiada batas di gantikan dengan hutan persik yang indah. Daunnya berguguran menghujani dirinya yang tengah di landa kebingungan.


Tiba-tiba sosok yang tadi menghilang kini muncul kembali di hadapannya dengan wajah yang ceria. Langit tidak sedang mempermainkannya bukan?


"Xuan Chen.." Panggil gadis itu lembut. Masih dengan senyuman polos mempesona.


"Aku tadi hanya.." Tampak Yi Changyin mengeluarkan sesuatu di balik lengan bajunya yang panjang. "Membawakan ini untukmu.."


"Apa?!" Xuan Chen tentu saja terkejut dengan apa yang di bawakan Yi Changyin. Ekor rubah? Yang benar saja!!


Sepengetahuannya Yi Changyin adalah seekor rubah berekor sembilan. Memiliki bulu halus putih dan tak ada corak lain yang menganggu. Dan sepotong ekor rubah ini berwarna putih. Apakah...


"Aku bersusah payah memotong milikku untukmu." Dia tampak tersenyum tanpa menderita. Namun sebaliknya, Xuan Chen yang terlihat menderita. "Mungkin ini bisa membuat kau sembuh sepenuhnya."


Yi Changyin menyodorkan ekor rubahnya itu pada Xuan Chen. Namun dengan cepat pria itu menepisnya hingga benda halus, panjang, putih dan berbulu itu terlempar sia-sia. Lalu hancur. Membuat Yi Changyin berkaca-kaca.


"Maaf.." Xuan Chen menyentuh pundak Yi Changyin. "Kumohon.. jangan mengorbankan dirimu untukku.. kumohon.." Mohonnya dengan tatapan yang nanar.


Namun Yi Changyin tak bergeming.


Membuat Xuan Chen bingung. "Yin'er.. soal ekormu, aku akan menggantinya dengan nyawaku. Ya?"


Ucapan konyol itu membuat Yi Changyin terbelalak. "Tidak.. aku tidak marah padamu."


Menyakitkan, gadis itu tersenyum walaupun rasa sedih dan kecewa masih tertera jelas di matanya. Apakah dia sungguh mengecewakannya? Tapi gadis ini malah.. ah sudahlah. Hatinya akan lebih terasa sakit jika memikirkan hal itu.


"Tapi ekormu.."


"Ini bukan masalah.. aku.. aku.." Yi Changyin masih tidak berani menatapnya. Bola mata cantik itu terus bergerak-gerak bak menahan tangis. Membuat dia benar-benar ingin membunuh diri sendiri.


Detik berikutnya Yi Changyin tersenyum lebar. "Aku bisa memotong ekorku yang lain.."


Sontak membuat Xuan Chen mendongkak. "Yin'er?!"


Namun entah kenapa tubuhnya terasa kaku. Seolah membiarkan gadis itu melukai diri sendiri demi dirinya. Dia hanya bisa terbelalak saat Yi Changyin mengeluarkan sebilah pisau yang tajam. Juga ekornya yang hanya berjumlah.. delapan. Dia memberontak dari jeratan tak kasat mata itu, tapi sangat sia-sia.


Ketika Yi Changyin sudah bersiap-siap untuk memotong ekornya -Lagi, dia merasakan tubuhnya bisa bergerak secara leluasa. Xuan Chen menghela nafas lega. Lalu dengan secepat kilat dia merebut pisau itu dari Yi Changyin.


"Xuan Chen?" Yi Changyin langsung berusaha merebut pisau itu dari tangan Xuan Chen. Yang dia jauhkan setinggi mungkin agar gadis itu tidak bisa menjangkaunya.


Namun saat Yi Changyin berhasil mencapai pegangannya, Xuan Chen segera memindahkannya ke tangan lain. Tapi tak sengaja menggores lengan Yi Changyin hingga menimbulkan luka menganga yang besar.


"Ahh.."


Yi Changyin menarik kembali tangannya. Menatap luka yang tepat berada di atas urat nadinya. Xuan Chen terbelalak, tak mengira jika hal itu akan melukai tangan kecil Yi Changyin.


"Yin'er.." Panggilnya lirih sambil meraih tangan Yi Changyin. Namun gadis itu buru-buru menghindar, hingga yang dia dapatkan hanyalah angin kosong.


"Yin'er?"

__ADS_1


"Aku sudah berkorban untukmu. Tapi.. kau malah melukaiku.." Ucap Yi Changyin dengan dingin.


Hati Xuan Chen mendadak mencelos. Kata-kata itu begitu menusuk ulu hatinya hingga berdarah, retak lalu hancur seketika. Rasa bersalah menguar dalam dirinya. Dia merasa sedang dalam fase manusia terbodoh sedunia.


"Aku.. aku tidak bermaksud melukaimu!" Serunya berusaha meyakinkan. Tapi malah semakin menjauhkan hati Yi Changyin dari sisinya.


Yi Changyin menatap Xuan Chen penuh kekecewaan, membuat hatinya kini berubah menjadi leburan abu. Lalu masih di tusuk-tusuk oleh sebilah pisau yang tajam.


"Yin'er.." Panggilnya gentir sambil kembali berusaha meraih tangan yang seperti udara kosong itu.


"Aku sudah berjuang untukmu. Tapi.. sangat di sayangkan hatimu tidak bisa menghargai.." Ujar Yi Changyin dengan dingin. Xuan Chen menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha meyakinkan. Pikirannya tak bisa berjalan untuk saat ini. Terlalu beku untuk suasana menyakitkan ini.


"Aku kecewa.."


"Yin'er, aku sungguh tidak sengaja!"


"Yin'er!"


Kali ini Yi Changyin berbalik pergi menjauhinya. Xuan Chen mengejar namun gadis itu malah berlari lebih kencang dari biasanya. Membuat dia sedikit kewalahan untuk mengejar. Dan tiba-tiba keadaan di sampingnya berubah kembali menjadi padang rumput yang luas. Namun Xuan Chen tidak memperdulikannya. Yang ada di pikirannya hanyalah Yi Changyin dan Yi Changyin!


Namun semakin di kejar... gadis itu semakin jauh darinya. Langit, tolong hentikan langkahnya!


Namun kesempatan emas bagi Xuan Chen, saat itu Yi Changyin tiba-tiba terjatuh oleh batu sandungan yang entah kapan muncul. Saat Yi Changyin bangun dan hendak berlari lagi, Xuan Chen menahan tangannya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Uh!"


Entah pisau dari mana. Membuat pelipisnya berkeringat dingin. Terutama saat melihat mulut Yi Changyin mengeluarkan sungai darah yang segar dan dadanya yang tertusuk. Pisau itu... berasal dari tangannya.


Membuat dia terdiam seribu bahasa. Dadanya terhimpit ribuan batu yang menyesakkan. Matanya terasa panas tak menyangka dengan apa yang dia lakukan. Tangannya bergetar sembari memegangi pisau yang masih bersemayam di dada gadis itu. Tapi sungguh, ribuan kali pun di tuduh telah menikam kekasihnya sendiri, dia tidak akan pernah mengakui. Karena ini bukan berdasar pada keinginan di hatinya, dan pisau itu datang dengan sendirinya.


"Kenapa?" Tanya Yi Changyin lirih dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Xuan Chen perlahan mendongkak. Menatap Yi Changyin dengan hati yang pedih.


"Yin'er.. sungguh, aku tidak sengaja membunuhmu!"


"Tidak sengaja?" Yi Changyin menarik keluar pisau itu membuat seteguk darah kembali dia keluarkan.


"Yin'er, jangan lakukan itu!" Tapi terlambat, wajah Yi Changyin sudah pucat karena hampir kehabisan darah. Baik dari yang dia muntahkan, maupun yang mengalir di dadanya.


"Yin'er.. jangan mati.."


"Kau yang membunuhku."


"Aku tidak一!"


"Aku telah berkorban banyak untukmu!" Teriak Yi Changyin sambil mendorong tubuh Xuan Chen. "Tapi kau malah melukaiku bahkan membunuhku!!"


Tangan Xuan Chen yang bergetar berusaha meraih tubuh Yi Changyin. Ledakan air mata itu membuat matanya tak bisa membendung lagi. Dia menangis. Namun Yi Changyin selalu menjauhkan diri.


"Yin'er.. kembalilah padaku. Aku bersumpah tidak membunuhmu. Bukankah kau sangat mempercayaiku?"


"Mempercayaimu?" Yi Changyin mendengus. Lalu kemudian dia berteriak, "XUAN CHEN AKU MEMBENCIMU!!"


Setelah itu maut datang menjemput tanpa tahu waktu. Badan Yi Changyin ambruk ke dalam pelukan Xuan Chen dengan mata yang terpejam, selamanya.


Sakitnya kata-kata Yi Changyin yang menyatakan kalau dia sangat membencinya, tak seberapa dengan merasakan tubuh yang berada di pelukannya terbujur kaku tanpa nyawa.


Seluruh tubuhnya bergetar hebat, hingga kakinya tak mampu lagi untuk berdiri. Xuan Chen memeluk tubuh Yi Changyin dengan tangisan yang memilukan.


"Yin'er.. maafkan aku."


Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tiba-tiba dia merasakan pelukannya sangat kosong. Walaupun bayangan tubuh Yi Changyin masih utuh dilihatnya.


Memudar, tubuh Yi Changyin benar-benar memudar. Bahkan dia tak bisa menyentuh pipi halus bak sutra itu lagi. Semakin memudar lalu menghilang. Membuat tangannya yang bergetar memangku udara kosong.


Menyisakan dua belas jiwa dan tujuh inti roh Yi Changyin melayang-layang ke udara. Dia ingin menangkapnya tapi tidak bisa. Sambil menangis tak bersuara. Hatinya hancur hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"YIN'ER!!!"


"Yin'er.." Suara pelan itu lolos dari mulutnya dengan mata yang terpejam.


Xuan Chen membuka matanya lengkap dengan keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Matanya menyapu sekitar dan menyadari dirinya sedang berada di kamar asrama akademi Tianjin.


Lalu mendapati dirinya sedang bersandar pada tiang kasur. Dan Yi Changyin yang sedang tertidur damai di atas dada bidangnya. Tangannya masih merengkuh Yi Changyin. Segera dia memeriksa nadi dan nafasnya.


Normal! Yi Changyin masih hidup.


"Apakah tadi itu mimpi?" Gumamnya dengan wajah yang pucat. Karena tidak pernah menyangka akan mendapatkan mimpi seburuk itu.


Xuan Chen memeluk Yi Changyin dengan erat, tangannya bergetar hebat. "Aku harap itu hanya mimpi.. dan tidak akan pernah terjadi lagi di kehidupan nyata ini.."


Baru saja mereka memadu kasih -walau tidak sampai menanam benih- di atas peraduan dengan perasaan yang berbunga-bunga. Lalu memutuskan untuk tidur karena tak tega melihat Yi Changyin yang terkantuk-kantuk. Tak lama dia pun ikut tertidur dan mendapatkan mimpi terburuk sepanjang masa itu.


Langit.. aku harap itu hanyalah bunga mimpi. Bukan pertanda buruk atau apapun itu. Langit, tolong jangan persulit kami yang saling mencintai..


.......


.......


.......


Note tambahan : Setiap makhluk abadi yang berstatus tinggi dan bangsawan. Baik dari alam langit, peri, manusia atau iblis, masing-masing memiliki dua belas jiwa dan tujuh inti roh (cuman imajinasi author kok) juga ketika mereka meninggal, tubuh akan ikut menghilang, mengambang di udara bersama dua belas jiwa dan tujuh inti roh mereka. Pergi ke alam baka untuk pengembangan jiwa dan siap bereinkarnasi seribu tahun kemudian.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2