
Seorang gadis membantingnya tubuhnya ke atas kursi batu di tengah-tengah sebuah taman. Dengan kesal dia menuangkan teh hangat mengepul dan meminumnya perlahan. Qi Zhongma yang berada di hadapannya hanya terdiam.
Setelah teh dalam cangkir tersebut habis, Qi Xiangma melemparkannya ke atas meja hingga sedikit tergelinding walaupun tidak sampai terjatuh kebawah.
Qi Zhongma menghela nafas. "Ada apa, saudari?" Tanyanya dengan nada yang agak malas.
"Dua tahun ini, kenapa kau selalu menghindariku?" Qi Xiangma menatap tajam pria lawan bicaranya.
"Guru terlalu menyibukkan kita berlatih.."
Alasan itu membuat Qi Xiangma mendengus sinis. Namun Qi Zhongma masih melanjutkannya, "Sehingga kita tidak punya waktu untuk bercengkrama. Maafkan aku.."
"Kau pikir.. aku tidak tahu apa yang berada di kepalamu? Tapi.. setiap aku ingin membunuhnya, kau selalu berupaya untuk menggagalkannya. Apa yang terjadi padamu? Apakah kau mulai tidak waras lalu mengabaikan tugas Gaoqing Dijun?" Kecamnya dengan nada yang sinis.
Qi Zhongma hanya terdiam. Pikirannya ragu untuk menjawab. Hanya bisa menggulir-gulirkan bola matanya. Membuat Qi Xiangma semakin bertambah curiga.
"Kenapa tidak menjawab?" Qi Xiangma masih menatap Qi Zhongma sinis. "Walaupun kita hanya saudara angkat. Tapi, aku sudah mengenalmu lebih dari apapun. Apakah..."
"Benar, aku menyukainya." Jawab Qi Zhongma dengan lugas.
Membuat Qi Xiangma mendengus dan memalingkan wajahnya. "Seberapa keras kau menginginkannya, Gaoqing Dijun tidak akan pernah merestui. Lagipula.. mungkin senjata itu akan segera siap."
Hal itu membuat Qi Zhongma mendongkak terkejut. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum miring lalu menundukkan kepalanya. "Sebesar apapun niatmu untuk membunuhnya, dia tidak akan pernah mati."
"Kau akan melindunginya?"
Qi Zhongma mendongkak dengan tatapan mata yang menantang, "tidak."
Qi Xiangma mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
"Dia mempunyai dua binatang ilahi. Walaupun milik Xuan Chen, tapi sebagai nyonya dia akan terus di lindungi." Jawabnya dengan ekspresi yang masam.
"Milik Xuan Chen?" Gumam Qi Xiangma dengan seringaian di wajahnya. Seakan sebuah rencana brilian tengah memenuhi otaknya.
"Xiangma.." Panggilan Qi Zhongma membuat dia mendongkak.
"Sepertinya.. kita jangan membunuhnya terburu-buru." Katanya yang membuat Qi Xiangma kembali mendengus.
"Itu terserah padamu! Mulai sekarang.. kita berbeda jalan."
"Xiangma!" Bentaknya karena merasa terkejut dengan ucapan saudarinya.
"Bukankah kau ingin mengulur waktu? Tapi aku tidak mau. Akhir-akhir ini kita selalu bertolak belakang bukan? Jadi.. mulai sekarang kita berbeda jalan!" Tambah gadis itu sambil berlalu pergi.
Namun Qi Zhongma hanya mendengus menatap punggung saudarinya yang menjauh. "Terserah padamu!"
Qi Zhongma kembali menyesap tehnya walaupun dengan perasaan yang frustasi. Walaupun senang Qi Xiangma tidak akan lagi mengganggunya, tapi tetap ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
Sedari kecil mereka hidup bersama. selalu bermain bersama dan tidak mengindahkan perbedaan. Dia tidak pernah menyakiti atau membuat Qi Xiangma kecewa. Karena hubungan adik kakak sudah terjalin walaupun tidak sedarah.
Tapi berbeda ketika kehancuran alam peri tiba. Mereka terpaksa harus mengikuti Gaoqing Dijun demi memenuhi keinginan sang ibu asuh agar mereka aman. Hingga terpaksa menjalani tugas yang mengkhianati tanah kelahirannya sendiri.
Dan dimulai ketika melihat sepasang mata cantik di penginapan, hubungan mereka menjadi renggang. Banyak pertentangan dan opini yang berbeda. Menjadikan mereka semakin menjauh tak terhingga.
Namun sepertinya Qi Zhongma tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Seakan rela hubungan persaudaraan mereka hilang begitu saja hanya karena seorang wanita. Dan sekarang yang ada di pikirannya hanya gadis yang sempat berjarak begitu dekat di penginapan. Seperti tidak ada yang lain.
Ingatannya kembali melayang saat musim semi kemarin di tahun ini. Dimana Yi Changyin sedang berlari membawa keranjang buah di tangannya menuju perkebunan akademi Tianjin.
Gadis itu melangkah dengan ceria dan menghampiri pohon apel yang lumayan lebat. Lalu berusaha menaikki batang pohonnya yang membuat dia tersenyum ketika memperhatikannya dari jauh.
Yi Changyin segera duduk di salah satu dahan pohonnya ketika sudah sampai di atas. Lalu memetik semua apel yang berada di dekatnya. Sambil sesekali mengendus wangi yang membuat wajahnya semakin menggemaskan.
Saat fokus-fokusnya memetik buah apel untuk di bawa ke akademi, Qi Zhongma datang tanpa permisi. Membuat dia terkejut setengah mati. Dan Yi Changyin tidak bisa menahan keseimbangan hingga terjatuh kebelakang sambil berteriak.
Dengan sigap Qi Zhongma menangkapnya. Dan dia tak sengaja menatap kecantikan yang mempesona. Membuat hasratnya tak bisa berpaling dari mata yang sama sekali tidak berminat untuk membalasnya.
"Maafkan aku, kakak seperguruan."
Hanya itu yang di katakan Yi Changyin sambil memunguti buah yang ikut berjatuhan. Merasa kasihan, Qi Zhongma segera berjongkok dan mengikutinya memunguti buah. Membuat gadis itu tertegun sebentar. Tapi semua buah sudah masuk ke keranjangnya.
Membuat dia langsung berdiri dan membungkuk pada Qi Zhongma, "terima kasih kakak seperguruan.."
__ADS_1
"Tidak apa.." Pria itu baru berdiri. "Itu sudah menjadi tugasku untuk membantu."
Tiba-tiba sebuah apel muncul di depan wajahnya. Membuat dia tertegun karena Yi Changyin yang menyodorkan apel itu sambil tersenyum.
"Sebenarnya apel ini khusus untuk para tamu. Tapi, aku akan memberinya satu untukmu. Juga rasa apel ini sangat berbeda dengan yang lainnya. Jadi cobalah.."
Qi Zhongma tersenyum saat bernostalgia tentang kejadian itu berbulan-bulan lalu. Hanya saja itu terjadi sekali dalam hidupnya. Setelah itu Yi Changyin sangat jarang untuk muncul lagi di depan batang hidungnya sekalipun.
Namun tiba-tiba pikirannya mengeras ketika mengingat sesuatu.
Saat kembali dari kerja pembersihan kekacauan akademi yang di sebabkan oleh siluman bayangan dua tahun lalu, dia tak sengaja melewati kamar Xuan Chen. Mendengar sayup-sayup seorang perempuan berbicara di dalam.
Sontak membuat ia berinisiatif untuk mengintipnya sebentar di balik celah-celah kecil ruangan. Melihat pemandangan yang membuat hatinya memanas.
Melihat Yi Changyin yang berada di pangkuan Xuan Chen, dengan kedua bibir mereka yang saling menikmati. Lebih parahnya lagi, dia melihat keduanya berjalan walaupun masih menyatu menuju tempat tidur. Lalu Xuan Chen terlihat menindih gadis itu dari atas. Dan permainan itu masih berlanjut tanpa penolakan apapun.
Hati dan otaknya memanas hingga tak mampu melihat kejadian seperti itu lagi. Ia pun pergi meninggalkan halaman dengan emosi yang mengebu.
Terbayang kejadian itu membuat Qi Zhongma mengeratkan kepalan tangannya. Matanya yang menerawang terlihat begitu tajam bak elang yang akan menerkam anak ayam.
Namun dia kembali menetralkan emosinya ketika Li Qian melewatinya dari belakang. Dia segera menghentikannya yang membuat gadis itu berbalik.
"Kakak seperguruan?"
"Kapan kakak seperguruan ketujuh akan kembali? Ini sudah dua tahun." Tanyanya dengan ramah.
"Kudengar malam ini. Hanya itu yang aku tahu, kakak seperguruan.." Tidak ada kecurigaan apapun di mata Li Qian.
"Baiklah, terima kasih.."
"Baik.."
Setelah kepergian Li Qian, ekspresi sebelumnya telah kembali. "Kalau dia bisa.. mengapa aku tidak bisa?" Gumamnya yang di akhiri dengan seringaian miring.
.......
.......
.......
Setelah keadaan dirasa sudah jauh dari akademi, dia segera berubah menjadi cahaya dan melesat secepat kilat. Menuju sebuah gua yang memiliki dua lubang. Dia masuk ke salah satunya dan tibalah di ujung gua.
Tampaklah simbol Phoenix merah biru dan Naga hitam yang bersinar dan melayang-layang di atas sebuah batu bundar. Yang pastinya hanya dia yang dapat melihatnya.
Ya, itu adalah simbol ruang dimensi spiritual Xuan Chen ketika pemiliknya sedang berada di dalam. Dan hanya seseorang yang terikat kontrak saja dapat melihatnya.
Tanpa menunggu lama, Yi Changyin segera masuk dan keadaan di sana sangat sepi. Kemungkinan semua binatang itu sedang sibuk bertapa untuk menambah kekuatan. Langsung saja Yi Changyin pergi menuju gua es.
Ketika sampai di mulut gua, tiba-tiba seseorang menariknya hingga berakhir bersandar di dinding gua. Dan pria yang menariknya itu langsung merenggut bibirnya begitu saja, membuat dia terkejut setengah mati.
Namun rasa dan wajah ini tentu saja dia mengenalinya. Hingga tak ada alasan lagi untuk penolakan semata.
"Yin'er.. aku merindukanmu." Ujar Xuan Chen lembut di tengah-tengah permainannya.
Namun tak berselang lama Yi Changyin mendorong Xuan Chen dengan keras. Dan itu sangat mudah. Yi Changyin tersenyum karena mungkin pria itu sudah menganggap Yi Changyin terbuai jadi sedikit lengah.
"Dasar brengsek.." Makinya tiba-tiba yang mendapat kekehan dari pria itu. Yang kini mulai menarik kepalanya dan tenggelam di dalam pelukannya.
"Kau akan keluar kapan?" Tanya Yi Changyin dengan suara yang sedikit tenggelam.
"Malam ini, kau tunggu saja di akademi." Jawab Xuan Chen sambil memberi perintah.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Yi Changyin melepaskannya pelukannya, menatap pria itu dengan senyuman. "Aku tahu kau belum mencapai bintang. Tapi, pencapainmu sangat cepat. Aku kagum.."
Xuan Chen mendesis, "itu bukan apa-apa jika di bandingkan dengan dirimu."
Mereka mulai berjalan menuju luar gua. "Jangan berkata seperti itu. Orang alam langit akan memiliki tantangan lebih besar dari pada manusia fana ketika berkultivasi. Dan aku sudah hidup selama enam belas ribu tahun, hanya baru kali ini berkat ruang dimensi spiritual, tiga tingkat lagi aku bisa mencapai Dewi tertinggi." Jelasnya panjang lebar sambil merasa bangga.
"Walaupun begitu, bagiku kau adalah gadis yang hebat." Pujinya sambil mengelus surai hitam dan lembut.
__ADS_1
"Sudahlah! Jangan memujiku seperti itu!" Cercanya sambil menepiskan tangan Xuan Chen. Namun tangan nakal itu malah beralih menggenggam tangannya.
Yi Changyin hanya terdiam membiarkan pria yang sedang senyum-senyum sendiri itu. Menuju gazebo di tengah-tengah ruang dimensi spiritual. Mereka duduk saling berseberangan. Dan tiba-tiba seekor kalajengking es merayap ke atas meja.
Membuat Yi Changyin mengelus-elus tubuh mungilnya. "Kecil, aku tidak menyangka kau akan berubah mengejutkan."
"Tapi, aku masih heran kenapa dahulu dia tertutupi kulit yang hitam." Sahut Xuan Chen. "Sangat di sayangkan selama ini orang-orang telah meremehkannya.."
Yi Changyin menghela nafas. "Benar.. kita tanyakan saja ketika dia sudah bisa berbicara. Aku yakin jawabannya pasti akan selalu ada."
"Karena aku masih belum tahu kau jantan atau betina, sementara aku akan menamaimu Lan Bing. Bagaimana Xuan Chen?" Tanyanya antusias.
Xuan Chen tersenyum. "Apapun yang kau usulkan, semuanya yang terbaik.."
.......
.......
.......
Malam hari telah tiba, Yi Changyin telah kembali ke asrama yang sudah terasa sepi. Karena 'katanya' semua murid akan menyambut Xuan Chen yang sudah mencapai tingkat kultivasi bintang. Bagaimanapun itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi akademi.
Dan Yi Changyin memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke asrama laki-laki. Menuju paviliun tempat Xuan Chen tinggal. Merapikan ranjangnya dan meletakkan beberapa makanan yang diam-diam dia masak di ruang dimensi spiritual.
Namun ketika keluar ruangan, dia mendapati Qi Zhongma yang seperti sedang menunggunya. Yi Changyin bukan murid yang sombong, dia menghampiri pria itu sambil tersenyum dan memberi hormat, "kakak seperguruan.."
"Kapan kakak seperguruan ketujuh akan tiba?" Tanya Qi Zhongma langsung pada intinya.
Yi Changyin terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "hanya tinggal beberapa dupa terbakar habis lagi. Masih banyak waktu senggang, apakah kakak seperguruan sedang membutuhkanku?" Tawar Yi Changyin dengan tulus tanpa prasangka. Karena selama ini dia mengenali Qi Zhongma dengan baik.
Tiba-tiba wajah Qi Zhongma berubah muram kusam dan masam. Membuat Yi Changyin berkerut heran lalu bertanya, "kakak seperguruan?"
"Akhir-akhir ini aku bertengkar dengan adikku, Qi Xiangma." Katanya jujur. "Sejujurnya itu sangat menyakitkan. Adik seperguruan, bisakah kau menemaniku minum sebentar?"
Membuat Yi Changyin menatapnya ragu.
"Kau tenang saja, aku sangat kuat dengan arak." Tambahnya.
Yi Changyin mengangguk ragu begitu saja. Qi Zhongma mulai berjalan yang diikuti olehnya dari belakang. Memasuki sebuah paviliun yang mungkin menjadi tempat Qi Zhongma tertidur bersama yang lainnya.
"Maafkan aku telah mengajakmu minum." Kata pria itu sambil membuka pintu. Seketika aroma pembakaran dupa yang begitu tenang menyambut kedatangan mereka berdua.
Yi Changyin terus berjalan sambil menghirup bau dupa itu dalam-dalam. Sangat wangi dan menenangkan. Dan Yi Changyin langsung duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Qi Zhongma. Pria itu mulai menuangkan anggur dan meminumnya.
"Ketika aku mempunyai masalah.. selain meminum anggur, aku juga menyukai aroma dupa dari berbagai bunga-bunga yang di racik menjadi satu." Qi Zhongma membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Seleramu bagus juga. Wangi dupa ini sangat menenangkan." Jawabnya yang membuat Qi Zhongma menarik senyuman sambil meneguk anggurnya.
Walaupun berkata seperti itu, entah kenapa hati Yi Changyin merasa cemas. Jantungnya berdetak kencang tak karuan. Mendorongnya untuk menatap Qi Zhongma dengan waspada. Firasat buruk itu semakin tumbuh menjadi-jadi di hatinya, hingga dia memutuskan berdiri yang membuat Qi Zhongma mendongkak heran.
"Kakak seperguruan, mungkin kakak seperguruan ketujuh sedang dalam perjalanan kemari. Aku.. aku pergi dulu." Setelah mengatakan hal itu, Yi Changyin langsung melangkahkan kakinya tanpa menunggu sepatah katapun dari Qi Zhongma. Dan nyatanya pria itu tak mengatakan apapun.
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba rasa pusing dan pening menyerang kepalanya begitu kuat. Hingga dia kembali berhenti dan memegangi kepalanya. Badannya mulai berkeringat dan memanas seperti minta di sentuh. Dan Qi Zhongma tersenyum miring, dia mulai beranjak dan menghampiri Yi Changyin secara perlahan.
Sementara Yi Changyin tahu jelas gejala apa ini. 'obat penguat!' Pikirnya waspada. 'Dupa itu.. Sial! Aku ceroboh!'
Yi Changyin berusaha mengeluarkan energi spiritualnya. Namun obat penguat itu bukan obat biasa. Kemampuan Yi Changyin di tekan dan menjadi turun drastis. Lalu dia berusaha melangkah dengan tergopoh. Tapi tiba-tiba, Qi Zhongma menarik tangannya hingga jatuh ke dalam pelukan pria itu.
Dengan lancang, Qi Zhongma mulai memberikan desiran-desiran halus di lehernya yang jenjang dan putih. Ini pengaruh obat yang membuatnya terdiam. Tapi pikirannya masih sadar, Yi Changyin berusaha memberontak walaupun tubuhnya begitu lemah.
Sangat lemah, hingga Qi Zhongma sangat mudah membawa nya hingga menabrak tembok. Sementara wajah Yi Changyin sudah memerah, obat itu semakin menggerogoti kesadarannya.
"Kumohon.. jangan..." Hanya itu hanya keluar dari mulutnya.
"Xuan Chen.. tolong aku.."
Sementara Qi Zhongma berseringai nakal. "Jangan bermimpi untuk bersamanya. Malam ini, kau akan menjadi milikku.."
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉