The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXIII - Rencana Kotor


__ADS_3

"Tidak bisa!" Rengek Wen Yuexin manja. Membuat Xuan Chen semakin jijik


"Pergi dari sini!" Bentak Xuan Chen sambil melemparkan tangannya.


Wen Yuexin hendak memeluk Xuan Chen lagi, namun pria itu segera mendorongnya sebelum tersentuh. Wajahnya terlihat dongkol, dia benar-benar kesal dengan tingkah Wen Yuexin yang memuakkan.


"Kakak Xuan Chen, menikahlah denganku.."


Sialan! dia memulai lagi.


"Aku tidak mau, dasar tidak tahu malu!" Jawab Xuan Chen menggebu-gebu.


"Tapi istrimu sudah mening一!"


"Yi Changyin belum mati!!"


"Kalau begitu jadikan aku sebagai selirmu."


"Aku tidak suka memelihara selir!"


Wen Yuexin menahan nafasnya. Memelihara? Dia kira hewan? Pria itu berlalu pergi meninggalkannya. Wen Yuexin melemparkan angin, nafasnya memburu kesal.


Dia menatap pintu tempat Xuan Chen pergi. "Jangan salahkan aku.." Gumamnya. Kemudian tersenyum miring yang licik.


.......


.......


.......


Setelah pergi dari kediaman Adipati Zhaoyang, Wen Yuexin pergi ke suatu tempat dengan sejuta ide di kepalanya. Yang tak melunturkan senyuman miring di bibirnya.


Ternyata dia mengunjungi istana timur, tempat pangeran mahkota Xuan Ye tinggal. Dia bebas keluar masuk. Selain karena Xuan Ye menyukainya, di istana timur belum memiliki Putri mahkota.


Xuan Ye sangat berjingkrak melihat Wen Yuexin datang ke tempatnya. Bahkan mengusir selir yang sedang menemaninya. Selir milik Xuan Ye itu mendelik kasar ke arah Wen Yuexin saat berpapasan.


Disana mereka hanya saling menuangkan teh sambil sedikit mengobrol. Hingga akhirnya Wen Yuexin menyatakan maksud kedatangannya kemari.


"Pangeran mahkota, jika besok ada waktu.. bisakah temani aku ke danau beku yang berada di selatan daratan Dongfang? Itu tak jauh dari istana."


Ajakan Wen Yuexin sukses membuat Xuan Ye tertegun. Namun ia tetap tersenyum senang.


"Aku sangat ingin melihatnya, tapi akan aneh jika ke sana sendiri. Maukah yang mulia menemaniku?" Tambahnya dengan tatapan yang menggoda.


Saat itu Xuan Ye langsung mengangguk tanpa ragu. "Baiklah, besok pagi mari kita bersiap-siap." Dia amat antusias.


.......


.......


.......


Keesokan harinya adalah hari yang paling bahagia bagi Xuan Ye. Setelah hadir pengadilan pagi seperti biasa, dia telah bersiap-siap untuk pergi bersama pujaan hatinya. memakai pakaian terbaik dan kereta kuda yang nyaman.


Setelah menjemput Wen Yuexin, mereka berangkat menggunakan kereta kuda, menuju danau beku yang di tuju Wen Yuexin.


Gadis itu pandai berakting, pandai menunjukkan ekspresi senang walaupun sebenarnya enggan. Jelas, Xuan Ye bukan tipe prianya. Dia tidak suka, namun demi rencana.. semua harus ia lakukan.


Saat mereka sedang membuat daging panggang di salah satu gua, Wen Yuexin merasakan penggilan dari jendral Houjing. Membuat ia pamit izin untuk sesaat pada Xuan Ye. Dengan alasan ingin mengganti pakaian yang sempat basah.


Memang benar, sebenarnya ia sengaja membasahi setengah pakaiannya.


"Ada apa, jendral Houjing?" Tanya Wen Yuexin ketika pria tegap serba hitam itu berdiri di depannya.

__ADS_1


"Hamba sudah menemukan Shui Jifeng seperti yang sudah anda perintahkan."


Mendengar hal itu hati Wen Yuexin berjingkrak senang. Semuanya telah beres, tinggal mengikuti jalan maka semua akan selesai. Dia tersenyum miring dan tertawa jahat. Rencananya akan berhasil!


Setelah lama menikmati pemandangan danau beku, akhirnya Wen Yuexin dan Xuan Ye kembali pulang dengan kereta kuda. Perjalanan mereka lumayan panjang, tapi tak akan sampai memakan waktu sampai malam nanti.


Wen Yuexin sudah mengatur segala waktunya, agar tepat waktu. Karena masih ada satu rencana lagi, kunci keberhasilannya. Besok malam adalah targetnya.


(Awas traveling)


Wen Yuexin melirik Xuan Ye sekilas. Secara sembunyi-sembunyi, ia telah menelan pil berwarna biru muda. Kemudian tanpa sepengetahuan pria itu, Wen Yuexin melorotkan pakaiannya hingga belahan penggoda pria terlihat.


Xuan Ye melihat hal itu merasa nafsu, ia terus menerus menatap Wen Yuexin yang bertingkah liar dan menggoda. Pikirannya sudah dipenuhi hal kotor, tak sabar ingin melahap wanita di hadapannya.


Tak lama kemudian Xuan Ye sudah tak tahan, dia mulai mendesak Wen Yuexin dengan liar dan penuh nafsu. Walaupun dalam hati merasa jijik, Wen Yuexin tetap mengikuti permainannya hingga menjadi semakin panas.


Xuan Ye melepaskannya, menatap Wen Yuexin penuh nafsu. Dia berseru sambil melepaskan satu persatu pakaian Wen Yuexin.


"Hentikan kereta! Dan menjauhlah!"


Sontak membuat Xueqi dan Yu Lin, pengawal pribadi Xuan Ye merona. Mereka mengerti apa yang akan dilakukan kedua orang di dalam kereta itu.


Lantas mereka semua menjauh, berjaga dari jauh. Membiarkan mereka membuat kesenangan di dalam gerbong kereta.


.......


.......


.......


Xuan Ye merapikan pakaiannya dengan perasaan yang bangga karena telah memiliki gadis itu. Bahkan telah menyanggahinya tanpa penolakan sampai malam hari. Sementara Wen Yuexin yang berada di sampingnya terus memaki.


'Sialan pria itu terlalu nafsu!' Namun sejurus kemudian dia tersenyum miring. 'Tidak apa, asalkan aku hamil, semuanya akan berjalan dengan baik. Dan Xuan Chen.. akan segera menjadi milikku.'


"Ini.." Xuan Ye tampak memberikan sebuah pil kecil berwarna putih kepadanya.


Kemudian Xuan Ye menjelaskannya, "itu adalah pil penahan kehamilan. Aku tidak mau ayah tahu apa yang kita lakukan hari ini. Tapi percayalah, suatu hari nanti aku akan menikahimu sebagai putri mahkota." Pria itu tersenyum manis padanya.


'Menjijikan!' Umpat Wen Yuexin dalam hati. Namun nyatanya dia sedang tersenyum.


Wen Yuexin mengangguk dan hendak memakan pil itu. Namun saat mengenai mulut, pil itu tiba-tiba melebur tak bersisa walaupun itu adalah abu.


Xuan Ye tidak mengetahuinya. Dan pria itu hanya mengetahui kalau Wen Yuexin telah menelannya dengan baik.


Kereta kembali berjalan, mereka segera pulang sebelum malam semakin larut. Dan dalam perjalanan, sering kali Xuan Ye menggoda Wen Yuexin dengan berbagai sentuhan.


Wen Yuexin terus saja menerimanya dengan senyuman. Walaupun dalam hari ia mengumpat, 'breng sek! Hidung belang!'


.......


.......


.......


"Tuan, apakah kau tahu, kemarin dewa kegelapan mengajak kencan pangeran mahkota sampai pulang malam hari." Feng'er tampak bercerita dengan wajah konyol sambil memperhatikan Xuan Chen yang sedang membaca sebuah gulungan.


Mendengar kata-kata itu, Xuan Chen tiba-tiba termenung. Bukannya bersyukur, dia malah merasakan firasat buruk di hatinya.


"Tuan?" Panggil Feng'er merasa heran. "Bukankah seharusnya kau senang? Mengapa kau malah terdiam seperti itu?"


Xuan Chen menoleh ke arah Feng'er. "Bukankah ini terasa aneh? Aku merasakan firasat buruk."


Feng'er terdiam sesaat. Dia menopang dagunya, berfikir keras. "Benar juga, apa yang iblis itu rencanakan?" Gumamnya.

__ADS_1


"Tuan, aku juga merasakan firasat buruk!" Seru Feng'er tiba-tiba.


"Sebaiknya, kita berhati-hati jika bertemu dengannya. Aku tidak mau sesuatu terjadi sebelum Yi Changyin pulang." Katanya mewanti-wanti. Firasat buruk ini sungguh tak biasa.


Feng'er mengangguk patuh. Dia kemudian berdiri dan berkata, "aku akan melihat keluar sebentar."


Xuan Chen mengangguk.


Baru saja Feng'er melangkah, tiba-tiba ada asap memenuhi ruangan. Entah asap apa itu, tapi sukses membuat Xuan Chen dan Feng'er terkejut.


Mereka berdua segera bergegas keluar ruangan. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat para pelayan dan pengawal terkapar di atas tanah. Semua pingsan tak satupun yang terbangun.


"Tuan, apa yang terjadi?! Apakah kau mengenali asap ini?!" Feng'er terlihat sangat panik. "Mengapa aku tidak dapat mendeteksi auranya?!"


"Ini bukan asap biasa. Auranya sangat kuat, tahan diri kita dengan energi spiritual!" Xuan Chen memberi peringatan.


Mereka mulai membentuk perisai pelindung, yang di tahan dengan sejumlah energi spiritual. Feng'er berwarna merah dan biru. Sedangkan Xuan Chen hitam, dia menggunakan kekuatannya sebagai Wu Yun untuk ini.


Namun baru saja sebentar, tiba-tiba saja Feng'er terjerembab ke atas lantai. Xuan Chen terbelalak. Bahkan Phoenix melegenda itu tidak dapat melawannya?! Apakah ini ulah Wen Yuexin?!


"Sialan!" Maki Xuan Chen.


Ia bahkan sudah tak bisa menahan asap ini. Matanya terasa berat, kesadarannya perlahan menguap. Sedangkan kediaman Adipati Zhaoyang sudah dipenuhi dengan asap aneh ini.


Matanya yang berat kadang kali tertutup dan terbuka, melihat sosok yang berjalan ke arahnya menembus asap. Hanya itu yang terakhir dia lihat sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Seseorang itu menghampiri Xuan Chen. Berjongkok di hadapannya, menatapnya yang sedang tak sadarkan diri. Jari jemarinya dengan lembut mengusap pipi Xuan Chen.


"Xuan Chen... kau akan segera menjadi milikku." Ujar Wen Yuexin dengan senyuman jahil di bibirnya.


"Aku tahu.. aku tahu kau tidak akan pernah bisa menghabiskan malam denganku walaupun menggunakan obat penguat." Tambahnya dengan tangan yang masih mengelus pipi Xuan Chen.


"Maka dari itu.. aku menggunakan Xuan Ye." Kemudian dia tertawa keji.


Namun sejurus kemudian dia terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba mendorongnya. Itu bukan Xuan Chen, karena pria itu tidak mungkin kabur dengan asap racun miliknya.


Mereka adalah dua pria dan satu wanita yang kini menghunuskan pedang padanya, yang sedang terduduk di atas tanah. Mereka bertiga memakai masker, sepertinya tahu ada asap racun disini.


Mereka bukan Xuan Rong ataupun Xuan Yao yang dia kenal. Ataupun pria serba biru yang dia tahu sebagai penjaga Yi Changyin.


Ya, mereka adalah Heilong, Xiaobai dan Xiaoxuan. Yang telah merasakan bahaya pada Xuan Chen walaupun sedang fokus berkultivasi.


Mereka bertiga mulai menyerang Wen Yuexin secara bersama-sama dan sengit. Tentu saja wanita itu melawannya.


Dentingan pedang terdengar mengerikan di kediaman berkabut itu. Yang penuh dengan orang-orang hidup terkapar.


Walaupun tak sekuat Xuan Chen atau Yi Changyin, mereka berdua cukup untuk melawan Wen Yuexin. Tapi bagi wanita itu, sama saja dengan satu lawan satu.


Dengan mudahnya Wen Yuexin melepaskan masker ketiga orang itu. Melemparkannya ke dalam obor dan terbakar habis.


Mereka terpaksa melanjutkan pertarungan sambil menutup hidung. Namun apa daya, asap racun milik dewa kegelapan ini terlalu kuat untuknya.


Pertama Xiaoxuan yang tergeletak jatuh. Tak lama kemudian di susul dengan Xiaobai. Dan kini tinggal Heilong sendiri.


Dia adalah binatang ilahi yang melegenda, bisa sedikit menahan asap menjengkelkan ini. Namun kalah tetaplah kalah, akhirnya Heilong jatuh ke atas tanah.


Wen Yuexin tertawa menggelegar melihat kekalahan mereka. Dia merasa menang, sangat menang. Wanita itu kemudian menatap Xuan Chen dengan mata yang berbinar.


"Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkanmu, Xuan Chen.."


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2