
Seorang gadis terduduk dengan riang di depan meja rias yang sudah penuh dengan alat-alat penghias wajah. Di belakangnya terdapat empat pelayan yang membantunya untuk berdandan dengan cekatan.
Ia sendiri mengapit kertas pewarna berwarna merah muda dengan bibirnya.
"Junzhu, kau tampak bahagia.." Ungkap Xueqi dengan senyumannya yang turut bahagia melihat sang majikan.
Wen Yuexin terkekeh pelan. "Bayangkan saja, aku akan pergi ke gunung Tianjin untuk berjumpa dengan pangeran ketujuh.. Tentu saja aku harus bahagia mengenai ini.."
"Benar, pangeran ketujuh pasti akan dengan senang hati menyambutmu di sana.." Ujar Xueqi yang membuat Wen Yuexin tersipu.
Namun membuat salah satu pelayan di sana menunjukan ekspresi tak setuju, "tapi Junzhu.. sekarang masih tengah malam. Aku takut selir agung一."
BRAK!!
Ucapannya terhenti saat Wen Yuexin memukul meja. Wajahnya merah padam di penuhi amarah. Yang sontak membuat keempat pelayan itu bersujud di lantai sebagai pengampunan sambil berseru,
"Tenangkan amarahmu, Junzhu!"
Ya, begitulah seorang pelayan. Dengan kemarahan majikan yang bahkan bukan salah mereka, harus segera bersujud dengan tujuan menyenangkannya. Bahkan ada yang tak tanggung-tanggung di hukum cambuk oleh majikannya untuk dijadikan target saat memuaskan amarah. Miris!
"Tengah malam adalah waktu terbaik untuk pergi meninggalkan istana. Lagipula aku akan kembali saat matahari terbit." Ujarnya dengan dingin. "Juga, aku akan mengendarai senjata spiritual agar perjalanan jauh lebih cepat."
"Maaf Junzhu, maaf kelancangan hamba!" Seru salah satu pelayan yang tadi memperingatinya sesuatu.
Wen Yuexin menghela nafas, dia tersenyum. "Karena hari ini suasana hatiku sedang baik. Maka aku akan melepaskanmu.."
Dan itu adalah suatu keberuntungan bagi si pelayan, "terimakasih Junzhu."
"Tapi," Auranya mendadak menyeramkan. "Jangan harap bisa lolos jika melakukan kesalahan yang sama suatu hari nanti.."
"Ba.. baik, Junzhu.."
Yang membuat Wen Yuexin tersenyum miring, "baiklah.. percepat kerja kalian.."
"Baik, Junzhu.." Jawab mereka serempak sambil meneruskan pekerjaan masing-masing. Menata, menyisir, merias wajah dan menyiapkan pakaian sang Junzhu.
Setelah selesai bersiap-siap, Wen Yuexin dengan Xueqi menyelinap keluar istana dengan penyamaran yang khusus. Mereka berdua menggunakan jubah serba hitam dan penyamar aura hingga penjaga manapun tidak akan ada yang bisa menyadarinya lewat.
Setelah berada di luar istana, Wen Yuexin tersenyum sambil menghirup udara malam yang menyegarkan. Kemudian ia mengeluarkan liontin perak di saku jubahnya.
"Xueqi, kau belum bisa mengendarai senjata spiritual. Jadi masuklah kemari." Ujar Wen Yuexin sambil menunjukkan liontin perak spiritual itu.
Xueqi mengangguk, "baik Junzhu.." Sebelum akhirnya melebur bersama barang bawaan dan masuk ke dalam liontin perak spiritual.
Setelah itu Wen Yuexin menggantungkan liontin itu di sebuah kalung perak polos di lehernya. Kemudian mengeluarkan pedang spiritual dan mulai mengendarainya. Meninggalkan istana, bergegas menuju arah barat.
.......
.......
.......
Yi Changyin meregangkan otot-ototnya setelah energi spiritual Xuan Chen masuk ke dalam tubuhnya dengan deras, menyembuhkan luka dalam yang sempat ia terima. Sementara ia sedang menjauh dari tempat yang hancur berantakan itu hanya untuk menghirup udara segar.
Sambil menunggu Gaoqing Dijun tentunya.
Keningnya mengkerut begitu sepanggang ikan bakar berada di depan batang hidungnya. Namun detik berikutnya Yi Changyin tersenyum senang sambil merebutnya.
"Terima kasih, Xuan Chen.." Ungkap Yi Changyin sambil memeluk tubuhnya yang semerbak harum cendana.
Ternyata pria itu juga memegang satu ikan panggang lagi. Yang pastinya untuk di makan bersama sang istri. Jelas, ikan itu adalah jenis yang tidak biasa. Yaitu kan spiritual di kolam dalam ruang dimensi.
"Kau memang paling tahu perutku ini.."Tambahnya sambil menepuk-nepuk perutnya sendiri.
"Yin'er, bukankah tadi aku.."
"Jangan membahas hal itu lagi. Biarkan semuanya berlalu tanpa jejak, ya?" Potongnya sambil tersenyum. Namun hatinya terasa keruh karena tiba-tiba Xuan Chen membahas hal tadi.
__ADS_1
"Tapi.."
Tiba-tiba ciuman mendarat di pipi Xuan Chen yang membuat pria itu terdiam sesaat. Kemudian ia menoleh ke arah Yi Changyin yang masih tersenyum di dalam pelukannya.
Wajahnya bergerak maju demi menyentuh bibir ranum yang lembut itu. Yi Changyin hanya terdiam sambil memejamkan matanya, menikmati perasaan ini setelah badai menerjang.
'Apapun yang kau lakukan, aku harap itu tidak membahayakanmu, Yin'er..' Batinnya.
Selepas puas saling menyatu, Xuan Chen melepaskannya dan menatap wajah yang memerah itu. Dia tersenyum sambil mencubit hidungnya. "Cepat habiskan selagi hangat.."
"Ikan ini akan terasa lebih enak jika di makan bersamamu.." Gumam Yi Changyin yang bahkan hampir tidak terdengar oleh Xuan Chen.
Tapi mampu membuat pria itu tersenyum simpul.
"Juga jika kita memakannya di sana sambil memandangi bintang." Telunjuk Yi Changyin mengarah pada satu pohon berdaun rimbun yang berada di ujung hutan bambu. Pohon bercabang dan berdahan besar itu sangat pas untuk di jadikan tempat bersantai sambil makan dan memandangi bintang.
"Rubah kecilku memang paling tahu tempat yang paling indah dan mengesankan.." Puji Xuan Chen yang berhasil membuatnya tersipu.
Detik berikutnya Yi Changyin dikejutkan dengan Xuan Chen yang mendekapnya dan membawanya terbang. Hingga mendarat sempurna di dahan pohon yang besar itu.
Namun keseimbangan Yi Changyin yang kurang membuat ia terpelanting kebelakang. Xuan Chen dengan sigap menariknya, dan mereka kembali menyatu secara tidak sengaja. Mereka memanfaatkan hal ini untuk saling menikmati satu sama lain. Lagi..
.......
.......
........
Wei Qiao yang buruk rupa ambruk ke atas tanah setelah di lemparkan oleh Feng'er dan Heilong. Mereka tak segan sama sekali karena sudah membencinya sampai ke ubun-ubun.
"Selamat bersenang-senang.." Ujar Feng'er dengan nada yang mengejek.
Membuat Wei Qiao menggeram rendah dan berusaha mendirikan tubuhnya. Ia terkejut ketika mengedarkan pandangannya. Tempat ini begitu asing dan misterius. Berbagai hawa negatif mulai menusuk-nusuk hingga menciptakan firasat buruk.
"Dimana aku?! Dimana!!" Teriaknya namun tak berani berbalik menatap kedua binatang ilahi itu. Jelas, dia malu dengan wajahnya sendiri.
Kemudian Feng'er dan Heilong segera menjelaskan secara bergantian,
"Hutan penuh kesesatan.." Sahut Heilong.
"Hutan ini sangat berbeda dengan lainnya.."
"Juga menyeramkan."
"Kau tidak akan pernah bisa mati disini.."
"Juga di hutan ini, kekuatan seseorang akan ditekan..."
"Kecuali binatang ilahi seperti kami dan seseorang yang sudah mendapatkan kekuatan Dewa Dewi."
"Disini juga ada berbagai makhluk halus dan monster.."
"Yang dapat menyesatkan jalanmu hingga tak akan bisa keluar untuk selama-lamanya."
"Hutan ini sangat jauh dari gunung Tianjin.."
"Dan kau tidak akan selamat.."
Mereka berdua tertawa mengakhiri penjelasan beruntunnya. Wei Qiao yang membelakanginya gemetar ketakutan. Dia menelungkup tubuhnya sendiri sambil menoleh ke sana kemari dengan waspada.
"Beraninya Yi Changyin.. Beraninya!! KELUARKAN AKU SEKARANG!! Atau.. bunuh aku!! BUNUH SAJA!!" Ia terus menerus berteriak.
"Menurut bos kami.." Jawab Feng'er membanggakan Yi Changyin dengan sebutan bos, "mati terlalu ringan untuk menghukummu."
Kemudian mereka berdua berkata secara bersamaan, "selamat tinggal!" Dan hilang di udara kosong.
Wei Qiao menoleh dan sudah tak ada siapa-siapa lagi di sana. Dia terlihat begitu ketakutan dan lusuh, dengan nafas yang tak henti-hentinya memburu. Dan di sekitarnya ia mulai merasakan beberapa pasang mata menatap dari kejauhan. Juga suara-suara lengkingan aneh dan menyeramkan.
__ADS_1
Membuat Wei Qiao segera menutup telinganya dan mengatupkan matanya rapat-rapat. "AAAAA!! TOLONG AKUU!!!!"
.......
.......
.......
Setelah selesai makan tengah malam, Yi Changyin bersama Xuan Chen kembali ke tempat dimana Qi Xiangma di tahan. Wanita itu masih terdiam memendam emosi disana. Sedangkan Feng'er, Heilong, Xiaobai dan kakaknya sedang asyik mengobrol sambil memakan ikan bakar.
"Atasanmu ini lama sekali.." Seru Yi Changyin sambil mendelik ke arah Qi Xiangma, gadis itu hanya menatapnya tajam. "Apakah dia sudah tiba peduli lagi dengan bawahannya?"
"Nona, mari makan!" Ajak Xiaobai tiba-tiba.
"Aku sudah kenyang.." Tolak Yi Changyin halus. Kemudian dia bertanya pada Feng'er dan Heilong, "apakah Wei Qiao selesai?"
Feng'er dan Heilong mengangguk sambil tersenyum antusias. "Selesai!" Seru mereka secara bersamaan.
"Aku sudah merasa seperti orang yang kejam.." Tuturnya sambil mengeluarkan kipas Yin Zhenjie, mengibas-ngibaskan kipasnya hingga angin menerpa kulit wajah dengan lembut.
"Bagiku itu adalah hal yang wajar." Jawab Xuan Chen sambil merangkul pundaknya.
"Benar.. suruh siapa mereka mengganguku." Ucapnya sambil mendelik ke arah Qi Xiangma lagi.
Membuat wanita itu membuang mukanya dengan ekspresi yang dongkol.
Selanjutnya Yi Changyin mengubah kipas Yi Zhenjie nya menjadi seutas cambuk berwarna merah muda dan penuh dengan energi spiritual. Karena ini adalah senjata kontrak, tingkat kekuatannya akan mengikuti sang pemilik. Semakin tinggi tingkat kultivasinya, semakin sakit juga senjata yang memiliki kontrak dengannya.
Membuat Qi Xiangma merinding dan beringsut.
CTARR!!!
"AHHH!!"
Satu cambukan mendarat dan membuat semua orang menganga. Karena begitu mengejutkan seseorang bisa menghukum bawahan petinggi alam langit dengan mudah.
Qi Xiangma hanya pasrah dengan darah yang menganak sungai di bibirnya. Nafasnya berderu kencang, masih menatap Yi Changyin dengan tajam.
Saat cambukan kedua hendak mendarat, tiba-tiba energi spiritual yang begitu kuat dan mendominasi datang menghentikannya. Menarik cambuk itu hingga Yi Changyin terputar di tempat.
Dan semua orang terkejut kalau itu adalah Gaoqing Dijun.
Detik berikutnya aura di udara berubah lebih kuat, lebih mendominasi, lebih mengerikan, membuat Gaoqing Dijun sedikit terpental kebelakang karena Yi Changyin menarik kembali cambuknya secara paksa.
Feng'er dan Heilong bernafas lega karena Bai Suyue kembali bangun dari tidurnya. Dan semua orang tidak perlu khawatir jika Yi Changyin akan kalah telak dari Gaoqing Dijun.
Di saat seperti itu, Gaoqing Dijun tersenyum. Dia menelungkupkan tangannya di atas dada dan membungkuk. "Salam hormat, Ratu alam peri."
Membuat Bai Suyue meringgis. "Salam balik, Dijun."
Suasana sekitarnya begitu memanas, walaupun kelihatannya mereka berdua berbicara dengan ramah.
Gaoqing Dijun kembali menegakkan tubuhnya, menatap wajah Yi Changyin khas Bai Suyue jika berhadapan dengan orang alam langit, terutama dirinya. Senyuman miring yang sinis.
"Seharusnya Ratu tidak bisa sembarang menyandra seseorang. Dia adalah bawahanku.." Ujar Gaoqing Dijun sedikit menyindir.
Bai Suyue mendengus. "Seharusnya kau tidak sembarangan berencana membunuh orang, Dijun." Dia membalikan kata-kata Gaoqing Dijun yang sedikit menyentil.
Namun pria yang umurnya tidak tua dan tidak muda itu terkekeh pelan. "Aku tidak salah sasaran, Ratu."
"Tidak salah sasaran?" Bai Suyue tertawa menggelegar. "Enam belas ribu tahun aku tidur, tak disangka ternyata Gaoqing Dijun beserta pengikutnya berubah menjadi sebodoh ini.."
Membuat semua orang menjatuhkan rahangnya. Tak percaya melihat keberanian jiwa yang bahlan belum bangun sepenuhnya pada penguasa kedua alam langit setelah kaisar langit sendiri.
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉