
Hati Xuan Chen diliputi kecemasan. Dia tidak bisa berlama-lama di sana setelah dugaannya terbukti benar. Berlari sekencang mungkin bahkan kakinya hampir tidak menyentuh lantai. Sambil berlari, ia mengeluarkan pedang pusakanya.
Ketika sampai di depan tangga istana utama, ia sempat berhenti. Seperti yang di katakan pelayan itu tadi, banyak orang-orang yang pingsan sepanjang jalan. Juga tak jauh dari sana ada empat ketua yang tergeletak.
Ia ingin menyelamatkan mereka, tapi Yi Changyin lebih penting. Mengesampingkan itu semua, Xuan Chen segera terbang menuju istana utama. Saat sampai di puncak tangga, pintu itu masih terbuka lebar.
Dia dapat melihat sosok hitam di dalam sana dan Yi Changyin yang terduduk pucat di atas awan spiritual. Juga Yue Xingfei yang tergeletak dan tirai kristal yang hancur.
Dengan penuh amarah, dia melompat tinggi hendak menebas sosok wanita berpakaian hitam itu. Yi Changyin terkejut melihat kedatangan Xuan Chen yang tiba-tiba, untung saja auranya telah tertekan.
Wen Yuexin juga terkejut dan menghindar ke samping. Dan Xuan Chen berhasil mendarat tepat di tempatnya tadi. Tebasannya kosong, dia segera melihat ke samping. Kembali menyerang Wen Yuexin dengan brutal.
Gadis itu hanya melawannya dengan kibasan energi spiritual. Tapi serangan itu sangat brutal hingga mengharuskan ia memundurkan langkahnya, kewalahan sekaligus tidak tega jika harus melukainya.
Xuan Chen yang merasa emosi tidak menyerah untuk maju. Satu kali tebasan melayang tapi Wen Yuexin sudah menghilang tanpa jejak di dalam kabut hitam. Bahkan auranya tak terasa lagi dimana-mana.
Xuan Chen yang sibuk mencari tiba-tiba menoleh melihat Yi Changyin yang berjalan melewatinya, tak menoleh ataupun menyapa. Xuan Chen merasa aneh dan segera meraih tangannya, Yi Changyin berhenti berjalan.
"Yin'er, kau baik-baik saja?!" Tanyanya dengan panik.
Namun tak disangka Yi Changyin menepis tangannya dengan kasar. Tanpa bicara ataupun menoleh lagi, Yi Changyin berlalu pergi. Xuan Chen kembali berusaha meraih tangannya walaupun sulit.
"Yin'er, apa yang wanita itu katakan?! Jangan mudah terprovokasi olehnya! Jangan percaya dengan kata-katanya!" Dia terus memperingati yang tidak pasti, karena hanya praduga itu yang ada di dalam kepalanya.
Yi Changyin tidak peduli dan berlalu pergi meninggalkannya. Xuan Chen terus menerus berusaha meraihnya dan memanggil namanya. Namun tiba-tiba Yi Changyin menghentikan langkahnya, dia tertegun dengan apa yang dilihatnya di ambang pintu. Saat Xuan Chen ikut melihat, dia pun terkejut.
Tampak Hua Mu Dan dan Shui Ning yang berwajah panik. Tangan mereka memegangi seorang wanita berwujud iblis menyeramkan.
Pakaiannya serba hitam, wajahnya pucat, matanya merah dan kuku-kukunya panjang. Di belakang mereka, ada Hu Diejing dan Lian Qingran yang juga berwajah cemas mengiringi.
Lebih mengejutkan lagi, ada aura Wu Yun di sana. Sekarang Xuan Chen pun tersadar sesuatu. Saat dia pergi dari gelembung, ada seorang pelayan wanita di luar.
Saat itu dia memakan pil merah di luar gelembung. Sebenarnya, hembusan angin yang menerpa wajah gadis pelayan itu adalah aura iblis Wu Yun!
Xuan Chen merasa bersalah, pasti Yi Changyin akan marah besar. "Yin'er..." Pria itu berusaha meraih gadisnya untuk menjelaskan, namun Yi Changyin menepisnya tanpa menoleh dengan kejam.
Yi Changyin segera menghampiri mereka. Mengembunkan cahaya suci di tangannya. Gadis pelayan malang yang berubah menjadi iblis itu memberontak dan ingin menerkam seseorang. Apalagi saat melihat cahaya suci murni alam peri, dia semakin memberontak.
Cahaya energi spiritual murni dan suci itu menuju keningnya, lalu menyerap perlahan. Gadis pelayan yang berubah menjadi iblis itu menjerit, sebelum akhirnya aura iblis menghilang, penampilannya kembali seperti semula, dan ia jatuh pingsan.
Sejak tau bahwa energi miliknya yang dapat menghilangkan aura iblis, dia menjadi tahu sesuatu. Jika ada peri yang terkena aura iblis, maka gunakan energi spiritual sucinya. Tapi Wu Yun adalah sumber segalanya, jadi harus mengorbankan banyak bahkan semuanya.
"Saat kami tersadar, dia mengamuk dan hampir membunuh banyak orang. Untungnya dia hanya seorang, jadi kami mampu mengatasinya." Ujar Hua Mu Dan menjelaskan.
Xuan Chen hanya terdiam merasa bersalah.
"Apakah ada korban lain?" Tanya Yi Changyin sedikit cemas.
"Tidak ada, Ratu." Jawab Hua Mu Dan, sungguh melegakan hati.
"Bawa dia dan berikan sedikit perawatan, setelah itu temui aku di ruang kerja." Titah Yi Changyin.
"Baik, Ratu..."
__ADS_1
Ketika keempatnya hendak pergi, tiba-tiba Yi Changyin menghentikan mereka lagi. "Tunggu.."
Semua orang berhenti dan menunggu Yi Changyin melakukan sesuatu. Gadis itu mengembunkan energi spiritual di telapak tangannya. Hingga timbul bola kecil yang penuh dengan energi petir.
"Berikan darah kalian."
Tanpa kecurigaan apapun, mereka segera menggigit jari. Sebenarnya mereka mengerti dan telah mengetahui apa yang hendak Ratu mereka lakukan.
Setiap darah yang di teteskan membuat bola kecil itu bersinar terang kemudian meredup kembali. Setelah melakukan itu para ketua alam peri segera pergi dan melakukan tugas yang sebelumnya dititahkan.
Xuan Chen menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Yi Changyin kembali, memegangi tangannya. Tapi gadis itu segera menepisnya.
"Maafkan aku." Ujar Xuan Chen lirih.
Yi Changyin menghela nafas. "Ikuti aku." Xuan Chen pun hanya bisa menjadi penurut yang baik dan mengikuti Yi Changyin dari belakang. Gadis itu menggunakan awan spiritual untuk berjalan.
Selama perjalanan Xuan Chen tak berani untuk berbicara. Hanya berjalan dengan kepala yang menunduk dan tangan yang saling bertautan di depan. Seperti anak kecil yang sedang membuntuti ibunya yang marah.
Saat sampai di depan istana yang dilindungi gelembung spiritual, Yi Changyin berhenti dan menyingkir kesamping.
"Masuk." Katanya cepat.
"Yin'er juga masuk." Sahut Xuan Chen memelas.
Yi Changyin menggeleng tanpa menoleh ke arahnya. "Masuk."
"Sudah kubilang jangan percaya dengan kata-katanya." Xuan Chen mendekatinya, Yi Changyin hanya menunduk. Lebih tepatnya, tengah menghindari tatapannya.
Xuan Chen merasakan hatinya berdenyut. Masih memperhatikan wanita yang bahkan tak ingin menatapnya itu. Namun dia berusaha untuk berfikiran yang baik.
Xuan Chen tersenyum, "nanti malam, jangan lupa berkunjung." Setelah itu dia masuk ke dalam gelembung, dan kembali melihat Yi Changyin dari luar.
Gadis itu kembali mengeluarkan bola spiritual yang telah ditetesi darah keempat ketua alam peri. Melemparkannya ke atas permukaan gelembung air dan membuatnya semakin tebal.
"Jangan memaksakan diri. Hanya keempat ketua alam peri yang bisa keluar masuk." Ujar Changyin dengan nada enggan sambil bergegas pergi.
Xuan Chen yang mendengar hal itu terbelalak, "Yin'er! Tunggu!"
Gadis itu berhenti, namun tidak berniat berbalik. Ia tak mau menunjukkan matanya yang perlahan sedang meneteskan air mata.
"Yin'er... Bukankah sudah kubilang?" Dia berkata dengan suara yang parau. "Aku akan menerima hukuman apapun kecuali perpisahan, walaupun hanya sebentar."
Mendengar hal itu dada Yi Changyin semakin sesak. Dia tak mau berlama-lama lagi di sini dan segera mengambil langkah. Selama sebulan, dia harus menghindarinya untuk melakukan pencegahan sesuatu. Dan teriakan Xuan Chen yang terus memanggilnya telah membendung air mata dan memecahkannya.
'Maafkan aku...' Batinnya.
Sementara di sisi lain, Xuan Chen yang melihatnya menjauh tidak berdaya. Tubuhnya merosot ke atas tanah, matanya menatap kosong kedepan. Ia sangat linglung dengan apa yang terjadi barusan. Yi Changyin yang marah tiba-tiba, itu sangat menyentak hatinya.
Dia tersenyum kecut, "baiklah... Apapun hukuman darimu, aku akan menerimanya dengan senang hati."
.......
.......
__ADS_1
.......
"Ratu! Aku tidak menyetujui hal itu!" Teriak Hua Mu Dan yang berdiri dari duduknya. Lalu di susul dengan ketiga ketua lainnya yang menyuarakan hal sama.
Yi Changyin yang duduk di kursi utama hanya menghela nafas. Hal ini sudah ia duga sebelumnya, tidak akan ada yang menyetujui keinginannya untuk menggali inti roh yang terbesar. Padahal mereka bereempat hanya disuruh untuk merahasiakan.
Namun kesayangan mereka terhadap sang Ratu tidak bisa pudar. Mereka tidak bisa melihat rambut sang Ratu yang memutih begitu saja, dengan wajah dan tubuh yang awet muda. Belum lagi tubuhnya yang tidak akan sekuat dahulu.
"Apa gunanya kalian melarangku?" Ujar Yi Changyin merasa bisa melakukan ini sendiri.
"...."
"Akan sangat sia-sia jika aku mati dan inti rohku masih utuh." Tambahnya yang membuat semua orang ingin muntah darah. Di dunia ini, makhluk abadi mana yang mau kehilangan inti roh nya? Tidak ada!
"Tapi, apapun yang terjadi, kami tidak akan membuat Ratu meninggal dunia." Ujar Shui Ning yakin yang diangguki semua orang.
"Bisakah kalian menemukan penawar untuk ini?" Tanya Yi Changyin sedikit malas.
"...." Semua orang terdiam. Benar, tidak ada yang bisa. Tapi, mana mungkin jalan keluarnya adalah mati?
"Para ketua, ingatlah. Aku tidak bisa membuat Xuan Chen dikurung seperti itu selamanya. Aku tidak bisa membuat peri-peri yang berada di istana selalu merasa waspada dan takut." Jelasnya.
Kemudian Yi Changyin tersenyum meyakinkan, "kau tenang saja, aku tidak akan mati."
Tidak ada celah lagi untuk melarang. Mereka semua hanya bisa menganggukan kepala. Akhirnya mereka hanya melihat Yi Changyin dan berjaga-jaga.
Sekarang Yi Changyin akan memindahkan bayinya ke dalam teratai, untuk meminimalisir pergerakan racun. Jujur saja ia sangat khawatir
Hua Mu Dan mengeluarkan teratai kecil di sakunya. Meletakkannya di depan Yi Changyin yang kini berdiri di tengah-tengah ruangan. Teratai itu ada di udara kosong dan melayang-layang.
Kemudian Yi Changyin merapalkan mantra dan tangannya bergerak membentuk formasi kecil. Setelah energi spiritual terkumpul cukup banyak, ia lemparkan ke arah teratai itu.
Teratai cantik berwarna merah muda perlahan turun ke lantai. Kelopaknya perlahan membesar, ukurannya membengkak. Mungkin mampu untuk menampung satu Yi Changyin.
Setelah tidak ada lagi tanda-tanda untuk pembengkakan, Yi Changyin maju dan menaiki salah satu kelopaknya. Berjalan menuju tengah-tengah bunga. Bak merasakan kehadiran Yi Changyin, teratai itu menguncup, membungkusnya.
Inilah proses pemindahan bayi pada teratai kehidupan. Walaupun terlambat, setidaknya anak Yi Changyin akan baik-baik saja walaupun tubuhnya terluka. Sekarang dia memiliki kekuatan besar, tak perlu khawatir dengan kegagalan. Dan racun Dewa kegelapan mungkin pengecualian, tindakan ini hanya pengamanan.
Keempat ketua alam peri hanya diam melihat hal itu. Mereka tidak perlu membantu apapun.
Teratai yang menguncup itu tiba-tiba bersinar terang. Setelah cukup menyilaukan, dia menyusut kembali. Sosok Yi Changyin yang melayang di udara kosong kembali terlihat, teratai itu seperti menembus tubuhnya.
Teratai itu menyusut sangat kecil dan berakhir di perut Yi Changyin. Bersinar terang, dan pudar. Kini perutnya datar, tidak membuncit lagi. Ada dua teratai kehidupan di dalam perutnya, yang siap melahirkan bayi dalam waktu satu bulan lagi.
Hua Mu Dan tersenyum dan berkata, "bayi kembar."
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1