
...WARNING!! Chapter ini 98% Berisi uwu-uwu yang belum pernah muncul di chapter² sebelumnya....
...Saran, *ya**ng* sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.. sebaiknya baca malem deh. Bukan apa-apa, takut traveling aja hehe🐦 Atau skip-skip aja boleh. Tapi justru di sana banyak kalimat-kalimat penting wkwk🤣 Saran aja baca malem hehehehe:v...
.......
.......
.......
Sudah berkali-kali mata mereka berpadu kemudian menyelam ke dalam lautan indah yang paling dalam, tapi kali ini keduanya merasakan gemetar berbeda disetiap detik yang segera berlalu. Seakan waktu ini tengah mendukung mereka untuk menumpuk asmara yang terdalam.
Walaupun kabut-kabut hitam masih tengah menutupi masa depan mereka yang -mungkin- cerah. Dengan saling menggenggam tangan dan ikatan-ikatan benang cinta, kabut itu akan berhasil dilaluinya bersama. Semoga saja.
Suasana canggung, gugup dan gagu sudah hilang di telan hasrat masing-masing. Mendorong tubuh Xuan Chen untuk lebih dekat dengan wanita bak bidadari surga di hadapannya. Yang memiliki bulu mata tebal, mata jernih dan kulit halus nan putih yang memabukkan mata.
Perbedaan yang membentang seperti langit dan bumi mampu dia langkahi untuk memadukan sesuatu yang bisa membuat terbang tanpa paksaan.
Namun sang bidadari surga belum siap untuk menerima sesuatu untuk yang pertama kalinya. Yi Changyin segera menutup mulut Xuan Chen dengan sebelah tangannya, membuat kedua mata itu semakin beradu lekat.
"Xuan Chen.. apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan itu membuatnya tertimpa ribuan batu. Di mulai dari latar belakang yang terlihat membentang jauh. Perbedaan alam langit dan alam fana yang tak terhingga jauhnya. Kekuatan, kepintaran, kekayaan. Lalu fisik.. wanita mana yang mau melakukan hal intim dengan pria cacat sepertinya?
Membuka matanya untuk kembali menjauh dan menunduk menatap permukaan air yang masih penuh dengan kabut-kabut hangat. Hanya satu ucapan penyesalan yang keluar dari bibirnya, "maaf.."
Yi Changyin hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundaknya. "Bukan aku ingin mengecewakanmu. Mungkin.. kita punya perasaan sama. Tapi.. ini.. ini.."
Lidah Yi Changyin berubah kelu saat menyadari dua pasang mata yang terus menatapnya dengan serius itu. Terlihat mempesona dan membangkitkan segala kebahagiaan yang terkubur dalam di hatinya. Hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ini.. belum waktunya." Akhirnya Yi Changyin belum melanjutkan. Tapi pria itu masih menatapnya dalam diam, membuat dia berkeringat dingin dan tidak tahu harus berbuat apa.
Hingga dia tak tahan dan mengambil inisiatif yang begitu konyol. Yi Changyin mengecup bibir Xuan Chen secepat kilat lalu berdiri, "aku akan menunggumu di luar."
Namun bukannya Xuan Chen terkesiap, dia malah terpesona dengan bentukan tubuh yang tampak jelas menjiplak di balik kuyupnya pakaian Yi Changyin. Sekaligus sentuhan antar bibir yang menyengat, juga kata-kata tadi, mendorong tangan Xuan Chen untuk menarik kembali Yi Changyin kedalam pangkuannya.
Yi Changyin tidak bisa menghindar karena langkah-langkah Xuan Chen begitu secepat kilat. Xuan Chen mendorong tubuhnya hingga sampai di sisi bak yang lain.
"Xuan..".
Pria itu langsung menyumpal bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan. Namun tak lama pria itu melepasnya kembali, menatap wajah polos di hadapannya yang kini berubah merah bak tomat matang.
"Ulangi kata-kata tadi.." Pintanya dengan suara yang lembut.
"Xuan Chen?"
"Bukan yang itu!"
"Ini belum waktunya?"
Xuan Chen terkekeh pelan. "Sebelum itu.."
Mulut Yi Changyin bergerak-gerak, hendak menjawab tapi terasa kaku. Seperti di selimuti oleh es yang beku hingga membuatnya kesulitan bergerak.
"Mmm.. Bukan aku ingin mengecewakanmu?"
Pertanyaan itu membuat Xuan Chen menjepit kedua bahunya dengan tangan. Sambil mendekatkan wajahnya hingga deru nafas itu terasa lembut menyapu permukaan kulit. "Setelah itu.." Bisiknya. Walaupun Yi Changyin bertele-tele, dia masih terlihat lebih sabar. Seolah permainan ini sangat menyenangkan.
"Kita.. kita.." Yi Changyin menurunkan pandangannya, tidak berani menatap kilat bercahaya yang membuatnya hampir pingsan. "Mungkin.. kita memiliki.. perasaan yang.. sama.."
Kalimat terpotong-potong itu mampu membuat kurva manis di bibir Xuan Chen. "Lalu bagaimana kalau aku mencintaimu?"
Sontak membuat Yi Changyin mendongkak.
"Apakah kau juga merasakan hal yang sama?"
Apa yang terjadi kali ini membuat otaknya berputar-putar di tempat. Tidak mampu berpikir bahkan satu langkah rencana pun untuk selanjutnya. Pandangan mata yang sedalam samudera itu membuatnya diam dimabuk. Tentu saja banyak kata-kata tersembunyi yang berada di dalamnya.
"Aku.. aku.."
Gemas! Bibir mungil itu berhasil membuat birahinya naik walaupun belum mencapai puncak. Dia masih tidak berani untuk merusak gadis alam langit yang sudah berusia ribuan tahun ini. Masih banding dengan dirinya sebagai anak baru kemarin, bukan?
Namun bibir ranum ini.. berhasil menarik miliknya untuk menyentuh penuh dengan kelembutan. Memainkannya perlahan membuat sensasi-sensasi asing dirasa oleh Yi Changyin, karena ini adalah pertama kalinya.
Yi Changyin sedikit terbelalak, namun dia terlihat masih kebingungan. Reaksi bodoh apa yang dia lakukan, hanya memukul-mukul dada tanpa sehelai pakaian yang basah di hadapannya. Bahkan tak bisa menimbulkan reaksi apapun bagi Xuan Chen -yang sedang menikmatinya.
Menjauh pun tidak ada gunanya. Rasanya seperti mendorong-dorong tembok gerbang akademi Tianjin yang kokoh dan sudah bertahan selama puluhan ribu tahun dari terjangan apapun. Percuma, lenguhan-lenguhan kecil akan semakin membuat lawannya semakin terbang tinggi ke atas langit tertinggi.
Entah dia yang sudah mulai terhanyut.
Benar.. sepertinya dia sudah mulai terhanyut dalam permainan lembut pria itu.
__ADS_1
Sudah tidak bisa melawan. Demi apapun, Yi Changyin tidak menolak perlakuan pria ini walaupun tengah di batasi tembok identitas yang begitu kokoh. Kedua tangannya mulai merengkuh di atas tengkuknya, mulai bermain-main bersama di atas air dengan asap hangat yang mengepul.
Suasana di sana sangat mendukung..
Namun..
'Kreett'..
"Kakak seperguruan ketujuh."
Sial! Panggilan itu terpaksa membuat Xuan Chen menyembunyikan Yi Changyin di balik dada bidangnya. Menghentikan permainan yang sempat menerbangkan semua khayalannya. Lalu kembali tertarik secara paksa oleh suara Zhu Guhuo, adik seperguruan kelima belasnya.
"Ada apa? Aku masih merendam.." Sahut Xuan Chen setengah berteriak. Sementara Yi Changyin yang di dekapnya sedang di landa kecemasan yang luar biasa.
"Aku hanya datang melihatmu sambil membawakan sarapan." Terdengar Zhu Guhuo meletakkan suatu benda di atas meja.
"Baik, kau kembalilah. Sebentar lagi aku selesai.."
"Baik, kakak seperguruan.."
Terdengar Zhu Guhuo menutup pintunya pelan-pelan. Lalu langkahnya yang terdengar menjauh, dan menghilang. Xuan Chen menghela nafas lega. Yi Changyin menyembul keluar dari dekapan dadanya. Sambil melihat bayangan pintu yang tertutup dibalik tirai.
"Yin'er.."
Panggilan itu sontak membuatnya menoleh ke arah Xuan Chen. Panggilan yang begitu menggelitik sekaligus terasa hangat di hatinya. Bahkan hal itu yang membuatnya sadar kalau sedari tadi mereka masih berendam di dalam bak mandi. Dan pria itu masih telanjang.
Tanpa di duga, Xuan Chen kembali mendekatkan bibirnya. Tapi Yi Changyin sedikit-sedikit menghindar hingga pria itu tak dapat benda ranum yang ingin di gapainya.
"Sekarang menolak?" Tanya Xuan Chen lembut. Masih di depan wajahnya yang memerah, hembusan di setiap nafas pria itu terasa lembut.
"Dewa Guntur dan Dewi petir akan menyadari perbuatan kita.." Jawab Yi Changyin setengah berbisik, tidak berani menatap mata yang pastinya akan membuat dia kembali terhanyut.
Xuan Chen mendesis sambil tersenyum. "Yin'er.."
"Jangan memanggilku seperti itu." Sahut Yi Changyin agak ketus.
Namun tanpa di duga, Xuan Chen kembali menyambarnya secara tiba-tiba. Membuat dia tidak bisa melawan dan hanya bisa bersikap pasrah di bawah tekanan. Tidak, itu semacam tekanan yang membuatnya ikut terhanyut dalam permainan.
.......
.......
.......
"Sangat manis!" Serunya kegirangan.
Tiba-tiba Hua Mu Dan datang dengan nampan berisi teko teh beserta cangkirnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengetahui apa yang di lakukan kakek tua itu pagi-pagi.
"Kakek, kau ini sudah tua. Masih saja mengintip anak muda yang sedang melakukan sesuatu!" Ujar Hua Mu Dan dengan ketus. Sambil meletakkan nampannya penuh emosi di atas meja.
Kakek bulan berbalik menatap Hua Mu Dan, " heh kau?! Sejak kapan kau sudah berani memanggilku tua?" Sahut kakek bulan tidak terima.
"Sadarlah umur, kakek.. Kau tidak pantas untuk mengintip mereka barusan."
Tapi tanggapan kakek bulan malah terkekeh senang. Tampaknya dia sangat bahagia. "Apa masalahnya aku mengintip Xuan Chen dan Yi Changyin sedang melakukan sesuatu?"
"Kakek!" Seru Hua Mu Dan tak terima. Entah kenapa, posisi Yi Changyin serasa begitu tinggi di hatinya. Dia merasa tak terima kakek bulan mengintip perilaku tidak senonoh mereka.
"Kenapa kau begitu marah?" Tanya kakek bulan dengan tatapan yang menyelidik.
"Apakah kau mencintai Xuan Chen juga?!" Seru kakek bulan tanpa di duga. Hua Mu Dan terbelalak mendengarnya.
"Kakek! Tidak mungkin aku menyukai anak baru lahir! Lihatlah usiaku, aku juga sudah tua!" Gerutu Hua Mu Dan sambil memalingkan wajahnya. Kemudian pergi meninggalkan sang kakek bulan yang masih setia dengan kekehannya.
"Haiya!" Kakek bulan berseru, sambil duduk dan menuangkan teh sendiri yang tadi dibawa oleh Hua Mu Dan.
"Gadis rubah itu.. makin tenggelam di lautan cinta.." Gumamnya sambil menatap lekat-lekat cangkir yang berada di tangannya.
"Semakin dalam.. semakin banyak bencana yang akan dia hadapi.. hingga akan kesulitan untuk menemukan jalan keluar.." Setelah mengatakan hal itu dengan serius, kakek bulan mulai meminum tehnya.
Tanpa dia sadari, Hua Mu Dan memperhatikannya dari jauh, dengan raut wajah yang khawatir. 'Kakek.. benarkah seperti itu? Apa yang bisa ku bantu untuk dia yang ku anggap sebagai ratuku?'
.......
.......
.......
Yi Changyin merapikan kerah baju yang tampak kelonggaran di tubuhnya. Pakaian berwarna putih kebiruan dengan jubah biru pudar. Lengkap dengan ikat rambut yang terbuat dari perak mengkilap. Jelas, itu adalah stelan kesukaan Xuan Chen saat tinggal di daratan Dongfang (daratan timur).
Setelah selesai dia menghambur ke arah Xuan Chen yang sedang duduk di meja makan. Namun sikapnya berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Tidak ceria dan manja, melainkan canggung dan gugup.
__ADS_1
Xuan Chen hanya tersenyum tipis sambil memberikan sepasang sumpit padanya. Yi Changyin segera mengambilnya secepat kilat dan tanpa menoleh. Setelah itu memainkannya di antara kedua tangan.
"Makanlah.."
Yi Changyin tidak menjawab.
"Yin'er.."
"Makanan ini hanya cukup untukmu.." Jawab Yi Changyin dengan nada yang rendah.
"Kalau begitu untukmu saja." Ujar Xuan Chen sambil meletakkan sumpitnya, menarik gadis itu untuk menatapnya.
Namun dia tidak bicara. Hanya menatap dalam diam, menyelami iris hitam berkilau yang tak bisa membuatnya berpaling. Xuan Chen mengerti mengapa sikap gadis itu sangat berbeda jauh dengan sebelumnya. Lalu meraih tangannya, menggenggamnya erat. Yi Changyin tidak sekalipun berniat untuk menolak. Justru hatinya sangat senang.
"Tenanglah..."
"Xuan Chen.." Gadis itu memanggil dengan nada yang ragu-ragu. Tak lama dia pun melanjutkan, "setelah kejadian tadi.. apakah aku hanya akan menjadi hewan kontrak di hatimu?"
Xuan Chen tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Yi Changyin dengan lembut. Sadar tidak sadar, hal itu membuat hatinya sedikit menghangat.
"Apakah rubah kecilku sedang menuntut?"
Yi Changyin mendongkak terkejut. "Aku tidak.."
"Kemarilah.." Potong Xuan Chen sambil menepuk-nepuk pahanya. Meminta Yi Changyin untuk duduk di sana.
Yang benar saja?! Tapi anehnya Yi Changyin malah menurut walaupun hatinya meneriakkan kalau dia akan segera pingsan karena menahan canggung. Lebih parahnya lagi, dia melingkarkan tangannya di belakang punggung Xuan Chen, lalu menatapnya dalam-dalam.
"Kau menginginkan apa?" Tanya Xuan Chen. "Aku menikahimu?"
Sontak membuat Yi Changyin menjawab, "tidak!" Gadis itu menundukkan kepalanya. "Lagipula kau tidak merenggut kesucianku."
Yi Changyin menelan slivanya, lalu melanjutkan, "Juga tidak merobek pakainku."
"Dan menikah adalah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Juga.. tanggung jawab besar yang nantinya akan kau pikul. Selain itu, ayah pasti tidak akan setuju. Lalu.." Yi Changyin menghentikan kata-kata yang mewakili kecemasannya.
Namun Xuan Chen hanya mendesis sambil tersenyum. Menarik tengkuk gadis itu hingga kembali menyatu. Tak lama Xuan Chen melepaskannya lagi.
Lalu Xuan Chen berkata, "mulai sekarang.. lupakanlah hubungan itu walaupun masih terikat janji darah. Itu sangat tidak penting.. kita bisa melanjutkan hubungan ini diam-diam."
"Yin'er, kau bilang tadi aku tidak merenggut kesucianmu. Itu karena aku sangat menyayangimu lebih dari apapun. Tidak berani merenggut mahkota yang selama ini kau jaga, apalagi masa depanmu yang akan suram jika sampai hal itu terjadi.."
"Mahkota itu adalah milikmu. Aku tidak akan pernah merebutnya secara halus apalagi secara paksa. Sampai mungkin kita akan menempuh hidup baru." Tambahnya.
Xuan Chen tersenyum mengakhiri kalimatnya. Tapi Yi Changyin malah berkaca-kaca. Membuat Xuan Chen menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kau bilang tadi ayahmu tidak akan merestui hubungan itu? Tentu saja, itu akan sulit. Tapi aku yakin langit tidak mungkin memberi pilihan yang membuatku salah jalan."
"Tentu saja aku sadar. Kau Dewi alam langit. Aku manusia fana. Kau berumur ribuan tahun, aku puluhan tahun. Dan aku.. akan mati puluhan tahun kemudian, sedangkan kau akan mati ratusan ribu tahun kemudian."
"Lihatlah perbedaan jarak yang membentang itu. Yang kadang membuatku maju mundur untuk berjalan bersamamu."
Yi Changyin semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa kata-kata itu telah menyentuh hatinya. Meledakkan air matanya hingga tak bisa menahannya lagi. Membuncahkan rasa sedih yang menyayat hatinya.
Namun Xuan Chen kembali melanjutkan, "jika kita saling mencintai.. mengapa hanya diam mengikuti arus takdir yang mengarah pada hal yang tidak diinginkan?"
Tangan Yi Changyin bergerak demi meraih tangan Xuan Chen yang terdiam di atas meja, dia tidak berniat untuk menjawab. Xuan Chen menyadari hal itu dan segera memberikan tangannya. Membuat Yi Changyin menggenggamnya erat seakan tak ingin lepas.
"Yin'er.. dari awal kita bertemu. Aku tahu apa yang berada di hatimu. Mendorongku untuk bersikap egois dan menghancurkan jarak. Jika kau berusaha meraih tanganku di belakang, untuk apa aku bersusah payah berlari menghindarimu?"
"Yin'er.. jika kita saling mencintai.." Xuan Chen meraih dagu Yi Changyin. Membuat kedua mata itu kembali bersatu padu setelah lama saling memalingkan. Terutama Yi Changyin yang terlihat nanar dan berkaca-kaca.
"Aku ingin kita tidak menyembunyikan rasa ini lagi satu sama lain.." Yi Changyin secara sengaja melanjutkan apa yang hendak Xuan Chen katakan. "Biarpun dunia tidak mau melihat kita.. aku tidak peduli.."
Hati mereka seketika menghangat bahkan memanas sampai meleleh. Tidak sanggup lagi meluapkan rasa senang hingga hanya bisa tersenyum satu sama lain.
Perasaan yang membuncah di waktu yang belum tepat, memanglah menyakitkan. Tapi hidup ini sangat singkat, tidak boleh menyia-nyiakan bahkan satu detikpun.
Menarik mereka untuk kembali saling menyentuh tanpa penolakan ataupun paksaan. Tidak peduli tempat mana yang sekarang mereka pijaki, yang terpenting hari ini.. detik ini.. adalah milik mereka berdua. Menyatu padukan perasaan yang mekar dan meledak-ledak indah seperti kembang api.
Sekali lagi dalam hati, 'Aku mencintaimu..'
.......
.......
.......
🎆
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1