
Tak lama kemudian, malam benar-benar sudah mencapai puncaknya. Yi Changyin tiba-tiba merasakan sesak di dada. Rasa sakit dari jantung mulai menjalar, terasa menusuk-nusuk.
Dia segera terbangun. Melangkahi Xuan Chen dan berjalan sempoyongan menuju halaman belakang. Setelah mencapai kolam kecil, dia ambruk, tubuhnya menggigil.
Setelah itu dia terus-menerus memuntahkan darah beracun. Jantungnya terasa disayat-sayat tanpa ampun. Yi Changyin sudah kehilangan kendali. Sambil memegangi dadanya, dia berguling-guling di sana. Nafasnya mengebu dan air mata yang membendung mengalir, dia berusaha menahan sakitnya.
Banyak hal yang telah dia lakukan bersama Xuan Chen. Racun yang menyerang semakin banyak dan mengerikan. Pakaiannya sudah basah dibanjiri keringat bercampur darah, menahan agar tidak berteriak. Tubuhnya bergetar hebat dan mulut tak henti-hentinya memuntahkan darah, seakan tak akan ada habisnya.
Setengah jam dia kesakitan seperti orang yang sekarat. Mampu membuat Yi Changyin hanya bisa berbaring di samping kolam. Pakaiannya basah penuh darah, nafasnya lemah dan wajahnya yang pucat pasi. Ditambah rambutnya berantakan, dia sudah tak memiliki rupa.
(Maksudnya tak memiliki rupa disini adalah penampilannya yang tidak benar atau berantakan)
Matanya hanya bisa membuka tutup tak berdaya. Menahan agar tidak jatuh pingsan. Ia berusaha melihat ke atas, banyak lampion yang tergantung indah. Ia hanya berkedip tak berdaya. Seperti seseorang yang akan menjemput ajalnya.
Haruskah setiap malam dia seperti ini demi kebahagiaan Xuan Chen? Ataukah harus menuruti apa yang di sarankan Hua Mu Dan, yaitu untuk tidak menemui Xuan Chen.
Namun hatinya yang kuat selalu ingin tubuhnya tersiksa demi bersama pria yang dicintai.
Jika Xuan Chen mengetahui hal ini, khawatir dia akan mengorbankan hidupnya sendiri demi menyelamatkannya. Ketika pertama kali Wu Yun bangkit, racun itu tenang saat mendapatkan penekanan dari aura jiwa peri ras Phoenix Wu Yun.
Walaupun tak tahu, Yi Changyin khawatir mengorbankan jiwa itu adalah satu-satunya penawar. Racun ini pasti akan membunuhnya suatu hari nanti, dan Xuan Chen tidak akan segan-segan untuk menyelamatkan nyawanya nanti.
Ia tak mau ini terjadi apapaun alasannya. Lebih baik dia sendiri yang mati, dari pada melihat Xuan Chen berkorban.
Sekarang Yi Changyin hanya ingin berbaring di sana. Mengistirahatkan tubuhnya yang telah dicabik-cabik.
Namun tak disangka, Wei Qiao datang ke halaman belakang. Dia begitu terkejut saat melihat keadaan Yi Changyin. Gadis itu segera membantunya duduk.
"Ra.. Ratu, apa yang terjadi?" Dia sedikit canggung ketika memanggil Yi Changyin dengan sebutan Ratu.
Yi Changyin hanya menggeleng rendah. Dia mengambil satu pil jamur Lingzhi di dalam liontin spiritualnya. Lalu menelannya seketika.
Tiba-tiba saja wajahnya yang pucat kembali seperti semula. Segar, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tak ada keringat atau apapun itu. Hanya pakaian saja yang masih dilumuri darah.
Wei Qiao terpukau melihat hal itu.
Dengan pil jamur Lingzhi yang sudah para ketua kembangkan, dia menjadi lebih bebas. Ketika kambuh, segera minum itu. Maka semuanya hilang.
Tapi, tetap saja kerusakan dalam tubuh pelan-pelan akan terjadi. Sekuat apapun Yi Changyin, dia masih tidak bisa melawan apa yang diciptakan Dewa kegelapan.
Detik berikutnya ia menoleh ke arah Wei Qiao dengan tatapan yang tajam. Gadis itu tertegun dan mulai menggigil. Ada penekanan aura di sana.
"Ingat, Wei Qiao." Ujar Yi Changyin dengan dingin. "Aku bisa menghancurkanmu kapan saja, dimana saja, bahkan jika kita berjauhan."
Wei Qiao semakin berkeringat dingin mendengar hal itu.
"Besok, atau kapanpun, jangan pernah beritahu apa yang kau lihat malam ini pada Xuan Chen. Jika tidak... Jangan harap kau bisa melihat wajah cantikmu lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Yi Changyin pergi meninggalkannya. Nafas Wei Qiao masih memburu takut. Dia tak berani sekarang. Dia takut kehilangan wajah cantiknya lagi!
Di dalam kamar yang temaram, Yi Changyin dapat melihat Xuan Chen yang sedang terlelap dengan damai. Dia tersenyum, perlahan menghampirinya.
__ADS_1
Namun sadar dengan pakaian yang berlumur darah, dia berhenti. Dia segera berputar dan mengubah penampilannya menjadi bersih.
Kemudian menghampiri Xuan Chen, berbaring di sebelahnya, di dalam selimut. Menatap wajahnya yang tengah tertidur, dia tak sabar untuk mengusap-usap pipinya.
Menekuri setiap wajahnya, yang tersembunyi banyak kenangan. Entah kenapa membuat ia ingin menangis. Akankah suatu hari nanti... Dia akan meninggalkan Xuan Chen?
.......
.......
.......
Pagi harinya, utusan istana langit tiba. Membawa pengumuman dan pedang pusaka milik Wu Yun. Namun dia hanya mencapai gerbang, Hua Mu Dan yang menjemput. Pengantar itu tidak boleh terkena racun alam peri.
Pengumuman hanya mengatakan kalau waktu hukuman untuk Yi Changyin dan Xuan Chen adalah seminggu lagi. Di dalam neraka dan mendapatkan seratus kali cambukan Dewa yang tingkat kekuatannya sama dengan sepuluh petir biasa.
"Yin'er, biar aku saja." Xuan Chen berkata dengan nada penuh kekhawatiran. Di dalam tatapannya yang dalam ada ribuan kecemasan. Sekarang mereka berdua sedang duduk berdampingan di atas kasur.
Yi Changyin hanya terkekeh, "kita lakukan sama-sama. Itu bukan apa-apa bagi kita." Dia tersenyum meyakinkan.
Xuan Chen menghela nafas panjang. "Bagaimana dengan Gaoqing Dijun?" Dia tampak mengalihkan topik.
"Dia dihukum merenungkan diri di aula leluhur alam langit." Yi Changyin tergelak. "Sudah tua masih di hukum merenung, seperti bocah!"
"Justru itu, dia pasti akan merasa malu." Sahut Xuan Chen meledek Gaoqing Dijun dalam hatinya. "Hatinya akan berdarah ketika merasa malu, lebih parah dari dihukum fisik bukan?"
"Benar juga." Yi Changyin terkekeh jahat. "Andai aku bisa menjadi angin dan mengejeknya habis-habisan."
"Lebih baik... Gunakan waktu untuk membuat anak kedua." Tambahnya. Matanya berkedip sebelah, menggoda. Karena Yi Changyin hanya diam saja, Xuan Chen memiliki kesempatan semakin mendekatkan wajahnya. Lalu berhasil menyentuhnya lembut tanpa penolakan.
"Ibunda!!" Teriakan dua anak kecil itu sukses membuat mereka berdua terkejut. Yi Changyin segera mendorong Xuan Chen menjauh.
Mata Xuan Chen melotot marah melihat dua anak kecil yang tiba-tiba berdiri di depan mereka. "Kalian?!" Telunjuknya menunjuk geram.
"Feng'er? Heilong?" Gumam Yi Changyin melihat penampilan kedua makhluk ilahi itu menjadi anak kecil.
Sejurus kemudian mereka berdua berteriak menangis. Menghambur ke arah Yi Changyin minta dipeluk. Mereka berdua telah mengabaikan tuan kontraknya.
Xuan Chen mengeraskan rahangnya, melihat Yi Changyin dengan lembut memeluk mereka berdua. Mereka memang bertubuh anak kecil, tapi sebenarnya mereka bukan anak kecil lagi! Mereka berdua pria dewasa!
"Kalian! Lepaskan istriku!" Teriak Xuan Chen sambil menarik kerah keduanya hingga lepas dari pelukan Yi Changyin. Kemudian dia segera menjadi palang di depan Yi Changyin, matanya menatap tajam Feng'er dan Heilong kecil.
Yi Changyin hanya tersenyum menahan tawa melihatnya. Feng'er dan Heilong kembali menangis, membuat Xuan Chen kembali bersungut-sungut tidak jelas, sebenarnya memarahi keduanya.
Mengapa dua makhluk ilahi itu menjadi kecil dan cengeng? Dia sangat kesal dan ingin melemparkannya. Namun kekesalannya itu pudar saat dua tangan tiba-tiba muncul dari belakang tengkuknya. Dan wajah cantik gadisnya yang tiba-tiba menyembul dan bertengger nyaman di bahunya.
"Feng'er, Heilong, apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Yi Changyin lembut.
Namun tanpa di duga mereka berdua berubah menjadi ukuran yang semestinya, menjadi Feng'er dan Heilong yang dewasa. Yi Changyin sedikit heran melihat mereka berdua, ekspresi Xuan Chen menjadi lebih gelap.
"Tidak ada, kami hanya ingin menganggu kalian berdua." Ujar Heilong tak berdosa. Hal itu sukses membuat Xuan Chen mengeluarkan tongkat yang panjang.
__ADS_1
"Beraninya kalian!"
Akhirnya mereka berdua kejar-kejaran di dalam kamar. Feng'er dan Heilong masih tertawa mengejek. Mereka senang mengganggu. Yi Changyin yang melihat hal itu merasa terhibur. Jadi, dia hanya duduk diam di atas kasur sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
.......
.......
.......
Seminggu telah berlalu, Yi Changyin dan Xuan Chen pergi ke alam langit untuk menjalani hukuman. Dia tidak bisa menghindari ini. Selain telah ditentukan oleh pengadilan langit, mereka sadar apa yang telah dilakukan.
Namun saat berada di dalam kereta, Yi Changyin merasakan Xuan Chen yang tidak sehat. Pria itu mungkin terlihat baik-baik saja bagi sebagian orang, tapi bagi Yi Changyin tidak.
Entah apa yang membuatnya seperti itu. Yi Changyin tidak tahu. Hubungan kontrak telah terputus, dia tak bisa mencari tahu oleh perasaan batin.
Selama seminggu ini dia padat pekerjaan. Takut setelah dihukum cambuk, dia akan tertidur selama berminggu-minggu. Xuan Chen diabaikan selama itu.
Setiap malam ketika mengunjunginya, Xuan Chen sudah tertidur pulas. Itu terjadi pada hari ketiga sampai kemarin. Badannya juga sedikit panas, seperti jatuh sakit.
"Xuan Chen, apakah kau sakit?" Akhirnya dia bertanya.
Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala santai. "Aku baik-baik saja."
"Jika kau benar sedang sakit, biar aku yang—"
"Yin'er..." Potong Xuan Chen sambil mengelus rambutnya, kemudian menyelipkan beberapa helai rambut Yi Changyin kebelakang telinganya.
Yi Changyin menghela nafas. "semoga tubuhmu baik-baik saja." Dia bergumam cemas.
"Aku selalu baik-baik saja selama bisa melihat senyummu." Xuan Chen menggoda kembali, dan Yi Changyin mencibir. Namun sukses membuat pipinya memerah malu. Pria itu masih bisa-bisanya untuk menggoda.
"Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu." Ujar Yi Changyin pelan.
"Yah! Aku sangat senang punya istri yang perhatian, bagaimana aku bisa sakit?" Sepertinya sifat Wu Yun telah kembali, Yi Changyin hanya mendesah kasar.
"Yin'er, kau harus berhati-hati." Tiba-tiba Xuan memegangi pundaknya, kali ini terdengar serius.
Yi Changyin menatap Xuan Chen dengan tatapan serius. "Apakah Wei Qiao memberitahumu?" Tebaknya. Dia sudah yakin, Xuan Chen tahu mengenai senjata yang dapat membuat jiwa seseorang hancur selamanya itu.
Xuan Chen mengedip-ngedipkan matanya gugup, dia berdehem dan kembali pada posisi semula. Mengingat hal itu sangat menjengkelkan. Waktu itu dia mengobrol lama dengan Wei Qiao. Sebenarnya enggan, tapi sialnya gadis itu memberikan informasi penting.
Jelas sangat penting. Lihatlah Gaoqing Dijun yang membuat panah penghancur jiwa itu. Lebih mengerikan dari danau penghancur jiwa alam peri.
Danau itu masih bisa membuat seseorang berkekuatan tinggi untuk bereinkarnasi kembali. Tapi tidak untuk panah itu. Bahan pembuatnya bahkan masih menjadi misteri. Yi Changyin sendiri mengatakan tidak tahu. Apalagi dirinya.
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗