
"Yin'er!! Yin'er!!"
Di sela-sela hutan bambu yang padat menyisir itu tergema suara teriakan Xuan Chen. Juga langkah kakinya yang terdengar cepat menekan setiap jengkal tanah, membelah gelapnya malam.
Namun sosok yang dia cari tidak di temukan sama sekali.
Sedikit menyerah dan lelah. Xuan Chen merosot bersandarkan pohon bambu yang kecil. Menatap langit malam yang dipenuhi bintang dan bulan sabit yang tergantung.
Pemandangan indah itu tak mengalahkan apa yang Xuan Chen lihat dalam bayangan ingatannya. Yi Changyin yang mematung di ambang pintu. Menyaksikan kelalaian yang mengecewakannya. Dalam hal ini hatinya merasakan sakit yang begitu dalam. Membuat ia merasa telah membenci diri sendiri.
"Kenapa?! Kau ingin melindunginya?!!"
Ketika teriakan itu mengiang di benaknya, Xuan Chen menjawab disini walaupun dia tak mendengar. Menghadap pada keheningan, tanpa adanya gadis kesayangannya itu. "Aku tidak bermaksud begitu.."
Menyendiri dalam kegelapan, dia meratapi takdir cintanya yang buruk. Yang harus melewati jalan berduri dan berangin topan. Baru bisa berbahagia tanpa adanya gangguan.
Ia tak mau, melihat gadis itu menangis karena ulahnya. Membuat hatinya lebih sakit dari pada tertusuk seribu belati. Tapi walaupun seribu kali dia berbicara 'tidak mau', jika sudah takdir maka akan tetap terjadi.
Ketika dia menerawang kenangan-kenangan singkat namun indah yang membuat ia tersenyum gentir sendiri, ribuan cahaya berwarna kuning tiba-tiba menghambur melewatinya dengan cepat. Sebagaimana dengan insting para hewan yang kabur dari bahaya. Mereka terbang begitu cepat.
Membuat Xuan Chen merasa waspada akan bahaya besar yang mungkin ada di depan. Dia mulai berdiri dan mengeluarkan pedangnya. Berjaga-jaga jika saja binatang roh datang menyerang.
Tak lama kemudian, burung-burung mulai berterbangan menjauhi hutan bambu sambil memekik. Membuat suasana hutan semakin mencekam. Lalu di susul dengan gerombolan binatang roh, biasa dan buas berbagai macam jenis dan bentuk melaju ke arahnya hingga membuat tanah bergetar.
Awalnya dia mengira mereka akan menyerangnya. Tapi dugaannya salah, para binatang itu terlihat ketakutan dan berlari melewatinya. Membuat ia bingung sendiri. Apa yang membuat mereka semua ketakutan seperti ini?
Xuan Chen menatap gerombolan yang menjauhinya itu. Yang kemudian memberanikan diri untuk berjalan ke arah dimana mereka datang. Masih dengan pedang di tangannya untuk berjaga-jaga.
Baru sebentar dia berjalan, tiba-tiba saja sesuatu yang merah melayang terlihat dari kejauhan. Xuan Chen terlihat waspada, menghunuskan pedangnya dan menyiapkan sekepal energi spiritual.
Sesuatu yang merah melayang itu semakin mendekat. Bentuknya samar-samar semakin terlihat jelas. Tampak kobaran api di setiap lekukan tubuhnya. Dan sesuatu itu bersayap, dia sedang terbang.
Namun ketika lebih dekat, Xuan Chen menghela nafas menghilangkan rasa waspadanya. Kembali memadamkan energi spiritualnya dan menurunkan hunusan pedangnya. Karena sesuatu itu adalah si Phoenix miliknya.
Feng'er merubah wujudnya menjadi manusia tepat di batang hidungnya. Dengan ekspresi yang cemas. "Tuan! Tuan!"
"Apakah ada binatang buas?"
Feng'er menggeleng cepat mendengar jawaban yang tidak tepat "Ibunda... Dia.."
Membuat Xuan Chen terbelalak. "Yin'er?! Kenapa dia?" Tanyanya tidak sabaran.
"Dia menghancurkan hutan bambu.." Nada bicaranya melemah.
Namun mampu membuat Xuan Chen bertambah terkejut. "Apa?!"
.......
.......
__ADS_1
.......
Sret! Srett! Srett!
Suara pedang bergerak itu terdengar berirama di iringi dengan suara jatuhnya sebuah pohon yang di tebang secara paksa.
Pohon-pohon bambu berserakan di mana-mana. Mereka terpisah dari batang yang masih tertancap di tanah. Memenuhi tempat luas yang pernah di jadikan ucapara menyembah langit dan bumi (menikah).
Keadaan di sana benar-benar kacau. Tapi, seseorang berpakaian putih itu tak ada puas-puasnya menghancurkan apa saja yang terlihat. Walaupun keringat sudah membanjiri tubuhnya menjadi terlihat basah.
Awalnya dia hanya berdiam diri di pinggiran tempat luas itu. Bersandar di salah satu batang bambu dengan pikiran yang tidak jelas mengarah kemana. Melihat pemandangan para binatang yang berkeliaran di malam yang gelap ini. Mulai dari kunang-kunang, binatang biasa, sampai binatang roh. Tapi tak sedikitpun dari mereka yang mengganggunya.
Namun ketika pikirannya tertuju pada apa yang dia lihat sebelum kabur kemari, membuat akal sehatnya tiba-tiba menghilang.
Yi Changyin tiba-tiba berdiri. Berteriak, menebas batang bambu yang tadi ia pakai sebagai sandaran sambil mengeluarkan aura yang mengerikan. Membuat segerombolan kunang-kunang yang jantungan kabur ketakutan. Burung-burung mulai berterbangan menjauhinya.
Dan beberapa binatang roh dan biasa itu mulai ketakutan. Untung saja mereka tadi tidak mengganggunya. Atau sekarang mereka sudah menjadi potongan daging yang terkoyak di atas genangan darah.
Dan ketika gadis itu mulai menggila, semua binatang disana langsung berlari terbirit-birit sejauh mungkin. Dari bahayanya sang gadis yang bisa menebasnya kapan saja. Asalkan bisa aman, itu saja.
Dan sekarang tempat indah itu sudah hancur dalam sekejap. Yang di sinari cahaya bulan sabit dengan bintang bersamanya di tengah-tengah temaram malam. Ia menebas apa saja ketika bayangan wajah Wei Qiao dan kejadian tadi muncul di benaknya.
Xuan Chen melihat Yi Changyin yang sedang menggila itu tak bisa berkata-kata lagi. Dan gerakan yang gadis itu pakai tak melenceng sama sekali dari apa yang dia pelajari di akademi.
Lebih tepatnya saat melakukan latihan bersama Xuan Chen tadi pagi. Membuat hatinya terasa di tusuk-tusuk jarum kecil.
Tadi pagi mereka masih bersenang-senang bersama. Menikmati waktu singkat walaupun indah. Namun sorenya semua itu hancur seketika. Sungguh tak terduga.
Ia menyentuh pundaknya. Namun langsung di sambut dengan pedang di kini berada di atas pundaknya. Jika bergerak ke kiri mungkin akan segera melayangkan nyawanya.
Juga tatapan dingin si pemilik pedang yang wajahnya di banjiri keringat setelah berlari dan menggila. Dan tatapan itu tak berubah sedikitpun walaupun setelah Xuan Chen memberikan tatapan hangat untuknya.
Membuat pria itu menunduk, hendak meraih tangan Yi Changyin yang tergantung lemah. Tak takut dengan pedang yang kapan saja bisa membunuhnya dalam hitungan detik.
Namun gadis itu segera menyembunyikan ke belakang. Membuat ia memundurkan kembali niatnya. Tapi tak berhenti di situ. Tangannya kini berusaha meraih pipi Yi Changyin walaupun terbilang jauh.
Ia mendekat perlahan. Membuat Yi Changyin yang masih enggan terhadapnya memindahkan arah sasaran pedang, ke depan dadanya. Yang siap memanggang jantungnya jika Xuan Chen terus-menerus maju.
Pikirnya Xuan Chen akan berhenti, namun ternyata tidak. Pria itu terus maju walaupun pedang mulai melukai kulitnya. Darah segar terlihat merembes di pakaiannya.
Membuat Yi Changyin terbelalak dan memindahkan kembali pedangnya ke atas pundak. Dan Xuan Chen berhenti. Tangannya sungguh menghapus air keringat yang membasahi sebagian wajah Yi Changyin, walaupun secara tidak langsung gadis itu sedang memberikan ancaman mati.
Membuat hati siapapun akan terenyuh jika melihatnya secara langsung. Termasuk Yi Changyin yang sedikit terganggu emosinya.
"Jangan menyentuhku!!" Teriaknya sambil menyingkirkan tangan Xuan Chen.
Namun telapak tangan itu terus mendekati wajahnya demi menghapus air keringat itu. Xuan Chen tetap tersenyum saat itu.
Yi Changyin menyingkirkannya lagi. Dan hal seperti itu terus terulang beberapa kali. Xuan Chen seperti kukuh dan tak mau menyerah sedikitpun.
__ADS_1
Sudah tak tahan, Yi Changyin mengeluarkan energi spiritual berwarna biru muda yang terlihat berkobar di tangannya. Begitu tangan Xuan Chen sampai, ia segera mencengkeramnya. Membuat jari-jari pria itu bergetar menahan sakit. Dan wajah yang berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Entah apa yang di berikan gadis itu.
Namun begitu selesai, Yi Changyin terkejut dengan apa yang dia lakukan sendiri. Melihat area perbatasan antara jari dan telapak tangan yang terdapat luka parah akibat bakar.
"Itu.." Yi Changyin hendak meraih kembali tangannya, namun Xuan Chen segera menyembunyikannya.
"Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar."
Yi Changyin terdiam. Namun pedang itu tak kunjung ia turunkan dari bahu yang biasa ia gunakan untuk bersandar.
"Yin'er.. maafkan aku." Ujar Xuan Chen pelan. Namun jelas sangat sungguh-sungguh.
"Apakah perbuatanmu sangat pantas untuk di maafkan?" Tanya Yi Changyin dengan suara yang bergetar.
"Aku tidak memintamu untuk memaafkanku. Aku tidak peduli dengan hal itu." Xuan Chen tersenyum. "Tapi ada beberapa hal yang harus kau tahu."
"Jangan berbicara macam-macam, pedang ini bisa saja membunuhmu." Kecam Yi Changyin tanpa ada minat untuk menoleh.
"Yin'er, bukankah kau selalu mempercayaiku? Tapi walaupun kau bilang tidak, aku yakin kau akan mempercayaiku. Benar kan?"
Lama tidak ada jawaban, hanya menyisakan hening dengan desiran angin malam. Xuan Chen melanjutkan, "kita terjebak lagi. Seperti kemarin. Kau ingat?"
Hati Yi Changyin sedikit demi sedikit melebur. Rasa kecewanya perlahan terkikis. Namun ketika ingatannya kembali pada saat di gudang akademi, sesuatu yang tembus pandang, yang tertanam di hatinya menjadi menghitam. Mendorong ia untuk berkata, "haruskah aku mempercayaimu?"
Hati Xuan Chen mencelos. "Yin'er.. kenapa kau berubah dalam sekejap mata? Tidakkah kau memikirkan perasaaan ku dan ... apa yang selalu terjadi di antara kita." Dia berkata begitu pelan dan berhati-hati.
"Haruskah aku peduli?" Jawabnya dingin.
Xuan Chen berusaha menenangkan emosinya. Berusaha menahan tetesan air yang sudah membendung di matanya agar tidak jatuh.
"Aku tahu.. kau begitu emosional karena kejadian tadi kan? Aku tahu sebenarnya hatimu tidak ingin mengatakan hal seperti itu." Dia masih berusaha untuk berfikiran positif. "Kau selalu tenang saat berada di dalam pelukanku. Jadi.. kemarilah.." tambahnya sambil merentangkan sebelah tangannya, bersiap untuk menerima Yi Changyin ke dalam pelukannya.
Di sisi lain yang gelap, seseorang memperhatikan keduanya dengan teliti. Seolah mencari-cari kesempatan yang tepat dengan sesuatu yang telah ia siapkan di tangannya.
Sementara Yi Changyin meliriknya dengan perasaan yang entah sulit di jelaskan. Sesuatu yang tertanam di hatinya kini berubah menjadi bulat dan tembus pandang kembali. Menarik minat hatinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Membuat kesempatan bagi seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan itu, menyuntikkan energi hitam keunguan di tangannya pada pedang di tangan Yi Changyin.
Sehingga ketika Yi Changyin menghambur ke dalam pelukan Xuan Chen, pedang di tangannya menjadi tidak terkendali. Dan tiba-tiba saja...
Srett!!
"Akh!!"
.......
.......
.......
__ADS_1
Tebak apa yang terjadi guys🙆
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉