
Setelah kejadian mengejutkan Yi Changyin, akademi menjadi berbeda seperti sebelumnya. Lebih tenang dan nyaman. Atau lebih tepatnya, akademi ingin membuat Yi Changyin nyaman dengan suasana yang ada. Hingga keributan jarang terjadi disana.
Tidak ada si heboh Wei Qiao, si dingin Qi Xiangma dan bahkan si tukang cari perhatian Qi Zhongma. Ketiga orang itu memang seharusnya dibuang, karena sikap-sikapnya mengandung kejahatan.
Semua orang masih ribut dengan kehilangan mereka bertiga. Namun ketika Yi Changyin angkat suara kalau semuanya tidak masalah, sampai sekarang tidak ada yang mencari mereka lagi.
Keheningan dan penuh dengan sungkan itu terjadi selama sebulan. Sebelum akhirnya semua kembali berjalan normal. Semua orang kembali terbiasa dengan Yi Changyin yang sebelumnya, seolah pangkat itu hilang ditelan tali persahabatan.
Terlebih mereka sedang sibuk-sibuknya untuk akhir tahun ajaran. Tingkatan kasta tidak diperlukan lagi disana. Yi Changyin dan Xuan Chen pun merasa nyaman dengan hal ini.
Hingga tiga bulan kemudian, tujuh belas orang angkatan akademi yang kesekian resmi telah lulus dari perguruan alam fana itu.
Mereka mengakhiri pertemuan dengan pesta makan besar di tengah-tengah padang rumput yang luas. Mendirikan tenda yang di bawahnya terdapat meja terhampar berbagai macam makanan.
Selain pesta makan dan minum-minuman, kadang kali mereka melakukan pertandingan tak resmi. Bebas melawan siapa saja dan yang kalah harus menegak sekendi arak.
Dan dari hal itu, Zhu Guhuo lah yang terkena imbasnya. Pria itu sudah pingsan karena mabuk arak hampir sepuluh kendi.
Pria yang berasal dari daratan selatan itu terlalu sombong menantang setiap orang yang berada di sana. Termasuk Shen Lan dan Xuan Chen. Namun tidak ada satupun yang kalah ketika melawannya.
Sisanya hanya bercanda tawa menjadikan sore itu lebih ceria. Sementara Yi Changyin menatap mereka semua dari atas pohon sambil menikmati sekendi arak.
Punggungnya tersandarkan pada batang yang besar, sementara kakinya tersampaikan pada dahan yang ia duduki.
Menatap semua orang dengan senyuman dan hati yang nyaman. Sungguh tak terasa waktu yang dia habiskan telah tiba pada penghujung.
Besok mereka akan menerima token pertanda pernah belajar disana, lalu pulang ke daerah masing-masing dengan segunung ilmu yang telah didapatkan.
Aih, memikirkan hal ini membuat Yi Changyin mengingat pada Wei Qiao. Entah bagaimana nasibnya di hutan Diaoshi sekarang. Mungkinkah sudah mati? Mungkin.
Kini ia sedang menunggu laporan Lian Qingran yang di tugaskan untuk memberi kabar Wei Qiao pada keluarganya.
Benar saja, tak lama kemudian kabar angin datang ke telinganya. Tidak ada yang mendengar ucapan Lian Qingran selain dia.
"Salam Ratu.. siang tadi hamba sudah pergi ke kekaisaran Yunnan untuk menemui keluarga Wei."
Sementara Lian Qingran menjelaskan, Yi Changyin terus meminum arak persiknya.
"Seperti yang kau instruksikan. Aku menyamar sebagai seorang Dewi dan masuk kesana tanpa halangan sedikitpun. Dan saat itu seluruh keluarga Wei sedang berkumpul di ruang tengah." jedanya.
"Namun saat aku hendak masuk untuk berbicara, kata-kata mereka lebih dahulu menghentikanku. Mereka berkata kalau pagi tadi telah menerima surat dari Wei Qiao. Aku tidak tau apa isinya dan itu sangat mencuriga..."
Surat angin itu terhenti ketika Yi Changyin menepis udara kosong. Dia teramat marah dan berdiri di dahan pohon. Melemparkan kendi arak kesembarang arah hingga pecah dan memancing heran tatapan semua orang.
"Sialan siapa yang berani!"
Ia berteriak sambil melesat pergi dalam wujud elang putih, menjauh dari mereka semua dengan kecepatan tinggi. Seperti terburu-buru karena keadaan yang mendesak.
"Feng'er!!"
Dan fokus semua orang teralihkan dengan Phoenix yang tiba-tiba keluar dari tubuh Xuan Chen karena panggilan sang tuan.
Xuan Chen segera melesat ke atas punggungnya dan Phoenix itu mulai melaju pergi meninggalkan tenda akademi. Mengikuti kemana arah sang elang putih terbang.
Dan semua orang hanya tertegun.
.......
.......
__ADS_1
.......
Yi Changyin sudah terbang sampai mencapai batas alam fana. Hingga ia memasuki suatu alam yang berbeda tak seperti alam lainnya.
Bukan penuh energi spiritual, namun penuh dengan energi supernatural. Siapapun yang belum mencapai kultivasi Dewa, akan merasa merinding jika singgah tempat seperti ini.
Karena disini, tempat dimana para arwah yang tidak ingin bereinkarnasi gentayangan. Yang mencari jalan keluar untuk kembali berkelana di alam fana. Melakukan sesuatu yang belum terpenuhi selama hidupnya.
Tapi arwah-arwah itu sama sekali bukan masalah bagi Yi Changyin. Gadis itu hanya ingin datang ke suatu tempat. Yaitu hutan Diaoshi.
Ketika mendapat kabar angin dari Lian Qingran, ia mempunyai firasat kalau Wei Qiao telah kabur dari sana. Yang pastinya dengan bantuan seseorang yang kuat.
Namun ia tertegun ketika melihat keseluruhan hutan yang masih di pasang formasi. Aura Phoenix dan Naga masih menyertainya.
Yi Changyin masih kebingungan ketika ia mendarat di salah satu awan. Kemudian menyalakan energi spiritual yang berwarna ungu bertujuan untuk memanggil salah satu arwah.
Benar saja, tak lama kemudian seorang wanita berwajah pucat sebagai mana mayat muncul di hadapannya. Memakai hanfu berwarna suram dan sebilah belati bersemayam di dadanya. Rambutnya tergelung dengan konde yang sebagian menusuk kepalanya.
Persis yang pernah di katakan Feng'er dan Heilong. Karena kedua binatang ilahi itu pernah berkata telag menitipkan formasi pada sesosok hantu wanita. Agar hantu lain merasa tak terganggu dengan hal itu.
Hantu wanita membungkuk ke arahnya. Sepertinya hantu itu mengenali aura alam peri yang begitu kuat.
"Maaf menganggu, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu." Ujar Yi Changyin sungkan.
"Hamba akan menjawab semua pertanyaan anda, sebanyak yang aku tau." Jawab hantu itu dengan suara yang sedikit menyeramkan. Seperti suara wanita, namun nadanya seperti monster gunung.
"Kau tau dua hewan ilahi yang memasang formasi disini?"
"Hamba tau."
"Apakah terjadi sesuatu sampai sekarang pada formasi yang telah di pasang ini?"
Sepertinya hantu itu tidak meragukan identitas Yi Changyin. Karena dia langsung saja menjawab pertanyaan Yi Changyin tanpa pertimbangan.
"Kau yakin?" Dan entah kenapa Yi Changyin sedikit ragu hanya karena terus terpikirkan kabar angin dari Lian Qingran.
"Hamba sudah puluhan ribu tahun tinggal di tepi hutan Diaoshi. Tidak mungkin aku salah mengenali."
Yi Changyin termenung sesaat. Benar juga apa yang di katakan hantu wanita itu. Suasana menjadi hening. Yi Changyin larut dalam putaran pikirannya. Sementara si hantu bergeming, menatap kosong kedepan. Tanpa dada yang menggembung kempis.
"Oh ya, aku baru ingat."
Ujar hantu wanita itu yang membuat Yi Changyin mendongkak terkejut. Dengan secercah harapan di matanya. "Katakan!"
"Tepat pagi tadi, sebuah kabut membuat para hantu tertidur. Termasuk aku yang sudah menjadi hantu dengan umur yang paling panjang, bahkan tidak sanggup menahannya."
"Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Maka dari itu ketika kembali terbangun aku berwaspada dan memeriksa seluruh area yang di pasang formasi. Namun tidak ada yang salah dari itu." Jelas hantu wanita itu panjang lebar.
Dan penjelasan itu makin membuat semuanya menjadi rumit. Ini sangat aneh.
"Sepertinya seseorang telah sengaja mengeluarkan asap itu.." Gumam Yi Changyin. "Demi tujuan tertentu.."
.......
.......
.......
Xuan Chen dan Feng'er yang berwujud Phoenix api telah memasuki alam baka. Mengikuti jejak spiritual Yi Changyin yang Feng'er lacak.
__ADS_1
Begitu masuk bulu kuduk Xuan Chen berdiri. Entah kenapa setiap detik seperti ada seseorang yang memegang lengannya sampai menepuk pundaknya. Tapi tidak ada siapa-siapapun selama Feng'er terbang.
Bahkan sempat mendengar seseorang membisikan sesuatu ke telinganya. Membuat ia terus-menerus merinding dan mengusap tengkuk berkali-kali.
"Jangan heran, tuan. Alam baka penuh dengan hantu. Kau yang belum mencapai kultivasi dewa tetap akan terintimidasi oleh aura supernatural mereka." Jelas Feng'er yang membuat dirinya semakin merinding.
"Sebentar lagi kita mencapai hutan Diaoshi, berpegangan yang erat!" Tambah Feng'er sambil melesat bertambah pesat.
Tak lama kemudian, mereka melihat Yi Changyin yang sedang berdiri di atas awan. Lebih mengejutkan lagi di hadapan Yi Changyin berdiri sosok yang membuat bulu kuduk Xuan Chen berdiri.
Dan begitu mendarat di atas awan, Feng'er menghilang ke ruang dimensi spiritual, hantu berwajah pucat itu menoleh ke arah Xuan Chen. Dengan ekspresi yang datar namun sukses membuat pria itu melesat kebelakang punggung Yi Changyin.
"Mengapa.. dia ada disini." Bisik Xuan Chen terdengar ketakutan di daun telinga Yi Changyin.
"Jangan takut, dia tidak berbahaya.." Jawab Yi Changyin sambil mencibir.
"Tapi.. tapi.."
"Jangan takut atau dia akan menunjukkan wajah seramnya!" Seru Yi Changyin yang di sambut dengan teriakan Xuan Chen karena memang benar, hantu itu tiba-tiba berwajah menyeramkan yang tak bisa didefinisikan.
Xuan Chen segera menyembunyikan matanya di bahu Yi Changyin dengan tangan yang mencengkram erat pundaknya.
"Dia sudah pergi, penakut!" Bentak Yi Changyin yang seketika membuat Xuan Chen mengangkat kepalanya. Dan benar, hantu itu sudah tidak menampakkan diri di hadapan Yi Changyin.
Membuat ia tersenyum dan menghela nafas lega. Sejurus kemudian Yi Changyin menarik Xuan Chen hingga berdiri di hadapannya.
"Kau takut pada hal-hal yang seperti itu?" Tanya Yi Changyin dengan wajah yang meremehkan.
Membuat Xuan Chen memberenggut kesal. "Tidak! Hanya saja auranya sangat mengerikan." Jawab Xuan Chen seadanya.
Membuat Yi Changyin mendecih. "Dasar penakut!"
"Lupakan soal penakut, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Xuan Chen tidak sabaran.
"Sepertinya.. seseorang telah melakukan sesuatu di belakangku." Jawab Yi Changyin yang tidak dimengerti Xuan Chen.
"Apa?"
"Membuat hantu tertidur secara disengaja, bukankah itu mencurigakan?" Tanya Yi Changyin sambil menatap ke arahnya.
Xuan Chen mengangguk-angguk. "Benar, memangnya siapa dia?"
Yi Changyin hanya tersenyum simpul. "Kita akan mengetahuinya nanti."
"Ah.." Xuan Chen hanya mengangguk-angguk. Jika Yi Changyin berkata seperti itu, artinya gadis itu pun tidak tahu apa-apa. Apalagi dirinya.
Saat Yi Changyin melangkah pergi, tiba-tiba Xuan Chen teringat sesuatu. Membuat ia menarik tangan Yi Changyin hingga berhadapan kembali.
"Mungkin ini yang kesembilan puluh kalinya aku bertanya." Xuan Chen tampak berbasa-basi terlebih dahulu.
"Tapi sekarang, tolong jawab aku. Apa yang terjadi selama aku pingsan di alam peri tiga bulan lalu?"
Namun tanpa diduga Yi Changyin hanya menertawakannya, membuat Xuan Chen mengerutkan keningnya heran sekaligus merasa kesal. Bisa-bisanya dia!
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉