The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXXII - Anak Kedua?


__ADS_3

Tiba-tiba pintu tinggi ruangan kerja Yi Changyin terbuka lebar sebelum Yue Xingfei mencapainya. Kemudian muncul sosok Xuan Chen yang membuat Yi Changyin mengembangkan senyumnya sambil menopang dagu. Namun nyatanya Yue Xingfei memiliki hal licik di kepalanya.


Dia tersenyum, saat Xuan Chen hendak melewatinya. Yue Xingfei menahan tangan Xuan Chen dengan tatapan yang memelas.


"Paman..." Gerutunya dengan wajah yang diimut-imutkan.


Yi Changyin menatap mereka konyol. Sejak kapan Yue Xingfei memanggil Xuan Chen dengan sebutan paman?


"Ada apa?" Tanya Xuan Chen dengan wajah yang terlihat menahan tawanya, namun masih bingung. Tapi dia tahu, pasti Yue Xingfei terkena seburan api kemarahan Yi Changyin.


"Bibi selalu memarahiku dan membuatku terus menerus belajar." Dia kemudian tersenyum, "mungkin paman bisa membujuknya untuk berhenti membuatku belajar dengan keras?" Dia mengangkat alisnya dua kali.


Tiba-tiba Xuan Chen merasa tambah bingung dengan hal itu. Dia melihat ke arah Yi Changyin, gadis itu menggelengkan kepalanya cepat sambil menatap tajam, setajam elang.


Xuan Chen menelan ludahnya bingung. Gadis remaja di hadapannya merengek minta bantuan. Sementara di sisi lain, ada sepasang mata yang mengawasinya dengan tajam. Jelas Xuan Chen mengalami dilema kecil-kecilan.


"Paman?" Yue Xingfei kembali merengek.


Akhirnya dia tersenyum dan mengelus-elus puncak kepala Yue Xingfei. "Kau adalah putri mahkota..." Dia berusaha bicara dengan halus.


Namun sebelum Xuan Chen melanjutkan kata-katanya lagi, Yue Xingfei langsung menyerobot dengan melemparkan buku yang harus dia hafalkan.


"Kalian berdua sama saja!!" Salaknya sambil berlalu pergi.


Xuan Chen hanya tertegun sambil memegangi buku yang Yue Xingfei lemparkan. Sementara di sisi lain, Yi Changyin melompat tinggi, menerbangkan tubuhnya menuju Xuan Chen.


Dengan penuh emosi, Yi Changyin merebut buku itu dari Xuan Chen secara tiba-tiba. Pria itu terkejut. Kemudian melemparkannya kembali pada Yue Xingfei.


Yue Xingfei terkejut ketika buku yang tadi dia buang mendarat di kepalanya dengan keras. Dengan sigap ia menangkapnya.


"Hafalkan dengan benar, besok bibi periksa kembali!" Tegas Yi Changyin sambil melemparkan Yue Xingfei keluar dengan energi spiritual dan menutup pintu dengan kencang menggunakan angin. Walaupun Yi Changyin tak memiliki elemen angin bawaan, tapi dia masih bisa mengendalikannya.


Di luar Yue Xingfei hanya bisa menangis tanpa suara meratapi nasib. Bibinya sangat kejam!


Sementara di dalam, Xuan Chen tiba-tiba menarik Yi Changyin ke dalam pelukannya. Memberi sentuhan lembut di bibirnya yang menggoda. Xuan Chen hanya tersenyum puas saat gadis itu terlihat merona.


"Biasanya setelah ini aku akan dilempar ke atas ranjang." Ujar Yi Changyin malu-malu.


Membuat Xuan Chen terkekeh dan mencubit ujung hidungnya dengan telunjuk. "Apakah Yin'er ku mengharapkannya?"


"Aku hanya membandingkan!" Yi Changyin mencibir tidak setuju.


"Aku juga ingin melakukannya sekarang, tapi... Ini bukan waktu yang tepat." Ujar Xuan Chen dengan nada yang lebih santai.


Yi Changyin mendelik ke arahnya. "Apa alasannya?" Dia bingung, padahal ruangan ini sangat sepi.


Seperti pada berbulan-bulan lalu, yang mungkin saat-saat ia mengandung Jinmi, pria itu selalu mencari kesempatan walaupun sedang ramai. Apalagi sepi bukan?


Xuan Chen tampak bingung untuk menjawabnya, "itu..."


Namun sejurus kemudian dia terkejut melihat Yi Changyin yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang mengintrogasi. Membuat ia sedikit gugup dan tidak percaya diri untuk balas menatap.


"Walaupun kecil dan tidak membahayakan, tapi aku merasakan luka di tubuhmu."


Kata-kata Yi Changyin yang santai, sukses membuat hatinya terlonjak kaget. Karena disembunyikan, wajahnya hanya bisa terbelalak. Apakah Yi Changyin mengetahui tentang cambukan dari penjara kekaisaran Xuan?!


.......


.......

__ADS_1


.......


"Mengapa kau tidak memberitahuku!" Gerutu Yi Changyin yang kini sedang menempelkan daun Qin pada punggung Xuan Chen yang penuh dengan luka cambuk. Saat ini mereka ada di kamar mewah milik Yi Changyin di alam peri.


Namun pria itu malah mendesis karena merasa perih, tidak menjawabnya.


Membuat Yi Changyin mendengus kesal dan memukul punggungnya. Pria itu semakin mengaduh kesakitan. Sungguh tidak berperasaan.


"Yin'er... Maaf tidak memberitahumu soal ini. Aku tidak sempat."


Jawaban aneh itu membuat Yi Changyin semakin memberenggut. Dia telah selesai membalut punggung Xuan Chen dengan daun Qin. Memasangkan pakaiannya dengan kasar. Pria itu tahu Yi Changyin sedang marah, dia hanya tersenyum simpul.


"Kau mau makan?!" Tanya Yi Changyin dengan ketus.


"Mau!" Jawab Xuan Chen antusias. Seperti ada niat terselubung. Senyumannya begitu misterius.


Punggung Yi Changyin merinding. Gadis itu segera pergi dan mencari alasan. "Baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk..."


Kata-katanya terhenti ketika Xuan Chen menarik tangannya hingga duduk kembali. Mendorongnya ke atas kasur dan menindihnya.


"Maksudku..." Xuan Chen menjepit ujung hidungnya gemas. "Memakanmu."


Belum Yi Changyin menjawab, pria itu sudah merenggut bibirnya dengan rakus. Perlahan tapi memabukkan, sampai kehabisan nafas. Yi Changyin menatapnya dengan tajam, pria itu hanya tersenyum jahil.


"Kau terluka dan masih ingin melakukan hal itu?!" Bentaknya kesal.


"Tapi... Aku ingin anak kedua." Jawabnya dengan wajah yang memelas.


Yi Changyin hanya terdiam. Wajahnya tiba-tiba merah terbakar. Pria itu sudah menjadi hewan buas yang ingin menerkam kucing kecil yang imut, dia tak bisa berbuat apa-apa. Anak kedua? Sebenarnya tidak buruk!


Tak ada jawaban selain pipi yang tiba-tiba merona, Xuan Chen mengambil kesempatan itu untuk mendesaknya kembali. Dia sangat rakus seperti tidak ingin ketinggalan. Yi Changyin sedikit kewalahan.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Yi Changyin jengkel.


"Sekali lagi?" Xuan Chen mengangkat satu jarinya dengan tatapan yang menggoda.


"Tidak!"


"Lagi..."


"Tidak!"


Xuan Chen menatapnya bingung. Dia tiba-tiba menggenggam tangannya erat. Tatapannya berubah menjadi serius.


"Anak kedua!"


"Nanti!"


"Sekarang..." Rengeknya. Tiba-tiba pria itu sudah berada di atasnya, memaksa.


Bukk!


Dalam sekali pukulan, tiba-tiba tubuh Xuan Chen ambruk ke atasnya. Pria itu pingsan, dia singkirkan ke samping. Yi Changyin beranjak bangun, tubuhnya sudah mengenakan pakaian tidur berwarna putih.


Tak berselang lama aura familiar menguar di ruangan. Tak lama kemudian Feng'er dan Heilong muncul di udara kosong.


"Kalian sudah siap?" Tanya Yi Changyin memastikan.


Feng'er dan Heilong hanya menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Seperti cemas akan sesuatu, ingin mencegah tapi tak punya kekuatan.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Yi Changyin merasa heran.


Walaupun tergagap, Feng'er masih berusaha untuk menjawab. "Kami... Kami hanya khawatir jika ibunda.."


"Apa yang harus di khawatirkan? Aku hanya akan mengobati semua penyakit dan memecahkan formasi di kakinya. Setelah itu meletakan ulat jamur Lingzhi untuk melepaskan darah kontrak. Apakah itu begitu berbahaya bagi kalian?!" Yi Changyin menyerobot panjang lebar.


"Tapi ibunda, kau sudah kehilangan satu inti roh dan melukai sembilan ekor demi menyelamatkan nyawa tuan dahulu.." Sahut Heilong.


"Itu tidak masalah bagiku." Yi Changyin tampak acuh.


"Tapi..."


"Selain sudah terikat janji, jika tidak lakukan perjalananku ke alam baka akan sia-sia." Tiba-tiba raut wajah Yi Changyin terlihat sedih. "Juga tidak akan membuat pengorbanan Shen Lan sia-sia..."


Feng'er dan Heilong kini merasa bersalah. Mereka berdua semakin menundukkan kepalanya. Turut sedih dengan apa yang di alami ibundanya.


Pengorbanan yang tiada habisnya, tanpa merasa lelah. Baik itu untuk dunia kekuasaannya ribuan tahun lalu, maupun untuk pria yang dicintainya. Padahal pria itu pernah menjadi musuh bebuyutannya.


Bahkan dia harus menanggung ribuan ton batu kematian Shen Lan dan ayah Shui Jifeng yang menyesakkan dada. Membuat semua orang akan merasa iba.


Mungkin kedepannya akan lebih berat? Feng'er dan Heilong hanya berharap wanita yang menolongnya saat krisis kelaparan dan kepanasan bisa hidup bahagia.


Akhirnya mereka berdua mengangguk patuh, bersedia mengikuti apa yang diinginkan Yi Changyin. Walaupun akan sedikit melukai jiwanya, setidaknya tidak sampai Yi Changyin mengeluarkan inti roh yang paling utama.


Hal pertama, Yi Changyin ingin terlebih dahulu memecahkan formasi di kaki. Ia ingat, saat bersekolah di akademi Tianjin, pernah mengambil buku formasi itu diam-diam. Percayalah, dia akan mengembalikan itu secepat mungkin.


Sedikit sulit dan harus fokus. Energi spiritual harus penuh dan energi cadangan tidak boleh kurang. Maka dari itu Yi Changyin memilih formasi terlebih dahulu.


Dia juga sedikit berfikir. Kalau setiap hari memberikan kabut ilusi tidak akan ada habisnya.


Setelah membaca sama-sama isi gulungan kuno itu, akhirnya semua orang mengerti konsep. Cukup sulit dan rumit. Namun sedikit tidak masalah bagi mereka bertiga.


Pria itu masih tertidur di atas kasur. Posisinya sudah dilentangkan dengan benar. Yi Changyin sedikit memberikan obat tidur agar tidak cepat tersadar atau semuanya kacau. Gadis itu tak ingin Xuan Chen tau apa yang dia perbuat.


Energi spiritual perlahan muncul di tangan Yi Changyin. Kemudian membentuk formasi kecil nan rumit di antara jari-jarinya. Puluhan benang spiritual pendek mulai muncul dan dia tumpahkan ke arah kaki Xuan Chen.


Membentuk jalur dan masing-masing menuju lutut kedua kakinya. Itu hanya untuk mengeluarkan formasi, tidak perlu bantuan Feng'er ataupun Heilong.


Tiba-tiba kakinya bersinar keemasan. Mengelilingi bagian lutut dan menyorotkan sebuah dua lingkaran formasi yang berputar lamban. Di tengah-tengahnya, terdapat kunci gembok berwarna emas yang mengambang.


Sementara itu dua lingkaran memiliki lubang di seluruh sisinya. Lingkaran yang lebih besar berjalan lambat, sementara yang kecil sebaliknya. Setiap lubang di lingkaran yang besar memiliki pasangan dengan yang berada di lingkaran kecil.


Selain itu, lubang-lubang di lingkaran besar memiliki benang spiritual. Yang nantinya harus terhubung dengan pasangan di lingkaran kecil. Berpasangan atau tidak, bisa dilihat dari bentuk ornamen yang mengelilingi lubang itu sendiri.


Yi Changyin harus menghubungkan benang spiritual yang berada di setiap lubang lingkaran besar secara bersamaan, harus tepat waktu. Dengan begitu, akan ada semprotan cahaya kuat dan memecahkan gembok yang berada di tengah.


Semua itu butuh tenaga spiritual yang besar dan kuat. Entah dari mana Xuan Ye bisa mengunci formasi ini.


"Kudengar memasang formasi ini tidak butuh kekuatan yang besar. Namun memecahkannya butuh energi Dewi tertinggi." Heilong menjelaskan, masih dengan wajah yang cemas.


"Jika hanya butuh kekuatan Dewi tertinggi, mungkin aku bisa melakukannya sendiri." Yi Changyin tersenyum penuh arti. Membuat mereka berdua segera menggeleng cepat, tak setuju.


.......


.......


.......


Maaf ya, mungkin beberapa hari ini author telat update

__ADS_1


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2