
"Lukisan ini yang paling berharga. Karena, itu adalah lukisan pertama yang aku buat. Wanita di sana adalah ibuku, pria di sana adalah ayahku. Jika kau mau, kau boleh memiliknya." Jelas Yi Changyin terlihat gugup untuk berbicara.
Namun sejurus kemudian dia terkejut dengan Xuan Chen yang tiba-tiba memeluknya erat. Pria itu tampak senang. Mungkin karena lukisan itu. Atau karena ini adalah pertama kalinya Yi Changyin berbicara panjang lebar kepadanya semenjak kematian Jinmi.
"Aku mencintaimu.."
Dan bisikan lembut itu sukses membuat matanya panas, melelehkan air matanya. Menyesal.. entah kenapa dia menyesal. Namun karena misi dari hati seperti itu, seharusnya tidak ada rasa sesal.
.......
.......
.......
Sepuluh hari bak bergerak satu langkah, sangat cepat terasa. Kediaman Adipati Zhaoyang sudah penuh dengan ornamen merah. Termasuk rumah kecil Xuan Chen, disanalah Yi Changyin tinggal untuk sementara.
Pernikahan kali ini meriah walaupun ditutupi salju. Namun ada di antara mereka yang memasang senyuman miring. Wen Yuexin, wanita itu sedang menunggu pertunjukan besar.
Tandu pengantin telah tiba di depan rumah Xuan Chen. Dengan Xuan Chen sendiri yang memimpin sambil menunggangi kuda putih.
Yi Changyin keluar kamar dengan gaun pengantin merah hasil Xuan Chen. Pria itu tersenyum melihatnya. Berusaha menembus kain merah yang menutupi keseluruhan kepala Yi Changyin. Ingin menatap kekasih hatinya.
Gadis itu digandeng oleh Xuan Rong dan Yi Xuemei. Sebagai saudara, hanya Yi Xuemei lah yang datang. Dia memasuki tandu dan duduk nyaman di sana.
Tandu mulai diangkat. Bergerak menuju kediaman Adipati Zhaoyang. Yi Changyin hanya menatap punggung Xuan Chen di balik gorden dan penutup kepala. Tampak gelap namun tak bisa menyamarkan keceriaan yang terjadi di luar sana.
Mungkin jika berbicara, suaranya akan tenggelam dalam riuh musik dan petasan. Kaisar Xuan Zhen sungguh benar-benar punya niat untuk merayakan pernikahan putranya.
Ketika sampai, Yi Changyin keluar terlebih dahulu bersamaan dengan Xuan Chen yang turun dari kuda. Sesuai aturan, pengantin pria yang menjemputnya.
Maka dari itu Xuan Chen datang mengulurkan tangannya. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kediaman Adipati Zhaoyang dengan menggenggam pita berbentuk bunga dari kain berwarna merah.
(Pita merah bentukan seperti ini ya guys. Selain di pegang sama kedua mempelai, pita seperti ini juga banyak yang di jadikan hiasan gantung di pintu atau jendela dan tiang-tiang. Bagi kalian yang menyukai drama china bertema zaman dulu (Wuxia/Xianxia), yang MCnya nyampe nikah atau siapa aja yang nikah, pasti nemuin pita kayak gini)
Yi Changyin dan Xuan Chen berhenti di hadapan Kaisar Xuan Zhen dan selir Yang sebagai orang tua kandung. Selain itu, di jajaran tamu permaisuri Jiang Jinwei masih punya muka untuk menghadiri bersama anak-anaknya. Termasuk Han Qiangshu dan Wen Yuexin.
Pemimpin upacara pernikahan segera berbicara. Yang diikuti oleh keduanya. Pertama, mereka berdua harus bersujud pada langit dan bumi. Membungkuk ke arah pintu masuk sebanyak tiga kali.
Sebagai rasa terima kasih dan memuja karena telah mengizinkan mereka melangsungkan acara sakral.
Kedua, mereka berdua harus bersujud pada orang tua mempelai. Membungkuk ke arah kaisar Xuan Zhen dan selir Yang sebanyak tiga kali. Sebagai bentuk sujud kepada orang tua yang terakhir kalinya sebelum pamit membentuk keluarga baru.
Terakhir, mereka saling berhadapan dan saling membungkuk selama tiga kali. Melambangkan rasa hormat terhadap suami dan istri. Sujud itupun sebagai tanda mereka telah siap menempuh perjalanan baru melewati suka duka, panas dan badai.
Mereka yang di aula berbahagia dan ceria. Berbanding terbalik dengan Shen Lan yang mati-matian menahan formasi agar pernikahan mereka tak terbaca oleh Dewa guntur dan Dewi petir.
.......
.......
.......
Bulan kembali menggantung di langit malam. Terdapat sedikit bintang-bintang yang menemani walaupun dunia sedang dihujani salju.
Xuan Chen membuka pintu kamar pengantin dengan hati-hati. Kemudian menutupnya kembali setelah berada di dalam. Ruangan itu terbilang hangat karena terdapat banyak lilin menyala.
Juga pengantin wanitanya yang ditutupi kain merah sedang terduduk menunggunya.
__ADS_1
Dengan hati yang berdebar, perlahan Xuan Chen membuka penutup kepalanya. Memperlihatkan wajah manis Yi Changyin dengan riasan sederhana tampak mempesona.
Xuan Chen duduk di sampingnya. Menatap wajah datar Yi Changyin dari samping. Xuan Chen meraih tangannya yang berhiaskan gelang mutiara bunga Poeny, menggenggamnya erat. Walaupun begitu Yi Changyin masih bergeming.
"Apakah kau masih membenciku?" Tanya Xuan Chen tiba-tiba dengan lirih. Menatapnya dengan sendu.
Karena Yi Changyin tidak menjawab, Xuan Chen tiba-tiba menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapan Yi Changyin. Walaupun sebenarnya gadis itu tidak memeluk.
Disana dia terisak, membuat wajah datar Yi Changyin sedikit tergoncang.
"Yin'er, mungkin aku sudah menemukan siapa pelakunya. Jadi tolong maafkan aku, jangan bersikap seperti ini.. maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian berdua." Jelasnya panjang lebar. Begitu menyakitkan terdengar.
"Ketika Shen Lan berkata kalau kau tidak pernah mencintaiku, hatiku, impianku, semuanya hancur. Tapi dengan keyakinan hati bahwa kau tidak seperti itu, semua telah ku bangun kembali."
Xuan Chen semakin erat memeluk tubuhnya, Yi Changyin masih tak membalasnya walau hanya sebatas usapan lembut.
Pria itu melanjutkan, "aku tahu kau tidak seperti itu.."
Tak lama kemudian, Xuan Chen kembali menegakkan tubuhnya. Menatap Yi Changyin dengan senyuman, menyembunyikan wajah sedihnya.
Xuan Chen mencium kening Yi Changyin dalam-dalam. Setelah itu menatapnya kembali. "Aku akan tetap menyayangimu."
Kata-katanya, tatapannya, bagaikan penghangat yang memanaskan matanya, melelehkan air matanya. Satu tetes telah Xuan Chen hapus sebelum menuruni pipi.
"Mengapa kau menangis?" Tanya Xuan Chen lembut.
Yi Changyin tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan emosi yang tidak bisa di tahan lagi, dia menarik tengkuk Xuan Chen dan mendesak bibirnya.
Xuan Chen menarik senyum diam-diam melihat gadisnya yang ingin beraksi terlebih dahulu. Namun air mata Yi Changyin tak berhenti mengalir, seperti ada beban berat yang belum terselesaikan.
Suara gemuruh petir yang tiba-tiba datang membuat Yi Changyin menghentikan melepaskan ciumannya. Dia menoleh ke arah celah jendela yang menampilkan kilatan cahaya lalu di susul dengan suara gemuruh.
Namun baru selangkah, tiba-tiba energi spiritual yang kuat telah menahannya. Xuan Chen tidak bisa bergerak, karena Yi Changyin yang melakukannya. Sementara petir terus bersahutan tanpa henti menunggu mangsa.
Keduanya memang merasakan petir ini berbeda dari biasanya. Dan mereka bagai berebut ingin terkena petir itu sebanyak-banyaknya, agar pihak satu aman.
Tiba-tiba saja energi spiritual itu menarik hal lain. Yaitu menarik energi kabut spiritual yang selama ini bisa melawan formasi yang pernah di buat Xuan Ye.
Xuan Chen tak mengira Yi Changyin akan melakukan ini. Dia khawatir, Yi Changyin akan terluka lagi karena petir yang sepertinya lebih dahsyat.
Energi kabut spiritual tersedot habis, hingga membuat Xuan Chen tak bisa berdiri lagi.
"Yin'er?!" Dia menatapnya tak percaya. Sambil menguarkan jurus andalannya untuk mengikat Yi Changyin. Namun semua itu terhenti ketika sebuah jarum kecil menusuk suatu titik di lehernya.
Xuan Chen menjadi lemas dan ambruk ke lantai. Punggungnya masih menyandar ke pinggir kasur. Sekarang ia hanya bisa menggerak-gerakkan organ dalam wajahnya saja. Bahkan sialnya lagi, dia tak bisa berbicara.
Petir masih bersahutan, Yi Changyin menghampirinya dengan tenang. Berjongkok di hadapannya. Xuan Chen menatapnya nanar, dia tidak bisa berbicara untuk saat ini. Banyak hal yang harus di katakan, namun dikubur dalam-dalam
Wajah lembut Yi Changyin berangsur-angsur berubah. Alisnya menurun, kesedihan mulai tampak. Tangannya meraih pipi Xuan Chen dan menggumamkan sesuatu.
"Maafkan aku.."
Detik berikutnya Yi Changyin mencium bibirnya kembali. Namun ciuman kali ini berbeda, terdapat sesuatu yang mengalir. Sesuatu yang membuat matanya memberat, dan kesadarannya jatuh.
'jangan pergi..'
Itu yang terakhir kali dia katakan, walaupun dalam hati. Setelah itu kesadarannya menguap, pandangannya menghitam.
Yi Changyin melepaskan sentuhannya dan menangis tersedu-sedu. Dia memeluk tubuh Xuan Chen dengan erat. Setelah itu menatap wajahnya yang pucat sedang terlelap.
__ADS_1
Masih menangis. Sambil mengusap-usap pipinya, dia berkata, "aku pergi hanya sesaat. Tunggulah aku.." jedanya seraya meredakan dada yang sesak.
"Pakaian pengantin wanita hanya boleh di buka oleh suaminya sendiri. Jadi.. aku tidak mengganti pakaian ini sampai kau yang membukanya." Tambahnya dengan suara yang tercekat.
Dengan berat hati dia mendirikan tubuhnya. Tangannya membentuk formasi kecil, kembali membentuk kabut spiritual dalam kakinya.
"Ini akan bekerja esok.."
Setelah itu Yi Changyin berbalik dan melangkah pergi. Berusaha meredakan tangisan, dan hanya guntur di tengah salju yang terdengar.
Terus melangkah tanpa ragu dan penuh keyakinan. Sampai sebuah suara dari dua orang telah memanggilnya.
"Ibunda!!"
Yi Changyin berhenti dan berbalik, dia adalah Feng'er dan Heilong. Makhluk menggemaskan itu berlari dan memeluk kaki Yi Changyin dengan erat. Kiri kanan, hingga sulit baginya untuk bergerak.
"Jangan pergi..." Rengek Feng'er.
"Kami tidak mau kehilanganmu lagi seperti dahulu." Sahut Heilong.
Benar, Yi Changyin telah meninggalkan mereka selama enam belas ribu tahun lebih. Mereka menderita tanpa kasih sayangnya lagi.
Selain karena Xuan Chen, yang membuatnya berat untuk pergi adalah kedua makhluk menggemaskan ini.
"Aku tidak akan pergi lama.." Yi Changyin mengelus puncak kepala keduanya. "Jaga tuanmu dengan baik. Ya?"
Namun mereka malah semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Yi Changyin sedikit tergoyahkan.
"Aku akan baik-baik saja bersama Shen Lan, jangan khawatirkan aku." Kemudian dia membungkuk dan menarik lengan keduanya.
Bak meleleh, Feng'er dan Heilong sangat mudah untuk didirikan. Yi Changyin memegangi pipi keduanya.
"Feng'er dan Heilong ku yang lucu, jangan khawatirkan aku yang bisa menjaga diri sendiri." Katanya meyakinkan. Sementara petir masih menggelegar.
Namun mereka masih memberenggut kesal seperti anak kecil.
"Kemana kau akan pergi? Dan apa yang kau cari?" Tanya Heilong dengan ketus.
"Kristal jiwa, ulat jamur Lingzhi untuk memutuskannya hubungan kontrak dan ganggang danau alam baka untuk pita suara tuan kalian." Yi Changyin menjelaskan tanpa ragu.
"Kalian tidak boleh memberi tahu Xuan Chen soal ini, baik?" Tambahnya.
Feng'er dan Heilong mengangguk lesu.
"Tapi, dari mana bunda bisa menemukan kristal jiwa dan ulat jamur Lingzhi?" Tanya Feng'er cemas.
Yi Changyin terkekeh pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kupu-kupu peri Hu Diejing akan menuntunku kesana."
Dimana itu?!" Tanya mereka berdua secara bersamaan.
Yi Changyin menggeleng. "Aku tidak akan memberitahu kalian."
"Ibunda!!" Teriak mereka berdua lagi memaksa. Sepertinya Feng'er dan Heilong akan menangis. Membuat hati Yi Changyin terasa di remas-remas sampai remuk.
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗