The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XLII - Kekacauan


__ADS_3

Brukk!


Tubuh Xuan Chen terbanting ke atas tanah dengan keras. Menerbangkan debu-debu kotor di sekitarnya. Yi Changyin merasa geram, tapi hatinya terdorong untuk menghampiri pria itu dan segera memeluknya dalam pangkuan.


"Xuan Chen.. Xuan Chen.."


Panggilnya lembut yang samar-samar menembus gendang telinganya. Juga pukulan-pukulan kecil di pipi yang membuatnya membukakan mata.


Saat pertama kali dia membuka mata, banyak orang mengerumuninya. Terutama satu wajah yang sangat familiar tepat berada di atasnya.


"Kejar dia. Kelemahannya ada di matanya.." Ujar Xuan Chen dengan suara yang parau.


Selepas Xuan Chen mengatakan hal itu, tiba-tiba suara lain menyahutinya. "Gawat! Siluman itu kabur menuju arah perkebunan!" Katanya sambil menatap langit dengan awan yang tampak kehitaman akibat jejak siluman itu.


Beberapa orang langsung bergegas untuk mengejar, mengamankan aset satu-satunya yang membuat mereka bertahan hidup. Sambil mengutuk-ngutuk siluman itu dalam hati.


Yu Qinghan tampak menghampiri Shen Lan yang juga hendak ikut mengejar. Dia mencekal tangannya, terpaksa pria yang memakai jubah biru tua itu terhenti.


"Guru?" Tanyanya heran. Karena sebagai murid pertama, dia harus pergi di barisan terdepan. Apalagi ketika akademi sedang di hampiri kekacauan oleh siluman yang tak punya raga sekaligus tak tahu diri.


"Jaga murid kesembilan, dia sedang terluka. Siluman itu bisa saja kembali kemari," Kemudian dia menoleh ke arah kerumunan yang masih terdiam. Ada Qi Zhongma, Aoyi Jinqi, Yi Xuemei, beberapa murid dan guru perempuan lainnya. "Mereka tidak mungkin bisa melindunginya secara total."


Shen Lan mengangguk paham. Apa yang di katakan guru mudanya adalah hal yang tepat.


Yu Qinghan sempat melirik Yi Changyin yang sedang menyalurkan energi pada Xuan Chen, sebelum akhirnya dia pergi dengan keyakinan diri. Yakin bisa menangkap siluman itu dengan yang lainnya.


Shen Lan masih menatap kepergian semua orang yang perlahan terlihat mengecil, sementara Yi Changyin sudah selesai menyalurkan energinya agar pria itu lebih bertenaga. Padahal dia sendiri tengah kehabisan energi.


Yi Changyin menatap mata Xuan Chen yang tertutupi kelopak dengan deretan bulu mata. Kerutan di dahinya belum pudar karena belum tertidur dengan damai. Dia masih pingsan, tapi masih terlihat menawan.


"Ini semua gara-gara kau!!" Tiba-tiba suara melengking menusuk telinganya secara mendadak. Semua orang pun terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.


"Jika tuan muda Ji tidak melindungimu, dia tidak akan seperti ini!" Sambung Wei Qiao dengan mata yang menyalang ke arah Yi Changyin.


"Dasar lemah!!" Teriakannya bahkan memancing pelototan dua guru wanita yang berada di sana.


"Dasar tidak tahu diri!!"


Plak!


Tiba-tiba satu tamparan mendarat dari pria berwajah dingin dan berjubah biru. "Katakan sekali lagi dan kau akan keluar dari sini dengan hina." Bisik Shen Lan berbisik namun terdengar dingin.


Membuat Wei Qiao meneguk slivanya susah payah dan mundur satu langkah. Sambil memegangi pipinya yang memerah.


"Murid ketujuh, sejak kapan akademi mengajarkanmu bersikap seperti itu. Dasar tidak tahu malu!." Tiba-tiba seorang guru wanita berwajah tegas menghampirinya. Dia adalah Wu Shangyang, guru alchemist. Yang terkenal sangat menjunjung tinggi peraturan.


"Guru, aku.."

__ADS_1


"Mengecewakan!" Bentak guru Wu Shangyang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap Wei Qiao dengan kecewa. Sungguh repot akademi ini menerima murid manja seperti dirinya. Tapi apa daya, keadilan dari tes masuk sangat di junjung tinggi pula.


"Guru, aku akan pergi menyusul mereka. Mohon jaga kakak seperguruan ketujuh.."


"Kau?!"


Suara Yi Changyin berhasil membangunkan keterkejutannya. Dia menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan yang tidak percaya.


"Kau sedang terluka, tidak baik untuk kembali bergabung dengan mereka. Tetua Ling Zhao pasti akan mengurusnya, kau beristirahatlah.." Sambung Wu Shangyang dengan nada yang lembut.


"Siluman itu menyembunyikan tubuh aslinya. Akan sangat bagus jika banyak yang membantu." Dia menelungkupkan kedua tangannya di atas dada. "Mohon guru izinkan aku untuk pergi.."


Baru saja Wu Shangyang akan mengeluarkan suara, Yi Changyin sudah melesat terlebih dahulu ke arah semua orang pergi. Mereka semua terkejut tapi tak mampu untuk menghentikan. Entah kenapa Yi Changyin begitu cepat pergi ke sana. Wu Shangyang hanya menghela nafasnya pasrah.


Diam-diam Qi Xiangma tersenyum miring, dia hendak pergi tapi Qi Zhongma segera mencekal tangannya. Menatap gadis itu dengan tatapan yang curiga. "Mau kemana?"


Awalnya Qi Xiangma mengkerut heran. Tapi tiba-tiba dia mendekat dan menatap balik Qi Zhongma. Menantang tatapan elang dari pria itu. "Kita harus segera menyelesaikan tugas." Katanya sambil berusaha melepaskan tangan.


Qi Zhongma mengeratkan pegangannya, membuat dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. "Ini bukan waktu yang tepat. Keadaan di sini sangat gentir, jangan membuat masalah.."


Qi Xiangma mendengus. "Justru ini adalah waktu yang telah untuk menjalankan tugas. Jangan pura-pura bodoh!"


"Tidak!" Qi Zhongma menggeleng tidak setuju. "Keadaan akademi sedang gentir, kau tidak boleh berbuat seperti ini sekarang."


Dengan kesal Qi Xiangma membantingkan tangan Qi Zhongma, membuat dia bisa terlepas dengan bebas. Kemudian menatap pria itu dengan mengeraskan rahangnya. "Apapun keadaannya, kau selalu bilang ini bukan waktu yang tepat. Pengacau!" Cercanya sambil memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


.......


.......


.......


Angin tiba-tiba berhembus kencang membuat orang-orang yang sedang mengejar siluman itu terkesiap. Karena selain angin kencang, sebuah benda melesat mendahului mereka.


Secara mendadak, tiba-tiba Yi Changyin menghentikannya. Dia terbelalak saat melihat kebun di akademi yang tadinya terhampar luas dan rapi. Berubah di porak porandakan oleh siluman tak beradab.


Hari sudah malam, semuanya terlihat gelap. Tapi kentara jelas kalau kebun akademi sedang mengalami kekacauan. Lihatlah sayuran-sayuran malang yang tergeletak dengan tangkai yang patah dan daun yang dirobek paksa. Sungguh di sayangkan.


Yi Changyin mengeratkan rahangnya saat melihat bayangan itu terlihat melesat menjauhinya. Menuju sebrang kebun yang luas itu dan tidak tahu akan pergi kemana. Lantas dia segera mengejar mengikuti arah kemana siluman itu pergi.


Tak lama setelah Yi Changyin melesat ke tengah hamparan kebun yang diporak porandakan. Tetua Ling Zhao beserta yang lainnya muncul di sana dengan wajah yang pias. Melihat kebun yang selama ini membuat mereka hidup telah hancur oleh siluman yang masuk tanpa permisi.


Sialan!


"Tetua, yang barusan adalah murid kesembilan." Ujar Yu Qinghan yang membuat tetua Ling Zhao semakin terkejut.


"Dia?"

__ADS_1


"CEPAT KEJAR!!" Tambahnya yang di angguki semua orang. Bagaimanapun dia tahu betul bagaimana kondisi murid kesembilannya. Yang tentu saja tidak akan mampu melawan siluman itu sendirian.


Yi Changyin merenggut kesal saat laju siluman itu semakin kencang. Sekarang dia hanya bisa menggunakan wujud cahayanya untuk mengejar. Ini lebih baik, apalagi sedang tidak ada manusia yang berkeliaran di tengah malam. Karena kecuali alam fana, semua makhluk bisa melakukannya.


Namun tiba-tiba dia kehilangan jejak di hutan belantara yang penuh dengan dedaunan rimbun. Sangat dingin menyengat ditambah dengan hembusan angin yang agak kencang. Rentetan pohon di sana sangat rapat dan terutama minim cahaya. Cahaya bulan kurang bisa menembus kegelapan di sana.


Tampak di depan sana ada gua yang memiliki hawa aneh dan berbeda dengan yang lainnya. Seperti ada sesuatu di dalamnya atau apapun itu yang menghuninya. Tapi entah kenapa dia yakin kalau siluman itu masuk ke sana.


Mau tak mau dia melangkahkan kaki dengan sepelan-pelan mungkin. Bahkan makhluk bertelinga tajam pun tidak akan ada yang menyadarinya. Menembus kegelapan yang sunyi dan menyeramkan.


Hanya ada dia sendiri di sana. Rasanya seperti ribuan pasang mata sedang mengawasinya. Entah itu bandit, hantu atau hewan roh buas. Tapi Yi Changyin tetap bersikap seolah tak peduli. Walaupun jantungnya berpacu lima kali lebih kencang. Lebih menakutkan dari pada mendapat pelototan dari ayahnya.


Bulu roma yang berdiri tak pernah membohongi empunya. Yi Changyin merasakan sesuatu yang cepat menghampiri punggungnya. Dia segera berbalik ke belakang dan sempat menghindar, saat bayangan hitam itu hendak membunuhnya.


Sempat kembali terjadi aksi kejar-kejaran antara mereka yang gesit bahkan sekilat seperti cahaya. Kadang kali Yi Changyin memberikan serangan cepat. Walaupun tidak akan terasa, tapi setidaknya dapat membuat dia sedikit lengah. Juga dikarenakan sangat sulit untuk membidik matanya.


Sembari menginjak pohon untuk berpindah tempat kesana kemari dengan cekatan, dia terus memperhatikan gerak-gerik siluman yang seperti bergerak tak tentu arah itu.


Saat waktunya tiba, Yi Changyin mendarat di salah satu dahan pohon yang besar. Wajahnya terlihat sangat kelelahan dengan jejak pucat di bibirnya.


'Akan lebih mudah jika menyerang dengan lurus..' Pikir Yi Changyin sambil memperhatikan siluman yang menatapnya nyalang dari kejauhan. 'Siluman itu punya ribuan cara untuk menghindar.'


Saat siluman itu mulai melesat ke arahnya, Yi Changyin segera mengeluarkan panah-panah air yang tajam di atas telapak tangannya. Penuh dengan aura biru dan menciptakan angin kecil yang menerbangkan sebagian rambutnya. Lalu dia arahkan pada siluman itu dengan kecepatan tinggi. Banyak yang meleset, tapi ada salah satu yang mengenai matanya.


Berhasil!


Membuat siluman itu menggerang kesakitan sambil terbang kesana kemari tak tentu arah. Suaranya sangat mengerikan membuat bulu kuduk Yi Changyin berdiri. Membuat dia mengusap tengkuknya yang sedingin es.


Tak mau menunggu lama lagi, dia segera meloncat pergi dari dahan pohon. Mengejar siluman hitam itu dengan persiapan sihir selama dia mengejar. Tapi sepertinya, siluman itu benar-benar melayang tak tahu arah. Sangat acak di sertai dengan pekikan menyeramkan.


Tiba-tiba siluman itu melesat ke arah lubang gua. Masuk dan tak meninggalkan bayangan apapun. Saat Yi Changyin hendak mengejar, tiba-tiba energi spiritual lain menariknya kembali ke tanah, sontak membuat dia berbalik dengan waspada.


Kewaspadaannya luntur ketika mendapati tetua Ling Zhao bersama yang lainnya sudah tiba. Dia menghela nafas, lalu menghampiri mereka sambil memberi hormat.


"Jangan mengejar sampai masuk ke dalam gua itu.." Ujar tetua Ling Zhao membuat Yi Changyin mendongkak sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Tadi siluman itu hampir tertangkap. Kita bisa menangkapnya di dalam." Protes Yi Changyin tidak setuju.


"Gua itu terhubung pada suatu tempat yang berbahaya bagi manusia sepertimu.." Fu Jingyun memberi nasihat sambil menghampiri Yi Changyin. Lalu menepuk pundaknya, "Aku tahu niat baikmu.. tapi jujur.. gua itu terhubung langsung dengan danau penghancur jiwa."


Hati Yi Changyin tiba-tiba mencelos karena mendengar nama tempat asing namun terasa begitu familiar itu. "Apa? Danau penghancur jiwa?" Tanyanya dengan tak yakin. Hatinya memiliki dua pendapat yang berbeda, antara mengenal dan tidak. Sungguh memusingkan!


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2