
Semua orang terdiam, terutama teman-teman sekamar Yi Changyin atau Xuan Chen yang mengetahui ketidak beradaan mereka di malam itu. Tapi tetap saja tidak mempercayai ucapan Lao Jun yang diduga sedang dimabuk cinta.
Mereka lebih mengenal Yi Changyin dan Xuan Chen daripada Lao Jun dan Wei Qiao. Ya.. itu memang benar.
"Lalu ketiga!" Saat itu Lao Jun langsung mengibarkan pakaian yang penuh dengan noda darah tercampur tanah dan terdapat bekas terbakar itu. "Bukankah hanya binatang kontrak mereka berdua yang memiliki elemen api dan dapat dengan mudahnya menghanguskan murid keempat belas!"
"Lao Jun.. Lao Jun.." Tetua Ling Zhao menyahuti dengan ekspresi yang tabah. "Hampir semua binatang kontrak disini berelemen api. Ap.."
"Apakah tetua sedang menyalahkan semua orang?" Potongnya dengan keji.
"Lao Jun! Bisakah kau sopan sedikit pada tetua Ling Zhao?!" Yu Qinghan mulai ikut campur. "Kau ingin tuan besar Fu tahu mengenai tingkah bodohmu?!"
"Ini demi keadilan murid keempat belas!" Namun tiba-tiba ia tersenyum miring. "Apakah kau sedang membela pujaan hatimu juga?"
Yi Changyin terbatuk karena merasa tersindir.
Keadaan semakin memanas dengan Lao Jun dan Yu Qinghan yang berdebat membela masing-masing yang tersangkut dengan kasus membingungkan ini.
Lao Jun yang selalu mengungkit-ungkit bukti, dan Yu Qinghan yang selalu mengelak segala bukti.
Dan tidak ada seorang pun yang ingin mencampur.
"Yi Changyin! Katakan dari mana kau semalam?!" Tanya Lao Jun tiba-tiba, yang bahkan sudah tak memanggil Yi Changyin sebagai murid kesembilannya.
"Maafkan aku guru, apakah aku harus memberitahu urusan pribadiku padamu?" Jawabnya sambil menggerling ke arah Xuan Chen.
Lao Jun semakin geram akan hal itu dan kembali menuduhnya tanpa ampun, "artinya kau melakukannya kan? Kau tidak mau menjawab dan menjelaskan! Semua sudah terbukti, penjarakan saja dia!"
"Aku tidak membunuh Wei Qiao!" Elak Yi Changyin setengah berteriak seperti anak kecil.
"Kau masih saja mengelak?!" Salaknya hendak menampar Yi Changyin. Tapi terhenti di udara kosong karena dua tangan besar menahannya.
Yi Changyin terkekeh pelan karena saat itu Xuan Chen dan Yu Qinghan menahan tangan Lao Jun secara bersamaan. Kedua pria itu saling melirik heran sebelum akhirnya melepaskan diri bersama-sama dengan perasaan canggung.
"Sudah.. sudah.. mari kita luruskan ini baik-baik." Ujar tetua Ling Zhao sambil mengajak mereka bertiga berkumpul. Yi Changyin hanya menjadi pendengar yang baik di belakang punggung Xuan Chen.
Sementara diam-diam Yi Changyin telah mengeluarkan sebuah jarum perak kecil yang ujungnya mengkilap tajam. Dia tersenyum dan mulai menusuk-nusuk kelima ujung jarinya hingga berdarah.
Dan betapa terkejutnya Xuan Chen ketika melihat kebelakang. Dia sontak memegangi tangan Yi Changyin dengan mata yang terbelalak. "Apa yang kau lakukan?!"
Membuat semua orang sontak menoleh ke arah Yi Changyin. Memberikan tatapan mengintrogasi karena kelima jari yang terdapat sisa-sisa lumuran darah.
Dan saat itu pula, Lao Jun kembali mengambil kesempatan untuk menggertak. Pria itu langsung menuduh kalau, "kau pasti mencoba bunuh diri untuk menghilangkan bukti bukan?!"
Tapi membuat Yi Changyin tertawa karena tuduhan konyol itu.
"Dan sekarang kau pura-pura gila karena ingin menghindari pertanyaan!" Tuduhnya lagi.
Yi Changyin menghentikan tawanya. Dia tersenyum manis dan memposisikan diri memberi hormat pada Lao Jun. "Guruku yang terhormat.. aku bukan orang bodoh yang memilih mati daripada melanjutkan hidup."
__ADS_1
"Kau?!"
"Jadi.. tidak mungkin aku mengambil resiko yang bodoh seperti itu. Banyak sesuatu yang harus ku kerjaan untuk nanti.."
Kata-kata Yi Changyin bagaikan petir yang menyambar ulu hati Lao Jun. Pria itu semakin mengebu dengan tangan yang mengepal erat. Matanya menatap nyalang ke arah Yi Changyin bak ingin segera menerkam gadis itu.
Sementara Yi Changyin hanya menatapnya datar. Sebenarnya.. ia tidak ingin membuat keadaan menjadi seperti ini. Tapi tingkah Lao Jun membuat ia semakin tidak sabar untuk balas menggertak.
"Mati saja kau dasar bedebah!!"
Lao Jun yang ingin menyerang, Xuan Chen dan Yu Qinghan yang menahan ingin menahan, tiba-tiba terhenti karena tanah yang mereka pijaki tiba-tiba bergetar.
Semua orang panik dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Sementara Yi Changyin hanya berdiri dengan tenang sambil tersenyum.
Ya, ini semua adalah ulah darah yang dia keluarkan dari kelima jarinya. Yang tiba-tiba beterbangan menuju batu yang memiliki permukaan tak rata itu.
Karena sesuai ingatan yang di berikan Bai Suyue, dalam batu itu terkurung pedangnya yang bisa saja menyimpan kristal jiwa. Terlebih ia telah menyaksikan sendiri bagaimana darahnya di bawa terbang oleh angin menuju benda yang sebenarnya tidak mudah untuk di tembus itu.
Fokus semua orang teralihkan pada batu besar yang terlindungi perisai kuat itu. Mereka masing-masing bahkan menjatuhkan rahangnya karena menyadari kalau batu itu adalah sumber dari bergetarnya tanah yang mereka pijaki.
Bahkan tetua Ling Zhao menatapnya tidak percaya. Namun ada rasa senang di matanya. karena panutan ia selama ini mungkin akan kembali.
Pria paruh baya itu mengedarkan pandangannya, mencari satu sosok yang mungkin bisa jadi tebak sebagai seseorang yang di maksud itu. Namun matanya tertancap pada Yi Changyin yang terdiam sambil tersenyum di tengah-tengah keributan.
Yang sontak meloloskan gumaman heran sekaligus tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan sendiri, "tidak mungkin.."
Angin semakin kencang bak ingin menghancurkan tempat itu sekarang juga. Hingga daun-daun dan debu-debu beterbangan menghalangi penglihatan. Bahkan Xuan Chen pun tak dapat melihat sosok yang ingin dilindunginya.
"Buat Formasi pelindung!!!" Tiba-tiba teriakan tetua Ling Zhao memenuhi udara, bercampur dengan suara desiran angin kencang.
Dengan sigap semua orang terkecuali Yi Changyin mengatur formasi di tangannya walaupun agak sulit karena diiringi dengan terjangan badai yang tiba-tiba.
Setelah formasi di lepas, menyatu melindungi semua orang di sana dari badai yang membahayakan itu. Namun tidak dengan Yi Changyin yang masih berdiri di tengah-tengah badai tanpa formasi pelindung.
Membuat semua orang langsung panik melihatnya. Terutama Xuan Chen, Shen Lan dan Yi Xuemei. Dan tentu saja terkecuali Lao Jun yang dengan yakin berfikir kalau Yi Changyin akan segera mati terbawa angin.
Semua orang bersahutan memanggil namanya untuk segera membuat formasi. Karena formasi yang mereka buat tidak akan bisa di hancurkan kembali begitu saja. Sekaligus tidak bisa menolong Yi Changyin dalam waktu singkat.
"Biarkan saja dia!!" Tapi sayangnya teriakan Lao Jun tenggelam dalam kekhawatiran semua orang pada Yi Changyin.
Semua orang semakin menjatuhkan rahangnya ketika Yi Changyin terbang menuju sumber bencana. Bahkan Yi Changyin mengibaskan-ngiibaskan tangannya pada semua orang sambil tersenyum. Seakan memberi isyarat kalau semua ini akan baik-baik saja.
Bagi Yi Changyin, semua orang yang berada di dalam formasi berteriak tanpa suara. Tapi bagi semua orang, urat leher mereka hampir putus karena terus-menerus memanggil Yi Changyin.
Semua orang hampir pingsan ketika Yi Changyin menyentuh perisai yang menghalangi batu itu sampai pecah. Bisa-bisanya?!
Dan tiba-tiba badai di sekitarnya berhenti dan menyisakan kehancuran fatal.
Tertegun. Semua orang terpaku dengan tangan ajaib Yi Changyin yang dapat menghentikan bencana dalam sekali sentuhan. Dan saat itu pula formasi di lepas.
__ADS_1
Dengan tidak sabaran Lao Jun menghampiri Yi Changyin penuh emosi dan hendak memaki semua dirinya. Bahkan ia mengabaikan teriakan tetua Ling Zhao yang di sambut kemunduran langkah semua orang.
"Lao Jun!! Jangan maju! Bencana belum selesai!"
Tapi terlambat..
Tiba-tiba cahaya kuning keluar secepat kilat dari batu itu membuat hempasan yang begitu kuat. Semua orang terhempas menabrak tembok. Sementara Lao Jun terpental jauh dan punggungnya terpanggang sesuatu yang tajam.
Tidak ada yang tahu itu.
Sementara cahaya kuning itu mengeluarkan suara raungan yang keras. Membuat semua orang segera membuat formasi kembali. Terkecuali Xuan Chen yang hendak menghampiri Yi Changyin, namun tangan Shen Lan segera mencekalnya.
"Shen Lan?!" Xuan Chen mengkerut heran. ia bingung, karena Shen Lan hanya terdiam saat Yi Changyin dalam bahaya.
"Jangan terus menerus menjadi beban Yi Changyin.." Kata-kata dingin nan tajam yang menusuk-nusuk hatinya itu berhasil membuat ia terdiam.
"Kau kesana hanya akan membuat ia terbebani dan semuanya gagal, kemudian ia terluka jika hal itu terjadi. Dan aku.. akan menyalahkanmu dalam hal ini." Tambah Shen Lan bertambah dingin. Yang di latar belakangi suara raungan yang entah monster apa itu.
Sementara ia hanya semakin mengerutkan kening tak mengerti.
"Apa yang dia lakukan.. akan membawakan pada keuntungan pada dia sendiri, itu adalah yang di ramalkan ayahnya. Jangan khawatir!"
Kini kerutan di wajahnya menghilang. Jika ini memang berujung baik untuk Yi Changyin, maka Xuan Chen akan membiarkannya. Walaupun hati masih diliputi kecemasan yang berlebihan.
Selagi Shen Lan dan Xuan Chen kembali membentuk formasi, raungan monster itu semakin kuat. Dan perlahan terbentuklah burung besar berbulu ungu dengan selingan hijau. Cakar yang tajam dan berleher panjang dengan paruh tajam berwarna merah tua. Juga ekor yang seperti ular putih.
Semua orang tentu saja semakin terkejut melihat legenda yang sering mereka jumpai di buku-buku dan gulungan di paviliun Zhishi. Dan kini mereka melihatnya secara langsung?!
Terkecuali Yi Changyin yang malah melebarkan senyumannya karena monster itu adalah burung Zhen Niao. Persis dengan yang ada dalam ingatan dari Bai Suyue.
Burung itu menggila di atas sana. Dengan gerakan yang menyeramkan dan membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Jelas mereka semua ketakutan melihatnya. Bahkan ada satu murid yang sampai pingsan saking takutnya.
Juga karena burung raksasa yang melegenda itu terus menggila. Menyeramkan! Ingin sekali mereka semua menghilang dari sana. Tapi melihat Yi Changyin yang berdiri tegak di luar formasi, mereka tersadar dan mengecilkan rasa takutnya.
Xuan Chen hanya terdiam menahan nafasnya, berharap apa yang dikatakan Shen Lan itu benar.
"Ekhem!"
Deheman keras Yi Changyin sukses membuat burung Zhen Niao berhenti menggila. Kedua mata yang semula tajam, kini terbelalak kaget. Wajahnya yang menyeramkan berubah menjadi pias karena mendengar suara dan merasakan aura yang familiar itu.
Sekaligus satu-satunya yang membuat ia menjadi ketakutan.
.......
.......
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1