
Daun-daun dilorong bangunan berkayu itu berterbangan seiring dengan menapaknya langkah kaki yang menandakan hatinya sedang kesal. Langkahnya sangat cepat, tapi tidak berlari. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Tiba-tiba tangan ramping menghalangi jalannya, wajah Wei Qiao semakin memanas. Dia tahu siapa gadis itu, Fu Lianbing.
Gadis dari keluarga Fu itu menatap Wei Qiao dengan senyuman yang mengejek. Dia tertawa kecil saat Wei Qiao memilih untuk menunduk, tidak berani menatap gadis itu.
Selama tiga bulan ini, hanya dialah yang berani merundungnya. Gadis yang berpakaian bak lelaki dan menyukai beladiri itu, sangat tidak menyukai Wei Qiao yang manja dan sombong. Dia pintar bermain kata, gadis itu akan kalah. Apalagi Wei Qiao tidak mempunyai teman yang setia dan pelayan pribadinya dilarang masuk akademi.
Wei Qiao hanya mengandalkan pelayan-pelayan wanita akademi dan ular hijau yang bahkan tidak bisa merubah wujudnya. Lagipula dia tidak suka bergaul dengan siapapun, membuat Fu Lianbing sangat senang untuk menyantapnya bulat-bulat.
"Kenapa? Kau iri pada kakak seperguruan ketujuh?" Tanyanya sarkartis, nadanya sangat menantang kemarahan Wei Qiao.
"Nona muda dari keluarga Wei tidak mungkin merasa iri pada gadis miskin sepertinya!" Jawabnya ketus, berusaha tidak peduli. Dia tidak bisa melawan atau menindasnya. Karena sialnya, Fu Lianbing menjadi kakak seperguruan kesebelasnya.
"Haiya! Sampai kapan aku akan mendengarkan omong kosong mu ini?" Fu Lianbing terkekeh. "Juga, ingatlah satu hal. Kakak seperguruan ketujuh dan kesembilan, sudah ditakdirkan berjodoh. Jangan menjadi lalat diantara keduanya. Ya?"
"Kau?!"
"Apa?" Tatapannya masih terlihat mengejek, namun kali ini terlihat lebih dingin. Dia berkata tepat didepan wajah Wei Qiao, "jangan memotong benang merah diantara mereka, atau.. kau akan mendapatkan kesialan!" Kemudian dia tertawa, lalu pergi meninggalkan Wei Qiao. Bahkan tawanya tidak berhenti sebelum dia menghilang diantara bangunan-bangunan akademi.
Note : Benang merah itu semacam takdir perjodohan yang diberikan Dewa / Dewi bulan. Benang merah tidak terlihat dan Dewa bulan mengikatnya dijari kelingking, pergelangan tangan atau pergelangan kaki. Sejauh apapun jika sudah diikatkan benang merah mereka akan bertemu.
Wei Qiao melemparkan angin kosong ditangannya, dia menggeram kesal. Ingin sekali menyerang gadis itu sekarang juga sampai binasa. Tapi ingatlah, selain dia menjadi kakak seperguruannya, Fu Lianbing juga adalah putri pemilik akademi!
Dia berjalan pelan melewati lorong itu. Disampingnya adalah kamar-kamar para murid perempuan yang kosong. Gadis itu duduk dipagar yang menghubungkan tiang-tiang disana, pikirannya sedang berkelana.
"Memutuskan benang merah ya?" Gumamnya.
Iris hitamnya jatuh pada daun-daun yang berguguran dibawah kakinya. Dia termenung sebelum akhirnya menampilkan wajah yang cerah. Otaknya telah menemukan sesuatu, dia tersenyum miring.
"Mungkin.. ini bisa membuatmu jera."
Tak lama setelah dia mengatakan hal itu, tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya. Wei Qiao hampir meloncat karena terkejut. Bisa-bisanya seorang pria masuk kemari!
Dia berdiri dengan diselubungi emosi. Dia mengenal pria dihadapannya. Dia adalah pengawas akademi yang termuda, Lao Jun. Selama tiga bulan ini, dia lah yang menjadi pengagum akut Wei Qiao. Wajahnya tidak tampan, membuat gadis itu merasa risih.
"Guru Lao, apa ada sesuatu?" Tanya Wei Qiao berusaha ramah. Bagaimanapun pria itu masih dikatakan sebagai gurunya, yang mengawasi semua tingkah laku para murid di akademi. Walaupun Wei Qiao sangat tidak menerima hal itu.
Lao Jun berdehem. "Aku hanya ingin menemui murid keempat belas." Katanya.
Wei Qiao mendengus dalam hati. "Apakah ada hal yang penting, guru Lao?"
"Tidak ada. Tapi, jika ada waktu.. temui aku sore ini di jembatan kolam teratai akademi, datanglah ketika matahari hampir tenggelam. Ada yang harus ku bicarakan secara serius." Katanya sambil menatap Wei Qiao terpesona.
'Jembatan kolam teratai akademi..' Wei Qiao terkekeh dalam hati. 'Sepertinya, ini akan lebih baik..'
Tidak ada jawaban, Lao Jun merasa heran. "Murid keempat belas?" Panggilnya. Dan disitulah Wei Qiao segera sadar.
Wei Qiao menampilkan senyuman palsu, "Oh, ya.. guru Lao, aku menyetujuinya. Aku akan menemui anda sore ini."
Lao Jun mengangguk senang. "Baik! Sekarang.. aku harus pergi terlebih dahulu. Ada banyak yang masih harus kuurus." Katanya yang membuat Wei Qiao merasa lega karena dia akan segera pergi sebelum murid perempuan lain datang. Atau desas desus gosip tak mengenakkan akan segera hadir di dalam akademi ini.
"Selamat tinggal guru Lao.." Wei Qiao tetap memberi hormat walaupun enggan.
Lao Jun pergi dari sana dengan perasaan bangga. Tak henti-hentinya dia tersenyum. Wei Qiao menatapnya tajam dari belakang. Dia sangat jengkel. Namun sesekali Lao Jun menoleh kebelakang, membuat Wei Qiao harus menyediakan senyuman palsu kembali.
Setelah pengawas yang dipanggil guru itu sudah benar-benar hilang dari pandangannya, Wei Qiao menghela nafas.
"Kalau bukan karena rencanaku, aku tidak akan pernah menerima guru gila itu!" Gumamnya geram. Dia pun segera pergi dari sana dengan kaki yang di hentak-hentakkan.
.......
.......
.......
Yi Changyin menatap makanan dihadapannya penuh nafsu. Dia sangat lapar dan ingin segera menyantap semua yang berada diatas meja. Banyak hidangan yang enak hari ini, membuatnya semakin bersemangat.
Dia segera menyumpit daging bakar dan memakannya. Setelah makanan itu menyentuh lidahnya, wajahnya menunjukkan kalau itu sangat enak. Terlebih daging adalah kesukaan seekor rubah sepertinya. Dia bahkan memakannya terus menerus tanpa jeda. Tak lupa dengan memakan makanan yang lain disana.
Setelah selesai, dia bersendawa dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Makanan dihadapannya sudah habis masuk kedalam perutnya. Wajahnya berseri, dia memejamkan mata sambil sesekali tertawa kecil.
Selama di akademi pada murid hanya memakan sayuran. Tak habis pikir jika seekor rubah memakan sayuran hijau. Walaupun dia sedikit terbiasa, setidaknya daging menjadi prioritas utamanya.
Setelah kejadian singa roh api tadi pagi, akademi membiarkan muridnya untuk beristirahat khusus hari ini. Ini menjadi kesenangannya sendiri bagi Yi Changyin.
Tok tok tok! "Nona Yi.."
Tiba-tiba saja seorang pelayan mengetuk pintu dari luar, membuat dia terpaksa membuka matanya. Dia menoleh kearah pintu panel yang masih menampilkan bayang-bayang seseorang berdiri diluar sana. Seorang pelayan wanita.
__ADS_1
Mau tak mau dia bergegas menuju pintu, lalu membukanya sedikit. Benar saja, disana ada seorang pelayan wanita. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Ada apa?"
"Nona Yi, nona Wei mengundang anda untuk bertemu di jembatan kolam teratai sore ini ketika matahari hampir tenggelam."
'Ada angin dari mana Wei Qiao mengundangku kesana?' Yi Changyin mendengus dalam hati. 'Tidak apa, lebih baik aku pergi dan melihat apa yang akan dia lakukan.'
Yi Changyin tersenyum pada pelayan itu, "baik.. katakan padanya bahwa aku akan datang."
"Baik nona."
Pelayan itu pergi, Yi Changyin menyedekapkan kedua tangannya di dada. "Wei Qiao, apa yang kau rencanakan?" Gumamnya dengan ekspresi wajah yang malas. Dia pun segera kembali kedalam.
.......
.......
.......
Hari sudah menjelang sore, matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Yi Changyin menepati janjinya, dia segera pergi menuju jembatan kolam teratai. Berbagai alasan dia buat demi diizinkan oleh Yi Xuemei. Karena dia tahu, kakaknya itu pasti tidak akan pernah mengizinkan Yi Changyin bertemu dengan Wei Qiao seorang diri.
Yi Changyin sudah sampai di atas jembatan kolam teratai, yang menghubungkan paviliun-paviliun utama dan asrama. Kolamnya tentu sangat dalam. Disana Wei Qiao sudah berdiri membelakanginya. Menatap punggungnya saja, dia sudah merasakan firasat buruk.
'Sudahlah..' Yi Changyin menghela nafas, berjalan menghampiri Wei Qiao.
"Adik seperguruan.." Panggil Yi Changyin.
Wei Qiao menoleh, senyuman misterius terpampang di wajahnya. Mungkin kebanyakan orang akan mengira itu senyum sapaan, tapi Yi Changyin dapat merasakan hal yang berbeda.
"Kakak seperguruan, terima kasih sudah menyempatkan untuk datang. Aku sangat senang.." Katanya dengan ramah, masih dengan senyuman misterius itu.
Yi Changyin membalas senyumannya, dingin. "Aku punya banyak waktu. Mana mungkin tidak bisa menyempatkan waktu untuk datang."
"Adik sangat menghargai.."
Yi Changyin mengangkat sebelah alisnya, "apa ada hal yang penting untuk dibicarakan?"
Wei Qiao melangkah, mendekati Yi Changyin. Gadis itu menatap Yi Changyin dengan dingin, masih dengan senyuman misteriusnya. Jaraknya sangat dekat, tampaknya dia hendak berbisik.
"Adik hanya akan mengatakan.. jangan berharap untuk menjadi murid terbaik akademi."
Wei Qiao beralih menatap Yi Changyin dengan senyuman yang sama. Otaknya itu seperti sedang merencanakan sesuatu dengan matang, membuat Yi Changyin sedikit berwaspada.
Bola matanya bergeser, menatap ke lain arah. Tampak dari jauh ada Lao Jun yang berjalan kemari, senyumannya melebar. Yi Changyin semakin berdebar, sepertinya Wei Qiao telah menjebaknya!
Tiba-tiba saja dia mencengkram lengan Yi Changyin. Wajahnya tampak seperti tertindas dan penuh penderitaan. Seperti Yi Changyin selesai merundungnya tadi. Mungkin itu tanggapan orang-orang jika melihat mereka.
"Kakak seperguruan.." Dia pura-pura menangis. "Mengapa kau berkata seperti itu?!" Yi Changyin tersentak mendengarnya. Ternyata seperti itu..
Teriakan Wei Qiao tentu saja menarik perhatian Lao Jun. Pria itu langsung berhenti di tempat. Dan dia mengenal punggung siapa yang berada didepan Wei Qiao, murid kesembilannya.
"Kakak seperguruan.. kau sudah mendapatkan kipas pusaka akademi, juga tuan Ji. Apakah itu masih belum cukup? Apakah kau ingin membunuhku juga?"
Yi Changyin menatapnya dengan seringaian, gadis itu menggerak-gerakkan tangan Yi Changyin seakan dialah yang sedang mendorong gadis itu.
"Bagus sekali aktingmu." Ledek Yi Changyin. Sebenarnya dia tahu, dibelakang ada Lao Jun.
Wei Qiao berhenti saat mendengar ucapan Yi Changyin. Tak disangka gadis itu malah melawannya tanpa takut.
"Kau.. ingin aku mendorongmu ke kolam bukan?" Tanya Yi Changyin terdengar dingin, masih dengan seringaian galaknya.
Jantung Wei Qiao berdetak kencang. Nafasnya memburu keluar. Sepertinya Yi Changyin akan melakukan sesuatu di luar rencananya. Seingatnya, Yi Changyin bukan gadis bodoh. Tidak mungkin dia mau mendorongnya dan menjerumuskan diri sendiri. Gadis itu seperti memiliki rencana lain.
"Baiklah.. jika itu yang kau inginkan." Ujar Wei Qiao dengan yakin.
Dia mulai melakukan aksinya. Pura-pura didorong oleh Yi Changyin lalu melompat sendiri ke kolam dengan teriakan kerasnya. Sontak Lao Jun terkejut melihatnya. Dia segera melompat ke kolam, menyelamatkan Wei Qiao yang tidak bisa berenang dibawah sana.
Saat itulah beberapa murid dan guru datang. Melihat Wei Qiao yang dipangku keluar dari dalam kolam. Lalu Yi Changyin yang berdiri di atas jembatan, menatap kejadian itu. Semua orang bisa saja beranggapan kalau Yi Changyin yang mendorong gadis dari keluarga Wei itu.
.......
.......
.......
Semua guru dan tetua berkumpul disebuah ruangan besar namun sederhana. Banyak pula murid-murid diluar yang menyaksikan dengan rasa penasaran. Lalu Xuan Chen yang berkali-kali mencoba menerobos masuk. Dan Yi Changyin bertekuk lutut di tengah-tengah. Lao Jun sebagai saksi pun berada disana.
Mereka yang hadir berekspresi rumit, tak percaya gadis kebanggaan akademi itu mendorong seseorang hingga hampir mati. Murid-murid ini bahkan bisa-bisanya mencari masalah saat malam menyapa.
__ADS_1
"Murid kesembilan.. apa pembelaanmu?" Tanya tetua Ling Zhao setelah mendengar cerita Lao Jun yang sedikit dilebih-lebihkan. Dia sendiri tidak percaya dengan kejadian barusan.
"Aku tidak mendorongnya." Jawab Yi Changyin singkat.
"Kau?!" Lao Jun menunjuk Yi Changyin dengan tatapan tajamnya, dan gadis itu hanya tersenyum picik. Sedari tadi, entah sudah berapa puluh kali para guru dan tetua bertanya, Yi Changyin menjawab hal yang sama. Membuat pria itu jengkel setengah mati.
"Aku melihatnya sendiri, masih tidak mengaku?!" Bentaknya.
"Untuk apa aku mengakui sesuatu yang tidak pernah ku perbuat?" Yi Changyin balik bertanya, dia sedikit menantang.
"Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri! Murid keempat belas berteriak penuh pengampunan dihadapanmu, lalu saling dorong dan berakhir kau menjatuhkannya ke kolam!" Lao Jun berusaha menjelaskan dengan serius. Karena memang seperti itu yang di lihatnya.
"Saudara Lao, mungkin murid kesembilan merasa kesal dengan murid keempat belas. Jadi, dia mendorongnya." Ujar Yu Qinghan. "Aku tidak percaya kalau murid kesembilan merundungnya."
"Guru Yu, aku tidak mendorongnya."
"Kau?! Apakah tidak ada kata-kata lain selain itu?!" Lao Jun berteriak kesal.
"Tidak ada!" Sahut Yi Changyin yang membuat pria itu semakin naik pitam.
Tetua Ling Zhao menghela nafas panjang, masalah ini begitu aneh. "Apa yang harus ku lakukan?" Dia bertanya pada diri sendiri.
"Sebagai guru akademi, kita harus memberikan hukuman yang tepat pada murid kesembilan.." Ujar Lao Jun tiba-tiba, membuat lirikan tidak enak dari beberapa guru dan tetua yang menyukai Yi Changyin.
"Memberi hukuman memang cara yang tepat. Tapi.. saat ini kita tidak tahu kebenarannya, bukan?" Sahut Yu Qinghan tetap membela.
"Untuk apa mempertanyakan kembali kebenaran? Aku sudah melihatnya secara langsung dan aku tidak pernah berbohong. Sudah bertahun-tahun aku tinggal di akademi, baru kali ini aku merasa diragukan!"
Yu Qinghan melirik tetua Ling Zhao, meminta pertolongan. Bagaimanapun dia sadar diri sebagai guru baru. Lao Jun adalah seniornya. Pria tua yang entah berumur berapa ratus tahun itu hanya menghela nafas. Dia menggeleng, memperingatkan untuk tidak melawan Lao Jun sementara ini.
Yi Changyin yang melihat mereka tersenyum diam-diam. 'Seperti ini lebih baik. Wei Qiao.. kita lihat saja beberapa hari lagi siapa yang akan menang.'
"Tetua Ling.." Yi Changyin kembali membuka suara. "Walaupun aku tidak bersalah一"
"Kau masih mengaku tidak bersalah?!" Potong Lao Jun merasa kesal. Gadis itu terlalu sombong dimatanya.
Yi Changyin tidak menggubris, membiarkan pria itu meluapkan emosinya secara sia-sia. "Walaupun aku tidak merasa bersalah, tapi aku siap dihukum untuk memberikan contoh yang baik pada kakak dan adik seperguruan yang lain. Mohon biarkan guru Lao menentukan hukuman untukku."
Semua orang terbelalak mendengarnya. Mereka tidak salah dengar kan? Mana ada murid yang bersedia dihukum!
Lao Jun mendengus. Dia tersenyum mengejek ke arah Yi Changyin. "Teruslah bersembunyi dibalik topeng rendah hatimu! Baiklah.. kalau begitu aku akan menghukummu membersihkan akademi selama satu minggu dari waktu selesai pelajaran sampai waktu tidur."
"Saudara Lao!" Yu Qinghan berseru tidak terima. Bahkan guru-guru dan tetua lain pun tidak suka dengan usulan itu.
Pelajaran selesai adalah tiga jam sebelum matahari tenggelam. Sedangkan waktu tidur adalah tiga jam setelah matahari tenggelam. Jadi, gadis kecil itu harus membersihkan akademi enam jam lamanya, setiap hari. Apalagi sekarang musim gugur, ada lautan daun berguguran yang harus dia bersihkan. Bukankah itu tidak adil?
"Murid ketujuh menerima hukuman guru Lao.." Tiba-tiba saja Yi Changyin bersujud, menerima hukuman itu. Semua orang kini meragukan Indra pendengaran dan penglihatannya masing-masing.
Saat itu pula Xuan Chen berhasil menerobos ke dalam. Pria itu langsung menekuk lututnya di samping Yi Changyin. "Tetua, guru. Mohon batalkan hukuman ini. Aku tidak setuju, ini terlalu berat."
"Hanya membersihkan halaman dan taman, tidak ada yang susah." Bisik Yi Changyin yang mendapatkan pelototan dari pria itu. Sangat menyeramkan, membuat Yi Changyin kembali menatap ke arah lain.
'Tatapannya seperti burung Phoenix yang akan menerkamku!'
"Murid ketujuh, adik seperguruan kesayanganmu sudah menerimanya. Yang artinya, perintah itu tidak bisa ditarik kembali.." Ujar Lao Jun dengan nada yang mengejek.
"Bolehkah.. aku menggantikannya, guru Lao?"
"Tidak!"
"Kenapa一?"
"Kenapa?! Kau yang kenapa! Memangnya kau siapanya murid kesembilan hah? Ini urusan dia. Kau tidak perlu ikut campur!" Cerca Lao Jun. Membuat Xuan Chen terdiam. Orang itu ada benarnya juga.
"Sudahlah.." Yi Changyin menyentuh pundak pria itu. Dia tersenyum, usaha meyakinkan pria itu untuk tidak ikut campur.
Xuan Chen hanya menoleh sesaat, sebelum akhirnya kembali memposisikan diri untuk menghormat pada para guru. "Kalau begitu, beri waktu murid untuk menemukan bukti adik seperguruanku tidak bersalah."
"Tidak buruk, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tetua Ling, bagaimana?"
Tetua Ling Zhao hanya menghela nafas. Walaupun punya kekuasaan, saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Lao Jun telah melihat kejadiannya. Dia hanya bisa berharap lebih pada Xuan Chen. Dia mengangguk, "baik. Murid ketujuh.. aku sungguh berharap padamu."
"Terima kasih, tetua."
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉