The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXXIX - Bersama Kakek Bulan


__ADS_3

Pria tua itu terkekeh ketika mendengar gadis berpakaian bak pria itu menyerbu dengan panggilan namanya. Dia pelan-pelan menghampiri mereka semua dengan senyuman ramah. Long Chu sedikit tertegun ketika mendengar suara gadis berpakaian pria itu yang samar-samar familiar di telinganya.


Sementara He Qing menghampiri Yi Changyin yang baru saja berdiri, masih dengan kipas yang menghalangi wajahnya. Dia mendorong pundaknya dengan kasar. "Beraninya kau tidak sopan pada kakek bulan!" Semburnya membela sang kakek bulan, agar dapat perhatian karena meninggikan derajatnya. Tapi tanggapan dari kakek bulan adalah...


"Tidak apa, tidak apa.. mereka terlihat baru di alam langit. Itu bukan masalah."


"Tapi kakek bulan ini.."


"Sudahlah, bukankah kau sedang terburu-buru? Maka pergilah!" Selorohnya yang membuat He Qing mendesis diam-diam. Kemudian dia menghormat sebelum akhirnya pergi melesat. Disusul dengan Long Chu yang sempat melirik setengah wajah Yi Changyin saat berpapasan.


Kakek bulan celingak-celinguk kedepan, melihat mereka sudah menjauh atau belum. Setelah terasa cukup jauh, dia langsung menghampiri Yi Changyin dan Xuan Chen dengan hawa fositif.


"Perjamuan ulang tahun permaisuri langit masih jauh. Sebaiknya kalian berdua berkunjung ke rumah jodohku dulu." Kakek bulan mengajak dengan ramah.


"Rumah jodoh?" Sahut Yi Changyin girang.


"Haiya! Aku kakek bulan sang Dewa perjodohan, mana mungkin tidak memiliki rumah jodoh!" Gerutunya dengan wajah yang kecut. Kadang wajah tua itu terlihat menggemaskan. Sementara Yi Changyin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah, maafkan kami Dewa perjodohan." Xuan Chen menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Kami baru pertama kali datang ke alam langit."


"Jangan memanggilku Dewa perjodohan! Aku lebih suka di panggil kakek bulan!" Protesnya tidak suka.


Xuan Chen terkekeh pelan, "maafkan kami, kakek bulan."


"Sudahlah.. sudahlah.. ayo masuk!" Ajaknya sambil berjalan menuju gerbang kediaman rumah perjodohan yang tak jauh dari sana. Sementara Yi Changyin memasukan kipas pusaka akademi itu ke dalam cincin ruangnya.


Setelah memasuki gerbang, mereka di suguhkan dengan rumah yang sama bernuansa putih dan emas. Hanya saja rumah kakek bulan ini dipenuhi dengan ornamen merah, seperti sedang mengadakan acara pernikahan.


Taman di sana pun tak kalah indah. Bunga-bunga Peony dan begonia tampak berjejeran di bawah pohon apel yang lengkap penuh dengan buahnya. Lalu kolam air mancur yang dipenuhi dengan ikan-ikan hias yang berenang seperti tak tahu arah.


Rumput tempat mereka berpijak sangat hijau dan segar. Di depan kolam, terdapat gazebo lengkap dengan meja, kursi bahkan cangkir dan seteko teh. Lalu terdapat pohon bunga Magnolia yang sangat indah.


Kakek bulan tidak mengajaknya kesana, dia malah membawa mereka langsung masuk ke dalam ruangannya. Pertama adalah ruangan dengan atap tanpa tembok, hanya dengan pilar-pilar besar, cukup luas. Terdapat pintu yang di halangi oleh panel berlukiskan Dewa bulan sendiri.


Setelah memasuki ruangan, mereka dapat melihat pohon segar yang tumbuh di dalam ruangan. Awalnya mereka heran, tapi setelah melihat tali-tali merah yang bergelantungan, barulah mereka tahu kalau itu adalah pohon perjodohan.


Kakek bulan mulai duduk di salah satu kursi, lalu menyuruh keduanya untuk ikut duduk tak jauh darinya.


"Ini adalah pohon perjodohan, tempatku bekerja untuk mengikatkan tali-tali merah ini." Kakek bulan menunjuk pada pohon yang penuh dengan tali merah itu, dengan senang hati dia menceritakan semuanya tanpa di minta.


Nama asli kakek bulan adalah Yue Liang. Gelar aslinya adalah Dewa bulan atau Dewa perjodohan. Namun seiring dengan bertambahnya usia, dia lebih suka dipanggil dengan sebutan kakek bulan. Dan umurnya kurang lebih adalah lima ratus ribu tahun. Membuat Yi Changyin dan Xuan Chen terbelalak. Lima ratus ribu tahun lagi dia akan menginjak usia ke satu juta tahun.


(Note : Dewa bulan di sini, berbeda dengan Dewi bulan Chang'e, ya. Dan juga kalian jgn protes kalo umur di novel ini amat teramat panjang😂)


Setelah kakek bulan berlatih menjadi Dewa tertinggi, dia mewarisi jabatan Dewa bulan terdahulu yang sudah meninggal ratusan ribu tahun silam. Karena sudah di takdirkan, dari kecil dia memang selalu menjodoh-jodohkan orang lain.


Hingga besar dia benar-benar menjodohkan seseorang yang baru lahir dengan mengikatkan benang atau tali merah pada jari kelingking, pergelangan kaki atau tangan. Tapi untuk berada di kanan kirinya, kakek bulan tidak tahu. Karena Dewi takdir kehidupan lah yang mengurusnya.


Percayalah, sistem Dewa Dewi selamanya akan selalu bekerja sama. Maka dari itu mereka tidak diizinkan untuk memilih nafsu dan lain hal untuk menjalankan tugas-tugas mereka pada seluruh dunia, Dewa dan Dewi, manusia dan manusia, raja dan raja, iblis dan iblis. Walaupun ada beberapa mereka yang menjalin kasih kemudian menikah.


Karena dia Dewa perjodohan, akan sangat cocok menjadi pakar cinta. Walaupun tidak menikah, ketika masih muda dia selalu membaca buku cerita tentang cinta dari mulai yang sederhana hingga sampai pada hubungan intim.


Bahkan kakek bulan juga cocok menjadi penulis novel. Karena sering menyajikan cerita-cerita cinta menarik dan baru bagi seseorang yang sedang mengalami masalah cinta.


Selain itu dia juga sering memberikan tali-tali merah bagi para bidadari yang menyukai Dewa tertinggi atau siapapun itu. Walaupun sedikit tidak berguna karena tali perjodohan sudah diikatkan sejak lahir.


Cerita itu menarik Yi Changyin untuk bertanya dengan polosnya, "Kakek bulan, beritahu aku.. siapakah jodohku?"


Xuan Chen tertegun, tiba-tiba ucapan Yi Changyin dahulu terngiang di benaknya, 'Setiap malam.. aku selalu memimpikan pangeran ketujuh kalian. Mengatakan kalau dia adalah jodohku.' Membuat dia memerah malu. Walaupun tidak tahu mengapa dia bisa ada di mimpi gadis itu, tapi tetap saja memalukan.


Sementara itu kakek bulan terkekeh pelan, menertawakan kebodohan gadis itu. Dewa mana yang akan membocorkan rahasia takdir mereka. Apalagi sang kakek ini mengetahui kalau mereka berdua adalah manusia yang mendapatkan kehormatan untuk datang ke istana langit.


"Kau ini bagaimana.. mana mungkin aku membocorkan rahasia para Dewa." Dia menatap Yi Changyin penuh peringatan. "Ini sangat tabu!"


Yi Changyin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan. Kadang dia tak bisa untuk mengontrol rasa penasarannya, apalagi pada hal besar.


"Maafkan Yi Changyin, kakek bulan.." Saat itu Xuan Chen yang mewakilkan Yi Changyin meminta maaf.


Kakek bulan hanya terkekeh-kekeh. Tapi tak sengaja menangkap sesuatu yang tak biasa, pada kedua tangan mereka yang dua-duanya berada di atas meja. Tali merah tampak terikat pada pergelangan satu sama lain dan saling terhubung. Tali tampak bersinar keemasan, hanya kakek bulan yang dapat melihatnya.


Kekehan kakek bulan berhenti, menyisakan senyum yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi perlahan senyuman itu memudar


'Ternyata, mereka ini berjodoh..' Pikir kakek bulan. 'Tapi, tali merah itu terikat di tangan kiri. Artinya.. mereka akan mengalami bencana cinta selama ribuan tahun lamanya.' Kakek bulan terkekeh dalam hati. 'Sayang sekali mereka harus menderita terlebih dahulu!'


Kemudian dia mengehla nafas. 'Sepertinya.. mereka akan menjadi abadi dalam waktu dekat.'


Masih hening, tapi pandangan kakek bulan beralih pada puncak kepala Yi Changyin, membuatnya berlagak curiga. Gelungan yang pasangkan tusuk rambut Peony, sangat familiar baginya. Lama kelamaan, tentu saja dia mengenal apa itu.


Pandangnya naik turun, memikirkan sebuah ide yang pas. Kemudian wajahnya sedikit berbinar. "Bidadari kecil, kau ini perempuan tapi malah berpakaian seperti pria. Itu sangat kurang pantas!" Komentarnya tidak suka. Dia berdiri. "Bidadari kecil, berdirilah."


Yi Changyin hanya menurut. Dia tidak tahu apa yang akan kakek bulan lakukan. Tapi dia yakin ini tidak akan bahaya. Kakek bulan sangat baik dan ramah. Jujur dan lugas. Namun kejujuran tadi membuat Xuan Chen tertampar, karena dia lah yang menyuruh Yi Changyin untuk berpakaian seperti pria.

__ADS_1


Kakek bulan mengeluarkan aura spiritual merah di tanganya, dia arahkan pada Yi Changyin yang membentuk seperti sinar dan tali-tali merah yang beterbangan. Setelah selesai Yi Changyin berputar dan masih di kelilingi aura spiritual seperti tadi.


Seketika penampilannya berubah. Masih memakai pakaian yang sama, tapi berubah menjadi pakaian wanita. Membuat tusuk rambut Peony itu terjatuh ke lantai. Saat itulah mata kakek bulan membola dan mengetahui siapa sebenarnya gadis ini.


'Rubah ekor sembilan?!' Kemudian dia mengangguk-anggukan kepalanya. 'Sangat menarik! Seekor rubah alam langit dan manusia alam fana.'


'Pantas saja mereka akan mendapatkan bencana cinta!'


Xuan Chen terbelalak melihat perubahan penampilan Yi Changyin. Sangat cantik dan bersinar. Pakaian yang tadinya diikat ketat seperti pria, kini bermodel yang kebanyakan wanita gunakan. Dengan jubah putih yang bersulam bunga coklat pudar.


Rambutnya tergerai dan sebagian digelung yang di hiasi mahkota emas berhias permata merah. Lalu tali yang menjuntai dari atas gelungan hingga dada, setara dengan untunan rambutnya. Juga anting dengan mutiara merah yang menjuntai dan bibir merah ranum, menggemaskan.



Terkejut dengan identitas tak seberapa dengan terkejut karena kecantikannya. Tapi dia sepertinya sangat familiar dengan wajah cantik ini. Tapi dimana? Dan mirip dengan siapa?


"Kakek bulan, ini.."


Kakek bulan terbuyarkan lamunannya, "jangan mengganti pakaianmu!" Salaknya memperingati.


Yi Changyin menoleh ke arah Xuan Chen yang sedang menatapnya. Pria itu segera melemparkan pandangannya ke arah lain dengan canggung. "Xuan Chen..."


"Tidak apa-apa, kau terlihat cantik." Pujinya.


"Benarkah?"


Xuan Chen tersenyum, "iya." Pandangannya jatuh ke bawah, menemukan tusuk rambut Peony yang tergeletak. Xuan Chen segera mengambilnya dan mengenakannya kembali pada Yi Changyin.


Gadis itu sedikit terkejut karena tusuk rambut itu sempat jatuh. Apakah kakek bulan sudah mengetahui identitasnya?! Gawat! Tapi sepertinya tidak akan ada masalah. Sekali lagi, kakek bulan sangat baik.


Xuan Chen tersenyum ketika selesai memasangkan tusuk rambut itu. Terlihat cantik dengan sentuhan akhirnya. Tiba-tiba kakek bulan datang di depannya dengan sekotak besar, yang sepertinya untuk permaisuri langit. Entah kapan dia pergi sampai tiba-tiba datang tanpa sepatah katapun!


"Ayo kita pergi ke aula utama!" Ajaknya. Kemudian dia menambahkan, "guru kalian akan menunggumu."


"Guru? Bagaimana kakek bulan tahu kalau aku punya guru?" Tanya Yi Changyin heran.


"Haiya!!" Kakek bulan tertawa. "Kipas kau bawa tadi tidak mungkin membutakan ingatanku!" Serunya di sela-sela tertawa.


Kakek bulan sempat melirik tusuk rambut yang sudah terpasang itu sebelum akhirnya melangkah pergi.


"Kakek bulan!"


"Pakaian ini.."


"Jangan di ganti!"


"...."


Kakek tua ini sungguh keras kepala juga.


"Ayo pergi, kita akan terlambat."


Mau tak mau, Yi Changyin dan Xuan Chen kembali mengekori sang kakek bulan, menuju istana utama alam langit. Yi Changyin sempat meminta maaf pada Xuan Chen perihal pakaiannya, membuat kakek bulan tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ketika sampai di aula utama, keadaanya sudah agak ramai. Tetua Ling Zhao memberi hormat pada kakek bulan sebelum akhirnya terkejut karena penampilan Yi Changyin.


"Murid kesembilan, kamu.."


Kakek bulan terkekeh sambil menepuk pundak tetua Ling Zhao. "Aku yang merubahnya, jangan khawatir."


"Jadi.. tadi kedua muridku bersama Dewa bulan?" Tanya tetua Ling Zhao sedikit terkejut.


"Itu benar.."


"Ah.. maaf telah merepotkanmu, dewa.."


"Hais! Kau tidak perlu sungkan." Jawab kakek bulan ramah. "Mereka sangat baik dan patuh. Aku menyukai kedua muridmu.."


Tetua Ling Zhao menelungkupkan kedua tangannya, "terimakasih Dewa bulan."


"Heh!" Kakek bulan menepuk pundak tetua Ling Zhao. "Jangan panggil aku Dewa, panggil aku kakek bulan saja!"


"Tapi, kita sama-sama berwajah tua. Sangat tidak pantas.." Tolak tetua Ling Zhao secara halus.


"Ling Zhao, ingatlah perbedaan umur kita. Sadarlah kau baru berusia ribuan tahun sedangkan aku ratusan ribu tahun."


"Tapi.."


"Kalian, ayo kemari." Kakek bulan tidak mempedulikan tetua Ling Zhao lagi, dia malah mengajak duduk Yi Changyin dan Xuan Chen untuk mengikutinya. Keduanya hanya menghormat pada sang tetua sebelum akhirnya mengekori kakek bulan dan duduk bertiga di salah satu kursi.


Seperti kakek yang bersama cucu-cucunya!

__ADS_1


Tetua Ling Zhao yang di tinggalkan hanya menghela nafas pasrah dan duduk di bangku depan mereka bertiga. Dia tidak perlu khawatir, kakek bulan adalah orang yang ramah dan tidak jahat seperti para pangeran langit yang penuh ambisi.


Saat duduk, bahkan dengan senang hatinya kakek bulan memperkenalkan seluruh Dewa Dewi dan bangsawan yang hadir disini. Yi Changyin dan Xuan Chen tentu saja tertarik dengan hal ini.


"Itu adalah Luo Jin, Dewa Air.." Ujar kakek bulan menunjuk pada seorang pria yang umurnya sekitaran tiga puluh lima tahun (jika di alam fana). Memakai pakaian serba biru muda yang digradasikan dengan warna biru tua bertabur bintang. Sosoknya sangat agung dan sejuk, pantas jika disebut sebagai Dewa Air.


Yi Changyin dan Xuan Chen hanya mengangguk-angguk.


Telunjuk kakek bulan beralih pada sosok perempuan yang begitu mencolok. Pakaiannya berwarna warni, dari putih, hijau, kuning, oranye, ungu, merah muda hingga merah menyala. Bahkan riasan wajahnya tak kalah tebal.


"Dia adalah Jun Jijie, Dewi musim. Yang mengendalikan semua musim alam fana dan alam langit. Dari musim cuaca sampai musim buah-buahan, dia yang mengaturnya dengan baik." Jelasnya dengan rinci.


Yi Changyin mengangguk-angguk sebelum akhirnya menjawab, "tapi penampilannya..."


Kakek bulan terkekeh pelan. "Dewi Jun Jijie adalah perempuan yang suka mengenakan pakaian mencolok.."


"Mungkin, dia berpakaian seperti itu demi menggambarkan bagaimana tugasnya di alam langit." Ujar Xuan Chen seperti orang ahli yang berpengetahuan tinggi, tapi memang kenyataan. "Seperti putih yang menggambarkan musim salju.."


"Xuan Chen, kau pintar!!" Sahut Yi Changyin sambil memberikan jempol pada pria itu.


Kakek bulan terkekeh lagi, dia amat bahagia kali ini. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada ambang pintu. "Dan ini adalah Dewa Guntur dan Dewi petir."


Sontak membuat Yi Changyin dan Xuan Chen menoleh ke arah dua orang yang berjalan beriringan. Mengenakan pakaian putih suci yang penuh dengan kilauan perak yang indah. Wajah mereka masih muda dan berseri. Sangat cantik dan tampan.


"Mereka suami dan istri?" Tanya Yi Changyin langsung menyimpulkan.


"Tidak. Mereka kembar, Dewi Shan Dian Shu dan Dewa Shan Dian Gu. Anak mendiang Dewa petir terdahulu dan Dewi angin." Yi Changyin dan Xuan Chen kembali mengangguk mengerti. Sementara telunjuk kakek bulan berpindah pada tempat lain, begitupula dengan pandangan keduanya.


"Dan itu adalah Dewi angin, Feng Shaoxin." Menunjuk pada wanita yang hampir tua dengan pakaian kelabu digradasikan dengan putih. Tampak Dewa Guntur dan Dewi petir memberi salam hormat pada ibunya itu.


Tanpa lelah berbicara, dia terus berbicara mengenai para Dewa dan Dewi, memberi tahu nama mereka satu-satu bahkan yang belum hadir di sana, sambil sesekali menerima sulang dari Dewa lain. Yi Changyin dan Xuan Chen tentu saja mendapat banyak dari itu.


Dimulai dari sang Dewa malam, Ye Wan. Pria itu tertawa saat mengatakan kalau dewa malam selalu tidur siang dan bangun pada malam hari. Tentu saja untuk mengatur perbintangan seluruh alam. Tapi malah di tertawakan.


Katanya dia sangat kasihan karena tidak mempunyai teman saat bekerja, hanya rusa putih yang menemaninya. Rusa itu adalah hewan mimpi. Yang memberi buaian mimpi indah pada semua makhluk hidup.


Kakek bulan mengatakan hal itu ketika seorang pria tua masuk, yang tentu saja dia adalah dewa malam. Rambut, janggut, alis dan kumisnya berwarna putih. Dengan balutan pakaian biru tua keabuan.


(Ingat akhir bab XXX? Tentang seorang pria tua yang berdiam di ruang hampa penuh bintang? yang terkejut karena darah Yi Changyin meretakkan batu aneh akademi? Ya, dia lah Dewa malam. Kalo lupa cek balik ya:D kalo mau itu juga)


Kali ini kakek bulan menunjuk pada wanita cantik yang awet muda. Wajahnya putih dan bersinar dengan balutan pakaian berwarna kuning pucat. Katanya dia adalah Dewi takdir kehidupan, Dewi Yuan Ji. Yang mengatur segala takdir manusia, dan juga mengatur kelahiran roh yang sudah bersemayam di atas mahkota teratai kehidupan alam baka.


Lalu yang membuat kakek bulan terkagum adalah sang Dewa perang, Zhan Zheng. Tampaknya terlihat tegas dengan rahang yang kuat. Badannya kekar berotot dengan balutan pakaian putih dengan kemilau perak yang mencolok. Sosoknya sangat di hormati.


"Hai Dewa perang!! Mari bersulang!!" Seru kakek bulan tak sabar. Sepertinya dia sangat mengangumi beliau. Dan Dewa perang hanya tersenyum hangat dan menerima sulangnya. Kakek bulan terkekeh kegirangan.


Yi Changyin dan Xuan Chen hanya saling melirik dengan tawaan kecil. Mereka kira datang ke alam langit akan kaku, membosankan dan tidak menyenangkan. Lalu para Dewa Dewi akan sombong pada mereka. Nyatanya Dewa bulan yang ingin di sapa 'kakek' ini sangatlah menyenangkan.


Dan sepertinya.. Yi Changyin memenangkan taruhan dengan Xuan Chen!


"Kakek bulan.." Panggil Yi Changyin sambil menuangkan teh dan menyodorkannya pada kakek bulan. Itu dia lakukan terus menerus. Bergantian dengan Xuan Chen.


Kakek bulan menerima teh itu, "apa?"


"Adakah Dewa atau Dewi yang tidak akan hadir?"


Kakek bulan meminum tehnya sampai habis. Kemudian meletakkannya di meja sebelum akhirnya dia menjawab, "hanya Dewa Dewi yang memiliki kedudukan di atas kaisar langit."


"Benarkah.. siapa mereka?" Tanya Yi Changyin penasaran.


"Mereka.."


"PEMIMPIN KLAN RUBAH TELAH TIBA!!"


Teriakkan pengawal itu menghentikan ucapan kakek bulan. Mengejutkan Yi Changyin, sampai jantungnya berdebar lebih cepat lima kali dari biasanya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia langsung mengambil kipas dan bersembunyi di dalamnya.


Begitu pula dengan Xuan Chen yang merasa gelisah. Dia juga pernah bertemu sekali saat itu. Walaupun sekali, tuan besar Yi tidak mungkin melupakan wajahnya tanpa pengecualian. Mengapa mereka tidak penah memikirkan ini sebelumnya?!


"Gawat.. ayah datang.."


.......


.......


.......


Btw, jgn terpaku sama nama-nama dewa dewinya ya. Walaupun semua Dewa Dewi ini ada yang berperan penting dalam bencana cinta Yi Changyin dan Xuan Chen. Contohnya Dewa Guntur dan Dewi petir. Intinya kalo pusing namanya gausah diingat-ingat.


Parah gak tuh Yi Changyin bakal dapet bencana cinta selama ribuan tahun? Tunggu ya bagaimana bencana yang kayak roller coaster itu, wkwk:v


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2