
Suara lembut itu telah menyapa telinganya, membuat ia mendongkak. Mendapati sosok jangkung berpakaian serba biru. Karena kejadian itu telah menimpanya, dia sedikit linglung.
Namun pandangannya beralih pada sesosok lagi yang berada di belakang pria itu. Matanya tiba-tiba membola, "Shen Lan?'
Pria yang dipanggil Shen Lan itu tersenyum. "Ya, ini aku."
Dengan tatapan yang tidak percaya, dia kembali menatap sosok jangkung berpakaian serba biru itu. Tiba-tiba hatinya kembali terkejut.
Tanpa di suruh, dia segera membungkuk. "Ayah mertua."
"Tidak perlu sungkan." Sahut pria yang disebut dengan ayah mertua itu. Ya, mereka adalah Shui Jifeng dan Shen Lan.
"Tapi, bagaimana kalian—"
"Kami hanya jiwa tanpa tubuh yang ingin menyelesaikan tugas di dunia ini." Tukas Shui Jifeng dengan aura tenangnya.
Sementara Xuan Chen masih merasa gugup, "jadi... Apakah Yin'er masih bisa diselamatkan?" Tanyanya dengan hati-hati. Namun rasanya itu tidak mungkin. Tapi jelas-jelas dia berharap itu bisa. Dia akan senang dan menepati janji yang tadi dia ucapkan.
Shui Jifeng tersenyum. Dengan energi spiritual, dia mengeluarkan sebuah bola cahaya berwarna biru. Ukurannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk digenggam.
Ayah Bai Suyue itu menyodorkan benda yang berada di atas telapak tangannya pada Xuan Chen. Pria itu menerimanya dengan hati-hati. Tidak tahu benda apa ini, tapi pikirannya sedikit menebak-nebak.
"Selamatkan Yue'er ku dengan ini." Shui Jifeng menghela nafas. "Karena setengah inti roh miliku dan Xu Nian ini hanya bisa menghidupkannya, maka aku ingin kau yang berkorban sisanya."
Xuan Chen menyetujuinya tanpa ragu. Dia tentu saja akan berkorban apa saja untuk Yi Changyin. Bahkan jika itu membuatnya menjadi hantu, tidak masalah.
Kemudian Shui Jifeng menjelaskan tata cara mengembalikan jiwa yang hilang ini. Dia berkata, Bai Suyue tidak pernah mati, enam belas ribu tahun lalu Shui Jifeng langsung menghidupkannya kembali sebagai Yi Changyin. Maka mengembalikan jiwa ini tidak masalah.
Langkah pertama, Xuan Chen hanya perlu menemukan kembali kristal jiwa yang kini tersebar di berbagai penjuru.
Karena Yi Changyin adalah jiwa dari sosok yang terkuat, maka pengembangan jiwa mungkin hanya membutuhkan seratus tahun, lebih cepat.
Xuan Chen harus menemukan tujuh kristal jiwa dan menyatukannya itu sebelum seratus tahun. Atau kepingan indah itu akan menghilang dengan sendirinya. Karena seratus tahun kemudian, jiwa Yi Changyin akan menyebrangi jembatan reinkarnasi.
Jika ketujuhnya telah ditemukan, maka hanya tinggal menyatukannya dengan abu yang pernah ditinggalkan Yi Changyin.
Saat itu, Xuan Chen harus menyalurkan energi spiritual yang besar. Kemudian memasukan inti roh Shui Jifeng dan Shen Lan. Hingga nantinya jiwa Yi Changyin akan membentuk tubuh, namun belum bisa disentuh. Jika menyentuhnya, maka akan terasa seperti menyentuh angin.
__ADS_1
Inti roh Shui Jifeng dan Shen Lan akan bekerja untuk memadatkan tubuh. Itu membutuhkan waktu yang lama, paling sebentar mungkin ratusan tahun. Setelah jiwa padat, maka jantung Yi Changyin kembali berdetak dan nafasnya kembali berhembus.
Proses ini tergantung keberuntungan. Jika Xuan Chen nantinya menjaga jiwa itu dengan baik tanpa adanya gangguan aura atau sebagainya, maka jiwa Yi Changyin akan terpadatkan.
Tapi jika gagal, maka sama saja dengan kembali mengantarkan Yi Changyin ke jembatan reinkarnasi. Dan dari hal ini, Xuan Chen pasti akan gigih untuk melakukan yang terbaik.
Jika jiwa telah terbentuk, tinggal satu proses lagi. Karena walaupun hidup, Yi Changyin tidak akan bangun jika tidak ada sesuatu yang merangsangnya. Dari sinilah, Xuan Chen harus berkorban. Yaitu menyerahkan setengah dari inti rohnya.
Setelah itu, proses selesai. Hanya tinggal menunggu Yi Changyin terasangsang dan bangun dengan sendirinya.
"Aku pasti akan berusaha yang terbaik." Ujar Xuan Chen dengan yakin.
Shui Jifeng mengangguk-angguk sebelum akhirnya berbicara, "Kami akan segera melakukan pengembangan jiwa. Tidak bisa berlama-lama di sini, energi kami semakin melemah." Ujar Shui Jifeng seraya menyentuh bahu menantunya, diam-diam memberi semangat.
"Ingatlah, untuk tetap berhati-hati. Kesempatan berhasil dalam proses ini sangat kecil." Tambahnya. Shui Jifeng memberikan tatapan keyakinan pada menantunya. Xuan Chen hanya bisa mengiyakan, dia akan berusaha yang terbaik.
Setelah itu, Shui Jifeng mengajak Shen Lan untuk segera pergi. Namun pria itu tampaknya masih ingin berbicara sesuatu dengan Xuan Chen.
Shui Jifeng tidak melarangnya, tapi memperingati untuk tidak berlama-lama. Ayah Bai Suyue itu menunggu tak jauh dari mereka berdua.
Saat Xuan Chen sedang memasukan abu putih suci Yi Changyin ke dalam liontin yang dilindungi energi spiritual, Shen Lan langsung berkata pada intinya, "Xuan Chen, bagaimana keadaan Rong'er?"
"Dia mengetahui kau telah pergi beberapa Minggu lalu. Kau pasti bisa menebaknya, dia mengurung diri selama berhari-hari."
Kemudian Xuan Chen menceritakan kalau adiknya yang satu ini keluar sehari sebelum perang di alamnya terjadi. Xuan Yao yang mengirim surat, orang-orang di istana merasa bersyukur.
Gadis itu masih Xuan Rong yang ceria, hanya saja dia memilih satu pekerjaan berat. Yaitu ingin menjadi jendral wanita kekaisaran Xuan.
Karena keadaan hatinya yang tidak baik, kaisar Xuan Zhen pun mengerti dan menyetujuinya. Sang ibu—selir Xian pun tidak keberatan.
Shen Lan hanya bisa menghela nafas setelah mendengar hal itu. "Sampaikan permintaan maafku padanya. Katakan juga, bahwa Shen Lan ini sangat tulus mencintainya." Setelah mengatakan itu Shen Lan pergi dengan Shui Jifeng. Menghilang di udara kosong.
Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi di alam baka. Xuan Chen kembali ke alam peri dengan berteleportasi. Langsung berada di tanah tandus dengan langit yang merah itu.
Karena ini, dia selalu mengingat Yi Changyin. Masa perangnya di masa lalu, sungguh tak bisa dilupakan. Dia menghela nafas dan berjalan dengan lunglai. Tak terbang ataupun berteleportasi lagi.
Walaupun yakin Yi Changyin dapat kembali, dia masih merasa lemas atas kepergiannya. Xuan Chen sangat terpukul dan hatinya hancur. Ia bahkan lupa berapa liter air mata yang telah dikeluarkan.
__ADS_1
Namun dia selalu mengingat kata-kata Shui Jifeng dan Shen Lan sebelum menghilang di udara. 'Semoga berhasil', kata-kata itu selalu membuatnya semangat.
Sambil membawa liontin berisi abu di tangannya, Xuan Chen berjalan menuju lokasi dimana perang berada. Berniat melampiaskan kegundahan hati dengan bertarung dan membunuh para iblis.
Namun betapa terkejutnya ia saat sampai di tempat yang di tuju. Tidak ada pertarungan atau apapun itu. Hanya ada orang banyak yang berkurumun.
Orang-orang di sana sedikit terkejut dengan kedatangan Xuan Chen seorang. Pria itu dapat melihat Raja iblis dan Qi Xiangma yang diikat berlutut di sana, sungguh tak terduga.
Juga yang lebih mengejutkan lagi, Xuan Chen melihat kehadiran kaisar langit beserta beberapa pasukannya. Juga... Pangeran kecil yang dia kenal dengan nama Yun Fulei itu. Selain itu, ada keempat ketua alam peri dan beberapa pasukan alam peri yang tersisa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Xuan Chen kebingungan.
Saat itu Hua Mu Dan maju untuk menjawab. "Tuan agung." Dia menyapa terlebih dahulu. "Putri mahkota Yue diam-diam mengirim surat pada Dewa jodoh, gadis kecil itu berfikir kita dalam bahaya karena badai yang terjadi di alam peri."
"Kemudian kaisar langit, pangeran kecil dan beberapa prajurit datang memisahkan kami. Mereka langsung memusnahkan para pasukan iblis dan membekuk Raja iblis dan wanita nakal ini."
Xuan Chen melirik ke arah dua orang yang dibekuk itu. Mereka tampak memberontak dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi mulut mereka terbungkam. Sepertinya kedua orang itu terlalu banyak mengoceh.
"Lalu, bagaimana dengan Dewa kegelapan?" Tanya Hua Mu Dan lagi.
"Dia sudah mati dan tidak bisa bereinkarnasi lagi."
Semua orang tersenyum lega, cahaya seperti muncul di hati mereka. Sementara itu Zhang Bixuan dan Qi Xiangma saling melirik dengan ekspresi yang terkejut. Pria iblis itu masih mengenakan topeng. Di tambah penutup mulut, hingga di wajah hanya matanya saja yang terlihat.
"Dimana Ratu?"
Pertanyaan Hua Mu Dan kali ini membuat Xuan Chen tersentak. Tiba-tiba dia ingin menangis, tapi segera menahannya. Xuan Chen menghela nafas untuk mendatarkan ekspresinya.
Dengan senyuman dia berkata, "Yin'er berada di ruang dimensi spiritual. Dia sedang terluka, jangan khawatirkan dia."
Mendengar hal itu semua orang kembali tersenyum lega. Awalnya mereka khawatir melihat sang tuan agung yang kembali sendiri. Dan Xuan Chen yang berbohong, hanya bisa menundukan kepalanya.
Tak lama setelah itu, kelompok alam langit pergi pamit membawa dua tawanan itu. Mereka bilang kedua orang itu akan diurus di pengadilan langit. Alam peri tidak perlu khawatir, keadilan akan segera datang.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗