
Begitu simbol unik itu masuk ke dalam tubuh Bai Suyue, ketiganya sudah berada di tempat yang begitu asing dan berbeda. Sebuah ruang lingkup kecil yang di kelilingi oleh gelembung spiritual berwarna biru muda.
Terdapat satu paviliun di tengah-tengah lebatnya kebun yang penuh dengan bermacam-macam buah-buahan segar. Juga kolam yang ikan di depan gazebo kecil. Yang bahkan sudah tersedia cangkir beserta teko teh yang mengepul.
Bai Suyue membawa mereka berdua ke belakang paviliun. Yang melewati tiga lubang gua aneh dan memiliki banyak energi spiritual. Gua pertama terasa begitu dingin, gua kedua terasa sejuk dan terakhir terasa panas.
Tapi kini mereka tak memperdulikan hal itu lagi. Lebih fokus pada hutan bunga persik yang indah memanjakan mata. Juga hamparan bunganya yang berguguran menambah keindahan tersendiri.
Selain itu di tengah hutan persik ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Yaitu meja yang penuh dengan makanan untuk burung dan naga sepertinya.
Bai Suyue menurunkan kuduanya di meja itu.
"Makanlah sepuas kalian.." Ujarnya sembari mengambil duduk menyandar ke batang pohon persik.
Bai Suyue hanya memperhatikan mereka sambil meminum arak persik, selagi mereka menyantap makanan khusus itu.
"Karena kalian sudah menjadi binatang kontrakku, aku akan memberi tahu kalian yang sebenarnya.." Ujar Bai Suyue. Keduanya sudah siap mendengarkan sambil makan biji-bijian untuk si Phoenix dan daging yang telah di masak untuk si Naga.
"Sebenarnya aku memang sengaja mencari kalian setelah membaca gulungan di buku." Katanya. "Gulungan ajaib itu mengatakan kalau kalian telah lahir seminggu lalu, jadi aku berniat mencari kalian, mendapatkan kalian, apapun yang terjadi.."
Membuat keduanya tertegun, berhenti memakan makanan mereka.
"Tapi, kalian jangan salah paham terhadapku.." Bai Suyue menambahkan dengan yakin. "Aku berkata seperti itu, bukan berarti berniat memanfaatkan kalian. Tapi sejak dulu aku memang ingin memiliki teman seperti kalian."
Bai Suyue menghela nafas, "maka dari itu aku menciptakan ruang lingkup kecil ini khusus untuk rumah kalian."
Namun membuat keduanya berkaca-kaca haru.
"Ruang dimensi spiritual ini terhubung denganmu, begitu juga denganku. Kemanapun aku pergi.. ruang dimensi spiritual ini akan tetap ada bersamaku.."
"Hanya kematian yang bisa memisahkan kita bertiga. Jika aku mati, ruang dimensi spiritual ini akan bersama kalian namun terkunci. Dan kalian harus memiliki tuan baru untuk membukanya kembali."
"Semua yang berada di sini tercipta dari energi spiritual. Termasuk udara yang kalian hirup dan makanan yang kalian makan.."
"Waktu dengan dunia nyata akan berbeda disini. Waktu ruang dimensi spiritual akan berjalan berkali-kali lipat dari dunia nyata. Namun tidak akan mempengaruhi perubahan tubuh, usia dan sebagainya. Tapi, sangat ampuh untuk meningkatkan kekuatan dalam waktu singkat."
Kedua binatang ilahi itu bertingkah terkejut.
Membuat Bai Suyue terkekeh pelan. "Gunakan tempat ini untuk berlatih. Saat kekuatan kalian sudah mencapai sepuluh ribu tahun pertapaan, kalian akan mengalami nirwana dan terlahir kembali."
"Karena kekuatanmu yang di kuras untuk bertahan hidup selama seminggu kebelakang, tidak akan cukup kuat untuk menerobos menjadi binatang ilahi alam peri yang sangat kuat."
"Dan nama. Phoenix, aku akan memberimu nama Feng'er, karena kau seekor Phoenix yang dengan dua elemen. Sementara untuk Naga, aku ingin memberimu nama Heilong, karena kau seekor Naga hitam."
Tak di sangka Phoenix dan Naga kecil menghambur ke arahnya. Dengan perasaan sayang sambil mengelus-eluskan kepala mereka kepada Bai Suyue.
Beribu-ribu tahun kemudian, mereka berdua berhasil berkultivasi dengan baik. Bahkan mendapatkan kekuatan binatang ilahi sepuluh ribu pertapaan. Hingga berhasil mengubah diri mereka, menjelma menjadi manusia. Walaupun berwujud anak-anak umur enam tahun.
Saat itu mereka berdua menghambur ke arah Bai Suyue yang sedang berjalan di jembatan tengah-tengah kolam teratai.
Feng'er saat itu berambut pirang dengan pakaian biru terang. Sementara Heilong memakai pakaian hitam dengan motif yang bersisik.
Keduanya memeluk Bai Suyue dari belakang sambil berseru,
"Ibunda!!!"
Sungguh manis!
Membuat Bai Suyue terkekeh. "Mengapa kalian selalu memanggilku seperti itu? Aku bukan ibu kalian." Sergahnya dengan nada yang tidak setuju. Walaupun sebenarnya ia tersenyum sendiri.
"Saat masih bayi, kau membawaku kemari, memberi makan, melatihku, menyayangiku, kau sangat pantas di panggil ibu." Jawab Feng'er dengan polosnya. "Karena dalam buku-buku sosok ibu tertulis semacam itu.."
"Benar, kami tidak tahu ibu kami yang sebenarnya itu siapa, tapi kau adalah satu-satunya wanita yang sayang pada kami." Timpal Heilong terdengar jauh lebih lucu.
Mereka pintar walaupun memiliki tubuh anak-anak.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Feng'er dan Heilong bergegas menarik tangan Bai Suyue menuju ke depan. Menyebrangi kolam yang lebih pantas di sebut danau itu penuh dengan canda tawa. Bahkan mereka masih sempat menanyakan topeng yang di kenakan Bai Suyue.
"Bunda, mengapa kau tidak pernah melepas topengmu?"
Sedangkan Bai Suyue hanya menjawab, "mungkin ada satu dua alasan yang tidak ibunda ketahui." Yang mendapatkan tatapan tidak puas dari keduanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah pagoda tengah-tengah kolam. Feng'er dan Heilong sempat terdiam menatapnya heran. Namun sejurus Bai Suyue segera menarik keduanya masuk ke dalam.
Dua buah benda besar berwarna emas yang mirip dengan telur bertahta di tengah-tengah dalam pagoda yang luas. Dengan akar-akar pohon perak yang menyambangi berdirinya kedua telur emas raksasa itu.
"Sepertinya aku pernah membaca tentang benda ini sebelumnya di gulungan ruang buku ibunda.." Gumam Feng'er sambil mengapit dagunya lucu.
Bai Suyue mengusap puncak kepala Feng'er sambil menatapnya. "Itu adalah telur kelahiran kembali untuk kalian berdua." Jawabnya yang membuat keduanya terkejut.
"Agar kalian resmi menjadi bagian dari alam peri dan memiliki wujud dewasa. Juga kekuatan yang akan bertambah berkali-kali lipat. Kalian hanya perlu masuk, menunggu sampai seratus tahun, baru aku akan kembali menjemput kalian berdua." Jelas Bai Suyue merinci.
Tapi entah kenapa membuat kedua anak kecil itu berkacak pinggang. Dengan pipi yang mengembung marah.
"Apakah Ibunda menghabiskan kekuatan spiritualmu lagi untuk kami?!" Hardik Heilong kesal.
"Ibunda, apakah kau tidak pernah berfikir tentang dirimu sendiri?!" Timpal Feng'er yang memiliki ekspresi sama dengan Heilong.
Bai Suyue sempat terbengong, namun detik berikutnya ia terbahak. Bahkan menyusut ujung matanya karena tertawa sampai mengeluarkan air.
Namun tambah membuat kedua anak kecil itu memberenggut marah.
Setelah meredakan keinginan tawanya, Bai Suyue menjelaskan tentang telur raksasa disini tidak di ciptakan olehnya. Melainkan oleh leluhur mereka jutaan tahun silam.
Karena alam peri bersifat pribadi dan menutupi diri dari semua alam yang ada di dunia ini, maka leluhur kala itu menginginkan siapapun yang ingin tinggal harus terlahir kembali di dalam telur raksasa ini.
Mereka tidak akan berubah, hanya saja kekuatan akan bertambah berkali-kali lipat dan resmi memiliki darah alam peri tanpa adanya keturunan dari orang tua atau leluhur. Manusia, Dewa Dewi, hewan suci, binatang roh atau ilahi, bahkan iblis pun bisa.
Kedua anak kecil itu hanya terbengong mendengar penjelasannya. Tak di sangka yang namanya alam peri ini masih menyimpan sejuta keunikan yang belum dia ketahui.
Pengetahuan mereka tentang alam peri ini bagaikan satu butir beras dari ribuan di dalam karung yang tersimpan.
"Apakah kalian siap?" Tanyanya sambil melepaskan pelukannya dan menatap kedua anak kecil itu.
Secara bersamaan Feng'er dan Heilong mengangguk dengan yakin. "Kami siap!"
Tanpa di sangka, kedua anak kecil itu mengecup pipi Bai Suyue dengan mesra sambil mengatakan,
"jangan rindukan kami, ibunda. Karena kami sedang dalam perjalanan menuju kuat demimu." Ujar Heilong yang membuat Bai Suyue semakin mengharu biru dan mengelus puncak kepala mereka berdua.
Tak berlama-lama keduanya mulai bergegas memasuki telur emas raksasa dengan keyakinan penuh. Mereka tersenyum pada Bai Suyue sebelum akhirnya menghilang di depan telur.
Waktu seperti berjalan cepat. Tak terasa seratus tahun sudah terlewati. Akhirnya telur emas raksasa menunjukkan pergerakan yang tidak biasa. Bai Suyue sudah setia menunggu di sana dengan senyuman bahagia.
Dan sudah mencapai puncak. Telur emas raksasa itu mengeluarkan sinar yang sangat terang. Suara pekikan burung Phoenix dan raungan Naga menggema di sana, membuat Bai Suyue menutup mulutnya karena tak kuasa menampung kebahagiaan.
Seperti pada anak sendiri.
Ya, mau bagaimana lagi. Feng'er dan Heilong sudah di rawat olehnya sejak bayi. Seperti mengadopsi dua bayi mungil sebagai pengganti anak.
Pekikan Phoenix dan raungan Naga itu semakin kuat terdengar. Kemudian dua benda keluar dari masing-masing telur emas itu. Terbang ke angkasa dan menimbulkan semburat biru dan merah yang indah. Menembus gelembung spiritual yang menjadi atap pagoda yang tinggi.
Seekor Phoenix dan Naga menari-nari membentuk formasi di atas langit. Menimbulkan cahaya merah dan biru yang menghiasi langit malam alam peri yang indah. Memberikan pemandangan menakjubkan kesetiap penjuru alam yang kerap kali di sebut negri dongeng itu.
Keduanya kembali turun ke bawah, ke dalam pagoda. Berubah wujud menjadi dua pemuda di hadapan Bai Suyue. Dengan pakaian dan penampilan yang masih sama namun versi dewasa.
Feng'er dan Heilong yang bertubuh dewasa itu lantas memeluk tubuh wanita yang selalu mereka sebut sebagai ibunda dengan bangganya. Saling berbagi kebahagiaan dan senyuman atas keberhasilan keduanya.
Waktu berjalan cepat tanpa terhenti. Sekilas ingatan berlalu cepat tanpa melambat. Kebahagiaan yang mereka rasakan berpuluh-puluh ribu tahun bersama sang ibunda, kini pudar dengan suatu tragedi yang begitu samar di benaknya.
Terakhir kali, saat itu topeng yang menutupi wajah Bai Suyue menyamarkan diri, hingga terlihat jelas bagaimana setiap lekuk wajah ibunda tercinta mereka. Yang terlihat cantik bersinar dan awet muda di umur yang hampir menginjak seratus ribu tahun.
__ADS_1
Dari situlah mereka mengenal jelas wajah sang ibunda angkat.
Tapi entah kenapa hal itu bisa terjadi.
Namun kala itu yang di lihat mereka hanyalah wajah sedih, murka dan sulit di jelaskan. Tanpa tanggung-tanggung, saat itu Bai Suyue memberikan suntikan es penghilang ingatan pada kelima wanita pengikut setianya. Lalu terlempar ke bawah jurang yang dipenuhi dengan kabut berkilat-kilatkan cahaya.
Keduanya masih ingat dengan jelas, kalau hanya wanita serba bunga Peony yang tidak terkena suntikan es penghilang ingatan itu. Wanita serba Peony itu hanya jatuh ke dalam jurang, itu saja.
"Aku harap kalian menjalani kehidupan baik setelah ini.."
Itu adalah kata-kata yang terdengar oleh keduanya.
Namun sejurus kemudian Bai Suyue berusaha mendorong Feng'er dan Heilong ikut masuk ke dalam sana. Jelas terlihat matanya berkaca-kaca, menahan tangis yang hampir meledak di tengah kehancuran hatinya.
Sekeras apapun mereka berdua memberontak. Dan berusaha ingin terus berada di samping wanita terkasih itu. Tidak berhasil. Keduanya terlampau masuk ke dalam jurang yang entah sedalam apa.
"Aku harap kalian hidup dengan baik.."
Itu adalah kata-kata terakhir Bai Suyue yang terdengar menyakitkan saat masuk ke dalam gendang telinga mereka berdua. Dan setelah itu pandangannya memudar.
Namun saat kembali sadar, mereka sudah berada di hutan belantara yang gelap. Sekarang mereka berada di dunia antah berantah yang tidak kenalinya. Berbeda dengan alam peri yang penuh dengan sejuta keunikan.
Mereka tak hanya diam. Mereka ingin kembali ke sisi Bai Suyue. Mereka merindukan pelukannya. Merindukan tutur katanya yang lembut. Juga wajah cantik yang pertama kali sekaligus terakhir kali mereka lihat.
Feng'er dan Heilong tanpa menyerah terus mencari-cari keberadaan alam peri. Dan ternyata alam dengan sejuta keunikan itu benar-benar tersembunyi dari dunia ini. Tidak ada yang tahu seorangpun.
Bahkan ada yang bilang kalau alam peri ini hanyalah mitos. Membuat Feng'er ketar ketir ingin menghajar seseorang yang mengatakan hal itu.
Sepuluh tahun.
Lima puluh tahun.
Seratus tahun.
Mereka tidak menemukan petunjuk apapun.
Tapi.. tepat seratus tahun setelah mereka pergi dari alam peri. Mendapati hal yang membuat mereka menangis tiga hari tiga malam. Yaitu darah kontrak Bai Suyue yang berada di tubuh mereka menghilang. Ruang dimensi spiritual kembali pada mereka dalam keadaan terkunci.
Lalu teringat kata-kata Bai Suyue puluhan ribu tahun silam,
"Hanya kematian yang bisa memisahkan kita bertiga. Jika aku mati, ruang dimensi spiritual ini akan bersama kalian namun terkunci. Dan kalian harus memiliki tuan baru untuk membukanya kembali."
Dan menandakan kalau.. Bai Suyue telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Membuat mereka harus menelan duri yang sangat pedih berkali-kali lipat banyaknya.
Bunda.. oh bunda, semoga engkau bereinkarnasi dan kita bertemu kembali.
Lalu tak lama kemudian ia mendengar kalau alam peri telah hancur tak bersisa.
Hancur! Hati mereka ikut terasa sangat hancur!
Menangis pun tidak ada gunanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkelana dan menyamarkan diri dalam kesengsaraan. Tak berniat untuk mencari tuan baru.
Selama enam belas ribu tahun berkelana..
Sampai mereka berakhir di hutan kaki gunung Tianjin.
Sampai bertemu dengan seorang Dewi rubah ekor sembilan yang berwajah ibunda tercinta mereka, yang berhasil mengubah hidup yang muram menjadi berwarna.
Flashback off..
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉