The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXLIX - Jiwa Telah Memadat


__ADS_3

300 tahun kemudian...


Dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan berjalan masuk ke dalam sebuah kamar. Kasur di dalam sana dilindungi oleh perisai yang tidak bisa dilewati oleh apapun. Siapapun yang berada di sana mungkin akan mati karena tidak ada udara untuk dihirup.


Mereka berdua berwajah hampir sama. Ada campuran wajah Yi Changyin dan Xuan Chen di sana. Perawakannya seperti berusia anak lima tahun. Namun sebenarnya mereka berumur empat ratus tahun.


Kedua anak kecil itu menghampiri perisai spiritual yang di dalamnya terdapat tubuh tembus pandang seseorang dan sedikit berwarna, tengah memejamkan mata.


Kedua anak kecil yang tak lain adalah Xuan Sifeng dan Xuan Sijiu itu menekuk lututnya di depan perisai spiritual. Lalu bersujud dan menegakkan tubuhnya kembali.


Xuan Sifeng berbicara dengan lucu, "ibu, kami datang memberi salam pagi kepadamu. Semoga ibu cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan kami." Dahulu ketika bertanya apa yang terjadi dengan ibunya, sang ayah menjawab kalau sang ibu sedang sakit.


Setelah mengatakan itu Xuan Sifeng dan Xuan Sijiu mendirikan tubuhnya. Dan hendak berbalik, bersamaan dengan itu Xuan Chen muncul di ambang pintu.


Sikembar yang melihatnya segera tersenyum dan menghambur, memeluk kakinya. "Ayah!!"


Xuan Chen segera berjongkok dan membelai rambut keduanya. Mereka sudah tumbuh besar dan berbakti. Setiap pagi, tak pernah lupa untuk memberi salam pada jiwa yang tertidur itu.


"Kalian sudah memberi salam pada ibu?" Tanyanya dengan lembut.


"Sudah, ayah. Tapi... Kapan ibu akan bangun?" Xuan Sijiu menjawab sekaligus bertanya dengan bibir yang mengerucut, sekilas menoleh ke arah tempat tidur.


"Benar, kami ingin bermain dengan ibu." Sahut Sifeng dengan wajah yang bersedih.


Xuan Chen merasakan hatinya tersayat. Dia menunduk namun masih memasang senyuman tipis. Ini sudah tiga ratus tahun, banyak yang berubah. Anak mereka sudah tumbuh menjadi kultivator cilik nan hebat dari alam peri, tapi sejauh ini belum ada pergerakan dari jiwa Yi Changyin. Ini sungguh berat baginya.


Dengan helaan nafas akhirnya dia menjawab, "ibu akan bangun sebentar lagi. Sifeng dan Sijiu tenang saja."


"...." Sikembar itu terdiam. Sang ayah tahu perasaan mereka dan berusaha menghibur dengan hal lain.


"Pagi ini kita makan di luar, tapi jangan bersedih lagi, ya?"


Sikembar segera bersorak senang, memeluk ayahnya dan mengucapkan rasa terima kasih. Dengan ini hati Xuan Chen pun sedikit terhibur.


"Setelah memberi salam pada kakak Jinmi, kakek, nenek dan paman Shen Lan kita pergi ke sana." Ujar Xuan Chen lagi yang di angguki keduanya penuh antusias.

__ADS_1


Ada ruangan kosong di rumahnya, Xuan Chen memakai itu untuk menyimpan tugu kenangan Xuan Jinmi, Shui Jifeng, Bai Jiyuan dan Shen Lan. Hal itu dilakukan agar anak-anak mereka berbakti dan selalu mengenang kakaknya, kakeknya dan Shen Lan yang berarti. Kadang kali mereka di ajak berkunjung ke pemakaman kaisar Xuan Zhen dan Selir Yang.


Saat berada di halaman, pemandangan salju terlihat menutupi tanah. Xuan Chen dan putranya sudah memakai jubah hangat dengan warna yang sama, biru tua. Namun saat itu Xuan Sijiu datang tanpa jubah hangat, gadis kecil itu merasa dingin dan memeluk tubuhnya sendiri.


Xuan Chen mengerutkan kening dan segera memeluk putrinya. "Sijiu, dimana jubah hangatmu?"


Namun gadis itu hanya menggeleng. "Aku tidak menemukannya dimana-mana." Jawabnya dengan polos.


"Dikamar ibu?"


Xuan Sijiu tertegun sesaat. Sejurus kemudian dia kembali berlari ke dalam tanpa berkata-kata. Xuan Chen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian mengajak putranya untuk duduk menunggu sambil minum teh hangat.


Mereka saling terdiam. Xuan Chen memperhatikan kebun luas yang tak jauh darinya. Banyak sayuran hijau dan tanaman herbal yang tumbuh di sana tanpa terpengaruh oleh cuaca dingin juga musim bersalju. Ada Xiaobai dan Xiaoxuan yang sedang mengurus kebun.


Itu adalah kebun miliknya yang terus berkembang tanpa gangguan selama ratusan tahun. Dan selama ini mereka hidup baik-baik saja tanpa ada kendala.


Semua kebutuhan sudah tersedia tanpa membeli, rumah nyaman dan anak-anak yang berbakti. Juga dengan keempat ketua alam peri datang setiap hari secara bergantian untuk menjadi guru sikembar.


Tapi hanya ada satu yang terus membuat hatinya mendung, yaitu Yi Changyin yang belum tersadar. Kadang ia ingin menangis tapi putra putrinya segera menghibur.


Selain itu, tahun lalu Gaoqing Dijun di kabarkan mati menggenaskan di neraka. Qi Xiangma dan Zhang Bixuan di hukum mati. Lalu kabar Qi Zhongma yang ditemukan meninggal di hutan Diaoshi.


Banyak hal tak terduga yang dilewati Yi Changyin. Setelah sadar wanita itu pasti akan terkejut ketika mendengarnya.


Sementara di dalam rumah, Xuan Sijiu berlari ke arah kamar tempat jiwa Yi Changyin berada. Saat membuka pintu, gadis itu terkejut melihat jiwa ibunya yang bersinar terang.


Setelah mengambil jubah hangat, dia segera berlari keluar untuk memberi tau ayahnya. Xuan Chen sendiri terkejut saat mendengarnya dan segera masuk ke dalam. Di susul oleh Sifeng dan Sijiu.


Saat berada di kamar, Xuan Chen melihat jiwa istrinya yang bersinar terang di dalam sana. Pria itu segera membuka perisai, karena dia yakin jiwa Yi Changyin akan terpadatkan.


Ketika tubuh didapatkan, maka jantung akan bekerja dan nafas akan berhembus. Saat itu Yi Changyin butuh udara, Xuan Chen tidak mau terlambat untuk melepasnya.


Dia segera mewanti-wanti Xuan Sifeng untuk memanggil Feng'er dan Heilong. Pria kecil itu mengangguk dan segera pergi dari sana. Xuan Sijiu tetap tinggal dengan ayahnya.


Tak lama setelah itu cahaya semakin terang, kemudian redup perlahan. Sekarang tidak ada lagi jiwa tembus pandang dan sedikit berwarna, Yi Changyin benar-benar telah mendapatkan tubuhnya.

__ADS_1


Xuan Chen berkaca-kaca dan segera menghampiri Yi Changyin dengan tergesa, nafasnya berderu kencang. Bersamaan dengan itu Feng'er dan Heilong datang dengan nafas yang memburu. Sifeng menyusul dari belakang.


"Yin'er, akhirnya..." Bisik Xuan Chen lirih. Dia menggenggam tangan Yi Changyin yang kian menghangat dan mengusap-usapnya dengan lembut.


"Ayah, apakah ibu akan sadar?" Tanya Sijiu dengan polos. Dia melihat ibunya dari dekat. Sikembar yang tak tahu apa-apa merasa bingung ayahnya menangis.


Xuan Chen akhirnya menyeka ujung matanya. Dia segera berdiri dan mengusap kepala Sifeng dan Sijiu secara bergantian. "Benar, ibu kalian akan segera bangun."


Kemudian dia menoleh ke arah Feng'er dan Heilong, "ajak mereka pergi ke restoran untuk sarapan. Jangan lupa bungkus untuk Dewa tanah."


"Baik, tuan." Jawab mereka berdua.


Feng'er dan Heilong segera mengajak keduanya untuk pergi. Xuan Chen cepat-cepat menghampiri Yi Changyin yang masih terpejam. Memeluknya dengan erat dan memberi ciuman di dahi.


Xuan Chen menatap wajah itu baik-baik. Pipinya sedikit memerah karena terisi darah. Bibirnya merah muda, bulu matanya hitam lentik. Wajah tampak cantik sama seperti dahulu.


Pria itu telah berhasil di tahap ini, dan segera maju ke tahap selanjutnya. Xuan Chen segera duduk di tepian kasur. Kali ini dia akan mengeluarkan setengah inti rohnya untuk Yi Changyin.


Prosesnya berbeda jauh dengan Yi Changyin dahulu saat mengeluarkan inti rohnya. Pria itu meraih tubuh Yi Changyin dan meletakkannya di bahu.


Cahaya samar muncul dari tubuh Xuan Chen. Pria itu mempertemukan bibir mereka. Samar-samar cahaya putih penuh dengan bintang-bintang mengalir dari mulut Xuan Chen ke dalam mulut Yi Changyin.


Mereka bertautan lama, namun bukan untuk bercinta. Tapi memberikan setengah inti rohnya yang berharga. Saat diberikan, Xuan Chen merasakan dadanya yang sesak, tapi tetap bertahan.


Setelah dirasa telah keluar setengahnya, Xuan Chen melepaskan sentuhannya dan menatap Yi Changyin. Ada banyak cara untuk memberikan inti roh pada orang lain, dan Xuan Chen memilih yang satu ini.


Pria itu mengecup dahi Yi Changyin dan membaringkannya di kasur. Dia juga ikut tidur menyamping dan memeluknya. Gadis itu bernafas tenang, seperti sedang tidur panjang.


Dia akan memandangi wajahnya selama mungkin hari ini, biarkan Sifeng dan Sijiu bermain di luar. Hari ini cukup dingin, Xuan Chen menyelimuti tubuh Yi Changyin dengan selimut tebal.


"Segeralah bangun." Bisiknya sambil tersenyum. Bagaimanapun juga dia tahu, butuh waktu lama untuk merangsang kesadarannya.


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2