The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXXIII - Keindahan dan Kenikmatan Duniawi


__ADS_3

WARNING🔞


Xuan Chen hampir bisa meraih tubuh kecil yang berlari di hadapannya. Namun sayang gadis itu melompat tinggi ke atas langit-langit. Lantas ia pun ikut melayangkan diri demi mengejarnya dengan hati yakin kalau wanita itu akan segera tertangkap ke dalam dekapannya.


Bahkan Yi Changyin terbang melewati pohon-pohon yang tinggi, kemudian melampaui awan. Tapi Xuan Chen masih setia mengejarnya bersama ribuan kunang-kunang yang ingin ikut bermain.


Sementara gadis itu terus saja mengejeknya, "tangkap aku kalau bisa!!" Membuat ia semakin semangat untuk mengejarnya.


Ia menatap lamat-lamat punggung Yi Changyin sambil fokus meringankan tubuhnya. Namun tiba-tiba sekilas dalam penglihatannya keadaan dunia berubah. Langit malam bertabur bintang tiba-tiba berubah menjadi merah berdarah.


Juga Yi Changyin berubah menjadi sosok putih bersayap yang melesat menjauh darinya.


Karena lintasan pemandangan itu masuk secara tiba-tiba, rasa pening di kepalanya mulai menyerang, membuat ia mengaduh dan berhenti di tempat.


Yi Changyin segera berbalik setelah mendengar keluhan terdengar dari mulutnya. Ia menghampiri Xuan Chen dan memegangi pipinya dengan wajah yang cemas.


"Apa yang terjadi denganmu? Kau.. baik-baik saja kan?"


Namun sejurus kemudian Xuan Chen tersenyum jahil dan menarik pinggangnya ke dalam pelukan. Sementara Yi Changyin melingkarkan kedua tangannya ke leher Xuan Chen sambil tersenyum.


"Umpan yang bagus.." Gumam Yi Changyin sambil tersenyum. Ia tak menyesalinya walaupun Xuan Chen berhasil menang.


Namun detik berikutnya mereka terpaku pada masing-masing bayangan yang memabukkan. Hening dalam kelarutan malam yang menyaksikan mereka bersama.


Ditemani oleh ribuan kunang-kunang mengiring mereka berdua untuk kembali ke daratan hutan bambu secara perlahan. Dengan latar belakang langit yang indah bertabur galaksi dan bintang.


Turun perlahan melewati awan-awan yang membumbung dengan mata yang saling memandangi tak mau lepas. Anak rambut mereka saling menari-nari dan berterbangan. Saling terpaku dan terpana tanpa gangguan apapun. Seakan dunia ini hanya milik mereka bedua.


Jantung berdebar kencang bak ingin meledak meluapkan rasa bahagia mereka saat ini. Di temani oleh ribuan kunang-kunang yang masih setia mengiring mereka menuju hutan bambu.


Sampai kaki mereka menapak, keempat iris hitam masih saling terpaku tak terlepaskan. Seakan menatap matanya adalah hal yang paling disukai di dunia ini. Tak ada yang lain.


Sejurus kemudian Yi Changyin mendesis yang membuat Xuan Chen tersadar dengan pipi yang memerah. Gadis itu masih saja menggodanya dengan senyuman manis.


Namun karena sudah tak kuasa menahan canggung dan gugup, Yi Changyin berbalik dengan wajah yang memerah. Dia hendak kembali berlari dan menjauh. Namun Xuan Chen menarik tangannya dan kembali menabrak dada bidangnya. Kedua tangannya menempel di sana, hingga merasakan detak jantung yang kencang.


Setelah sesaat kembali saling bersitatap, Xuan Chen menyentuh bibirnya penuh dengan kelembutan dan perasaan. Menekannya lama sampai kehabisan nafas lalu melepaskannya.


Xuan Chen tersenyum menatap wajah Yi Changyin yang merona dan menggigit bibir bawahnya yang panas.


Deru nafas yang kencang telah menadakan ia tak bisa menguasai rasa canggungnya. Yi Changyin mendorong dada Xuan Chen dan kembali kabur.


Namun dengan cekatan Xuan Chen menarik baju putihnya yang berkibar-kibar ke belakang. Hingga ia hampir terjatuh namun beruntung karena satu tangan berpegangan pada batang bambu.


Namun sejurus kemudian Yi Changyin kembali tersudutkan dan punggungnya berakhir mendarat di depan batang bambu. Pria itu mengikat salah satu tangannya dengan cengkraman erat pada batang bambu di atas kepala.


Xuan Chen kembali menyentuh bibirnya dengan halus dan lembut. Membuat ia hanya terdiam bingung tak tahu harus berbuat apa. Tangan satunya yang terbebas dari cengkraman menjelajahi dada bidangnya sampai ke atas tengkuk.


Pria itu semakin mendesaknya dan memainkannya perlahan. Lembut namun menghanyutkan. Membuat ia hanya terdiam memejamkan matanya menikmati rasa yang ada.


Sampai keduanya kehabisan nafas, berhenti sejenak namun kembali mendesaknya penuh gerakan lembut. Lagi-lagi Yi Changyin terhanyut ke dalam arus suasana indah hingga bermuara dan tenggelam dalam lautan keindahan.

__ADS_1


kini kedua tangannya sudah bertautan di depan tengkuk Xuan Chen, dan dengan gemas meremas-remas kerah belakangnya.


Saat mencapai puncak keindahan dan kenikmatan tiba-tiba suara guntur menggelegar yang terpaksa membuat mereka berdua menghentikan keindahan dan kenikmatan duniawi yang mereka rasakan.


Yi Changyin hanya menarik senyuman tipis, dengan tangan yang masih tersampai di bahu Xuan Chen. Sementara pria itu menatapnya yang sedang tertunduk.


"Dewa guntur dan Dewi petir menyadari seorang manusia dan bawahan kontraknya sedang melakukan hal ini.." Gumam Yi Changyin sambil tersipu.


Membuat Xuan Chen terkekeh pelan. "Jangan khawatir.."


Kemudian mereka menghilang di udara kosong tepat ketika dua mata petir menyambar batang bambu yang tidak bersalah itu. Yang mereka berdua gunakan tadi untuk menyatu padukan perasaan.


Sementara di sisi lain, di tempat yang gelap. Seseorang menatap batang bambu malang itu dengan tubuh yang bergemetaran. Dengan suara geraman rendah menandakan emosi yang terdalam.


Dia adalah Wen Yuexin, yang memakai jubah hitam dan baru tiba di gunung Tianjin. Baru saja ia berbahagia akan bertemu dengan pujaan hatinya, sang pangeran ketujuh yang tak sempurna namun yang paling mampu memikat hatinya.


Tapi kebahagiaan itu hancur ketika melihat adegan tidak senonoh yang pujaan hatinya lakukan di depan mata. Dengan sosok wanita yang dia kenalinya dengan penuh emosi tiga tahun lalu di daratan timur. Yang telah ia anggap siluman dan mencambuknya tanpa perasaan.


Tapi tak di sangka hubungan antara majikan dan bawahan mereka berubah menjadi cinta yang sudah bertingkat-tingkat level karena telah melakukan hal yang semacam itu. Atau mungkin lebih dari itu.


Wen Yuexin masih terdiam dengan emosi yang bisa saja meledak sekarang juga. Matanya memerah dengan bulir-bulir air yang perlahan turun tanpa di sadarinya.


Dia merasa miris pada diri sendiri. Karena pergi jauh-jauh kemari hanya untuk melihat kemesraan mereka berdua dimalam hari.


"Yi.. Chang.. Yin!!!" Geramnya penuh emosi dengan tangan yang mencakar-cakar tanah.


.......


.......


.......


Yi Changyin masih terdiam tak berani menatap mata Xuan Chen yang akan membuat ia semakin memanas.


"Yin'er.. sebelumnya aku meminta maaf tentang kebodohanku beberapa waktu lalu."


Membuat gadis itu berani untuk menatap matanya.


"Jika kelak suatu saat kau benar-benar mengandung, aku berjanji tidak akan meminta hal gila seperti itu lagi.." Xuan Chen tersenyum getir di akhir kalimatnya. "Aku sungguh menyesal.. maafkan a..."


Ucapannya terpotong ketika Yi Changyin menutup mulutnya sambil tersenyum. Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti kekhawatiranmu.." Jedanya. "Tapi jangan membicarakan hal itu di saat-saat seperti ini. Biarkan semua berlalu dan seakan tidak pernah terjadi.."


Xuan Chen hanya tersenyum lebar bahagia. Kemudian ia segera merenggut bibirnya penuh gerakan namun halus dan menghayutkan. Membuat Yi Changyin pasrah dan tak pernah ada penolakan.


Kemudian Xuan Chen melepaskannya kembali setelah kehabisan nafas dan menatap Yi Changyin dengan senyuman, "saat mengetahui kalau kehamilan itu palsu, kau tampak kecewa. Jadi.. bagaimana kalau kita mengulanginya?"


Yi Changyin sempat tertegun karena kata-katanya. Namun begitu sadar dengan maksud-maksudnya yang begitu menggelitik, wajahnya tambah memerah. Ia memukul dada Xuan Chen sambil memberenggut.


Namun Xuan Chen tidak memperdulikannya. Ia kembali menikmati tanpa adanya penolakan. Meluapkan segala emosi yang membuncah pada hari itu juga. Meledak-ledak seperti kembang api dan melayang-layang seperti angin bebas.


Terbang tinggi melewati tingginya angkasa, hingga kedua set pakaian mereka sudah tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


.......


.......


.......


Sementara itu Wen Yuexin sudah mengamuk di tempat. Sama dengan Yi Changyin saat itu namun lebih parah dan mengerikan. Hutan itu hancur seketika dengan kekuatan-kekuatan hitam di tangannya.


Dia adalah seorang kultivator tapi memiliki aura hitam. Jelas.. sosok Wen Yuexin ketika marah bukanlah yang biasa. Terlebih lagi ia memiliki kelopak mawar hitam di keningnya yang berhubungan dengan Dewa kegelapan. Juga bisa mengendalikan pasukan milik sang mendiang Dewa kegelapan.


Entahlah.. Dia sendiri pun tidak tahu mengapa hal ini terjadi.


Setelah puas menghancurkan segalanya, tanpa memberi tahu Xueqi yang berada di dalam liontin spiritual, ia berjalan lemas menuju tempat ia datang.


Dengan emosi yang melelehkan air matanya. Wen Yuexin terus saja terjadi terbayang atas kejadian tadi. Hingga membuat ia menghancurkan tidak batang pohon sekaligus yang berada di sampingnya.


"Yi Changyin.. jangan harap kau bisa lolos saat pulang daratan Dongfang nanti!!"


Kemudian dia tersenyum miring dan menyeramkan.


"Aku.. akan membuatmu menderita!!"


.......


.......


.......


"Mmhhh.. mmmhh.." Yi Changyin berusaha mengeluarkan suara walaupun mulutnya tengah disumpal oleh permainan lembut pria itu. Wajahnya sudah penuh keringat dan terlihat kelelahan. Entah sudah berapa lama dan berapa jenis permainan yang mereka mainkan.


Tak mendapat respon dari pria yang sedang menyanggahinya, Yi Changyin kembali mengulangi lenguhannya sambil memukul-mukul dadanya dengan pelan. Karena tenaganya sudah terkuras akibat permainkan yang masih dilakukan di bawah sana.


Xuan Chen melepaskan sentuhannya dan menatap Yi Changyin yang wajahnya sudah penuh keringat juga memerah. Ia masih bisa melihatnya jelas walaupun kondisi kamar yang temaram.


"Apakah Yin'er sudah lelah?" Tanyanya yang di balas anggukan kecil Yi Changyin.


Pria itu segera menyingkir dari atas tubuhnya, mengenakan kembali pakaian dengan bantuan energi spiritual. Hingga mereka tak perlu beranjak dan pakaian tidur sudah terpasang dengan rapi.


Detik berikutnya Yi Changyin sudah terlelap di dalam dekapannya. Xuan Chen hanya tersenyum sambil mengusap-usap pipinya. Dan kecupan lembut di keningnya adalah yang terakhir kali Yi Changyin rasakan sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi.


Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang membuatnya dengan sengaja membuka telepati agar merasakan hubungan kontrak yang sudah lama di kubur olehnya kembali terasa.


Setelah memeriksa kondisi tubuh Yi Changyin sambil terpejam, betapa terkejutnya ia mendapati sesuatu yang berada di luar dugaannya.


"Luka dalam sebesar ini?" Gumamnya cemas. "Yin'er.." Dia mendekap tubuh kecil itu sembari membacakan sesuatu untuk kembali mengubur jejak hubungan kontrak. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanyanya dengan camas pada diri sendiri.


Xuan Chen berusaha melupakan apa yang dia rasakan tadi. Dan mengurusnya saat esok hari. Sekarang ia hanya bisa terpejam walaupun dengan hati yang luar biasa cemasnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2