The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXXVIII - Tetua Ling Zhao Tahu?


__ADS_3

"Apa itu?" Tanya Yi Changyin penasaran. Bisa-bisanya pria itu masih mengaturnya dengan sebuah 'Persyaratan.'


"Jangan memakai pakaian wanita." Jawab Xuan Chen dengan lugas.


Yi Changyin terkejut. Begitu? Segitunya dia tidak ingin dilihat orang lain? Belum dia berkomentar, tiba-tiba suara lain mendahuluinya.


"Kalau begitu.. aku setuju. Tapi ini tergantung pada kemauan murid ketujuh dan murid kesembilan. Kalian bagaimana?" Tetua Ling Zhao menawarkan.


Xuan Chen dan Yi Changyin menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Guru, tetua, kami siap pergi."


"Bagus. Kita akan berangkat tujuh hari lagi. Persiapkan diri kalian.."


"Baik.. guru."


Semua orang memberi selamat pada Yi Changyin dan Xuan Chen. Bagaimanapun ini adalah suatu keberuntungan bisa pergi ke alam langit, tempat tertinggi dan terhormat. Tempat para Dewa dan Dewi terkenal tinggal.


Terkecuali Wei Qiao yang langsung pergi karena merasa sangat panas lima kali lipat saat berada di ruangan itu. Jika dia tidak dihukum, harusnya dia lah yang pergi ke alam langit bersama Xuan Chen. Kenapa? Karena Wei Qiao juga cukup berbakat dan berpenampilan seperti bidadari-bidadari kecil di alam langit.


(Note : Maksud bidadari di novel ini adalah gadis dari penghuni alam langit atas yang belum mencapai Dewi, terkecuali gadis keluarga kekaisaran tentunya. Dan untuk laki-laki, di sebut tuan Dewa kecil. Dan menurut pendengaran author dari drama ke drama, biasanya bidadari itu disapa hormat, Shixia. Kalo salah benerin ya)


Sebelum mencapai pintu, Wei Qiao berhenti. Hanya untuk melirik Yi Changyin dan memberinya tatapan menusuk diam-diam. Tapi tak disangka gadis itu pun langsung menoleh kepadanya tanpa panggilan. Dan tersenyum penuh arti.


Wei Qiao mencibir lalu pergi dengan kaki yang dihentak-hentakan. Yi Changyin masih setia dengan senyuman misteriusnya, masih menatap punggung Wei Qiao yang kian menjauh. Sembari mengingat-ingat apa yang dia rencanakan sampai berhasil.


Tiga bulan lalu, saat pertama kali dia memasuki akademi Tianjin. Saat itu Yi Changyin sedang pura-pura menjauhi Xuan Chen, mempermainkannya. Lalu Wei Qiao datang mengacaukannya dengan membuatnya panas dihati. Dari situ Wei Qiao menjatuhkan plakat keluarga Wei yang berukirkan bunga Prem.


Yi Changyin bukan orang biasa di alam fana ini. Dia dapat merasakan hawa siluman dari dalam yang begitu kuat saat menatapnya lamat-lamat. Tapi dia tidak begitu yakin, dan akhirnya memberikan kembali pada Wei Qiao.


Lalu satu bulan setelahnya, Yi Changyin memiliki waktu luang di paviliun Zhisi, perpustakaan akademi. Tak disengaja tangan mungilnya mengambil sebuah gulungan bambu yang menceritakan tentang plakat pengunci siluman.


Ini sangat mirip dengan plakat Wei Qiao. Yang katanya hanya orang-orang tertentu yang dapat mencium keberadaan siluman, tentunya berasal dari alam langit dan alam iblis yang tertinggi.Dikunci dengan jarum emas perak spiritual yang langka di dunia ini.


Setelah membaca lebih jauh, Yi Changyin menemukan hal lain. Yaitu cara membukanya tanpa menggunakan jarum emas perak. Di sana tertulis kalau selain benda keramat itu, darah Naga juga bisa membukanya.


Tepat tiga hari sebelum dia dijebak, Yi Changyin semakin tahu yang sebenarnya. Karena tak sengaja melihat Wei Qiao mengeluarkan siluman itu dan memasukannya kembali. Persis yang ada di buku, tata cara dan jarum perak emas itu.


Lalu tiga hari kemudian terjadilah hal itu, dan Yi Changyin terlintas sebuah ide yang menarik. Mungkin dia belum bisa membongkar keberadaan siluman itu, tapi setidaknya ini akan bagus untuk dimanfaatkan.


Membiarkan Wei Qiao menang hanya di awal permainan. Saat itu Yi Changyin mendapat bocoran kalau Wei Qiao akan bangun di hari ketiga dia di hukum. Lalu dia pun merencanakan sesuatu yang sempurna.


Di hari ketiga dia membawa Heilong. Sebelumnya Naga itu diberi tau segalanya dan siap untuk membantu.


Awalnya Yi Changyin menginginkan Yu Qinghan yang melihatnya sendiri. Tapi gagal, karena ada utusan alam langit yang membuatnya sibuk selalu. Meskipun begitu, Xuan Chen datang tanpa diduga, memberikan kelancaran pada rencananya.


Xuan Chen terbaik! Walaupun sebenarnya dia menginginkan siluman itu di bongkar oleh Yu Qinghan. Tapi rencana Xuan Chen boleh juga untuk dipuji. Dan sekarang, Wei Qiao telah mendapatkan balasannya. Karena Yi Changyin tahu, apa hal yang paling dibenci Wei Qiao, piket bersih-bersih.


Sekarang dia hanya tertawa kecil mengingat-ingat rencananya kemarin itu. Tapi dia sungguh berharap seseorang dapat membongkar siluman yang tabu untuk dibawa kemari dan menendang Wei Qiao sejauh mungkin.


.......


.......


.......


Tujuh hari kemudian. Seperti yang di rencanakan, tetua Ling Zhao membawa Xuan Chen dan Yi Changyin pergi ke alam langit. Mereka berdua memakai pakaian sama atau kembar. Berwarna putih di padukan dengan garis-garis dan corak merah.


Dan sesuai perjanjian, Yi Changyin berpenampilan seperti pria dengan kipas pusaka akademi pemberian tetua Ling Zhao, sebagai penghiasnya.


(Masih ingatkan dengan kipas itu? Kalo lupa liat aja di akhir Bab XXXIII - Singa Roh Api)


(Ilustrasi Yi Changyin 👇, ini masih Ju jingyi ya wkwk. Buat Xuan Chen boleh bayangin aja pake setelan ini dengan muka Liu Xueyi(yg jadi visual Xuan Chen) wkwk. Btw, ini sekalian ada pergambaran kipasnya walaupun tidak terlalu jelas)



Xuan Chen bahkan puas dengan penampilan yang bahkan tidak memudarkan cantik alaminya. Bentuk badannya pun tidak ada yang berubah, buah persiknya tidak ditekan. Masih seperti biasa, tapi tidak terlalu mencolok untuk menggambarkan seorang 'wanita'.


Setelah pamit dengan Yi Xuemei, Shen Lan, guru-guru, tetua dan tuan - nyonya Fu, Yi Changyin dan Xuan Chen pergi mengikuti langkah tetua Ling Zhao menuju kereta kuda alam langit yang khusus menjemput mereka. Lengkap dengan kusir tua yang berpakaian serba putih dan kuda berzirah perak. Bahkan kereta itu berwarna putih dengan ukiran-ukiran emas yang terlihat elegan.


Setelah memasuki kereta, kusir tua itu berangkat tanpa menunggu hal lain. Meningkalkan akademi, menuju tempat tertinggi. Meninggalkan Wei Qiao yang sedang bersungut-sungut dipojok sana.


Di tengah perjalanan, angin berhembus kencang sampai membuka tirai-tirai emas jendela kereta kuda. Yi Changyin yang duduk paling ujung merasa kegirangan saat melihat pemandangan hamparan awan bergulung.


Kereta kuda itu cukup luas. Dengan kursi putih dan empuk di belakang dan sisi kanan kiri. Yi Changyin duduk di sebelah kiri, bersebrangan dengan Xuan Chen. Sedangkan tetua Ling Zhao di kursi belakang.


"Murid kesembilan.." Tetua Ling Zhao memanggil yang membuat gadis itu langsung menoleh.


"Tetua?"


Tanpa berbicara, tetua Ling Zhao menyodorkan sebuah tusuk rambut coklat kayu. Kepalanya bercabang dua, tidak terlalu renggang. Yang masing-masing tertanam bentuk bunga Peony yang kecil dan satu lagi besar. Tampak cantik dan sederhana. Namun ada aura mistis yang menandakan kalau itu bukan tusuk rambut biasa.


Yi Changyin masih terdiam, apalagi Xuan Chen. Kemudian tetua Ling Zhao lebih dulu menjelaskan. "Ini adalah tusuk rambut Peony. Salah satu artefak kuno yang berasal dari alam peri."


Saat mendengar kata 'alam peri', tiba-tiba hati Yi Changyin merasakan sesuatu yang aneh. Antara sedih, sakit dan rindu bercampur aduk menjadi kebingungan tersendiri. Dia berusaha untuk tidak mempedulikannya dan memilih mendengarkan sang tetua.


"Murid kesembilan.." Tetua Ling Zhao menyodorkannya pada Yi Changyin, membuat gadis itu terkejut. "Pakailah, itu dapat menyamarkan wujud aslimu dari pandangan para Dewa Dewi tertinggi."


Yi Changyin tertegun. "Tapi.. ini adalah artefak langka.." Tolak Yi Changyin halus. Dia tidak berani menerima terlalu banyak barang langka. Membuat tetua Ling Zhao terkekeh pelan.

__ADS_1


'Tunggu!'


'Wujud asli?!' Yi Changyin menatap tetua Ling Zhao penuh waspada, beralih pada Xuan Chen yang menatapnya sama. Jantungnya berpacu dua kali lebih kencang walaupun tidak terlalu merasa khawatir.


Ling Zhao yang menyadari ekspresi mereka berdua tersenyum. "Aku tahu siapa kau yang sebenarnya." Aku Ling Zhao. "Kau adalah gadis yang berasal dari klan rubah ekor sembilan alam langit kan?" Tebak Ling Zhao. Yang jelas-jelas benar.


"Bagaimana.."


"Aku sudah menjadi Dewa selama ribuan tahun lamanya. Tak heran jika aku mengenalimu, murid kesembilan. Jika aku saja dapat mengenalimu.. bagaimana dengan Dewa Dewi alam langit yang bertapa lebih lama dariku?"


Terdiam sesaat, Yi Changyin kemudian menjawab. "Berarti selama ini.. tetua tahu kalau aku adalah seekor rubah?" Tanya Yi Changyin, tidak menutupi identitasnya lagi. Tetua Ling Zhao hanya mengangguk. "Lalu.. lalu.. apakah aku akan dikeluarkan?" Tanya Yi Changyin lagi, khawatir.


Tetua Ling Zhao hanya terkekeh saat mendengar pertanyaan konyol muridnya. Mana mungkin dia sembarangan mengeluarkan murid tanpa syarat yang melanggar. Akademi Tianjin mungkin tidak melarang alam langit. Tapi khawatir akan perbedaan mereka yang jauh, akan menimbulkan pertentangan.


"Asal kau bukan siluman dan iblis jahat, aku tidak akan mengeluarkanmu. Tenang saja, kau tetap murid kesembilanku."


Yi Changyin terkekeh sebentar, "terimakasih guru." Sambil menerima tusuk rambut Peony itu, lalu menusukannya dalam gelungan rambut yang dibaluti kain merah.


"Guru.." Xuan Chen berbicara. "Apakah.." Kata-kata Xuan Chen tertahan, tidak yakin untuk mengatakan 'apakah tetua tahu tenang Yi Xuemei dan Shen Lan?'


Tetua Ling Zhao menatapnya lekat, sebelum akhirnya mengangguk-angguk. "Kau mengkhawatirkan kakak seperguruan tertua dan keduamu?" Tebaknya bagaikan bisa membaca pikiran muridnya.


Tentu saja Xuan Chen terkejut. "Itu... benar."


"Tenang saja, aku sudah mengetahui dan akan merahasiakannya, tetua ini berjanji." Katanya dengan. sungguh-sungguh.


"Terimakasih guru.." Ungkap Xuan Chen senang.


.......


.......


.......


Tak berselang lama kereta kuda elegan itu telah sampai di gerbang utama istana langit. Ketiganya turun dengan wajah yang takjup. Melihat pemandangan gerbang tinggi yang dijaga oleh perisai spiritual berwarna biru terang. Juga dua penjaga berzirah putih dengan variasi perak berkilau. Masing-masing memegangi tombak dengan ujung yang runcing yang mengkilap.


"Ini adalah gerbang utama yang terletak di arah selatan." Ujar tetua Ling Zhao. "Selain itu, masih ada gerbang lain di utata, timur dan barat."


Yi Changyin dan Xuan Chen hanya mengangguk-angguk dengan kagum. Meski orang alam langit, Yi Changyin belum memenuhi syarat untuk masuk ke istana yang besar dan megah itu.


Sebelum menuju gerbang, mereka masih melewati jembatan dengan pagar yang putih polos. Di bawahnya hanya kosong dan penuh awan. Mungkin jika terjatuh akan langsung terlempar ke alam fana.


Karena sudah diberi tahu sebelumnya tentang para tamu, para penjaga itu membuka sedikit perisai spiritual. Mungkin setinggi singa roh api berdiri dan selebar lima orang berdampingan. Lalu mereka masuk dengan di pandu seorang pelayan kecil, menuju istana utama.


Pelayan kecil itu berhenti tepat di depan anak tangga. Yang panjang melintas sampai ke atas. Sisi kanan kirinya adalah awan bergulung tebal. Tampak paviliun kecil yang sebenarnya besar di ujung sana. Sangat agung mengkilap dan penuh keemasan.


Yi Changyin melompat kegirangan karena bisa berkunjung langsung kemari. Kemudian menyapa langsung kaisar dan permaisuri langit yang hanya satu atau dua kali dia lihat. Juga Dewa Dewi yang berada di jajaran tinggi atau yang berada di atas kaisar langit. Dewi welas kasih contohnya, yaitu Dewi Guanyin. Xuan Chen hanya tersenyum saat melihat ekspresi lucu dan tidak sabar dari gadis itu.


Semakin dekat, bangunan itu semakin terlihat besar. Sangat mewah. Mereka mulai memasuki istana kekaisaran langit itu dengan wajah yang takjup.


Ruangan dengan atap terbuka dan pilar-pilar besar itu penuh dengan nuansa putih keemasan dan patung-patung naga. Juga keadaan yang belum terlalu ramai, menambah keindahan tersendiri bagi pendatang baru. Kursi-kursi dan meja dengan makanan-makanan jamuan sudah berjejer di kiri kanan. Terdapat singgasana mewah di ujung sana. Juga ada empat kursi pendamping, kiri kanan masing-masing dua.


Tetua Ling Zhao langsung duduk di tempatnya setelah pelayan di sana memberi tahu. Saat kedua muridnya hendak menghampiri, dia berkata, "masih kosong dan lenggang. Perjamuan masih lama dimulai. Jika kalian bosan, boleh berjalan-jalan sekitar. Aku akan menjemputmu saat waktunya nanti."


"Apakah boleh?" Yi Changyin bertanya ragu.


"Kau tenang saja.. pergilah jika ingin pergi." Jawab tetua Ling Zhao meyakinkan.


Yi Changyin tersenyum sumringah, dia memberi hormat pada sang tetua sebelum akhirnya menarik Xuan Chen keluar dari bangunan megah itu. Menikmati pemandangan alam langit atas yang belum pernah mereka liat sebelumnya.


Tidak tahu sampai mana mereka berjalan, atau mereka sedang berada di mana. Yang penting menikmati terlebih dahulu. Karena jika tersesat, banyak pelayan yang berlalu lalang disana.


"Xuan Chen.." Panggil Yi Changyin sambil terus berjalan.


"Ada apa?" Jawab pria itu terdengar lembut.


"Akankah kita bertemu dengan dewa?" Tanya Yi Changyin seperti anak kecil.


"Bukankah sudah bertemu beberapa di aula tadi?"


"Maksudku.. Dewa atau Dewi yang bisa di ajak mengobrol. Aku akan senang jika berbaur dengan mereka." Jawab Yi Changyin jujur.


Xuan Chen tersenyum tipis. "Mereka tidak mungkin memandang kita sama. Tidak akan ada yang mau mengajak kita berbicara."


Wajah Yi Changyin menjadi cemberut. "Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan!" Katanya dengan ketus.


"Bagaimana kalau aku yakin?"


Yi Changyin berhenti dan berbalik menatap Xuan Chen. "Bagaimana kau kita bertaruh?" Tantangnya.


Xuan Chen mengangkat sebelah alisnya. "Baik! Apa yang akan di dapatkan jika menang?"


"Mengabulkan apapun yang pemenang itu inginkan!" Jawab Yi Changyin dengan antusias.


Xuan Chen hanya menyunggingkan senyuman tipis. "Baiklah."


"Bagus!" Serunya kembali bberjalan, Xuan Chen mengiringinya dari samping.

__ADS_1


Tiba-tiba saja sesuatu di depan melaju dengan cepat ke arahnya. Yi Changyin tidak sempat menghindar, Xuan Chen tidak sempat melindungi. Dan sesuatu yang bulat berwarna merah itu menabrak dada Yi Changyin hingga terpental kebelakang, namun Xuan Chen menahannya.


Sementara sesuatu yang bulat merah keemasan itu terpelanting ke atas jalanan, berubah menjadi sosok gadis cantik dengan tubuh yang sempurna. Dengan wajah kesakitan sekaligus kesal dia menunjuk Yi Changyin penuh amarah.


"Kau?! Beraninya kau menghalangi jalanku!" Bentaknya dengan mata yang menyalang.


"Nona.. temanku tidak sengaja. Kau.."


Gadis menoleh ke arah Xuan Chen dengan tajam, membuat pria itu bungkam. "Aku? Apa?!" Tanyanya dengan ketus.


"Kau.. melaju terlalu cepat. Jadi.. temanku tidak melihatnya.."


"Itu benar.." Sahut Yi Changyin. "Nona.. aku sungguh meminta maaf." Katanya dengan tulus, walaupun dadanya terasa sesak karena terhantam oleh gadis itu.


Gadis itu mendengus. "Lagipula ini adalah jalanan khusus para Dewa dan Dewi! Seharusnya bidadari kecil sepertimu memilih jalan di pinggir. Bukan di tengah!" Protesnya tidak suka.


"Aku tidak tahu, nona. Mohon maafkan aku.." Ujar Yi Changyin dengan hati-hati.


"Aku tidak mau memaafkanmu!"


Xuan Chen tampak cemas. Sebenarnya dia tidak mau punya masalah dengan orang alam langit. Tapi kali ini...


"Nona.. tolong dengarkan."


"Diam!"


"Nona.."


"Cukup!" Kali Yi Changyin yang menghentikan.


"Sudahlah Xuan Chen, jika dia tidak mau memaafkanku. Aku tidak peduli." Sifat asli Yi Changyin sudah keluar, membuat gadis itu melotot. "Lagipula.. yang salah disini adalah dia! Ini adalah jalan umum, tapi malah melaju sekencang tadi!"


"Kau?!"


"Bagaimana kalau kau malah menabrak seseorang Dewa atau Dewi?!" Potong Yi Changyin menantang.


"Yi Changyin.. sudah.."


"Beraninya kau menyalahkanku!" Sembur gadis itu dengan wajah yang berapi-api.


"Karena kau memang salah!"


"Yi Changyin..." Dan gadis itu tidak menanggapi sepatah katapun panggilan peringatan Xuan Chen.


Gadis asing itu semakin emosi. Dia tidak pernah mengira cecunguk kecil ini sangat tidak sopan. "Dasar kau bajingan!" Dia berteriak sambil mengeluarkan energi spiritual di tangannya, lalu di arahkan pada Yi Changyin secepat kilat.


Yi Changyin tidak diam saja. Dia segera melakukan hal yang sama. Alhasil merah dan biru disana saling beradu, membuat gelombang besar dan angin yang berhembus kencang. Dan ternyata mereka menggunakan elemen masing-masing untuk menyerang. Sementara Xuan Chen tidak tahu harus berbuat apa kali ini.


"He Qing!" Tiba-tiba suara lain muncul disana.


'Suara itu..'


Yi Changyin mengenalnya dan sedikit mendongkak, hingga fokusnya memudar. Dan gadis itu semakin leluasa untuk menekannya. Alhasil Yi Changyin terpental beberapa meter kebelakang dengan seteguk darah dia muntahkan.


Selagi Xuan Chen menghampirinya, dia segera menutup wajahnya dengan kipas pusaka akademi itu. Dengan hatinya yang menggeram, 'Long Chu!! Mengapa kau ada di sini?!'


"Yi Changyin, apakah ada yang sakit?" Suara itu memasuki telinganya dengan lembut.


"Tidak ada.." Jawabnya datar, masih menunggu seseorang datang.


"Tapi.."


"Diam dulu.."


Xuan Chen hanya menurut.


Tak lama sosok Long Chu dan salah seorang pengawal datang kesana. Melihat pemandangan di hadapannya yang begitu berantakan. Lalu gadis itu menghampiri Long Chu dengan manja.


"Pangeran!"


"He Qing, apakah kau baik-baik saja?" Gadis yang di tanyanya mengangguk, kemudian pandangannya beralih pada dua orang yang sedang terdiam duduk di atas jalanan. "Mereka.."


"Mereka yang terlebih dahulu membuat masalah!" Potong gadis yang bernama He Qing itu penuh emosi.


"Ah! Pangeran.. ini hanya sebuah kecelakaan. Mohon maafkan temanku ini. Tadi dia tidak melihat kalau nona ini sedang terburu-buru." Xuan Chen membela dengan nada halus yang lembut.


"Kecelakaan katamu?!" Salak He Qing dengan mata yang menyalang. "Dia sendiri yang tidak melihat jalanan dan一!"


"Heh.. heh.. sudah.." Suara pria tua tiba-tiba menghentikan ucapan He Qing. Gadis itu tidak melawan, hanya mendesis rendah menahan kekesalannya. Artinya pria itu memiliki posisi dan kekuatan lebih tinggi darinya, yang hanya Dewi tingkat perak.


Long Chu berbalik dan mengenali pria tua berjanggut dan berpakaian serba merah putih itu. Dia menelungkupkan kedua tangannya dengan penuh hormat. "Salam hormat kepada kakek bulan.."


Yi Changyin terbelalak, terkejut sekaligus kagum, "kakek bulan?!"


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2