
6 bulan kemudian.
Teriknya matahari menembus hutan bambu yang di titik terdalamnya terbilang gelap dan berkabut. Yi Changyin menatap tempat luas yang tak berumput di tengah-tengah hutan bambu itu. Sinar matahari telah menyinarinya dengan terik.
Di sisi tempat luas tak berumput itu, Yi Changyin menatapnya tanpa ekspresi. Pakaian putih dan anak rambutnya terkibas-kibas oleh angin yang tak sengaja berhembus melewatinya.
"Heilong.." Panggil Yi Changyin diiringi dengan munculnya Heilong dewasa di sampingnya.
"Ini sudah berapa bulan dari pernikahan?" Tanyanya terdengar datar tak berekspresi.
Heilong tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "enam bulan."
"Enam bulan?" Yi Changyin tampak terkejut. "Lalu mengapa.. perutku tidak pernah membesar." Tambahnya dengan cemas demi meraba perutnya yang rata seperti enam bulan lalu. Saat pertama kali dia nyatakan hamil oleh dirinya sendiri dan kakaknya.
Heilong terdiam tak berkata-kata. Dia sendiri juga merasa bingung akan hal ini. Sedangkan dia sendiri tak tahu ilmu medis yang terdalam.
"Xuan Chen tidak melakukannya kan?!" Tanya Yi Changyin bertambah panik.
Heilong menggeleng rendah. Karena dia benar-benar tidak mengetahui apapun soal yang di khawatirkan Yi Changyin.
"Dia tidak pernah berusaha untuk menemuiku. Apakah ini alasannya?!" Teriaknya lagi.
"Ibunda.."
Yi Changyin menggeram rendah tanpa memperdulikan Heilong. Kemudian pergi dari sana menggunakan teleport agar lebih cepat sampai. Meninggalkan Heilong sendiri di tengah hutan sana. Ya, tidak ada pilihan lain selain mengikutinya. Dan dia kembali muncul tepat di halaman asrama Xuan Chen. Pria yang dicarinya itu tengah tenang membaca buku sambil mondar mandir tidak jelas.
"Xuan Chen.." Panggilnya pelan dan sedikit gugup. Namun berhasil menarik pria itu untuk berhenti dan menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya.
Ya, selama enam bulan ini si gadis selalu berusaha menghindarinya. Dia ingin kembali menggapai tangannya seperti biasa, ingin terus membujuknya untuk tetap berada di sini, di pelukannya. Namun...
"Dan syarat terakhir. Aku ingin kau mengikuti semua keinginannya, apapun itu. Dari yang mudah sampai yang tersulit. Bahkan jika Yi Changyin menginginkanmu mati. Kau tahu kan apa yang kau lakukan? Tentu saja kau harus mati."
Ya begitulah yang selalu mengiang di kepalanya saat ingin menggapai tangan yang berada di depan matanya itu. Mudah namun sulit, entahlah!
Bahkan enam bulan lalu dia harus menerima dua kali cambukan berduri dari Shen Lan. Hanya karena di pagi hari Yi Changyin melayaninya dengan baik. Sesuai perjanjian dengan kedua orang yang menanggung jawabkan semua tentang Yi Changyin, dia harus melayani gadisnya. Namun pagi itu adalah sebaliknya, membuat dia harus menerima hukuman yang sama sekali tidak pantas untuk di dapatkan.
Hari ini Xuan Chen tampak tersenyum senang bukan kepalang. Dia segera meletakkan gulungan itu di teras dan menghambur ke arah Yi Changyin, memeluknya.
"Akhirnya kau bersedia menemuiku.."
Jelas-jelas ucapannya tak dapat membohongi Yi Changyin, kalau pria itu benar-benar kegirangan. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah jika dia merindukannya Xuan Chen bisa menemuinya langsung?
Yi Changyin melepaskannya pelukannya segera. Walaupun sedikit tidak rela, Xuan Chen tetap tersenyum memberi kehangatan.
"Katakan dimana teratai itu?" Ujar Yi Changyin langsung pada intinya.
Membuat kedua alis Xuan Chen merajut dan senyumannya menghilang. "Teratai?"
"Ini sudah enam bulan tapi aku tidak pernah melihat perutku tumbuh!"
Mendengarnya membuat Xuan Chen langsung terpaku pada perut Yi Changyin yang datar. Tapi bukankah enam bulan lalu gadis itu di nyatakan hamil dengan kemampuan medis Yi Xuemei? Gadis itu selalu belajar dengan baik, tidak mungkin salah bukan?
"Ini memang aneh.." Gumamnya yang juga merasa heran. Namun mendapatkan tatapan sinis dari Yi Changyin. "Yin'er, aku tidak pernah melakukannya. Aku bahkan tidak tahu mengapa ini bisa terjadi." Katanya dengan nada yang sedikit cemas.
Cemas karena takut Yi Changyin tidak akan mempercayainya lagi.
"Kau setiap hari pasti melihatku apakah sama sekali tidak menyadarinya?!" Nada Yi Changyin terdengar sangat emosional.
"Yin'er!" Pria itu bahkan sudah berani bertekuk lutut dan memegangi betis Yi Changyin. "Aku sungguh tidak tahu. Mohon maafkan aku.."
"Tidak perlu seperti itu." Yi Changyin menarik-narik lengan Xuan Chen. "Mengapa kau menjadi lemah dan mudah tunduk seperti ini?!"
Xuan Chen berdiri. Kemudian dia berkata, "ya.. aku memang pengecut."
Yi Changyin tersenyum dan menyentuh pipinya dengan halus. "Jangan berkata seperti itu. Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Ada yang aneh dari sesuatu yang merasukimu saat itu."
Xuan Chen mendesis. "Aku kira kau akan memarahiku lagi." Katanya sambil menarik Yi Changyin ke dalam pelukannya.
Namun tak sedikitpun keceriaan muncul di wajah Yi Changyin. Dia bahkan tak berniat untuk membalas pelukannya. Namun sebaliknya Xuan Chen terlihat senang gembira dan cerah.
.......
__ADS_1
.......
.......
Yi Changyin menjulurkan tangannya ke atas meja dengan posisi terlentang. Memamerkan kulit putih bersih tanpa bulu dan noda itu. Jika di sentuh mungkin akan terasa halus dan nyaman.
Yi Xuemei yang berada di depannya mengkerut heran. Namun detik berikutnya dia meletakkan ibu jarinya di atas permukaan kulit Yi Changyin, tepatnya di atas tempat denyut nadi berada.
Ekspresinya terlihat rumit. "Benar, kau tidak hamil." Dia menatap adiknya lekat. "Aku kira kau menggunakan teknik terlarang bagi manusia itu. Ternyata benar-benar tidak pernah hamil."
Yi Changyin menghela nafas. "Lalu mengapa waktu itu begitu membuktikan semuanya? Aku sangat di bingungkan."
Yi Xuemei menopang dagunya. "Benar, seolah semua ini terjadi karena telah di rencanakan seseorang. Tapi siapa?"
Hening. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing tentang hal aneh yang menimpanya beberapa bulan lalu. Sekali lagi, Yi Xuemei selalu memastikan kalau penerawangannya saat itu benar-benar nyata dan tidak salah. Walaupun dia baru satu tahun ini menyukai dan mempelajari ilmu medis, tidak mungkin kalau tidak kemajuan bukan?
"Apakah kau pernah mendengar iblis hati?" Tanya Yi Changyin memecah keheningan. Membuat kakaknya itu menatap Yi Changyin penuh ejekan.
"Sudah enam belas ribu tahun hidup kau masih tidak mengenali legenda Bai Suzhen?" Tanyanya yang diakhiri dengan tawaan kecil.
(Note : legenda Bai Suzhen, si ular putih yang jatuh cinta pada manusia, yang merupakan salah satu legenda paling terkenal di Tiongkok)
Yi Changyin mendesah kasar. "Ini tidak ada kaitannya dengan legenda ular putih. Tapi seseorang yang merasuki Xuan Chen saat itu mengaku-ngaku sebagai iblis hati."
Membuat Yi Xuemei tertawa kencang. "Konon iblis hati lahir dari hati seseorang itu sendiri. Xuan Chen tidak punya ambisi lagi selain memilikimu. Aku tak yakin dengan hal itu."
Yi Changyin mendecih sambil memalingkan wajahnya. "Benarkah ambisinya hanya aku seorang? Aku tidak yakin."
"Bahkan kau meragukan suamimu sendiri?" Tanya Yi Xuemei sedikit dengan ejekan.
"Entahlah.." Jawabnya tak yakin.
Yi Xuemei menggidikkan bahunya. "Kita tidak tau apa yang sebenarnya sedang seseorang perbuat di belakang kita. Jadi, lebih baik berhati-hati untuk kedepannya."
.......
.......
.......
Qi Zhongma yang kini mensejajarkan langkahnya tertawa kecil. "Aku sungguh tidak sabar."
"Tunggulah dari sore ini."
Hening sesaat.
"Tapi, tunggu. Bagaimana bisa Wei Qiao menyetujui semua rencanamu? Bukankah dia sangat tidak menyukai kita apapun yang terjadi?" Tanyanya penasaran.
"Rencana ini menguntungkan tiga orang. Tentu saja Wei Qiao menyetujuinya. Apalagi dia sangat menyukai keuntungan. Terutama menggapai apa yang dia inginkan. Benar bukan?"
Qi Zhongma mengangguk-angguk. Apa yang di katakan saudarinya sepenuhnya benar. Dia mengenal jelas bagaimana Wei Qiao walaupun tidak pernah bertegur sapa sekalipun.
Sementara Qi Xiangma hanya tersenyum miring. Saudaranya itu tidak tahu betapa susahnya ia membujuk Wei Qiao yang seperti sudah terkena mental.
Flashback 6 bulan lalu.
BRAKK!!
"Sudah kubilang, aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang!" Teriak Wei Qiao dengan nafas yang berderu kencang.
Qi Xiangma yang berada di depannya hanya menatap dengan datar. "Bukankah kau menginginkan Xuan Chen? Mengapa mudah menyerah?"
"Itu.."
"Wei Qiao, jangan tunjukkan titik terlemahmu." Potong Qi Xiangma. "Semenjak keluar dari penjara dingin kau bahkan enggan melewati jalan yang sama dengan Yi Changyin dan Xuan Chen. Sungguh malang."
"Gadis itu sangat menakutkan.." Ujar Wei Qiao dengan nada yang bergetar. Wajahnya kentara sangat pucat.
"Mengapa seperti itu saja kau sangat ketakutan?!" Bentak Qi Xiangma. Dia sangat kesal dengan sikap manja Wei Qiao.
"Ya! Memangnya kenapa?! Dan selain itu juga aku tidak percaya pada kalian berdua!"
__ADS_1
Membuat Qi Xiangma menggeram kesal. Dia melipat kedua tangannya dan menabrakkan punggung ke sandaran kursi dengan frustasi.
Hening beberapa saat. Wei Qiao hanya menunduk sambil meremas-remas pakaiannya selagi Qi Xiangma menatapnya lekat tanpa beralih sedikitpun.
Tiba-tiba dia berkata, "bagaimana kalau ku beritahu... aku dan Qi Zhongma adalah bawahan seseorang."
Membuat Wei Qiao mendongkak dengan alis yang merajut dan ekspresi heran.
Sementara tatapan Qi Xiangma begitu misterius di matanya. "Kami.. adalah utusan seseorang, ditugaskan untuk membunuh Yi Changyin. Apakah kau paham?"
Wei Qiao mencoba untuk memahami maksudnya. "Apa?"
"Asalkan kau membantu dan rencana berhasil.. Yi Changyin akan mati dan Xuan Chen akan menjadi milikmu." Qi Xiangma tersenyum misterius, menunjukkan plakat putih berhias keemasan dan berukirkan kata 'Dijun'. "Bagaimana?"
Wajah Wei Qiao berangsur-angsur menunjukkan ketertarikan pada tawaran Qi Xiangma. Perlahan-lahan bibirnya tersenyum miring. "Ya, aku bersedia.."
Flashback off
.......
.......
.......
Sore hari menyiratkan semburat oranye di langitnya. Membanjiri setiap atap dan pepohonan rimbun di puncak gunung Tianjin. Hingga permukaan di sana tampak bercampur dengan warna oranye.
Termasuk dengan wajah Xuan Chen yang di soroti cahaya oranye dari langit. Pria itu masih saja mundar mandir di depan halaman asramanya sambil melapalkan beberapa kalimat dari gulungan yang dia pegang.
Tidak peduli dengan teman-temannya yang tak sengaja lewat sambil sedikit mengganggu kefokusannya dengan ejekan. Bahkan ada yang sampai mengatakan,
"Jangan terlalu fokus belajar. Aku kasihan dengan kekasihmu yang terabaikan."
Membuat dia terdiam sesaat sambil menatap pria yang ternyata Zhu Guhuo itu dengan sinis. Sementara pria itu malah cengengesan sambil masuk ke dalam.
Mungkin air liurnya sudah mengering. Xuan Chen memutuskan untuk menepi. Duduk di gazebo terdekat dan meminum air putih yang tersedia di sana.
Namun tiba-tiba sepucuk surat yang diikat oleh benang merah mendarat di meja. Membuat dia menoleh ke langit dan mendapati seekor burung merpati yang baru saja pergi dari atasnya.
Melihat benang merah, dia menjadi teringat Yi Changyin. Tidak mungkin tingkat kultivasinya tidak mengenali kalau benang merah itu milik kakek bulan. Dan di akademi ini hanya Yi Changyin yang memilikinya.
Dengan senyuman yang tak pudar, dia membuka ikatannya. Membentangkan kertas dan membacanya perlahan. Tentu saja dia mengenali tulisan tangan siapa yang tergores di sana.
"Kita bertemu di jembatan kolam teratai. Ada yang ingin ku bicarakan.."
"Aku akan segera datang." Bisiknya.
Xuan Chen melebarkannya senyumannya. Dia segera berdiri dan memasukan surat itu ke dalam kantung jubah yang biasa setiap pria pakai. Lalu masuk ke dalam kamar asramanya. Masih dengan senyuman lebarnya.
.......
.......
.......
Langkah kaki seorang wanita terlihat sangat pelan. Seperti hanya mengikuti arah jalan tapi tidak tahu hendak kemana. Sebagian gaun putihnya menyeret jalanan secara perlahan. Tangannya bergantung dan berayun. Lalu matanya yang menatap kosong, menunjukkan ketidak sadaran empunya.
Yi Changyin terus berjalan menuju jembatan kolam teratai. Namun tiba-tiba dia berhenti. Menggeleng-gelengkan kepalanya yang terasa pening. Setelah itu matanya kembali menatap kedepan. Dia berkerut heran.
"Mengapa aku bisa ada di sini?" Tanyanya pada diri sendiri. Terlihat begitu linglung.
Yi Changyin menggidikkan bahunya berusaha acuh. Ketika ia hendak berbalik untuk pergi, matanya menangkap dua orang yang berdiri di sebrang jembatan. Di bawah pohon rindang di musim semi ini.
Dia sangat terkejut demi melihat dua orang yang hampir bercumbu dengan mesra itu.
"Xuan Chen?!"
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉