
Yang kedua ini berwarna merah muda. Apakah kali ini perempuan? Karena terakhir kali yang laki-laki berwarna biru muda. Sebenarnya Yue Xingfei dan yang lainnya tidak mengetahui hal itu, karena sebelumnya kedua teratai itu berwarna putih.
"Kembar?" Gumam Xuan Chen dengan nafas yang memburu senang. Sebelumnya dia tak tahu jika Yi Changyin mengandung anak kembar.
"Benar." Hua Mu Dan menjawab.
Proses yang kedua sama seperti tadi. Tangisan bayi kembali menggema. Saat bunga mekar, Hua Mu Dan meraih bayi itu, meletakkannya di atas kain merah lembut dan membungkusnya. Setelah itu segera memberikannya pada Xuan Chen.
Pria itu segera duduk di tepian kasur untuk menggendong kedua bayi kembarnya. Tidak mungkin dia melakukannya sambil berdiri. Kini dua bayi ada di pangkuannya, dia merasa sangat bahagia.
"Perempuan. Mewarisi jiwa ibunya yang terdahulu, Rubah ekor sembilan. Dia juga sangat istimewa seperti kakaknya, lahir dengan empat elemen. Air, angin, cahaya dan api." Jelas Hua Mu Dan lagi.
"Selamat kepada Ratu dan Tuan agung atas kelahiran putri ketiga." Mereka berlima memberi selamat lagi.
Setelah itu, mereka pamit undur diri. Tidak akan menganggu mereka berdua. Ah tidak, sekarang ada mereka berempat.
Setelah pintu di tutup, Xuan Chen berputar untuk menghadap ke arah Yi Changyin. Sekarang gadis itu telah mendudukan dirinya. Menatap kedua anak kembarnya dalam pangkuan sang ayah dengan senyuman.
Yi Changyin mengelus pipi lembut mereka secara gantian. Yang mendapatkan respon senang dari putra putrinya. Kebahagiaan meluap melihat hal sederhana itu.
"Yin'er, apakah kau masih marah?" Tiba-tiba Xuan Chen bertanya hal itu dengan wajah yang bersedih.
Yi Changyin mengangkat kepalanya dan tertegun sesaat. Kemudian dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Xuan Chen tidak sabar untuk mencium keningnya.
"Terima kasih untuk banyak hal." Bisiknya. Setelah itu dia mencium bibirnya lembut, sekilas.
Mungkin dua bayi itu merasa menjadi nyamuk, mereka menangis. Yi Changyin dan Xuan Chen sempat tertegun dan akhirnya tertawa bersama.
Yi Changyin meraih salah satu dari mereka, bayi perempuan yang dibungkus kain merah lembut. Yi Changyin memberikan sebuah eliksir yang akan larut ketika sampai di mulut secara bergantian. Mungkin itu seperti makanan pertama bagi si kembar, mereka berhenti menangis.
"A Chen, beri nama mereka." Ujar Yi Changyin yang pandangannya tak beralih dari bayi dalam pangkuannya.
Xuan Chen menarik nafas sebelum membuat keputusan. Kemudian dia berkata, "Anak laki-laki kita lahir dengan empat elemen, berjiwa peri Phoenix, aku akan menamainya Xuan Sifeng. Sementara untuk anak perempuan kita, lahir dengan empat elemen dan berjiwa rubah ekor sembilan, aku... Akan menamainya Xuan Sijiu."
(Note : Si : Artinya empat, mengacu pada empat elemen yang mereka dapatkan sejak lahir. Sementara Feng sendiri berasal dari kata 'Fenghuang' yang berarti Phoenix. Dan Jiu artinya adalah sembilan, mengacu pada rubah yang memiliki sembilan ekor)
Dia menoleh ke arah Yi Changyin memberi tatapan yang menggoda. "Bagaimana?"
Yi Changyin tersenyum dan mengangguk. "Nama yang bagus, aku menyukainya."
"Aku harap, Feng'er dan Jiu'er memiliki kehidupan yang bahagia. Tidak terlibat dalam bahaya yang besar selama hidupnya." Yi Changyin menambahkan dengan arti yang mendalam. Seperti ada beban berat di matanya.
Xuan Chen menyadari hal itu dan mengerutkan kening. Kemudian dia mengelus lembut rambutnya. "Kita akan menemani perjalanan mereka, baik?"
Yi Changyin termenung sesaat. Tapi takut jika Xuan Chen mencurigai sesuatu, dia segera tersenyum samar. "Baik."
Benar saja, Xuan Chen kini menatapnya dengan curiga. Pria itu seperti sedang menelisik sesuatu di matanya. Ketika hendak berbicara, tiba-tiba Feng'er dan Heilong muncul di depan mereka.
__ADS_1
Saat itu Heilong memiliki wajah yang bahagia, namun tidak dengan Feng'er. Membuat Yi Changyin memiliki wajah konyol melihatnya.
"Feng'er?" Panggilnya memastikan.
"Apa aku akan memiliki panggilan yang sama dengan Sifeng?" Sahutnya terdengar tidak senang.
"Siapa yang ingin menyamakannya denganmu?" Sahut Xuan Chen terdengar ketus.
"Tadi ibunda memanggilnya Feng'er, itu adalah namaku!" Katanya penuh dengan kendi cuka yang tumpah.
(Note : Kendi cuka disini adalah istilah untuk menggambarkan kecemburuan)
"...." Keduanya tak memiliki kata-kata lagi untuk ini.
Sejurus kemudian Yi Changyin menghela nafas pasrah, "itu adalah panggilan sayang untuk putraku Xuan Sifeng. Apakah ada yang salah?"
"Tapi..." Kata-kata Feng'er terpotong di udara karena Xuan Chen yang tidak bisa berbicara.
"Jika kau tidak mau disamakan dengan putraku, maka namamu berganti menjadi Heifeng." Katanya dengan senyuman penuh arti. Phoenix itu terbelalak mendengarnya.
"Hey tuan!" Seru Feng'er tak terima. "Heifeng artinya Phoenix hitam! Aku ini Phoenix dua warna, merah dan biru! Mana ada hitam! Bukankah kau sendiri berjiwa Phoenix yang berwarna hitam?!"
(Note : 'Hei' dalam bahasa China artinya hitam. Dan Feng berasal dari kata Fenghuang yang berarti Phoenix. Author menggabungkan dua kata yang memiliki arti berbeda itu menjadi Heifeng)
"Kau?!" Xuan Chen menunjukkannya tak terima. Dia meletakkan Xuan Sifeng di atas kasur dengan hati-hati. Setelah itu, dia mengeluarkan tongkat panjang dan mulai berdiri.
Feng'er mulai merinding, dia segera bersembunyi di belakang punggung Heilong.
Saat Xuan Chen berdiri dan mengejarnya, Feng'er sudah bersiap untuk kabur. Namun Heilong segera menarik tangannya kedepan. Pria itu tak sempat menghindar hingga pantatnya terkena pukulan tongkat Xuan Chen.
Feng'er mengaduh dan mulai kabur. Menghindari tuannya yang marah karena diejek sebagai Phoenix hitam. Dia berlari mengelilingi ruangan, dikejar oleh Xuan Chen. Dan dia ingin menangis dan berkata kalau tuannya sudah berubah menjadi galak.
"Setelah aura iblisku hilang, mari kita lihat siapa yang memiliki sayap Phoenix paling bagus!" Teriak Xuan Chen sambil mengejar Feng'er yang berteriak-teriak meminta tolong pada Yi Changyin.
Gadis itu hanya menggidikkan bahunya tidak peduli. Meletakkan Xuan Sijiu di samping Xuan Sifeng. Heilong pun tak memperdulikan mereka dan menghampiri Yi Changyin untuk menyapa dua bayi kembar.
Setelah puas kejar-kejaran, Xuan Chen yang merasa lelah melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Menjadikan paha Yi Changyin sebagai bantalnya yang empuk. Sementara itu Feng'er terduduk di atas kursi dengan nafas yang terengah-engah.
Yi Changyin hanya bisa memijit jidat melihat tingkah mereka berdua. Mengesampingkan hal itu, dia berkata, "Feng'er, Heilong, tinggalkan kami berempat. Ada hal yang harus dibicarakan."
Tanpa protes, Feng'er dan Heilong melangkah keluar. Pergi untuk berjalan-jalan di sekitar istana bulan. Setelah suasana hening, Xuan Chen mendudukan tubuhnya.
"Apakah ada hal penting, Yin'er?" Tanyanya penasaran.
"Ini tentang kedatangan Dewa kegelapan satu bulan lalu." Ujar Yi Changyin membuka topik. Xuan Chen segera melebarkan mata dan menajamkan telinganya.
"Apa yang wanita itu katakan?" Tanyanya.
__ADS_1
"Dia... menyatakan perang pada kami." Jawab Yi Changyin dengan suara yang berat, dia sedikit ragu. Takut ada hal lain yang bocor.
Xuan Chen melotot mendengar hal itu. Tak di sangka wanita itu akan mengibarkan bendera perang pada alam peri. Apakah kejadian seperti enam belas ribu tahun lalu akan terulang? Dimana alam peri akan seperti terbengkalai lagi?
Yi Changyin sendiri tidak berbohong untuk hal ini. Sebelum Xuan Chen datang dan menyerang Wen Yuexin, wanita itu menyatakan perang dengannya. Dan khawatir, Wen Yuexin akan meminta bantuan pasukan pada alam iblis.
Secara alam iblis pasti merasa dendam dengan Yi Changyin. Merasa dipermalukan tanpa sadar, walaupun sebenarnya itu kesalahan Zhang Bixuan sendiri. Karena rencananya untuk menguasai dunia gagal, maka menghancurkan alam peri adalah yang terbaik.
Wen Yuexin meminta dua bulan untuk persiapan, setelah itu mereka akan menyerang alam peri bersama pasukan alam iblis, mungkin.
Mendengar hal itu Xuan Chen mengerang rendah. "Wanita itu... Bisakah untuk diam?" Kemudian dia menghela nafas, menatap Yi Changyin. "Yin'er, kau tetap di sini, biar aku yang berperang."
"Tidak, aku harus ikut membantu." Tolak Yi Changyin yakin. Xuan Chen ingin menjawab tidak setuju, namun Yi Changyin kembali menyela. "Bagaimanapun kita harus bekerja sama untuk alam peri. Biarkan Xingfei yang menjaga Sifeng dan Sijiu."
Xuan Chen sudah membuka mulut akan menjawab, namun Yi Changyin kembali memotongnya, "tenang saja, aku punya rencana." Gadis itu tersenyum misterius.
Kemudian Yi Changyin mengeluarkan sesuatu dengan energi spiritualnya. Sebuah gulungan kuno yang tampak usang. Beberapa bagian sudah terkena jamur.
Xuan Chen mengambil itu dan membukanya. Itu adalah sebuah gambar sketsa bergaris emas yang bergerak. Jika dilihat-lihat. Gulungan itu memuat sedikit gambar tentang danau penghancur jiwa dari bibir sampai dasar dan sungai kelupaan di alam baka. Ada benang spiritual yang menghubungkan dua belah gambar itu.
"Apakah danau penghancur jiwa terhubung dengan sungai kelupaan?" Tanya Xuan Chen dengan dahi yang mengenyit. Ia tak tahu perihal hal ini. Lagipula, siapa yang mau mencari tahu tentang danau penghancur jiwa.
"Aku juga baru mengetahuinya." Sahut Yi Changyin polos.
"Jadi benar-benar terhubung?" Tanya Xuan Chen lagi. Yi Changyin hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ini sangat menarik." Dia menganguk-anggukan kepalanya. "Apa yang kau rencanakan?"
"Gulungan ini kutemukan di bagian paling dalam ruang buku istana bulan. Aku juga sedikit terkejut melihat isinya. Jadi, tidak ada kemungkinan kalau Dewa kegelapan mengetahui hal ini."
Dewa kegelapan bukan termasuk Dewa Dewi pengurus alam semesta, ataupun Dewa Dewi murni yang suci seperti Dewi Chang'e dan sebagainya. Segala rahasia alam semesta dia tidak akan tahu apa-apa.
Selain itu, Yi Changyin menyadari jika ada sebagian ingatannya dan Xuan Chen yang belum kembali. Sekiranya ingatan sebelum memakai topeng dan sebelum kematian. Dia khawatir dalam ingatan itu ada sesuatu yang penting.
Kemudian beberapa buku mengatakan ada dua fungsi dari air sungai kelupaan alam baka. Meminumnya akan melupakan segala ingatan. Sedangkan menceburkan diri ke sana akan memulihkan ingatan.
"Jadi, aku akan memanfaatkan perang ini untuk memulihkan ingatan kita dan membunuh Dewa kegelapan dengan danau penghancur jiwa." Ujar Yi Changyin mengakhiri ceritanya.
"Tapi, apakah dewa kegelapan bisa terpancing oleh kita?" Sahut Xuan Chen merasa tidak yakin.
"Dewa kegelapan mungkin tidak takut dengan danau penghancur jiwa. Tapi... token elemen cahaya yang pernah guru muda Yu Qinghan berikan padaku, mungkin akan berguna." Yi Changyin tersenyum senang.
Xuan Chen tampak berfikir sesaat. Namun sejurus kemudian ia menghela nafas kasar. Ia ingat siapa Yu Qinghan. Guru muda yang jatuh cinta pada istrinya. Tiba-tiba wajahnya menjadi muram penuh dengan kendi cuka.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗