The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXXXIV - Untitled


__ADS_3

Alam langit, Paviliun perjodohan.


Hua Mu Dan berjalan tergopoh-gopoh dengan nampan berisi teko beserta cangkirnya menuju arah luar ruangan. Di belakangnya terdapat Yue Xingfei dengan senampan kudapan di tangannya.


Tampaknya kedua orang itu sedang sibuk menjamu seseorang yang bertamu kepada kakek bulan. Dan mungkin seseorang itu sangat penting sehingga mereka berdua diwanti-wanti untuk berburu-buru.


Mereka berdua menuruni tangga dengan cepat namun hati-hati. Saat berjalan menuju gazebo samping halaman, mereka dapat mendengar samar-samar percakapan keduanya.


"Aku ingin mengetahui tentang ikatan jodoh seseorang.." Ujar seseorang itu yang suaranya sama persis seperti Gaoqing Dijun.


Kakek bulan sedang terkekeh-kekeh tepat ketika Hua Mu Dan menyibakkan tirai. Dan tampak olehnya wajah Gaoqing Dijun yang kini ikut terkekeh.


"Apakah Dijun ingin mengintip siapa jodohmu?" Goda kakek bulan ketika Hua Mu Dan meletakkan nampan itu di meja.


Kata-kata kakek bulan membuat Gaoqing Dijun tergelak. "Aku ini sudah hampir tua, tidak mempermasalahkan menikah. Hanya ingin mengetahui ikatan jodoh seseorang."


Saat itu Hua Mu Dan tengah menuangkan teh, selagi Yue Xingfei meletakkan kudapan.


"Tapi.. sebenarnya aku berniat menikah beberapa tahun lagi.."


Ucapannya membuat Hua Mu Dan yang hendak pergi menyusul Yue Xingfei terhenti. Ia tertegun di ambang pembatas gazebo. Entah kenapa dia merasa tak nyaman mendengarnya.


Namun begitu gelak tawa melambung dari mulut kakek bulan, Hua Mu Dan segera beranjak pergi dengan wajah yang masam. Dan suara kakek bulan beserta Gaoqing Dijun masih terdengar.


"Selamat! Selamat! Boleh ku tau nama calon istrimu?"


"Qiao Jirong."


Nama calon permaisuri Gaoqing Dijun yang terakhir dia dengar. Karena Hua Mu Dan kembali berpapasan dengan Yue Xingfei.


Hua Mu Dan tersenyum, "ada apa?" Tanyanya karena merasa Yue Xingfei sedang ingin mengatakan sesuatu.


Benar saja, Yue Xingfei saat itu bertanya dengan senyuman jahil. "Mengapa wajahmu terlihat masam ketika Gaoqing Dijun mengatakan akan menikah?"


Hua Mu Dan hendak menjawab, namun terpotong karena Yue Xingfei masih melanjutkan kalimatnya.


"Apakah kau cemburu, kakak Hua?" Ejek Yue Xingfei sambil menaikan alisnya dua kali.


"Jangan bicara sembarangan!" Cercanya sambil menjitak kepala Yue Xingfei. Hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


Setelah puas memelototi Yue Xingfei, dia berlalu pergi menuju dalam ruangan. Namun tiba-tiba suara pekikan elang menghentikan langkahnya.


Membuat jantung Hua Mu Dan berdebar kencang. Ia pun bingung kenapa, namun tak sadar jika rasa bahagia dan sebuah harapan tumbuh di hatinya.


Dia melihat ke langit biru yang masih kosong melompong. Hanya ada awan-awan putih yang membumbung. Namun pekikan elang itu terdengar semakin jelas.


Begitupula dengan Yue Xingfei. Dengan heran ia menelusuri setiap sudut langit yang dapat di gapai oleh sudut matanya. Bahkan pekikan elang itu menarik perhatian kakek bulan dan Gaoqing Dijun untuk melihat keluar.


Dan benar, tiba-tiba saja seekor burung elang putih terbang di langit-langit paviliun perjodohan dewa bulan.


Dia terbang terartur indah bak menari. Cahaya-cahaya putih mengiringi gerakan sayapnya dengan apik. Paruh emasnya terus meneriakkan alunan suara elang yang indah. Dia mendarat sempurna dan melipat sayapnya di atas tembok pembatas Paviliun perjodohan.


Namun hal itu mampu membuat Gaoqing Dijun terbelalak kaget. Tubuhnya bergetar walau tak kentara. Jantungnya berdegup kencang karena merasa takut.


Sedangkan kakek bulan hanya melongo melihatnya. Dia adalah Dewa tertinggi, jelas mengenali burung elang apa itu. Dan Yue Xingfei hanya terdiam sambil mengernyitkan dahi.


Sementara itu, tak di sangka-sangka Hua Mu Dan berjalan mendekati elang itu dan memberi sujud.


"Ratu..."

__ADS_1


"Ratu?!" Seru kakek bulan dan Yue Xingfei secara bersamaan.


Sementara Gaoqing Dijun semakin tidak berkata-kata lagi melihat hal ini. Ia ingin pergi saat ini juga. Namun ada kakek bulan yang menyaksikan.


Tiba-tiba elang putih itu kembali memekik dan mengeluarkan sepercik cahaya yang memiliki aura tak biasa. Di arahkan pada Yue Xingfei yang hanya terdiam mematung.


Cahaya itu menarik sesuatu yang berada di kening Yue Xingfei. Dan keluarlah sebatang panah es yang memberikan kilasan-kilasan ingatan pada gadis itu.


"Apa yang kau lakukan pada Yue Xingfei?!" Teriak kakek bulan tidak terima.


Namun sejurus kemudian Yue Xingfei berlari ke arah elang putih itu sambil berteriak senang, "bibi!!!"


Membuat kakek bulan menjatuhkan rahangnya. "Apa.. yang terjadi?"


"Terima kasih Dewa bulan yang telah menjaga mereka. Sekarang adalah saatnya aku untuk menjemput mereka." Ujar elang putih itu terdengar menggema.


'Mengapa.. suaranya begitu familiar?' Pikir kakek bulan kebingungan.


"Aku pamit pergi.. dan ku tinggalkan salah satu benda yang pernah kau berikan padaku." Ujar elang itu lagi sambil merentangkan sayap putihnya yang bersinar.


Mulai mengepak dengan teratur dan indah. Bergegas pergi meninggalkan paviliun perjodohan. Sementara itu tubuh Hua Mu Dan berubah menjadi puluhan kelopak bunga yang mengikuti kemana perginya elang putih. Bersama dengan Yue Xingfei namun dengan wujud cahaya-cahaya yang penuh dengan bintang-bintang kecil.


Mereka berdua masih terdiam, sementara sebuah benta jatuh ke tanah. Tepat di hadapan kakek bulan. Pria tua itu menyadarinya dan segera membungkuk untuk mengambilnya.


Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati kalau benda yang di tinggalkan elang putih itu adalah batu teleportasi. Yang pernah ia berikan pada Dewi rubah ekor sembilan yang menyamar sebagai murid akademi Tianjin.


"Bagaimana mungkin dia?!"


.......


.......


.......


Menuju sebuah pasar yang kumuh di daratan Utara. Menghampiri seorang gadis berpakaian serba biru yang kebingungan melihatnya. Namun saat Yi Changyin menarik keluar panah es dari keningnya, gadis itu menjadi tersenyum riang melihatnya.


Saat Yi Changyin bergegas pergi, gadis itu berubah menjadi ombakan kecil air yang melayang-layang di udara dan mengikuti Yi Changyin.


Lalu terakhir menuju dua orang wanita yang sedang berjalan di tengah-tengah keramaian pasar. Salah satunya memakai pakaian serba abu-abu dan satu lagi begitu mencolok dengan warna merah mudanya.


Begitu kedatangan elang putih yang lengkap dengan pekikan merdunya. Pasar menjadi lebih ramai, kagum dengan sesuatu yang terbang di atas mereka.


Seperti tadi, Yi Changyin menarik panah es dari kening mereka berdua. Lalu bergegas pergi dengan gumpalan awan bergerak spiral dan puluhan kupu-kupu warna warni mengikutinya.


Yi Changyin kembali ke gunung Tianjin tanpa menarik perhatian siapapun sampai tiba di tempat semula.


Xuan Chen mengulurkan tangan untuk menyambutnya. Dan ketika beberapa meter lagi menuju tanah, Yi Changyin kembali mengubah wujudnya menjadi manusia. Lalu menerima uluran tangan Xuan Chen.


Bersamaan dengan itu, kelima orang yang dia bawa dengan jiwa yang berbeda-beda, berubah menjadi gadis-gadis berparas cantik dan berpakaian yang berbeda dengan yang lainnya.


Yi Changyin tersenyum dan berbalik ke arah mereka semua. Namun tiba-tiba Yue Xingfei menabrak tubuhnya. Memeluknya erat seperti tidak mau lepas.


"Bibi.." Rengeknya.


"Apa? Apakah kau merindukanku?" Yi Changyin membalas pelukannya.


"Tentu saja! Maaf aku tidak mengenalimu saat berkunjung ke rumah kakek bulan." Yue Xingfei melepaskan pelukannya dan di sambut dengan senyuman Yi Changyin.


"Mari kita kembalikan alam peri." Yi Changyin menatap keempat peri yang berada di belakang Yue Xingfei. "Aku butuh bantuan kalian."

__ADS_1


.......


.......


.......


"Yang berpakaian warna biru muda itu adalah Shui Ning, pemimpin peri air." Jelas Yi Changyin ketika ia berjalan beriringan dengan Xuan Chen. Sedangkan di belakangnya terdapat kelima peri yang berbeda ras.


"Adapula peri awan, Lian Qingran. Yang memakai pakaian abu-abu campur ungu itu."


Xuan Chen menoleh sesaat kebelakang untuk memastikan. Kemudian mengangguk-angguk.


"Biar kutebak, kalau wanita yang berpakaian merah muda itu adalah peri kupu-kupu. Namanya Hu Diejing." Katanya.


"Benar!" Yi Changyin menyenggol lengan Xuan Chen dengan senyuman. "Ingatanmu sangat kuat."


"Aku memang pintar sejak lahir." Gumam Xuan Chen dengan bangga.


Membuat Yi Changyin mencibir. "Siapa yang bilang kalau kau pintar?"


"Aku hanya mengatakan kalau ingatanmu kuat! Tidak ada sangkut pautnya dengan kepintaran. Lagipula aku tidak yakin kalau kau orang yang pintar."


"Kau?!" Xuan Chen menunjuknya kesal. "Oooh! Semenjak menjadi Bai Suyue kau menjadi sombong dan arogan. Pantas saja!"


"Apa?!" Yi Changyin menghentikan langkahnya. Membuat kelima orang dibelakangnya ikut berhenti. "Aku memang tidak suka kalau ada seseorang yang menyombongkan kehebatannya dihadapanku kecuali aku yang memujinya lebih dahulu."


"Jadi kau merasa dirimu lah yang paling hebat?" Tantang Xuan Chen lebih berani.


"Ya memangnya kenapa?" Yi Changyin maju satu langkah mendesak Xuan Chen. "Dunia mengakuinya bukan?" Yi Changyin mengibaskan rambutnya sambil berlalu pergi. "Jadi.. tidak perlu ada istilah merendahkan."


"Mengapa dia一?!"


Ucapannya terpotong di udara ketika Hua Mu Dan menepuk pundaknya. "Kau belum tahu Ratu Bai yang sebenarnya.."


Membuat Xuan Chen mengenyit heran.


"Dia memang kelihatan berwibawa dan anggun. Kuat dan mendominasi. Namun.. jika di belakang semua orang dia akan terlihat seperti gadis pecicilan."


Jelasnya sambil menatap punggung Yi Changyin yang berlalu pergi.


"Dia sebenarnya bukan tipe orang yang suka menyombongkan diri. Namun jika diantara kami berlima ada yang meninggikan kekuatan masing-masing, dia selalu marah dan berbicara seperti tadi. Kecuali mungkin Yue Xingfei yang menjadi kesayangannya. Tapi kami tahu itu hanya sebuah candaan."


"Ketika menjadi putri kerajaan, kami berempatlah yang selalu menjaganya." Sahut Shui Ning. "Dia putri yang sangat periang dan usil. Namun berubah menjadi penuh kasih sayang ketika bertemu dengan Feng'er dan Heilong."


Membuat Xuan Chen tersenyum simpul.


"Tapi tetap saja tidak menghilangkan sifat usilnya." Hu Diejing ikut menimpali.


"Namun.. semua berubah ketika Wu Yun dipengaruhi iblis. Sifat riang dan usilnya tiba-tiba hilang tak bersisa." Ekspresi Hua Mu Dan terlihat suram. "Mengingat hal itu aku semakin membenci Wu Yun yang menghancurkan segalanya."


Saat itu Lian Qingran berseloroh senang, "namun kami bahagia dia telah kembali menjadi seperti semula." Jedanya. "Semua ini karenamu.." Tambahnya sambil menggerling ke arah Xuan Chen.


.......


.......


.......


Readers, maaf ya author gak jadi janji kalau novel ini bakal happy ending. Karena masih di pertimbangkan nyampe pusing-pusing sendiri. Happy end atau sad end, dua-duanya bikin sreg, jadi bingung kan. Tapi kalo lebih masuk akal mending sad ending sih, tapi nanti ada season 2 nya. Entahlah bingung. Gimana menurut kalian?

__ADS_1


Tapi author ngomong gini belum tentu valid sad ending ya. Kan rahasia:v


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2