The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXXXIX - Perang


__ADS_3

Dalam pertarungan ini, Yi Changyin dan Xuan Chen menggunakan cambuk yang panjang penuh dengan energi petir. Mereka sengaja menggunakan senjata pusaka alam peri yang paling langka. Wen Yuexin sendiri hanya menggunakan pedang hitam yang penuh dengan aura kegelapan.


Wanita itu bukan Wen Yuexin lagi. Walaupun itu memang namanya sejak lahir. Zirahnya berwarna abu-abu gelap, ada bulu burung hitam di pundaknya. Lengkap dengan jubah hitam yang berkibar.


Kuku-kukunya bercat hitam. Riasan wajahnya tampak sedikit gelap walaupun kulitnya putih. Rambutnya diikat ekor kuda dengan hiasan rambut yang mengikatnya.


Yi Changyin dan Xuan Chen saling melirik sebelum akhirnya bergerak menyerang Wen Yuexin dengan cambuknya secara bersamaan, mengikat pinggangnya yang ramping. Namun wanita itu melepaskannya dengan mudah.


Wen Yuexin segera mendorong keduanya dengan energi spiritual. Yi Changyin dan Xuan Chen mundur sebelum terdorong, dia memasang perisai spiritual. Menghalau energi yang bisa merusak tubuh. Cambuk itu sudah disembunyikan.


Energi spiritual gelap keunguan itu terus menekan mereka hingga sedikit mundur. Yi Changyin melirik Xuan Chen yang juga menahan perisai di sampingnya, pria itu mengangguk samar dan menjauhkan diri. Kemudian tiba di belakang Yi Changyin.


Wen Yuexin tidak peduli, dia fokus menekan mereka dan lebih banyak mengeluarkan energi kegelapannya. Di belakang Yi Changyin, Xuan Chen membentuk formasi emas di tangannya.


Garis-garis spiritual emas yang berbentuk dua segitiga berputar-putar itu menyedot energi spiritual Xuan Chen. Setelah cukup, Xuan Chen melemparkannya ke arah Yi Changyin.


Sebelum perang, Yi Changyin selalu mewanti-wanti Xuan Chen untuk memberinya sedikit kekuatan. Walaupun dia sedikit heran, tapi tidak banyak bertanya.


Mungkin Xuan Chen tidak tahu jika Yi Changyin cukup lemah sekarang. Ilusi di rambutnya yang memutih tetap bertahan. Tidak ada satupun yang curiga bahkan itu Dewa kegelapan. Dan sampai sekarangpun, Yi Changyin masih memakan pil jamur Lingzhi.


Yi Changyin yang menerima dorongan kuat itu segera membuka sayapnya. Energi spiritual Xuan Chen masih terhubung di belakang. Dia menekan balik Wen Yuexin dengan cepat menggunakan perisai spiritualnya.


Karena kekuatan ini besar, Wen Yuexin kehilangan kendali. Dia melepaskan dorongannya menimbulkan gelombang besar. Wanita itu memuntahkan seteguk darah.


Xuan Chen dan Yi Changyin kali ini mengeluarkan pedang pusakanya masing-masing. Karena jiwa iblis Wu Yun sudah musnah, maka pedang pusakanya pun menjadi penuh dengan aura suci.


Mereka segera menyerang. Wen Yuexin hanya bisa menyamping untuk menghindari, melewati keduanya dengan mudah. Tak sampai disitu, Yi Changyin dan Xuan kembali menyerangnya dari belakang secara bersamaan. Hingga Wen Yuexin membungkuk saat itu juga.


Saat kesempatan itulah, Yi Changyin mengeluarkan sembilan ekornya yang indah, mengalirkan sejumlah energi spiritual yang besar. Kemudian kesembilan ekor itu memukul punggung Wen Yuexin secara berurutan.


Wanita itu tidak berdaya. Yi Changyin dan Xuan Chen tertawa senang. Mereka mempermainkannya, punggungnya sangat sakit.


Saat hendak bangkit, tiba-tiba Yi Changyin berputar bak penari. Kesembilan ekor putihnya kembali memukul Wen Yuexin secara bersamaan dengan energi spiritual yang besar.


Hingga membuat Wen Yuexin yang tak punya persiapan tersungkur ke bawah, bibirnya mencium tanah yang pahit. Tak lama kemudian dia kembali bangkit, wajahnya memerah karena kesal.


Melihat Yi Changyin dan Xuan Chen yang terbang menjauh, dia semakin menggeram. Kemudian ikut mengejar mereka penuh emosi.

__ADS_1


Di sisi lain, pertarungan antar prajurit masih imbang. Jika satu pihak alam peri mati, maka satu pihak lawan pun mati. Hu Diejing masih bersenang-senang dengan para prajurit iblis itu.


Dengan kupu-kupu cantiknya, Hu Diejing membuat mereka terluka seperti tersayat pisau angin. Sayap kupu-kupu itu sangat tajam.


Lian Qingran melawan Qi Xiangma dengan sengit. Wanita yang mengkhianati alam peri itu telah kuat sedikit. Lian Qingran sangat senang melawan pengkhianat itu. Kadang kali dia menyemburkan asap beracun untuk para prajurit iblis yang mendekat demi mengambil kesempatan.


Sementara itu Hua Mu Dan dan Shui Ning cukup untuk menjadi lawan yang baik bagi Zhang Bixuan. Pria iblis itu tak keberatan melawan dua orang sekaligus, lagipula mereka wanita yang lemah dimatanya.


Meninggalkan peperangan yang berdarah, pintu alam peri di puncak gunung Tianjin telah dikerumuni banyak orang yang membentuk formasi. Pemimpin mereka adalah tetua Ling Zhao, dan ada sekitar sepuluh murid akademi Tianjin yang terpilih.


Mereka adalah orang-orang yang mengetahui peperangan ini. Membentuk formasi perisai agar aura mereka tidak bocor saat peperangan.


Tetua Ling Zhao yang menjadi peran penting dalam formasi terus mempertahankan energi spiritualnya yang seperti tak pernah habis. Perisai itu harus tetap kuat sampai peperangan berakhir. Itu adalah perintah Yi Changyin melalui keempat ketua alam peri.


Setelah pembuatan perisai pelindung spiritual yang cukup kuat. Tetua Ling Zhao menghentikan semuanya, menyuruh mereka untuk beristirahat di sana, belum boleh kembali ke akademi.


"Ingatlah, apapun yang terjadi jangan beri tahu siapapun dengan peperangan alam peri melawan Dewa kegelapan dan alam iblis. Selain orang-orang di akademi Tianjin, tidak ada yang tahu. Kalian harus bungkam dan tutup mulut." Tutur Tetua Ling Zhao tampak tegas.


"Baik, tetua!"


.......


.......


.......


Kadang kali Wen Yuexin meluncurkan serangan energi spiritual dan panah kegelapan ke arah mereka. Yi Changyin dan Xuan Chen hanya menghindar, tak ingin melawan.


Yi Changyin dan Xuan Chen menepi di bibir jurang danau penghancur jiwa. Melihat kebawah penuh keyakinan. Wen Yuexin sudah dekat, Yi Changyin dan Xuan Chen saling berpegangan tangan. Kemudian melompat ke sana tanpa rasa takut.


Wen Yuexin yang melihatnya hanya mencibir. Kemudian dia mendengus, "ingin memancingku ke sana? Jangan harap aku takut dengan danau kecil itu!" Wen Yuexin pun ikut terjun ke bawah.


Saat masih di udara, tiba-tiba Yi Changyin mendapatkan potongan ingatan aneh menusuk-nusuk kepalanya hingga terasa pening. Xuan Chen yang melihat hal itu cemas, segera memeluk Yi Changyin.


Tak lama setelah itu mereka masuk ke danau. Permukaan air yang tadinya tenang kini menciptakan cipratan yang besar.


Di dalam, mereka merasakan tekanan yang besar. Lagi-lagi potongan ingatan dirinya yang sedang berada di danau penghancur jiwa, memasuki pikiran. Entah itu kapan. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak peduli.

__ADS_1


Xuan Chen sudah siap dengan busur panahnya. Siap membidik Wen Yuexin kapan saja. Yi Changyin memegangi pakaian Xuan Chen, berusaha saling menahan karena tekanan air yang begitu kuat.


Karena ini air danau penghancur jiwa, tubuh mereka perlahan terluka. Seperti robek dimana-mana, darah menyatu dengan air di sekitar mereka.


Saat ada bayangan hendak jatuh, Xuan Chen sudah lebih siap lagi dengan panahnya. Yi Changyin melihat-lihat sekitar danau dan melihat ada sebuah lubang kecil. Dia yakin, itu adalah pintu menuju sungai kelupaan alam baka.


Tak lama Wen Yuexin benar-benar jatuh di sana. Jarak mereka cukup jauh, dan Xuan Chen segera melesatkan panah penghancur jiwa itu dengan busurnya.


Ketika Wen Yuexin sejajar dengannya, panah itu tepat mengenai dadanya, menembus zirah. Wen Yuexin terbelalak, ia ingin berteriak. Tak di sangka mereka berdua menggunakan ini untuk melawannya!


'Yi Changyin!! Beraninya kau!' Geramnya dalam hati.


Sensasi terbakar perlahan terasa dari ujung kakinya. Wen Yuexin terbelalak, dia tahu ini panah penghancur jiwa. Kakinya perlahan menjadi abu. Yi Changyin dan Xuan Chen saling melirik dan tersenyum.


Kemudian gadis itu mengajak Xuan Chen pergi dari sana menuju lubang. Kepergian mereka tak luput dari tatapan tajam Wen Yuexin.


Walaupun tubuhnya sudah menjadi abu sampai ke pinggang, Wen Yuexin masih bisa mengeluarkan panah yang memiliki energi spiritual ungu yang deras. Panah itu bisa mengambil racun yang berada di tubuh Yi Changyin, sekaligus membunuhnya.


Ketika panah itu dilemparkan, Wen Yuexin sudah menghilang menjadi abu, selamanya tidak akan bisa bereinkarnasi.


Sedari tadi tekanan air menghancurkan tubuhnya, lalu panah penghancur jiwa. Dia hanya bisa menahan sakit yang luar biasa.


Sementara itu, Yi Changyin merasakan panah yang menembus air dan melesat ke arahnya. Tepat ketika berbalik, panah itu langsung menusuk dadanya, menembus zirah peraknya. Yi Changyin terbelalak menahan untuk tidak berteriak.


Xuan Chen yang melihat itu tiba-tiba memiliki pikiran kosong. Dia ingin berteriak dan mencabut panah itu tapi Yi Changyin menggelengkan kepala. Gadis itu menunjuk ke arah lubang, menandakan lebih baik pergi ke sana dulu. Tubuh mereka sudah terluka oleh air danau penghancur jiwa.


Xuan Chen hanya mengangguk dan membawanya pergi. Yi Changyin dapat merasakan kalau panah itu menyedot sesuatu yang berada dalam tubuhnya. Benar, panah itu perlahan mengikis bola racun untuk musnah selamanya.


Sementara itu mereka telah memasuki lubang hitam yang menghubungkan dua tempat. Pandangan mereka tiba-tiba gelap. Dan ingatan-ingatan mulai menusuk kepalanya.


Di alam sadar, keduanya jatuh koma, mengambang di dalam air sungai kelupaan. Panah itu masih bekerja untuk menyerap racun, sementara rambut Yi Changyin telah memutih.


.......


.......


.......

__ADS_1


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2