
"Yi Changyin, kau?!" Pekik Wei Qiao saat melihat wajah familiar yang sedang tersenyum miring padanya. Begitu mengerikan, terutama dengan pedang yang siap kapan saja untuk memenggal lehernya.
"Sayang sekali, kau sudah menjadi tahananku mulai sekarang." Ujar Yi Changyin terdengar menyeramkan di telinganya.
Namun demi citranya sebagai murid akademi Tianjin. Dan putri perdana menteri kekaisaran Yunnan, dia berusaha untuk menekan rasa takutnya sedalam mungkin. Lalu Wei Qiao mendengus, "memangnya kau punya bukti apa jika semua orang tahu perihal ini? Apakah alasannya hanya karena malam tadi?"
"Oh, begitu? Ada banyak alasan mengapa aku menahanmu." Jawab Yi Changyin dengan nada yang sarkartis, membuat Wei Qiao semakin geram.
"Memangnya kau bisa apa hah?!" Wei Qiao tertawa meremehkan. "Hanya karena di dasari cemburu kau berani membuatku menjadi tawanan. Memangnya kau tidak tahu siapa aku?!"
"Ya, ya, putri perdana menteri Wei di kekaisaran Yunnan. Tapi.." Yi Changyin tersenyum ke arahnya. "Aku sama sekali tidak takut. Dan Kekuatanku..," Yi Changyin mendekatkan wajahnya kemudian berbisik, "bisa menghancurkan kelima daratan kecil ini. Bahkan.. alam langit."
Yang tentu saja membuat Wei Qiao merinding. Perkataan Yi Changyin sama sekali tidak terdeteksi bohong olehnya. Dia sangat takut.. sangat..
Namun ketika Yi Changyin kembali menajauh, ia kembali bersikap biasa saja. Seolah semua kata-kata Yi Changyin tidak ada pengaruhnya sama sekali. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Yi Changyin hanya tersenyum karena mengetahui sebenarnya Wei Qiao begitu ketakutan. Yang gadis itu tekan dalam-dalam sampai berkeringat dingin.
"Dan.. untuk apa aku cemburu pada hal yang seharusnya tidak terjadi? Maksudku.. cemburu pada sandiwara kalian?" Yi Changyin mendengus. "Jangan harap.."
"Apa maksudmu? Jelas-jelas-!"
"Kalian meracuni Xuan Chen dengan racun hawa iblis. Benarkan?" Potong Yi Changyin yang membuat Wei Qiao terbelalak. Begitu pula dengan seorang wanita yang terikat di pohon bambu itu.
"Bagaimana一?!"
"Membuat ketahanan tubuhnya menjadi lemah dan siap menerima apapun untuk mengendalikan tubuhnya. Lalu memberikanku sebuah energi teratai kehidupan, hingga membuatku seolah tengah mengandung."
Penjelasannya membuat Wei Qiao terkejut bukan main.
"Ya, kau menggunakan kesempatan ini karena melihat Xuan Chen yang membaca suatu buku yang bersangkutan dengan kehamilan. Dia hanya takut, kalau aku akan menanggung malu jika itu terjadi. Tapi kalian malah memanfaatkannya bukan?"
"Tak lama dari perkara itu kau sengaja menulis surat dengan menyalin persis tulisan tanganku agar Xuan Chen percaya. Hingga saat pria itu sampai di jembatan teratai. Lalu kalian menggunakan racun hawa iblis dan memanfaatkan keadaan."
"Padahal dari situ.. aku sedang bersandiwara dan mengikuti alur yang kalian inginkan."
"Bagaimana kau mengetahuinya?!" Teriak Wei Qiao penuh emosi.
"Oh? Jadi tebakanku benar?"
Membuat Wei Qiao menjatuhkan rahangnya. Apa apaan ini?! Mana mungkin Yi Changyin menebak dengan sedetail itu.
"Lalu malam tadi. Dia -Menunjuk pada wanita yang terikat bersama pohon bambu- menyamar sebagai guru Wu untuk mendekatiku dan Xuan Chen."
Membuat jantung dan nafas mereka berdua memburu kencang.
"Aku yang sedang mempelajari tentang ilmu-ilmu yang kalian gunakan untuk menjebaku, sudah curiga dengannya. Tapi karena demi menjebak balik kalian, lebih baik aku mengikuti semua rencanamu bukan?"
"Bagaimana mungkin! Bagaimana mungkin kau mengetahuinya!" Wei Qiao terus berteriak tak percaya.
"Astaga, recana kalian sangat murahan hingga aku sendiri dapat menebaknya." Ejek Yi Changyin sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!"
Yi Changyin menghela nafas. 'Aku bukan penerawang, makanya menebak semua yang terjadi dari mengumpulkan kepingan bukti hasil menyibukkan kedua binatang ilahi dan kuda putih itu.' Batin Yi Changyin
'Percayalah, rasa kecewa dan cemburu tetap ada pada saat itu juga. Walaupun semuanya hanyalah jebakan. Dan tidak mungkin aku menangis dan lari tanpa sebab. Menghancurkan hutan bambu dan melukai tangannya dengan api murni. Semua itu terjadi dari emosi murni seseorang..'
'Aku juga.. sedikit kecewa padanya karena mudah untuk terjebak.'
Kemudian terdengar Wei Qiao terbahak di bawah sana. Membuat Yi Changyin mengerutkan keningnya.
"Walaupun begitu, tapi setidaknya pasti kau memiliki rasa cemburu dan kecewa yang terpendam. Melihat kami waktu itu一!"
"Hei! Apa yang kau lakukan malam itu belum apa-apa. Kau hanya membuka baju dan mengeluarkan suara-suara aneh saat aku datang bukan?"
Membuat tawanya berhenti dan berubah menjadi pias.
"Tempat ini.." Yi Changyin menunjuk pada tanah yang di injaknya, lalu beralih pada Feng'er dan Heilong. "Kedua binatang ilahi itu, Yi Xuemei dan Shen Lan. Menjadi saksi kalau kami pernah menyembah langit dan bumi bersama."
Membuat Wei Qiao bertambah pucat. Bahkan wanita yang terikat bersama batang bambu itu tak kalah terkejutnya. Tak di sangka mereka...
"Ternyata kau melakukan hal itu di luar pernikahan?" Wei Qiao tertawa namun sebenarnya hati sedang memanas. "Sungguh memalukan."
"Itu terjadi karena si brengsek Qi Zhongma. Tapi aku sama sekali tidak menyesalinya.."
Wei Qiao tertawa sumbang. "Apakah kau tidak takut kalau aku akan memberi tahu semua orang?" Ancam Wei Qiao dengan senyuman miringnya.
Tapi membuat Yi Changyin terbahak. "Kau akan menjadi tahananku. Untuk apa aku takut dengan hal kecil itu?"
"Apa kau bilang?! Dengan kekuatanmu yang bahkan belum mencapai bintang ingin menahan diriku yang memiliki pelindung dari kekaisaran Yunnan?" Gadis itu masih bersikap sombong.
"Kau meremehkanku?"
Kata-kata itu membuat aura sekitarnya begitu dingin. Membuat Wei Qiao menggigil menahan takutnya hingga berkeringat.
Aura aura yang tidak biasa mulai menguar memenuhi udara. Menimbulkan intimidasi kuat bagi yang berada di bawahnya. Wei Qiao menunduk sudah tak kuat menatap mata elang yang menyeramkan itu.
Namun tiba-tiba aura semakin kuat dan menekan. Tidak terlalu mendominasi, namun tidak wajar bagi manusia pada umumnya. Hingga dugaannya sampai pada satu hal, "alam langit?!"
Ia langsung mendongkak dan mendapati Yi Changyin sedang menatap ke arahnya dengan aura yang berbeda. Bersinar dan cerah bagaikan Dewi alam langit. Tunggu, apakah benar begitu?
"Masih mau meremehkanku?"
Bahkan suaranya pun terdengar makin mengerikan.
"Siapa sebenarnya dirimu?!" Tanya Wei Qiao dengan suara yang tercekat. Dia bahkan sudah tidak bisa melawan tekanan itu dan memuntahkan seteguk darah. Dadanya terasa sesak terhimpit oleh tembok besar tak kasat mata.
"Menurutmu aku ini siapa?" Yi Changyin balik bertanya.
"Kau.. kau.."
"Dia adalah Dewi alam langit." Sahut seorang wanita yang terikat bersama batang bambu itu.
__ADS_1
Yang membuat Wei Qiao terkejut setengah mati. Dia tidak pernah menyangka kalau yang di hadapinya adalah bukan seseorang yang biasa. Tapi kebencian di hatinya belum membuat dia bertekuk lutut pada Yi Changyin. Dia malah marah pada wanita yang terikat bersama batang bambu itu.
"Kau! Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?!" Kecam Wei Qiao, dengan suara yang masih tercekat.
"Ini adalah rahasia. Makanya aku tidak memberitahumu.." Sahutnya yang membuat Wei Qiao semakin geram.
"Suaramu terdengar familiar.." Pungkas Yi Changyin sambil menatap ke arah wanita yang terikat bersama batang bambu itu.
Dan Feng'er mengerti maksud Yi Changyin. Pria itu segera menghampiri wanita itu dan mencabut topengnya dengan paksa.
"Qi Xiangma?" Yi Changyin tidak menunjukkan keterkejutan sekalipun. Dia mendengus, "sudah kuduga."
"Pantas saja.. aku merasa selalu dalam bahaya ketika di akademi." Tambahnya. "Ternyata, bawahan Gaoqing Dijun adalah adik seperguruanku." Dia tersenyum miring.
Qi Xiangma mendengus. "Kau tidak bisa menyentuhku, Yi Changyin!" Katanya yang terdapat nada ancaman. Jelas, dia berspekulasi bahwa Yi Changyin tidak akan berani menyentuhnya karena dia berada di dalam lingkaran kuasa Gaoqing Dijun. Namun,
"Siapa takut?"
Kata-kata yang bahkan tidak menonjolkan sedikit rasa takutnya membuat Qi Xiangma menggeram. "Beraninya kau! Dia adalah一!"
Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Susah bernafas apalagi berbagai berbicara. Begitupula dengan Wei Qiao yang mulai merasakan perubahan aura yang di keluarkan Yi Changyin. Jelas lebih besar dari sebelumnya. Apa-apaan ini?! Apakah Yi Changyin semengerikan ini?!
Terkecuali untuk Feng'er dan Heilong. Mereka hanya tersenyum bangga ke arah Yi Changyin.
"Siapa yang lebih berani? Aku.. atau kau yang mengkhianatiku dan tanah kelahiranmu?"
Kali ini Qi Xiangma terkejut. Jantungnya berdebar kencang, meloncat-loncat bak ingin segera keluar dan terbebas dari ini semua. Kata-kata yang di penuhi dengan nada dingin namun mengancam, membuat ia mengenali siapa yang berdiri di hadapan Wei Qiao saat itu.
"Aku.. aku hanya ingin.. mengamankan semua alam.." Sahut Qi Xiangma dengan suara yang tercekat.
"Ternyata Gaoqing Dijun.. sudah memprediksi bahwa aku akan bertarung melawan Wu Yun lagi, begitu?" Yang berbicara kali ini adalah Bai Suyue.
Lalu ia menambahkan, "ingatlah wahai kuda bertanduk, sebelum detik-detik kematianku.. aku pernah meminta Wu Yun untuk mengakhiri pertarungan ini, tapi.. dia selalu menolak. Jadi, jika dia kembali.. bertarung atau tidaknya.. itu tergantung pada keegoisan dirinya."
Bai Suyue kemudian terbahak, bermaksud menertawai Gaoqing Dijun. "Gaoqing Dijun begitu cinta semua alam hingga membuat keputusan untuk membunuhku." Katanya di sela-sela tertawa.
"Kuda bertanduk, alam langit bahkan tidak pernah macam-macam pada kami. Tapi kalian? Kubu kecil? Yang bahkan tidak punya dunia sendiri? Lalu ingin melawanku?" Bai Suyue kembali tertawa. "Miris sekali.."
Ia masih melanjutkan selagi mereka berdua terus tercekat, "dengan jiwa yang masih belum bangkitpun aku bisa sekuat ini. Di tambah dengan kekuatan milik Yi Changyin. Lihatlah seberapa besar kemungkinanku untuk menghancurkan seluruh dunia.."
Namun Qi Xiangma malah tertawa. "Kau ingin menghancurkan dunia? Kau pikir Dewi welas kasih akan menyukaimu setelah itu? Mungkin dia akan menghancurkanmu juga, Bai Suyue!"
"Kau ini bodoh sekali setelah menjadi bawahan Gaoqing Dijun.." Ejek Bai Suyue. "Kau pikir aku akan setega itu menghancurkan dunia?"
Membuat ia terdiam seribu bahasa. Sekaligus malu. Apalagi saat itu Feng'er dan Heilong menertawakannya dengan wajah yang mengejek sambil menunjuk-nunjuk.
"Begini.. ini adalah perumpamaan untuk kekuatanku. Dan bukan berarti aku ingin menghancurkan seluruh dunia. Bayangkan saja.. aku bisa menghancurkan dunia, maka menghancurkanmu..." Bai Suyue mengambil batu berukuran sedang yang berada di bawah kakinya. Kemudian ia remukan dalam sekali kepalan. "Akan semudah menghancurkan batu ini."
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉