
Yi Changyin berdiri di atas lapangan yang di banjiri cahaya matahari menyilaukan. Dia sedang menunggu kedatangan makhluk alam baka walaupun para guru memintannya untuk beristirahat terlebih dahulu. Dia tidak mau buang-buang waktu.
Makhluk jelek itu muncul di udara kosong dan langsung mengaum. Dia kembali melihat mangsa yang di tunggu-tunggu. Yi Changyin tidak peduli dengan tatapan ganasnya. Dia mulai membungkus tangannya dengan energi spiritual, membuka lebih besar cincin ruang.
Tiba-tiba aura di sekitarnya begitu mendominasi, tapi sedikit menekan makhluk jelek dari alam baka itu. Percikan api keluar dari ujung tangan Yi Changyin, dan tiba-tiba meledak. Bersamaan dengan keluarnya burung besar berwarna merah yang tubuhnya di selimuti oleh api.
"Ini.."
Semua orang terutama para guru terkejut melihat keluarnya sang Phoenix, binatang ilahi. Walaupun dari pandangan mereka Phoenix api yang belum bisa berubah menjadi manusia adalah bukan hal yang terlalu istimewa, tapi kejadian ini sangat langka. Saat itu Wei Qiao pun menghentakkan kakinya dengan gemas.
Sering bagi penduduk atau yang tinggal disekitaran gunung Tianjin melihat pemandangan Phoenix. Tapi hanya sekilas dan hewan itu enggan menampakkan dirinya secara keseluruhan. Mereka juga sangat sombong dan akan sulit jika ditangkap, apalagi untuk di jadikan hewan kontrak.
Apa reaksi mereka kalau tahu Phoenix itu adalah yang paling istimewa di kelima alam ini? Jelas mereka akan muntah darah. Konon, hanya ada satu burung Phoenix yang memiliki dua warna sekaligus dua elemen, air dan api. Juga hanya tinggal di alam peri.
Menurut seluruh alam, Phoenix itu mungkin ikut menghilang bersamaan dengan meninggalnya sang Ratu dan sang Raja. Keberadaannya belum di ketahui oleh para petinggi alam.
Monster alam baka itu berhenti mengaum, dia hanya menggeram rendah. Ketika di tekan oleh binatang ilahi, dia masih bisa bertahan tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Tapi monster alam baka terbilang sombong melebihi karakter binatang ilahi. Makanya dia masih tetap terlihat sekuat baja saat berada di hadapan Feng'er yang terus menerus menggertaknya.
Yi Changyin tak mau buang-buang waktu lagi, dia naik ke punggung Feng'er. Dia segera melapisi pedangnya dengan energi spiritual, dan menyerang monster itu tanpa ampun.
Sakitnya serangan spiritual dari sebilah pedang, sama halnya dengan di tebas secara langsung. Akan sangat menyakitkan, tak heran jika makhluk itu mengaum kesakitan. Banyak serangan yang dia buang dengan cakarnya, tapi itu hanya sebagian kecil.
Sampai monster itu kelelahan, Feng'er mulai beraksi. Dia memekik dengan kencang, mereka semua langsung menutup daun telinga yang terasa akan pecah itu. Api keluar dari mulutnya, menyembur monster itu sampai gosong. Monster itu tidak mati, hanya saja dia terluka.
Tepukan tangan riuh terdengar, terutama dari barisan tetua dan guru. Walaupun para calon murid terlihat iri, tapi mereka tetap saja merasa kagum. Yi Changyin yang kelelahan langsung tertidur di punggung Feng'er.
'Aiyo! Rubah ini malah tertidur!' Runtuk Feng'er dalam hati.
Di sisi lain Xuan Chen mulai turun ke arah lapangan, mendarat sempurna di depan Phoenix besar. "Pergilah ke ruang dimensi spiritual dan rawat dia." Ujarnya berbisik.
"Baik, tuan."
Xuan Chen merentangkan sebelah tangannya, sosok Phoenix dan seorang gadis itu punggungnya perlahan melebur dan memasuki ruang dimensi spiritual. Semua orang hanya terdiam, tidak ada tanggapan. Hanya ada satu yang berada di pikiran mereka, Xuan Chen memiliki ruang dimensi atau ruang spiritual. Tapi tebakan mereka salah, pria itu memiliki keduanya.
.......
.......
.......
Yi Changyin tertidur dengan posisi tengkurap. Wajahnya tampak tenang dengan mata yang tertutup dan pikiran yang berkelana entah kenapa. Rambutnya terlihat berantakan di atas permukaan wajahnya. Dia sepertinya tertidur sangat pulas.
Tangan seseorang menyingkirkan rambut yang menghalangi rupa wajahnya. Gadis itu terlihat lucu ketika tertidur, bahkan Xuan Chen tak bisa menahan tangannya untuk mengelus pipi lembut itu dengan punggung jari telunjuknya. Gadis itu tidak terganggu sama sekali, tidurnya malah semakin pulas.
Dia memaklumi. Karena Shen Lan selalu bilang, Yi Changyin akan tertidur berhari-hari saat dirinya memiliki luka dalam. Walaupun Feng'er dan Heilong sudah menetralkan kembali energi spiritual dalam tubuhnya, tetap saja rubah itu ingin tertidur. Dia mungkin kelelahan.
Alis Xuan Chen merajut, dia menyingkirkan rambut poni yang kadang menghalangi kening Yi Changyin. Tampak samar, tapi tanda itu nyata. "Mengapa aku tak menyadari tanda lahir ini dari awal?" Gumam Xuan Chen.
Dia merasa bingung. Tapi kebingungan itu telah menyerang pikirannya hingga menyebabkan pening yang hebat. Sekelebat ingatan masuk ke dalam pikirannya. Dia melihat tanda itu, tapi ada pada gadis lain. Gadis itu berbeda dan berpakaian aneh, terasa bukan manusia atau ras hewan suci.
Xuan Chen terkejut, tapi dia segera menggelengkan kepalanya, mengusir semua yang memasuki benaknya secara paksa. Entah apa itu, tapi beberapa hari ini dia sering merasakannya semenjak bertarung dengan hewan roh dan makhluk alam baka itu.
Dahulu dia adalah pangeran ketujuh yang cacat. Semenjak Xuan Ye menyegel kemampuan berjalannya, dia menjadi pribadi yang lemah. Jarang berlatih apalagi berkultivasi, hidupnya menjadi tidak bersemangat.
__ADS_1
Semenjak kedatangan Yi Changyin, dia seperti secercah cahaya yang datang. Dia bisa berbicara walaupun tak tau apa yang di gunakan Yi Changyin saat itu. Dia juga kembali bisa berjalan walaupun hanya ilusi. Xuan Chen sejak itu menjadi giat berlatih, apalagi di ruang dimensi spiritual.
Dan dua hari lalu, adalah pertama kalinya dia bertarung. Walaupun dia menang, tapi banyak kecerobohan hingga menimbulkan luka yang akhirnya di sembuhkan secara nyata di ruang dimensi spiritual. Tapi entah kenapa saat menatap sesuatu yang tertentu secara tidak sengaja, suatu ingatan masuk ke dalam benaknya. Apakah ini ada dikehidupan lalunya?
Entahlah! Xuan Chen tidak mau memperdulikan hal yang memusingkan kepalanya lagi. Dia harus tenang sampai esok hari di dunia nyata.
Besok adalah pengumuman hasil tes seleksi penerimaan murid baru akademi Tianjin. Semua siswa harus siap untuk menerima apa yang terjadi. Tapi lain halnya untuk kelompok Yi Changyin, entah kenapa mereka merasa tenang seakan semuanya akan baik-baik saja.
*Note : Dua hari yang di sebutkan disini, dua hari di ruang dimensi, bukan di dunia nyata. Berarti waktu aslinya di dunia nyata, Xuan Chen berdiam di sana cuman 1-2 jam. Soalnya satu menit di dunia nyata sama dengan satu jam di sana.
Note lagi : Ruang Dimensi spiritual tidak mempengaruhi umur dan pertumbuhan badan walaupun perbandingan waktunya sangat berbeda jauh.
Tanpa di sadari, tangan Xuan Chen masih menempel pada pipi gadis itu. Sangat lama, mungkin selama dia memikirkan sesuatu. Itu terasa berat, bahkan alam bawah sadar Yi Changyin merasakannya. Dia sedikit mengerutkan kening.
"Xuan Chen.. apa itu kau?" Tanyanya serak khas suara orang bangun tidur. Matanya masih terpejam.
Xuan Chen tersentak, dia langsung menoleh pada Yi Changyin. Mungkinkah gadis rubah itu terganggu? Tapi dia masih terpejam, sepertinya dia masih belum bisa membuka matanya.
"Yaa, ini.. ini aku." Xuan Chen berbicara tergagap.
Masih dengan mata yang terpejam, Yi Changyin menarik tangan Xuan Chen sekuat tenaga. Bahkan lelaki itu tersungkur ke atasnya, bahkan posisinya sedang menindih. Xuan Chen terkejut, tapi entah kenapa dia hanya diam.
Tangan Yi Changyin mulai merayap ke atas, Xuan Chen berkeringat. Tangan itu berhenti tepat ditengkuknya. Yi Changyin melemparkan Xuan Chen kesamping, sekarang dia yang balik menindih pria itu. Lalu kembali tertidur pulas.
Xuan Chen sempat tertegun sebelum akhirnya menghela nafas lega. Jika gadis itu mulai macam-macam dan menggoda nafsu birahinya, akan sangat berbahaya.
.......
.......
.......
Bahkan saat sampai di sana, guru-guru dan tetua pun merasa heran karena Yi Changyin tampak sudah pulih dari luka yang diterimanya kemarin. Secepat itu?
Lama setelah badai kekhawatiran melanda para calon murid yang membentuk keringat dingin, kini mereka sudah mengetahui jawabannya. Sedikit yang senang, banyak juga yang harus pulang dengan kekecewaan, lalu berlatih dan menunggu sampai tiga tahun kemudian.
Kelompok Yi Changyin semuanya diterima, bahkan Aoyi Jinqi, Wei Qiao dan kedua kuda alam peri itu resmi menjadi murid akademi Tianjin.
Mengejutkan, disini Shen Lan menjadi murid tertua di antara lainnya. Alhasil semua orang harus menyebutnya kakak seperguruan tertua, termasuk Yi Changyin dan Yi Xuemei. Padahal mereka enggan. Dan murid kedua adalah Yi Xuemei. Bahkan adiknya sendiri harus menyebutnya dengan kakak seperguruan kedua.
Xuan Chen masih menjadi senior di atas Yi Changyin, baguslah. Akan sangat aneh jika gadis itu menyembutnya adik seperguruan. Dia menjadi murid ketujuh. Satu tingkat di bawahnya adalah Qi Zhongma.
Ini sangat bagus! Jika pria itu macam-macam pada Yi Changyin, Xuan Chen tidak akan pernah sungkan.
Sekarang Yi Changyin menjadi murid ke sembilan. Dan murid kesepuluh adalah Qi Xiangma. Sangat di sayangkan bagi Wei Qiao, dia menjadi murid ke empat belas lantaran umurnya masih muda. Dia selalu meruntukki kesialannya karena harus menghormati Yi Changyin sebagai kakak seperguruan ketujuh.
Satu hal yang mengejutkan kelompok Yi Changyin. Dia tidak akan pernah mengira gadis yang bernama Xiang Jinqi itu menjadi murid bungsu akademi. Dan di seluruh murid, hanya dia yang berumur empat belas tahun. Itu terlalu muda, tapi wajahnya terlihat dewasa.
Mungkin jika Zhang Bixuan tahu kelakuan istrinya, dia akan tersenyum tak berdaya. Umur asli Aoyi Jinqi sudah lebih dari seratus ribu tahun!
Setelah selesai menerima token murid akademi, kelompok Yi Changyin memutuskan untuk beristirahat di pinggir danau dekat sana. Keadaannya sangat hidup dengan pohon-pohon hijau yang segar, bayangannya terpantul di atas permukaan danau yang jernih.
Semua binatang kontrak yang berada di ruang dimensi一termasuk kalajengking, di izinkan keluar. Sekali-kali mereka harus menikmati alam bebas yang penuh dengan udara sejuk. Bukan udara penuh dengan energi spiritual yang membuat nafsu berkultivasi menjadi meledak-ledak.
Para hewan kontrak itu senang bermain-main air. Yang paling sering mendapatkan kepuasan hati Feng'er dan Heilong adalah Xiaobai. Mereka tidak berani pada Xiaolan karena takut dengan adanya Yi Xuemei.
__ADS_1
Kalajengking hitam sendiri bersembunyi dekat Yi Changyin, dia tidak mau menjadi bahan rundungan kedua makhluk ilahi itu. Sudah cukup penyiksaan di ruang dimensi spiritual baginya.
Yi Xuemei dan Shen Lan sibuk mengumpulkan buah dan ikan-ikan untuk di masak. Walaupun kerap kali Feng'er mencibir kalau mereka terlalu bersusah payah, karena di ruang dimensi spiritual bisa mendapatkan segalanya. Tapi Yi Xuemei tetap kukuh karena takut sumber daya disana akan hilang.
Yi Changyin hanya melihat mereka semua dari atas pohon sambil memakan buah apel. Dia berbaring miring dengan paha Xuan Chen sebagai bantalnya. Kalajengking hitam itu jelas berada didekatnya. Dia selalu berpindah kesana-kemari, tapi tidak mau jauh dengan Yi Changyin.
"Nona Yi!! Tuan!! Jangan memadu kasih terus!" Teriak Heilong di bawah sana.
Yi Changyin yang tidak terima dia langsung terbangun dan menunjuk Heilong dengan tatapan yang membunuh. "Diam!! kau jangan banyak bicara!! Atau kau akan kujadikan sebagai naga panggang!" Ancamnya yang membuat Heilong menelan slipanya susah payah, lalu kabur ke arah teman-temannya, bersembunyi di bawah air. Kalajengking hitam ingin sekali tertawa puas.
"Sudahlah.." Ujar Xuan Chen sambil menarik kembali kepala Yi Changyin ke atas pahanya. Ekspresi gadis itu masih terlihat jelek.
"Xuan Chen, haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?" Tanya Yi Changyin terdengar bodoh, dia kembali mengunyah buahnya.
Xuan Chen mengusap kepala Yi Changyin dengan lembut, "panggil saja sesuai yang kau mau, itu tidak masalah bagiku."
"Kakak, seperguruan, ketujuh." Katanya seperti anak kecil yang sedang mengeja kalimat.
"Terserah padamu.."
Yi Changyin melemparkan buah apel itu kesembarang arah. Padahal masih beberapa gigit dia makan.Dia meraih tangan Xuan Chen dan mendekapnya di kedua tangan mungilnya.
Yi Changyin tersenyum senang, sedangkan wajah Xuan Chen berangsur memerah. Keringat perlahan muncul di pelipisnya yang putih. Mungkin jika kalajengking hitam bisa mengubah wujudnya menjadi manusia, dia akan memerah juga dan segera kabur dari sana.
Xuan Chen menghela nafas. Jika di pikir-pikir, Yi Changyin jarang sekali terlihat merasa canggung ketika bersentuhan dengan lawan jenis. Bahkan waktu pertama kali mereka saling mengadu pandang, dia tetap terlihat tenang. Sedangkan Xuan Chen berbalik seratus delapan puluh derajat dengannya.
"Xuan Chen.." Panggil Yi Changyin manja sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Pria itu masih tertegun, tapi di paksakan untuk menjawab. "A.. ada apa?"
"Haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?" Yi Changyin mengulangi pertanyaan yang sama.
Xuan Chen tersenyum. "Memangnya kenapa kalau kau memanggilku seperti itu?"
"Itu.." Yi Changyin tampak berfikir sejenak. "Itu karena sangat aneh.." Katanya dengan konyol.
Xuan Chen terkekeh pelan. "Kalau begitu.." Dia berbisik, "panggil saja aku 'suami', bagaimana?" Katanya yang membuat kalajengking hitam ingin muntah darah.
"Apa?!" Yi Changyin berseru, dia beranjak duduk lalu menatap tajam Xuan Chen, pria itu hanya tersenyum tanpa dosa. Tiba-tiba gadis itu tersenyum, terlihat mengerikan membuat senyuman Xuan Chen memudar.
"Kalau begitu, kita menikah saja!"
"Hah?"
Bukan hanya Xuan Chen dan kalajengking hitam yang terkejut, bahkan semua yang berada di bawah pun langsung menoleh ke arah Yi Changyin dengan ekspresi yang terkejut bukan kepalang.
.......
.......
.......
Note : Sekali lagi ya guys, bagi yang blm, jgn lupa baca bab tingkatan kultivasi dan pembagian dunia. Bukan apa-apa, supaya agak paham aja. Oh ya, disana juga ditambahin satu ras lagi. Yaitu ras Hantu. Karena menurut author gak seru kalo gaada hantu. Tapi gatau mau di munculin di novel ini, gatau engga. Hehe:V
Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1