
Setelah sampai di istana rahasia, Yi Changyin memerintahkan semua pelayan di sana pergi menyingkir Di dalam gelembung air, banyak mangkuk berisi racun yang telah kosong.
Lalu Xuan Chen yang berpakaian serba hitam tengah tak sadarkan diri di meja gazebo depan. Dan Wei Qiao yang menangis-nangis di sana.
Saat melihat kedatangan Yi Changyin dan Hua Mu Dan, Wei Qiao tampak menggedor-gedor gelembung. Tadi dia bisa masuk karena dilapisi oleh aura Yi Changyin. Tapi dia tidak bisa karena aura itu bersifat sementara.
Yi Changyin hanya memutar bola mata dengan malas, membuka sedikit permukaan gelembung dan masuk ke dalam bersama Hua Mu Dan.
Dia membaringkan tubuh Xuan Chen ke atas kasur. Menatapnya dengan gemas, ingin sekali memukulinya sampai mati.
Bibirnya tampak menghitam keunguan. Wajahnya pucat dan banyak akar-akar racun berwarna hitam seperti tato buatan. Warna kuku-kukunya senada dengan bibir. Jelas dia keracunan.
"Pintar sekali dia!" Gerutu Yi Changyin sambil memeriksa denyut nadinya. "Racun ini tidak akan membunuhnya tapi tetap saja akan keracunan." Dia menghela nafas. "Sebenarnya bukan pintar tapi bodoh!"
Hua Mu Dan hanya tertawa tanpa bersuara melihat kekesalan ratunya. Terlebih lagi, jika diteliti lebih lanjut, sebagian racun yang digunakan Xuan Chen adalah hasil pengembangan ayah Shui Jifeng. Mungkin karena ini ia marah.
Tak menunggu lama lagi, Yi Changyin menusuk titik titik tertentu dengan jarum perak. Kemudian memberikan penawar berupa setetes ramuan. Namun mampu membuat bibir dan kuku-kuku Xuan Chen kembali seperti sedia kala. Akar-akar di wajahnya menghilang.
Tak berselang lama Xuan Chen memuntahkan darah hitam, racun telah dikeluarkan. Lalu dia membuka matanya, terbangun dengan kepala yang pusing.
Namun ketika melihat bayang wajah Yi Changyin yang kesal, dia menjadi berbinar. Segera memeluk Yi Changyin dengan erat. Wei Qiao yang memperhatikan di ambang pintu hanya menunduk sedih.
Sementara itu Hua Mu Dan hanya tersenyum dan mengundurkan diri. Wei Qiao segera pergi dari sana ketika Hua Mu Dan mencapai pintu dan menutupnya.
Di dalam, Yi Changyin segera melepaskannya dengan kasar. Wajahnya terlihat tak bersahabat. Kesal karena racun milik ayahnya hampir habis.
"Jangan berpura-pura..." Tutur Xuan Chen dengan nada yang menggoda, lalu menyentuh dagunya lembut. "Kau pasti mengkhawatirkanku." Kedua alis dia angkat berkali-kali.
"Kau menggunakan racun ayahku!" Jawab Yi Changyin dengan ekspresi yang gelap.
Xuan Chen tertawa tak berdosa, dia mencium pipi Yi Changyin dengan lembut. "Aku akan menggantinya nanti."
"Mengapa kau mencariku sampai meracuni diri sendiri?" Tanya Yi Changyin tak memperdulikan ocehannya. Ekspresinya masih terlihat acuh, dingin tak seperti biasanya.
Walaupun pemandangan itu membuat hati Xuan Chen sedikit berdenyut, dia tetap memasang senyuman manis. Kemudian meraih tangan Yi Changyin dan menggenggamnya erat.
"Apakah kau mencintaiku?" Tanya Xuan Chen lembut, masih memandangi wajahnya.
Kini giliran Yi Changyin yang merasakan hatinya sakit. Tentu saja dia ingin mengatakan 'ya' sekeras mungkin sambil menabrak tubuh Xuan Chen dan memeluknya erat.
Namun racun itu bukan racun biasa. Selain meracuni tubuh, tapi meracuni pikiran. Itu berperang dalam hati. Membuat Yi Changyin tak tahan lagi dan segera bergegas melangkah dan pergi dari sana.
Baru saja beberapa langkah, Xuan Chen kembali menariknya. Hingga mereka berdua kembali berhadapan.
"Mengapa kau sangat membenciku?" Tanya Xuan Chen dengan nanar. Nada bicaranya berubah menjadi serius.
"Karena kau adalah Wu Yun."
"Apakah perjalanan kita selama ini tidak berarti bagimu?" Xuan Chen semakin mengeratkan cengkraman di bahunya. Matanya tampak memerah, mungkin ingin menangis.
Kemudian Yi Changyin menjawab dengan nada yang lebih pelan, "jika sudah tahu jawabannya... Mengapa masih bertanya?"
Dan pria itu benar-benar menitikkan air mata. Namun dia segera menyusutnya dengan cepat. Masih mempertahankan senyumannya yang tulus. Tuhan, dimana jati diri Wu Yun yang sebenarnya? Mengapa dia sangat berbeda?
__ADS_1
"Yin'er... Kita sudah melewati banyak hal. Kita bahkan pernah memiliki Jinmi walaupun hanya dalam waktu singkat. Apakah semua ini hanya mimpi sesaat bagimu?" Karena Yi Changyin hanya terdiam, dia menggoncang-goncangkan tubuhnya. "Yin'er?"
"Benar." Singkat padat dan jelas. Jelas-jelas menusuk hatinya.
"Mengapa?!!" Pria itu mulai berteriak. "Bisakah mimpi itu menjadi nyata?!" Xuan Chen mengangkat rahangnya, ingin Yi Changyin menatapnya.
Baru saja Yi Changyin mempertanyakan dimana jati diri Wu Yun yang sebenarnya. Dan sekarang, benar-benar telah muncul.
"Apakah aku harus melupakan mimpi kita berdua di masa depan? Apakah kau tidak ingat?! Bisakah kau membalas cintaku, Bai Suyue?" Dia terus meracau sampai mungkin kehabisan suara.
Namun ratapan yang Xuan Chen dapatkan hanyalah tajam. Tidak ada jawaban bahkan kepastian. Emosinya semakin meluap, melampiaskannya pada bibir ranum itu. Yi Changyin terbelalak dan berusaha melepaskannya.
Anehnya pria itu sangat kuat untuk menahannya pergi. Sentuhannya sangat menggila seperti akan memakannya bulat-bulat. Yi Changyin memberontak, namun dengan mudah Xuan Chen menyudutkannya ke tiang.
Mereka masih bertaut lama, tapi Yi Changyin tidak bisa pasrah saat itu. Terus memberontak tanpa lelah. Dan Xuan Chen sudah berani merobek pakaiannya. Tangannya yang nakal menyentuh dua bagian yang sensitif.
Hal itu membuat kekuatan Yi Changyin terangsang. Dia melotot dan segera mengerahkan energi spiritualnya untuk mendorong dada Xuan Chen hingga menjauh.
Pria itu terpental hingga menabrak tiang kasur yang besar dan berakhir di atasnya. Dorongan itu menggunakan energi spiritual besar, hingga membuat ia memuntahkan seteguk darah. Dadanya terasa sesak.
Yi Changyin segera merapikan kembali pakaiannya. Namun dia merasa bersalah sekaligus tak tega melihat Xuan Chen yang kesakitan. Dia berbalik tak berani melihatnya lagi.
Tangannya terangkat, memperlihatkan pil jamur Lingzhi yang telah dikembangkan oleh bawahannya. 'Apakah, aku harus meminum ini?' Pikirnya bingung.
Dia menoleh sesaat ke arah Xuan Chen. Pria itu masih memegangi dadanya yang sesak, masih sesekali batuk darah. Yi Changyin terisak merasa bersalah. Namun karena perasaan itu bola racun mulai menyakitinya.
Tak berfikir panjang lagi, Yi Changyin segera menelan pil itu. Tak lama kemudian rasa sakitnya hilang. Racun itu seperti lenyap dalam tubuhnya.
Namun dia tersenyum gentir, merelakan hal itu. 'Tidak apa jika harus menderita setiap malam.' Pikirnya sebelum akhirnya berbalik, melihat Xuan Chen dengan kondisi dan posisi yang sama. 'Asalkan kau bahagia.'
Kemudian Yi Changyin mulai melangkah menghampirinya dengan perasaan yang bersalah. Naik ke atas kasur dan menghampirinya, lalu mulai menyuntikkan energi spiritual untuk menyembuhkan luka dalam yang dia berikan.
Xuan Chen mengangkat kepalanya. Melihat wajah khawatir Yi Changyin, dia tersenyum. Kemudian menghentikan penyuntikan energi spiritual dengan mencengkram erat tangan gadisnya.
Yi Changyin hanya tertegun. Melihat Xuan Chen yang menghampirinya dengan senyuman tanpa luka. Dia ingin menangis, merasa bodoh telah menyakitinya.
Pria itu mulai menarik sebelah tangannya lagi, menyatukannya dan mendekapnya dengan erat. "Anggap saja tadi sebagai hukuman kecil darimu."
"Hukuman kecil?" Gumam Yi Changyin, tenggorokannya tercekat.
"Benar." Xuan Chen menyatukan kening mereka. Saling merasakan nafas hangat yang menangkan. Sangat dekat, Yi Changyin merasa sangat nyaman tanpa gangguan racun. Walaupun tahu tengah malam nanti dia akan disiksa oleh racun.
Yi Changyin hanya tertunduk. Sementara Xuan Chen menatapnya dari dekat.
"Maafkan aku..." Xuan Chen membelai rambutnya. "Mungkin aku mengerti, mengapa kau membenciku." Dia tersenyum. "Ribuan tahun lalu aku menghancurkan duniamu. Maafkan aku..."
Kata-kata lembut itu lebih menyakitkan dari bentakan, cacian dan sebagainya. Lebih menusuk-nusuk sampai ke sumsum tulang. Air mata Yi Changyin tak segan-segan lagi untuk turun saling mendahului. Dan tak disangka tangan Xuan Chen datang mengusapnya.
"Kau boleh hukum diriku. Seberat apapun. Mencambukku... Memukuliku... atau disuruh merenung di makam leluhur."
Yi Changyin tiba-tiba mengembangkan senyumnya mendengar hal itu. Namun garis alis yang tertekan tetap terlihat.
"Tapi, aku tidak mau dua hukuman itu darimu." Tambahnya, terdapat nada-nada ketakutan.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Yi Changyin pelan.
"Kau yang pura-pura membenciku dan..." Xuan Chen menelan salivanya susah payah. "Kau meninggalkanku." Pria itu kemudian memejamkan matanya. Wu Yun yang sekarang benar-benar takut kehilangan dirinya dan cinta yang ada di dalam hati.
Yi Changyin tersenyum. Kini giliran dia membuka matanya. Tangannya menyentuh pipi Xuan Chen. Pria itu memiliki kejutan di hatinya. Matanya terbuka, mereka saling menatap... Sangat dekat.
Mungkin maju sedikit lagi, bola mata mereka akan saling bersentuhan.
"Aku tidak akan menghukum dirimu seperti itu. Aku berjanji." Tutur Yi Changyin lembut.
Xuan Chen tersenyum senang, turut memegangi pipi Yi Changyin. "Apakah Yin'er mencintaiku?"
Mendengar pertanyaan itu mata Yi Changyin berkaca-kaca. Dia menjawab dengan suara yang tercekat, "tentu saja. Sangat... Sangat mencintaimu."
Tanpa di duga, Xuan Chen kembali mempertemukan bibir mereka. Kali ini melakukan dengan tulus, tidak ada paksaan atau penolakan.
Tangan Yi Changyin saling bertaut di belakang tengkuk Xuan Chen. Tangan Xuan Chen menahan kepalanya dari belakang. Hingga tangan-tangan itu bergerak liar.
Pakaian mereka telah menyingkir dengan mudah. tiba-tiba saja sudah berada di atas lantai. Mereka saling terjerat ketika terbawa arus kebahagiaan yang membuncah. Melupakan banyak hal dan hanya ingin waktu yang sekarang.
Mereka kini tenggelam dalam kesenangan yang tak pernah ada batas rasa puasnya. Bahkan kelambu pun mengerti, menutup dengan sendirinya. Di dalam sana, bayangan indah nan panas mereka telah menghiasi kelambu putih yang polos.
.......
.......
.......
Di sisi lain dunia, di tempat yang gelap. Istana alam iblis yang penuh dengan aura gelap. Di ruangan Raja iblis Zhang Bixuan, terdengar suara gebrakan meja. Udara di sana sangat suram, pertanda sang raja sedang marah.
Satu orang yang melaporkan, beberapa pelayan bahkan Aoyi Jinqi sekalipun bersujud karena kemarahan sang Raja. Mereka berseru, "tolong tenangkan amarahmu, yang mulia!"
Namun Zhang Bixuan kembali menghempaskan semua benda yang berada di atas mejanya. Semua orang hanya menghela nafas saat sang Raja melemparkan tubuhnya ke atas kursi. Auranya semakin suram dan menyeramkan.
Ketika mendengar laporan dari pesuruhnya, dia sangat marah. Bagaimana tidak, pesuruhnya melaporkan bahwa tidak ada permusuhan lagi di antara Bai Suyue dan Wu Yun.
Bahkan katanya mereka berpelukan seperti teman lama yang baru saja berjumpa, lalu pulang ke alam peri dengan damai. Bahkan Bai Suyue menempatkan Wu Yun di dalam istana pendamping rahasia.
Jika seperti itu, artinya perjuangan ia selama ini hanya sia-sia?! Ayolah! Dia melakukan banyak hal bahkan sampai mengirim Ratunya sendiri hanya untuk membuat mereka berdua bertarung!
Dan apa sekarang? Semuanya hancur, impian emasnya berubah menjadi abu. Dia melampiaskannya dengan melemparkan barang-barang. Para pelayan hanya menangis tanpa air mata melihat barang mahal yang hancur.
"Sebaiknya kita serang saja alam peri!" Katanya dengan angkuh dan mata penuh permusuhan. Namun sukses membuat Aoyi Jinqi terkejut. Dalam hatinya, wanita itu merasa tidak setuju.
"Walaupun ketahanan dan kekuatan mereka sangat kuat, aku tidak takut! Alam peri harus hancur!" Teriaknya yang langsung di sambut gemuruh dukungan semua orang, terkecuali Aoyi Jinqi yang masih berwajah tak enak. Ada beberapa hal yang mungkin mengganjal di hatinya.
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1