The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LV - Rencana Qi Xiangma


__ADS_3

Seseorang yang sedang berlari telah membangunnya dari tidur yang nyaman. Juga suara berisik dan berbagai candaan dari luar ruangan yang membuat suasana begitu ceria. Xuan Chen membuka matanya. Ruang dimensi spiritual ini sudah kembali menjadi siang seperti biasa.


Sengaja ia mengatur waktu beberapa jam untuk ilusi itu bertahan. Agar menambah kesan seperti malam-malam biasa di dunia luar. Dan saat terbangun, dia tidak menemukan sosok yang semalam kembali melakukan ritual dengannya.


Apakah dia hanya mimpi sudah menikahi gadis itu? Tidak mungkin ini hanya mimpi semata.


"Kau sudah bangun?"


Sapaan itu menyapa indra pendengarannya diiringi dengan seorang gadis yang menghabur ke dalam pelukannya. Dan Xuan Chen langsung mendekapnya dengan hangat.


"Aku sudah menyiapkan air hangat dan makan." Ujar Yi Changyin selagi mengetuk-ngetuk dada Xuan Chen dengan kukunya.


Helaan nafas terdengar di telinganya hingga membuat dia mendongkak. Mendapati Xuan Chen yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang aneh.


"Mengapa kau melakukannya?"


"Mengapa memangnya?" Yi Changyin balik bertanya.


"Aku bisa melakukannya sendiri.." Jawab Xuan Chen sambil mengusap pipi Yi Changyin.


Membuat Yi Changyin tersenyum. "Apakah tidak boleh melayani suaminya sendiri?"


"Bukan.."


Ucapannya terpotong ketika kedua tangan itu mengguncang pipinya dengan gemas.


"Apakah kau masih bermimpi?!" Tanyanya gemas, dan kini kedua tangan itu memukuli pipinya bertubi-tubi.


Tidak ada penolakan walaupun terasa panas. Dia hanya terdiam sambil tersenyum melihat tingkah gadis itu. Yang kini sudah berhenti dan menatapnya dengan heran.


"Tidak sakit?" Tanyanya yang seperti ingin Xuan Chen merasa kesakitan.


Namun tiba-tiba Xuan Chen berwajah menderita yang sangat memprihatinkan. Dia merengek, "itu sangat sakit! Raksasa di depanku sangat menyeramkan."


Sontak membuat Yi Changyin melotot dan memukul pundaknya. Tapi Xuan Chen malah terkekeh. "Apa aku terlihat menyeramkan?!"


Xuan Chen mendekatkan wajahnya, "benar sekali. Mungkin jika aku penakut, aku akan buang air kecil di sini."


Yi Changyin kembali memukul bahu Xuan Chen dengan kesal. Kemudian dia menarik telinga Xuan Chen hingga meringgis kesakitan. "Kau sangat pandai bersandiwara."


Yi Changyin melepaskannya dengan kencang. Dia berdiri selagi Xuan Chen mengusap-usap telinganya yang merah, masih dengan wajah yang terlihat begitu kesakitan.


"Lupakan leluconmu." Yi Changyin menarik paksa lengan Xuan Chen hingga pria itu berdiri. "Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu, aku sudah bilang kalau sudah menyiapkan semuanya. Termasuk makan kita."


Namun hal itu membuat Xuan Chen terbelalak. "Kau benar-benar melakukannya sendiri?! Yin'er, sudah kubilang, aku bisa melakukannya sendiri."


"Apakah kau lupa kalau kita sudah menikah?" Yi Changyin meraih lengan Xuan Chen dan menggoyang-goyangkannya. "Walaupun hanya sebatas menutupi apa yang terjadi malam itu, aku akan tetap menganggap pernikahan itu ada."


.......


.......


.......


Suara langkah kaki menggema di lorong gelap berdinding bata kasar. Penuh lumut yang berair dan licin. Di alasi lantai yang kering dan disinari oleh obor-obor sepanjang lorong.


Perlahan bayangan Xuan Chen muncul menembus kegelapan. Wajahnya terlihat kekuningan akibat pantulan api obor di lorong. Namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya wajahnya yang menguning akibat cahaya obor.


Hingga dia sampai pada ujung tempat yang tampak lebih luas. Udara dingin menyambut kedatangannya hingga ia sedikit menggidikkan bahunya.


Xuan Chen maju beberapa langkah. Mengetuk salah satu besi yang berdiri di sana. Hingga memunculkan suara yang menggema, membuat seseorang di dalamnya berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Pria itu membungkuk pada Xuan Chen, "kakak seperguruan.."


Xuan Chen tersenyum sinis. "Apakah menyenangkan mendekam disini?" Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi dingin. "Setelah apa yang kau lakukan pada gadisku?"


Qi Zhongma berjalan mendekati jeruji sambil tersenyum juga. "Aku tidak menyesal."


Membuat jari jemari Xuan Chen mengepal erat.


Dia melanjutkan dengan sarkartis dan sombong, "bagaimanapun, aku sudah sedikit merasakannya. Dan itu sangat.."


"Apa yang kau lakukan padanya belum apa-apa." Potong Xuan Chen tak kalah sombongnya.


Qi Zhongma mendongkak dan merasa curiga dengan pria di hadapannya. Pikirannya mulai menebak-nebak apa yang terjadi setelah Xuan Chen membawa gadis itu dan selagi dia di hajar oleh Shen Lan.


"Jangan senang dulu karena kau dapat sedikit menyentuhnya. Tapi, sejujurnya aku harus berterimakasih padamu." Xuan Chen terkekeh pelan kemudian berbalik. "Selamat tinggal adik seperguruan.. Hanya itu yang ingin ku sampaikan. Ku harap kau sadar diri untuk kedepannya."


Xuan Chen melanjutkan tanpa menunggu jawaban Qi Zhongma, "satu lagi, dan ini sebuah ancaman. Aku mungkin tahu siapa kau yang sebenarnya. Jadi, jangan pernah bermacam-macam karena kami bisa mengalahkanmu."


Setelah itu Xuan Chen berlalu begitu saja. Meninggalkan Qi Zhongma yang pikirannya mulai memanas. Dia menggertakan giginya dan mengeratkan kepalan tangannya. "Bisa-bisanya dia!" Geramnya dengan suara yang tertahan.


Namun di sisi lain, wajah Xuan Chen kian meredup dengan cahaya yang minim. Namun kentara sekali wajahnya terlihat murung. "Maaf Yin'er, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Karena sebenarnya aku sangat menyesal dengan kejadian malam itu. Tapi, di malam itu juga, aku menemukan sesuatu.."


Ingatannya kembali melayang saat hatinya memanas, wajahnya dan matanya memerah. Ketika melihat gadisnya dilecehkan dengan sangat keji. Dengan otomatis tubuhnya bergerak dan menghantam pria itu hingga punggungnya mencium tembok.


Lalu memberinya sedikit pemanas yang hampir saja melelehkan jantungnya. Dan di situ pula, dia merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh Qi Zhongma. Entah dia memang kebetulan merasakannya, entah mungkin tingkat kultivasi bintang telah membawanya pada kekuatan yang mengerikan.


Namun yang dia rasakan kali ini adalah.. aura alam langit.


"Aura alam langit.." Gumamnya dengan suara yang tertahan, sambil melihat lorong gelap menuju luar penjara dingin akademi.


"Dia.. yang menyerang Yin'er saat itu." Tambahnya sambil kembali bernostalgia saat dua orang bertopeng menyerang mereka di hutan. Lalu pergi ketika sang Phoenix dan sang Naga keluar dari sarang mereka.


.......


.......


.......


"Ini semua salahmu." Gumamnya dengan sinis. "Selama tiga tahun di tempat ini.. kau selalu membuang-buang waktu, bodoh sekali. Sekarang, dia telah mengetahuinya dan tugas kita berada di ambang kegagalan."


Kemudian wanita itu berhadapan dengan Qi Zhongma. "Sekarang harus bagaimana?"


"Qi Xiangma.. aku tidak menyesal dengan hal itu.." Jawab Qi Zhongma dengan suara yang tertahan.


"Kau memang bodoh!" Caci Qi Xiangma. "Mengorbankan waktumu demi wanita yang seharusnya kau bunuh." Gadis itu mendecak. "Aku hanya berharap dia mati secepatnya di kehidupan ini dan bereinkarnasi menjadi anjing. Agar pedang yang sedang dalam perjalanan itu dapat membunuhnya dengan mudah."


"Jika dia mati sekarang.. lalu bereinkarnasi menjadi putri kaisar langit, atau putrinya sendiri.. apakah dia akan mampu membunuhnya?" Tatapan Qi Zhongma terlihat menantang. "Dari amal perbuatan yang dia lakukan di kehidupan ini, aku tidak yakin dia akan bereinkarnasi menjadi binatang."


Qi Xiangma terkekeh pelan. "Amal apa? Amal mempermalukan alam langit?" Dia tertawa lagi. "Sangat lucu."


Qi Zhongma mengeratkan kepalan tangannya. "Dia mungkin ditakdirkan untuk menjadi bagian dari alam langit setiap kehidupan. Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya."


"Sekarang aku tanya, apakah kau senang melihat wanita itu bersujud pada langit dan bumi dengan pria lain?"


Membuat Qi Zhongma mendongkak, menatapnya dengan nyalang. "Tidak mungkin.."


"Aku masih saudarimu, aku mengerti apa yang kau rasakan. Dan aku telah menyiapkan rencana yang matang asalkan kau bersedia dan menjalankannya tiga bulan lagi, setelah kau di bebaskan dari penjara dingin ini." Jelas Qi Xiangma dengan seringai yang licik.


"Setelah itu kau akan membunuhnya bukan?" Tanya Qi Zhongma masih tidak percaya dengan kata-katanya.


"Bukankah kau menginginkan wanita itu bersamamu?" Qi Xiangma melambai-lambai tangannya.

__ADS_1


Membuat Qi Zhongma terkejut demi melihat sesosok wanita yang begitu di kenalinya. "Wei Qiao?"


"Dia siap membantu.." Ujar Qi Xiangma, masih dengan seringaian licik yang bertambahnya lebar.


.......


.......


.......


"Manipulasi dia.. walaupun dilarang, lakukanlah sebaik mungkin. Dijun, akan melindungi kita. Karena semua ini demi kedamaian seluruh alam."


Suara Qi Xiangma masih menggema di telinganya walaupun gadis itu sudah pergi sedari tadi. Gemaan suara saudarinya mendorong ia itu membentuk formasi rumit menggunakan tangannya. Energi spiritual mulai membakarnya seperti api. Dia bersila lotus.


Seluruh energi dia kerahkan hingga menembus kegelapan penjara dingin. Matanya membiru laut dan bayangan putih tembus pandang yang mirip dengannya keluar dari tubuhnya.


Qi Zhongma terpejam, seiring dengan terbukanya mata bayangan putih tembus pandang yang mirip dengannya itu. Tidak, bukan mirip. Melainkan itu adalah dirinya sendiri.


Bayangan putih tembus pandang itu menampilkan senyuman miring di bibirnya. Lalu tak lama melebur menjadi butiran kecil dan keluar dari penjara dingin tanpa halangan. Meninggalkan tubuh aslinya di dalam kegelapan yang sedang terpejam.


Jauh pergi keluar dari lorong gelap. Melewati dua penjaga garang yang sama sekali tidak menyadari sesuatu keluar dari penjagaannya. Melewati beberapa tempat yang penuh dengan kerumunan orang-orang. Tapi tak satupun menyadarinya.


Hingga sampai pada suatu pintu tertutup. Namun butiran putih itu dengan mudah menembusnya tanpa menimbulkan pergerakan apapun.


Butiran putih itu kembali berubah menjadi sosok bayangan tembus pandang, yang tentu saja dengan wajah Qi Zhongma. Melihat Xuan Chen dari kejauhan. Yang tampaknya dia sedang menyalin sesuatu dari sebuah gulungan menggunakan energi spiritual. Di tengah-tengah deretan lemari yang penuh dengan buku dan gulungan.


Dilihatnya Xuan kembali meletakkan gulungan itu di tempatnya dan hendak beranjak pergi dari paviliun penuh dengan ilmu pengetahuan itu.


Namun tiba-tiba tatapan Xuan Chen menjadi asing dan berbeda. Dia tersenyum miring kemudian beranjak pergi dari tempat ia berdiri. Menuju sisi lain bangunan yang di sukai kutu buku ini, sambil memakan sesuatu namun tidak menelannya.


Dia melihat punggung Yi Changyin yang sedang membaca sebuah gulungan di tangannya. Pria itu langsung menarik tangan Yi Changyin. Mendekapnya, lalu memberikan sentuhan menyengat yang bertubi-tubi.


Membuat gadis itu tertegun sesaat, namun segera menyingkirkan tubuh besar itu dari hadapannya. Terdiam selama beberapa saat, namun tiba-tiba Yi Changyin merasa mual.


"Hoek!"


Dia tertegun, kedua bola matanya membulat. Lalu menatap Xuan Chen yang berada di hadapannya penuh arti. "Apakah aku.. hamil?" Dia langsung menyimpulkan. Membuat pria di hadapannya bertingkah panik.


Buru-buru Xuan Chen menarik tangannya, memeriksa denyut nadinya. Dia mengangguk-angguk. "Sepertinya.. sepertinya.."


Kini berbalik Yi Changyin yang memeriksanya, entah kenapa dia merasakan denyut nadi lain yang hidup. Apakah dia benar-benar hamil? Bahkan dia sendiri tidak yakin.


"Yin'er, bukannya aku tidak menginginkan anak ini. Tapi, masa depanmu lebih berarti. Lebih baik gugurkan saja anak ini.. dari pada kau harus menanggung malu yang lebih besar.


Yi Changyin menatap Xuan Chen dengan tatapan yang tidak percaya. "Apa kau bilang?"


"Tidak ada alasan lain, aku hanya ingin kau hidup bahagia tanpa menanggung malu.."


Yi Changyin mulai mengeluarkan kipas Yin Zhenjie di belakang punggungnya. Lalu berubah menjadi belati tajam yang ramping dan mengkilap.


Saat itu pula, Xuan Chen melanjutkan kata-katanya, "jadi, lebih baik kau menggugurkan kandunganmu. Kumohon.."


Detik berikutnya Xuan Chen sangat terkejut karena tiba-tiba belati itu berada di atas pundaknya. Bersiap menyayat lehernya kapanpun tanpa ampun, bahkan detik berikutnya. Dia menatap Yi Changyin tidak percaya. Sedangkan gadis itu menatapnya penuh permusuhan.


"Jangan mencoba untuk menipuku, aku tahu kau bukan Xuan Chen.."


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2