
Setelah puas menguras air mata hingga kering. Yi Changyin berhenti menangis. Pria itu sedari tadi hanya terdiam mendengarkan isakan yang baru saja terhenti.
Gadis itu menjauhkan kepalanya hingga ia dapat melihat mata memerah dan sembab. Dan masih tertunduk tak berani menatap Xuan Chen.
"Apa yang terjadi?" Tanya Xuan Chen hati-hati sambil mengusap-usap pipinya dengan jari.
Yi Changyin hanya mengangkat bahunya berusaha acuh.
Xuan Chen tidak mempermasalahkan, ia kembali mengapit wajah Yi Changyin dengan kedua tangannya. Tapi gadis itu masih tak berani mengangkat pandangannya.
"Apa yang.."
"Aku tidak akan memberitahumu!" Ralatnya sambil memberenggut kesal.
Membuat Xuan Chen terkekeh dan semakin merapatkan capitan di pipinya. Hingga wajah Yi Changyin sedikit mengembung. Bahkan pria itu terus menggerak-gerakkannya hingga membuat emosi Yi Changyin meluap. Namun tidak meluapkannya dengan gerakan ataupun kata-kata.
"Kalau begitu.. kau tidak akan mendapatkan makanan." Goda Xuan Chen sambil menggerling ke arah rantang.
"Siapa peduli?! Aku bisa mendapatkannya sendiri!" Cibir Yi Changyin berusaha untuk tidak peduli dengan godaan Xuan Chen.
Namun sejurus kemudian desakan lembut mendarat di bibirnya, membuat Yi Changyin terbelalak. Dan setelah itu dia tertegun karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan Xuan Chen baru melepaskannya lagi ketika sudah kehabisan nafas. Menatap wajah merona yang begitu dekat dengan matanya.
"Ayolah! Kita sudah sering melakukannya, masih saja memerah malu." Bisiknya sambil menyunggingkan senyuman tipis.
Membuat Yi Changyin kembali memberenggut kesal dan memukul dadanya dengan keras. "Apa itu salah?!" Salaknya tidak terima.
Xuan Chen menghela nafas sambil mencubit kedua pipinya. "Yin'er.. berhentilah marah-marah." Kemudian ia berbisik sambil tersenyum, "kau akan cepat tua.."
Setelah itu Xuan Chen terkekeh yang memancing satu pukulan lagi dari Yi Changyin. "Dasar!!"
BUKK
Namun malah membuat pria itu semakin tersenyum jahil. Yi Changyin tak kuasa menahan pesona si tampan hingga wajahnya memerah dan hampir meledak. Membuat ia terpaksa memalingkan wajah sambil mencibir seraya menghilangkan rasa canggung.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Tiba-tiba Xuan Chen berkata dengan serius.
Ketika Yi Changyin menoleh tanpa berbicara, Xuan Chen melanjutkan kata-katanya. "Kau terluka?"
Yi Changyin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kikuk. Kemudian merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan tubuhnya yang di baluti hanfu putih dalam keadaan baik-baik saja.
"Lihat.. aku baik-baik saja.." Ulang Yi Changyin. Namun matanya telah menyiratkan rasa cemas walaupun samar.
Xuan Chen melebarkan senyumannya. "Maksudku luka dalam."
Sukses membuat Yi Changyin menegang. Namun sejurus kemudian Yi Changyin meringgis kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan hal itu semakin membuat Xuan Chen penasaran.
"Aku merasakannya pada malam itu." Tambah Xuan Chen dengan mimik wajah paling serius yang pernah ada.
Membuat lidah Yi Changyin diubah kelu olehnya.
"Aku tidak terluka sama sekali." Namun Yi Changyin tetap berusaha menjawabnya dengan lantang.
Xuan Chen mencubit ujung hidungnya dengan gemas. "Aku tidak mungkin salah.."
__ADS_1
"Tapi.."
"Aku menemukan sesuatu!!!"
Yeah! Teriakan seseorang dari jauh itu berhasil mengalihkan perhatian mereka. Sekaligus membuat keuntungan bagi Yi Changyin untuk menghindar dari pertanyaannya. Tidak peduli jika Xuan Chen akan mengintrogasinya di masa depan. Itu urusan belakangan.
"Ada sesuatu disana! Kita harus pergi dan melihatnya!" Seru Yi Changyin sambil bergegas pergi meninggalkan Xuan Chen tanpa memberikan kesempatan untuk menjawab.
Karena mungkin ia juga penasaran, Xuan Chen mengikuti langkah cepat gadis itu. Dan berjanji akan menanyakan hal tadi suatu saat! Dia berjanji!
Setelah berjalan tak jauh dari tempatnya tadi, kerumunan kecil yang beranggotakan murid dan penjaga. Juga guru-guru yang sedang mondar mandir di tengah-tengah mereka.
Kali ini Yi Changyin benar-benar penasaran.
Tak habis pikir, Yi Changyin mendorong teman-temannya demi membelah kerumunan kecil. Hanya karena ingin melihat apa yang berada di tengah-tengah. Begitupula dengan Xuan Chen yang mengikutinya dari belakang.
Tampak para guru yang berada di tengah-tengah lingkaran sedang memeriksa sesuatu dengan serius. Yang di lihatnya adalah kain yang penuh dengan noda bercak merah, kuning dan coklat. Bahkan ada bekas sisa terbakar.
Dia tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Lalu memutuskan untuk bertanya pada Fu Lianbing yang berada di sampingnya. "Adik seperguruan.. apa yang terjadi?" Bisiknya.
Fu Lianbing menoleh ke arahnya. Kemudian menjawab, "salah satu murid telah menemukan sebuah pakaian yang penuh dengan lumuran darah, kotor dan terkoyak. Yang katanya itu adalah milik Wei Qiao."
Yi Changyin tampak begitu terkejut kala itu. "Artinya.."
Fu Lianbing seperti bisa membaca pikiran Yi Changyin. Gadis itu mengangguk, "benar, mungkin kesimpulan yang di dapatkan kalau Wei Qiao telah meninggal dunia dengan cara mengenaskan." Fu Lianbing berkata dengan wajah yang ngeri.
Yi Changyin melirik ke arah Xuan Chen yang juga menatapnya dengan heran.
Masalah kali ini sangat aneh. Pakaian itu ditemukan di hutan gunung Tianjin. Sedangkan Wei Qiao di kirim ke hutan Diaoshi yang jauh dari jangkauan manusia. Tapi pakaian yang mereka temukan persis sama dengan yang Wei Qiao kenakan malam tadi.
Seakan semua ini terjadi karena disengaja.
Dan jujur saja, Yi Changyin sama sekali tidak merencanakan hal seperti ini.
Selepas dari hutan bambu, semua orang berkumpul di aula utama. Karena pencarian Qi Xiangma dan Qi Zhongma tidak berhasil, juga tidak ada jejak sejengkalpun yang tertinggal.
Seolah mereka berdua di telan bumi lengkap dengan petunjuk-petunjuk yang mungkin bisa semua orang gali.
Guru-guru saat itu sedang berkumpul entah membicarakan apa. Sementara ia hanya terdiam dengan badan yang tersandar pada tiang paviliun. Juga kaki yang tersampai di pagar paviliun.
Ia hanya mendesah saat Xuan Chen mendekatinya. Berdiri di samping tiang yang dia sandari. Sekaligus cemas dengan Xuan Chen yang bisa saja mempertanyakan luka dalamnya.
"Lihatlah masalah yang hanya akan sia-sia jika di selesaikan ini.." Gumamnya pada Xuan Chen. Seraya membuka topik dan menjauhkan dari pertanyaan yang dihindarinya.
Pria itu hanya tersenyum simpul.
"Astaga.. mereka akan sia-sia melakukan semua hal." Tambahnya dengan wajah yang miris.
"Sampai kapanpun yang mereka cari tidak akan ditemukan. Kecuali jika memang memiliki takdir bertemu.." Tambahnya lagi yang di sambut tawaan kecil Xuan Chen.
Pria itu mendekatkan kepalanya, dan telunjuk menunjukkan pada kumpulan para guru yang sedang berdiskusi sengit.
"Lihatlah guru Lao Jun.. Sepertinya dia sedang menyalahkanmu.."
Sontak membuat Yi Changyin terpaku pada Lao Jun yang sedang diliputi emosi. Benar saja pria itu kadang kali menunjuk-nunjuk ke arahnya penuh emosi.
Sejurus kemudian Yi Changyin tertawa. "Dan lihatlah orang yang sedang membela cinta sejatinya yang telah hilang.."
"Bagaimana kau tahu kalau Lao Jun menyukai Wei Qiao?" Tanya Xuan Chen kemudian, dengan wajah yang menyelidik.
"Itu sangat mudah!" Gertaknya tidak sabar.
__ADS_1
Membuat Xuan Chen melengkungkan kurva di bibirnya, seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu dengan cara merengek.
"Mengapa kau akhir-akhir ini sangat mudah untuk marah? aku takut kau cepat menua" Gerutunya sekaligus mengejek.
"Karen一!"
"Murid kesembilan!!"
Teriakan lantang penuh emosi Lao Jun membuat mereka berdua menoleh terkejut. Lengkap dengan para murid yang juga melihat ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
Yi Changyin sontak berdiri tegak sebelum akhirnya membungkuk sesaat. "Ada apa, guru?"
"Turun kemari!!" Perintahnya dengan urat-urat leher yang mengencang.
"Ba.. baik." Yi Changyin mengangguk kikuk. Kemudian bergegas pergi menuju tengah-tengah halaman akademi. Masih dengan tatapan penasaran teman-temannya.
Begitupun dengan Shen Lan dan Yi Xuemei yang turut memperhatikannya. Namun Yi Changyin sama sekali tidak berani menoleh ke arah mereka berdua.
Setelah sampai ia hendak berbasa-basi namun Lao Jun kembali menyalak dengan sinis. "Kau yang membunuh Wei Qiao?!"
Membuat semua orang terkejut mendengar tuduhan seperti itu. Membuat bisikan-bisikan kecil di antara semua orang. Juga kepalan Shen Lan yang mengeras karena tak terima. Namun Yi Changyin hanya menatap guru itu datar. Sama sekali tak terpengaruh oleh tatapan tajamnya.
Baru saja Yi Changyin akan menjawab, tiba-tiba Lao Jun memotongnya. "Murid ketujuh, Kau juga!!"
"Lao Jun!" Sergah tetua Ling Zhao tidak setuju. Sementara Xuan Chen sudah berada di samping Yi Changyin dengan santainya. Yang kerap kali memberi senyuman menggoda pada gadisnya.
"Berhenti menuduh orang yang tidak bersalah. Tidak mungkin mereka membunuh murid keempat belas!" Tegurnya.
Namun Lao Jun hanya mendecih tidak sopan. "Semua bukti mengarah padanya, tetua.. Aku tidak mungkin menuduh mereka tanpa alasan." Pria itu tetap pada pendapatnya. Seolah itu adalah hal yang paling benar di dunia ini.
Yi Changyin hanya mencibir diam-diam. Dia memang yang mengasingkan Wei Qiao dari akademi. Tapi tidak sampai membunuhnya.
Dan tidak mungkin dia bisa keluar dari hutan Diaoshi lalu terbunuh di hutan gunung Tianjin. Karena hutan Diaoshi bukan berada di alam fana. Tapi di alam baka yang penuh dengan energi supernatural.. dan saat itu hanya Feng'er dan Heilong yang dapat memasukinya walaupun penuh rintangan tak biasa.
Mungkin.. seseorang telah memanfaatkan hal ini untuk menjebakku.
Atau..
Ini memang disengaja untuk mengalihkan keadaan.
Tapi siapa yang berani?
Gaoqing Dijun kah?
Yi Changyin masih saja memikirkan hal itu walaupun di latar belakangi oleh suara debat halus antara Lao Jun dan tetua Ling Zhao.
"Apa memangnya bukti yang kau punya, Lao Jun? Jangan menjadi orang bodoh hanya karena bersikeras untuk kematian murid keempat belas yang belum jelas." Tetua Ling Zhao masih ingin menyadarkan pria kukuh itu.
"Pertama.." Tapi Lao Jun mulai membeberkan alasannya menuduh kedua orang yang di gadang-gadang sebagai murid terbaik akademi. "Murid kesembilan dan murid keempat belas terlibat konflik yang cukup sengit. Bahkan kerap kali bertengkar tanpa sebab. Bukankah itu sesuatu yang cukup untuk membuktikan jika murid kesembilan membunuh murid keempat belas karena dendam?"
Penjelasan Lao Jun di tertawakan oleh tetua Ling Zhao. Karena ia masih tidak percaya Yi Changyin dapat membunuh. Juga mengingat ia telah mengetahui Yi Changyin beserta kakaknya adalah putri penguasa klan rubah, membuat ia menjadi sedikit berhati-hati.
Lao Jun melanjutkan kata-katanya tanpa memberi kesempatan pada tetua Ling Zhao untuk memberi pendapat, "Kedua! Saat malam hari tadi, murid kesembilan dan murid ketujuh tidak ada di kamar mereka!"
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉