
"Kakak seperguruan, apakah kau benar-benar kekasih seperguruan ketujuh?" Tanya seorang gadis pada Yi Changyin di sela-sela mengunyahnya.
Membuat Yi Changyin yang hampir menyuapkan makanannya berhenti di tempat. "Berhenti membicarakan hal itu." Katanya dengan ekspresi yang kecut.
Namun ketiga wanita yang berada di sana malah menertawakannya diam-diam. Membuat ia meneruskan makan dengan wajah yang dongkol.
Malam ini mereka sedang makan malam bersama teman sekamarnya. Yi Changyin, Yi Xuemei, Aoyi Jinqi dan Li Qian. Hampir setiap waktu Li Qian menggodanya tentang Xuan Chen. Gadis itu tak berhenti berceloteh sampai Yi Changyin melotot seram ke arahnya.
Tapi kedua wanita yang lainnya hanya tertawa-tawa kecil. Mereka tak berniat mencampuri kata-kata Li Qian atau membela Yi Changyin. Membuat dia merasa seperti satu di antara seribu yang memiliki perbedaan.
"Kakak seperguruan, kau harus jujur kepadaku. Apa yang terjadi di antara kalian?" Tanya Li Qian lagi sedikit mendesak.
"Apakah aku harus memberi tahu semua seluk beluk kehidupanku padamu?" Tanya Yi Changyin dengan jengkel, bahkan ketika ia memasukan sayuran ke dalam mulutnya.
Namun Li Qian hanya menyengir kuda. "Tidak juga.. aku hanya ingin tahu tentang kau dan kakak seperguruan ketujuh."
"Sama saja kau ingin mengetahui..."
Ucapannya terhenti saat Yi Xuemei menyenggol lengan atasnya. Membuat melirik kakaknya sesaat, kemudian terbatuk-batuk. Dia pun segera meraih cangkir dan meminum airnya sampai habis. Setelah itu dia kembali makan dengan lahap.
"Ku ini kenapa?" Tanya Li Qian sambil memandangi wajahnya dengan penasaran.
Yi Changyin menaikan pandangannya tanpa mendongkak. Membuat aura mengerikan terasa oleh Li Qian saat itu. Dia hanya bisa memalingkan diri dan kembali memakan makanannya walaupun terasa sudah di telan.
Yi Xuemei dan Aoyi Jinqi saling melirik sambil membagi tawa kecil mereka. Dan di lubuk hati sang ratu iblis yang paling dalam, dia berkata, 'mereka sangat hangat. Selama hidup di alam iblis.. aku belum pernah merasakan kehangatan seperti ini.'
Sedingin apapun dia, sekeras apapun dia. Akan tetap merasakan kehangatan hati dari seseorang walaupun hanya sebesar biji jagung. Ketika Aoyi Jinqi tidak memiliki teman menyenangkan seperti para manusia, tentu saja dia akan merasakan hal yang berbeda saat ini.
Jika begitu, akankah dia rela meninggalkan alam manusia dan kembali ke alam iblis yang dingin?
Entahlah. Dia hanya ingin fokus untuk sekarang. Tidak ingin memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi di masa depan. Contohnya merindukan suasana malam ini.
Setelah selesai makan, mereka berempat untuk menghirup udara segar di halaman kamar. Menikmati aroma malam setelah air hujan begitu deras turun tadi. Sangat menyegarkan. Dan awan hitam bekas hujan telah menyingkir dan mempersilahkan mereka berempat untuk melihat pemandangan bulan.
Mereka bertiga saling berbicara mengeluarkan apa saja yang terlintas di otak. Tidak terkecuali Yi Changyin yang fokus pada gulungan di tangannya. Dia hanya sesekali bertanya atau menjawab kata-kata mereka. Tidak sepenuhnya bergabung.
"Sudah tidak terasa sekitar tiga bulan lagi kita akan berpisah. Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" Tanya Li Qian. Namun berikutnya dia sendiri yang menjawab, "orang tuaku bilang, aku harus tetap fokus berkultivasi atau masuk akademi lain. Dan itu sangat tidak masalah bagiku." Dia menjelaskan sendiri. "Bagaimana denganmu?" Tanyanya sambil menoleh ke arah Aoyi Jinqi.
Wanita itu tersenyum. "Aku akan tetap berkelana untuk melindungi seseorang sampai tugasku selesai."
Membuat Li Qian menatapnya kagum. "Wah, siapa yang akan kau lindungi? Apakah itu orang penting?" Gadis itu tampak penasaran. Membuat Yi Xuemei menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Benar, dia orang yang sangat penting. Namun aku tidak akan memberi tahu siapa dia."
Li Qian termangguk. "Aku mengerti." Gadis itu menoleh ke arah Yi Xuemei. "Bagaimana denganmu?"
Yi Xuemei berfikir sebentar. "Mungkin.. aku akan fokus berkultivasi. Aku ingin menikmati duniaku sendiri tanpa ada masalah apapun. Mungkin itu lebih baik." Pandangannya tampak menerawang. Dia menghela nafas, menatap Li Qian. "Setelah kembali dari sini, aku hanya ingin kehidupan yang tenang. Itu saja." Yi Xuemei tersenyum di akhir kalimatnya.
Li Qian mengangguk mengerti. Dia tak berniat untuk bertanya lebih jauh dan takut berakhir pada titik kesedihan. Lantas ia menoleh ke arah Yi Changyin yang masih fokus membaca gulungan bambu di tangannya.
"Bagaimana denganmu, kakak seperguruan kesembilan?"
__ADS_1
Yi Changyin menoleh dengan ekspresi yang bingung. "Bagaimana apa?"
Tapi Li Qian menjawabnya dengan sabar, "setelah dari akademi, apa yang akan kau lakukan?"
"Menikah." Jawabnya enteng yang membuat gadis itu terbelalak. Tapi membuat Yi Xuemei dan Aoyi Jinqi terbahak.
"Semuda itu kau menikah?!" Tanya Li Qian keheranan.
Tapi membuat ketiganya kembali terbahak. Karena bagaimanapun umur Li Qian masih seperti bayi di bandingkan kedua Dewi dan Ratu iblis itu.
"Kenapa kalian malah menertawakanku?" Tanya Li Qian sedikit jengkel.
Dan tiba-tiba semuanya berhenti tertawa ketika menangkap seseorang menghampiri mereka berempat. Karena sosok itu begitu di kenali ketiganya, mereka berdiri dan membungkuk.
"Guru Wu.." Mereka memberi hormat.
Kemudian Yi Xuemei bertanya padanya, "ada perlu apa guru Wu?" Sambil melirik kotak besar yang ada di tangannya.
Wu Shangyang tersenyum kepada mereka. "Aku ingin meminta murid ke sembilan untuk meletakkan ini di gudang." Katanya sambil menyodorkan kotak kayu besar itu pada Yi Changyin.
Kemudian ia melanjutkan, "sebenarnya aku hendak menyimpannya sendiri, tapi kami para guru sedang sibuk dengan sesuatu. Jadi, aku ingin meminta bantuanmu."
Tanpa ragu Yi Changyin mengangguk. Karena di hari-hari sebelumnya, dia yang paling senang membantu Wu Shangyang mengerjakan apapun.
Namun wajah Aoyi Jinqi tak menunjukkan persetujuan dari apa yang di titahkan guru itu. Dalam pikirannya semua mencurigakan. Saat Wu Shangyang pamit pergi, dan Yi Changyin pergi menuju gudang. Yi Xuemei dan Li Qian kembali mengobrol. Kini hanya ia yang diam terlarut dalam pikirannya.
Tiba-tiba hatinya menyuarakan firasat buruk. Dia segera menoleh ke arah jalan dimana Yi Changyin pergi. Nafasnya berderu kencang.
"Aku harus pergi dahulu!"
"Baiklah!" Balas mereka berdua.
.......
.......
.......
Yi Changyin sudah tiba di tempat yang sunyi dan sedikit minim penerangan. Pintunya yang lusuh dan bobrok, juga jaring laba-laba dimana-mana. Membuat kesan seram namun tak membuat dia mundur.
Ia hendak membuka pintu, namun suara aneh dan menggelitik terdengar dari dalam yang menghentikan niatnya. Suara aneh seseorang yang sedang melakukan hubungan intim dengan pasangannya.
Siapa malam-malam begini di gudang akademi?!
Yi Changyin menghela nafas pasrah. Jujur sana dia sangat tidak enak mendengar suara seperti itu walaupun kadang kali sering lolos dari mulutnya ketika bersama Xuan Chen.
Dia memutuskan untuk membalikan badannya dan pergi dari sana. Dari pada harus menunggu manusia-manusia keparat yang melakukan hubungan di area suci ini. Namun...
"Xuan Chen.. sudah.."
Suara menggelitik bak wanita jal*ng di rumah bordil tiba-tiba menusuk-nusuk hatinya. Menimbulkan rasa perih yang memanaskan mata. Jantungnya memompa darah dengan kencang hingga mendidih dan deru nafas yang tidak bisa dia kendalikan.
__ADS_1
Yi Changyin kembali berbalik ke arah pintu dan suara itu sudah menghilang menyisakan hening. Selangkah demi selangkah pelan Yi Changyin menuju pintu itu kembali.
Sementara itu Aoyi Jinqi sudah tiba dan mengetahui apa yang terjadi sejak tadi. Hatinya tiba-tiba ikut memanas bak merasakan apa yang di rasakan Yi Changyin. "Apakah.. kebahagiaannya akan berakhir?" Gumamnya dengan suara yang bergetar.
Pintu lusuh dan bobrok itu sudah di depan matanya. Yi Changyin masih terdiam dengan deru nafas dan degup jantung yang tak karuan. Namun ia segera mengumpulkan keberaniannya dan menendang pintu itu hingga hancur.
Dan pupil matanya membesar, garis alisnya menurun demi melihat pemandangan memuakkan sekaligus menusuk-nusuk hatinya. Walaupun pria itu sudah terpejam tapi kentara mereka... arrghh!
Brakk!
Kotak kayu besar jatuh dari tangannya hingga buku dan gulungan bekas di sana berserakan. Membuat kedua orang di atas dipan bobrok itu perlahan terbangun.
Wei Qiao tersenyum miring begitu membuka matanya.
Dan Xuan Chen.. pria itu begitu terkejut setengah mati ketika mendapati posisinya yang tidak senonoh. Juga dirinya yang tidak memakai pengikat pinggang dan roti sobeknya terlihat jelas. Bersama wanita yang dulu pernah menyulitkan gadisnya. Ia ingin marah, namun fokusnya tertuju pada satu orang yang mematung di ambang pintu.
Membuat ia tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Keadaannya sungguh kacau! Dia hanya ingat sebelum itu seorang guru dengan nama Wu Shangyang menyuruhnya untuk menyimpan barang di gudang. Namun berakhir tak sadarkan diri lalu terbangun dalam posisi mengacaukan ini!
Dia segera beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Yi Changyin dengan perasaan yang cemas dan bersalah. Melihat gadis itu sama sekali tak berkutik, dia semakin merasa bersalah!
"Yin'er.."
"BEDEBAH!!"
Namun tiba-tiba Yi Changyin berteriak dan berlari melewatinya. Menuju Wei Qiao yang baru saja terbangun. Mencekiknya dengan energi spiritual yang muncul di sela-sela jarinya. Tentu saja itu akan berkali-kali lipat lebih sakit dari cekikan biasa.
Membuat Wei Qiao hanya bisa mendesis, memekik dan bernafas satu-satu. Dia tidak membukakkan kunci yang mencengkram lehernya apalagi melawannya.
Ekspresi wajah Yi Changyin begitu menyeramkan dengan iris biru yang tiba-tiba bersinar di matanya. Auranya begitu kuat hingga membuat Wei Qiao tak kuasa menahan segalanya lagi. Namun dia tetap sadar. Bahkan Xuan Chen dan Aoyi Jinqi hanya menganga melihatnya.
Toh untuk apa mereka mencegah. Mereka tidak merasa kasihan pada Wei Qiao.
Terlalu besar mengeluarkan tenaga dalamnya, Yi Changyin mulai mengeluarkan kesembilan ekor di belakang punggungnya. Membuat Xuan Chen panik sendiri.
"Yin'er!!"
Dia berusaha menghentikan Yi Changyin. Menarik-narik tangannya. Namun amarah besar gadis itu berpindah pada tenaganya. Dia melepaskan cengkraman tangannya pada leher Wei Qiao, membuat gadis itu ambruk ke atas dipan. Sementara tangan Yi Changyin menghempaskan Xuan Chen hingga tubuhnya mencium tembok.
"Kenapa?! Kau ingin melindunginya?!!" Teriak Yi Changyin yang begitu menyakitkan hatinya.
Namun pria itu kembali bangkit demi kembali pada Yi Changyin. Namun terlambat, gadis itu sudah berlari ke luar dengan aura yang mengerikan. Membuat ia terbelalak dan ikut berlari untuk mengejarnya.
Di sana Aoyi Jinqi tampak kebingungan. Apakah dia harus mengejar Yi Changyin? Tapi entah kenapa dia ingin menyerang gadis yang terkulai lemah itu.
Sialan!
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi mengejar Yi Changyin dan Xuan Chen. Keadaan diluar jauh lebih berbahaya jika saja seseorang tengah berencana buruk. Dari pada harus mengurusi wanita yang hampir sekarat di atas dipan bobrok itu.
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉