
Keesokan harinya, tetua Ling Zhao pamit pulang pada kakek bulan. Walaupun kakek tua itu sempat menangis seperti anak kecil di depan Yi Changyin dan Xuan Chen. Katanya dia tak mau kehilangan keduanya.
Tapi bagaimanapun identitas dua murid akademi itu adalah seorang manusia, tidak mungkin untuk tetap tinggal di alam langit yang memiliki seribu aturan dan seribu satu hukuman.
Kakek bulan pun tidak bisa mengelak hal itu walaupun baginya menyedihkan. Sebelum pergi, kakek bulan memberikan dua bungkus berbalut kain merah bersulam emas pada Yi Changyin dan Xuan Chen.
Sekarang mereka sudah pergi menggunakan kereta yang sama dengan yang kemarin. Dan sampai tepat di gerbang akademi ketika malam hari dan disambut dengan beberapa tetua dan guru.
Malam itu belum larut, tapi terasa sunyi bagi Yi Changyin dan Xuan Chen yang sedang berjalan menyusuri jalannan menuju asrama. Sayup-sayup terdengar ribuan sapu lidi yang tidak berhenti bergesekan dengan jalan. Lalu samar-samar terlihat seseorang yang sedang membungkuk lengkap dengan sapu yang digunakannya.
Siapa lagi kalau bukan Wei Qiao yang sedang menjalani hukumannya. Di bawah lampu jalanan dengan kecerahan yang minim.
Dia langsung mendongkak terkejut ketika merasakan dua orang yang mendekat ke arahnya. Barulah penampakan wajahnya terlihat yang membuat Yi Changyin menutup mulutnya, hampir tertawa. Bahkan Xuan Chen pun berpaling untuk mencegah rasa ingin tertawanya.
Tampak Wei Qiao sangat kusut dengan baju yang compang camping dan noda hitam di mana-mana. Rambutnya acak-acakan seperti sehabis di jambak. Penampilannya sangat miris dan bukan seperti nona muda kebanyakan.
Dia merenggut kesal sambil melemparkan sapunya. Dengan kaki yang terhentak dan tangan yang menunjuk, dia menghampiri Yi Changyin dengan tatapan seperti ingin membunuh seribu nyawa. "Kau menertawakanku?!" Tanyanya geram. "Dasar tidak tahu malu! Kau yang membuatku seperti ini!"
Xuan Chen berwaspada dan menariknya untuk menghalangi Yi Changyin dengan tangannya. Membuat Wei Qiao menoleh ke arah Xuan Chen dengan tatapan yang nanar. Tapi Yi Changyin malah menyingkirkan tangan Xuan Chen dan menghampiri Wei Qiao dengan senyuman miring.
Berhenti tepat di samping telinga kanannya. Lalu berbisik, "lain kali, bertindaklah dengan hati-hati."
Wei Qiao menoleh tajam ke arahnya, tapi Yi Changyin segera pergi dengan di susul oleh Xuan Chen. Wei Qiao menatap punggung mereka berdua yang kini berjalan beriringan. Kentara jelas api emosi menyala di matanya.
"Kau yang bertindak gegabah!" Gumamnya dengan suara yang tertekan. "Yi Changyin.. ingatlah, aku punya seribu satu cara untuk menyingkirkanmu!" Dia mengakhiri ucapannya dengan seringaian dingin.
.......
.......
.......
Yi Changyin masih menempel pada tangan kokoh itu walaupun sudah sampai pada persimpangan. Saat itu Xuan Chen terpaksa harus berhenti beberapa saat sambil melihat wajah polos yang bersinar di bawah cahaya rembulan. Matanya yang besar berkilau membalas tatapannya.
"Ada apa? Kau harus segera tidur. Kakakmu akan mencemaskanmu." Xuan Chen memberi nasihat yang seperti biasa, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
"Tidak mau, aku lapar.." Rengeknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Xuan Chen. Membuat pria itu tersenyum.
"Kau kembali lah dulu. Aku akan mengantarkan makanan untukmu.."
"Tidak, aku ingin memasak bersamamu. Yaa?" Ujar Yi Changyin sambil menampilkan wajah yang selucu-lucunya. Menarik tangan pria itu untuk menyentuh pipinya.
Yi Changyin berkerut heran dan melirik tangan yang kini menempel di pipinya. Wajahnya yang putih menjadi kemerahan bak tersengat lebah, juga membuat dia terdiam. Terutama saat matanya bergerak bertemu dengan pupil hitam yang membesar di depannya.
Sepi, suara jangkrik malam dan desiran angin mungkin tidak terdengar lagi bagi keduanya. Yang telah terbang setinggi mungkin hingga merasa dunia ini hanya ada mereka berdua.
Tanpa sadar wajah itu semakin mendekat, hendak menyatukan sesuatu yang pastinya akan membuat semakin terbang tinggi. Yi Changyin hanya terdiam mengikuti alur, sama sekali tidak berniat untuk menghindar. Tapi sebuah insting mengalahkannya.
__ADS_1
Satu inci lagi saling menyatu, Xuan Chen berbalik dengan ekspresi yang terkejut. Keadaannya seperti kembali turun ke dasar bumi yang paling dalam, membuat dia berwaspada dan sangat mendebarkan.
Sesuatu yang samar mendekat ke arah mereka, mengarah pada Yi Changyin. Membuat gadis itu terbelalak dan hendak mengeluarkan energi spiritual tapi benda hidup yang tegap itu menghalanginya.
Hingga sesuatu yang hitam itu menabrak punggung Xuan Chen dengan keras sampai seteguk darah dia muntahkan di balik punggung Yi Changyin.
"Xuan Chen!!" Teriak Yi Changyin cemas. Lalu mendorong pundaknya untuk melihat keadaan pria bak perisai dadakan itu.
Bibirnya pucat dengan lelehan cairan merah mengalir, Yi Changyin menyentuh pipinya dengan lembut. Mata yang bersinar itu menatap Xuan Chen dengan nanar. Tidak, ini bukan waktunya untuk menghayati.
Tatapan Yi Changyin berganti dengan cepat, menjadi dingin, kejam dan ingin menerkam. Dia menatap kebelakang punggung Xuan Chen. Ternyata sosok hitam itu masih terdiam tak jauh darinya. Beberapa saat lalu bayangan hitam bermata merah menyala itu seperti terpental oleh sesuatu, makanya dia menjauh.
Hendak menyerang kembali, Yi Changyin dengan sigap melawannya dengan energi spiritual. Tapi nihil, energi sebanyak itu tembus di tubuh bayangan hitam tak berbentuk itu. Sialnya dia masih saja melaju kencang menuju dirinya berada.
Sontak membuat Yi Changyin menghindar ke samping. Hampir menuju Xuan Chen, tapi dia dengan sigap menghilang dari sana dan muncul di tempat lain. Begitu sampai seterusnya, bayangan hitam itu terus menerus mengejar. Tanpa bisa di lawan karena akan percuma.
Hanya bisa sesekali mengaktifkan perisai spiritual untuk menghadangnya dan melemparnya kebelakang. Tapi itu sungguh menguras. Hingga ada seorang murid laki-laki yang tak sengaja lewat ke sana, dia terbelalak.
Tidak niat membantu, karena tidak mungkin dia bisa mengalahkannya jika 'mereka berdua' tidak bisa. Dia berlari ke arah suatu tempat ujung dengan tembok yang menjulang. Tergantung satu gong dan pemukulnya.
Karena teringat dengan perintah para guru, jika melihat sesuatu atau merasakan hawa siluman. Siapapun harus memukul gong itu dengan keras sambil berteriak-teriak. Mendorong dia untuk segera memukul gong itu hingga menimbulkan suara nyaring yang begitu bising. Membuat siapapun langsung terbangun dari tidurnya.
Selagi Yi Changyin dan Xuan Chen masing beradu kecepatan dengan bayangan hitam, murid itu berlari-lari kesana kemari sambil berteriak-teriak,
"ADA SILUMAN!! ADA SILUMAN!!
"MENYERANG KAKAK SEPERGURUAN KETUJUH DAN KESEMBILAN!!"
'JENG JENG JENG!!'
Keributan di luar tidak mungkin membuat telinga mereka tertutup selalu. Baik yang sudah tidur, baru terlelap dan belum tidur langsung menuju keluar karena mereka tahu tanda apa itu. Dari berbagai arah, kediaman guru dan asrama para murid, berhamburan keluar menuju tempat yang di rasa memiliki aura kuat dan hitam.
Bisa-bisanya siluman itu menerobos masuk!!
Sementara Yi Changyin dan Xuan Chen tidak memperdulikan suara bising itu. Menghadapi makhluk aneh ini lebih baik dari pada harus memperhatikan hal yang tidak berguna. Entah berapa kali berputar hingga siluman itu membawa keduanya hampir menuju aula utama.
"Siluman ini menyembunyikan bentuk aslinya.." Ujar Yi Changyin saat mereka berdua tak sengaja berpapasan.
Xuan Chen bisa mengingat-ingat dengan baik kalau serangan dari gadis itu lolos begitu saja. Jika siluman itu memiliki wujud aslinya, dia tidak akan bisa menerima serangan Yi Changyin tanpa terluka. Pasti akan langsung ambruk setelah di hantam oleh energi spiritual Yi Changyin.
Jelas, apa yang di katakan Yi Changyin sangat tepat. Siluman bisa saja menyembunyikan tubuh asli mereka dan berkeliaran tanpa arah yang jelas. Tapi memiliki tujuan untuk mengacaukan alam manusia fana. Dengan tubuh bak asap yang tak berbentuk dan dapat di tembus. Juga hitam seperti bayangan.
Jenis seperti ini sangatlah sulit untuk di kalahkan. Seseorang harus menemukan dimana tubuh aslinya yang sedang tertidur nyenyak. Ketika tubuh aslinya terganggu, maka siluman itu akan tertarik kembali secara paksa.
Tapi dimana dia?
Tidak ada waktu yang harus di buang untuk berfikir sampai berkelana kemana-mana. Siluman itu akan terus menyerang sampai target jatuh tanpa nyawa yang tersisa. Entah dia atau Yi Changyin yang ditargetkan.
__ADS_1
Tampak wajah Yi Changyin sudah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan energi spiritual untuk berpindah-pindah tempat tanpa melangkah dan membuat perisai spiritual. Dan siluman itu benar-benar tidak memperdulikan Xuan Chen.
Sepertinya.. yang dia inginkan adalah Yi Changyin. Aneh! Seperti seseorang telah mengendalikannya secara diam-diam.
Dia meloncat setinggi mungkin untuk menyusul keduanya yang kini sedang berada di atas atap. Siluman itu sudah bersiap-siap untuk menyerang dengan kekuatan penuh.
Sementara Yi Changyin sudah di kelilingi dengan aura biru dari elemen yang dia kuasai. Membuat anak rambut yang menghiasi keningnya berterbangan kebelakang. Di tambah dengan aura dari mata yang kian membiru bak laut. Sangat dingin.
Itu adalah pemandangan pertama kali yang di lihat kerumunan orang. Mata mereka membulat dengan iris yang mengkilat-kilat karena pantulan dari energi spiritual Yi Changyin
Hanya Xuan Chen yang dapat merasakan sesuatu yang tak biasa menguar di udara. ketika kedua telapak kakinya mendarat di atas atap paviliun, dia menatap Yi Changyin yang hampir mengeluarkan semua sihirnya untuk melawan siluman tanpa raga itu. Dan pastinya akan membongkar tubuh aslinya.
'Gawat! Changyin akan mengeluarkan wujud aslinya untuk melawan siluman itu!' Pikir Xuan Chen waswas.
Sementara di sisi lain, Shen Lan dan Yi Xuemei datang membelah kerumunan. Baru saja dia menutup matanya dengan damai, tiba-tiba keributan membuat rasa kantuknya itu menguap di udara, menghilang tanpa jejak. Terutama saat mendengar 'Kakak seperguruan ketujuh dan kesembilan' di mulut murid yang ribut sendiri itu.
Saat semua orang hendak membantu dengan energi spiritual masing-masing, tiba-tiba pemandangan di depannya bak menghentikan setiap detikkan waktu.
Tanpa takut dengan resiko kematian, Xuan Chen menarik kerah baju Yi Changyin yang membuat gadis itu terpental kebelakang. Sementara siluman itu sudah melesat ke arahnya. Membuat dia buru-buru membentuk energi spiritual yang menghasilkan perisai pelindung.
Mendadak? Tentu saja ini sangat berbahaya. Xuan Chen membentuk perisai itu berlangsung selama beberapa detik. Kekuatannya akan lebih lemah bahkan bisa langsung hancur jika pertahanan si empunya kurang memadai.
Untung saja Xuan Chen selalu berlatih dengan giat. Walaupun belum bisa menandingi rubah kecilnya sendiri.
Yi Changyin masih terbatuk dengan debu-debu yang beterbangan di sekitarnya. Ternyata dia terpental jatuh sampai ke dalam semak belukar yang sangat kotor.
Yi Changyin berdiri dan membersihkan pakaiannya dengan tangan. Namun mengingat sesuatu sedang terjadi di aula utama. Dan cahaya-cahaya spiritual yang terpancar di sana, Yi Changyin sudah tidak sabar lagi. Dia melompat tinggi menuju tempat tadi dia di lempar sambil bersungut-sungut,
"Xuan Chen menyebalkan!! Bisa-bisanya dia! Dia akan terluka!!"
Semua orang di aula utama sudah bersiap dengan energi spiritual dengan penuh, mereka arahkan kembali pada Xuan Chen untuk membantu. Shen Lan pun melompat kemudian terbang menyusul Xuan Chen.
Tapi bagaimanapun dia bukan pria kuat dengan ribuan cara untuk menaklukkan musuh. Dia masih pemula dan bahkan masih bergantung pada rubah yang bernama Yi Changyin. Aksi nekat tadi sangat membayakan nyawanya.
Sungai kecil berwarna merah mengalir keluar dari mulutnya. Siluman tak bertubuh itu terus menerus mendesak dengan ganasnya. Mata merah yang menyala dan berapi-api itu semakin menyilaukan. Kekuatan yang semakin besar, membuat tangan Xuan bergetar karena sudah tak kuasa menahannya lagi.
Tiba-tiba.. "DUAARR!!"
Bertepatan dengan Yi Changyin datang. Warna merah ledakan itu sangat jelas terlukis di matanya yang membola. "XUAN CHEN!!"
.......
.......
.......
Btw, up nya dikit dulu aja ya. Akhir-akhir ini author gak enak badan. Pusing-pusing kunang-kunang dan hidung meler, ketambah puasa lagi🤧
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉