
Pada awal musim dingin, suhu di bumi mengalami perubahan yang begitu besar. Salju-salju putih dan tebal yang turun tadi malam mulai menutupi sebagian atap-atap dan pohon. Puncak dan lembah-lembah gunung Tianjin yang hijau dan asri berubah menjadi putih yang dingin.
Para murid berhamburan keluar lengkap dengan jubah penghangatnya yang berwarna warni. Katanya mereka akan mengantar dua orang teman untuk pergi berkultivasi tertutup di salah satu gua lembah gunung.
Mereka tidak tahu kalau Yi Changyin dan Xuan Chen sebenarnya hanya akan bersembunyi, lalu berkultivasi dalam ruang dimensi spiritual. Mengingat pria itu tak memberi tahu siapapun tentang tempat istimewa miliknya.
Lalu Feng'er, Heilong atau yang lainnya akan memantau di luar, takutnya ada seseorang yang menjenguk mereka dan semuanya akan kacau.
Setelah berpamitan ke semua guru dan tetua, mereka pergi meninggalkan akademi. Dengan Shen Lan yang di tunjuk untuk menemaninya. Untung Shen Lan! Sebelum pergi, tentu saja harus berpamitan dengan teman-temannya.
"Kakak seperguruan. Kalian akan pergi berdua?" Tanya Zhu Guhuo tiba-tiba dalam kerumunan. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Bukannya kultivasi tertutup, kalian malah akan berkultivasi ganda bukan?" Katanya lagi yang memancing emosi Yi Changyin. Tapi murid-murid di sekitarnya hanya cekikikan tak berdosa.
"Kau?!" Gadis itu hendak maju tapi Xuan Chen menahan tangannya.
"Biarkan saja.."
"Bicara sekali lagi aku akan mencukur habis rambutmu!!" Serunya dengan wajah yang memerah.
Zhu Guhuo pura-pura takut padanya. Dengan wajah yang menjengkelkan. "Kakak seperguruan kesembilan sangat menyeramkan.."
"Kau!!"
"Cukup!" Xuan Chen menarik Yi Changyin ke belakang punggungnya. Gadis itu hanya terdiam sambil menatap Zhu Guhuo dari kejauhan dengan tajam. Membuat pria itu berpura-pura tidak melihatnya dan berpaling ke arah lain.
Namun tiba-tiba, Qi Zhongma datang menembus kerumunan dengan kotak kayu mengkilap di tangannya. Semua orang berkerut heran. Namun ketika pria itu menghampiri Yi Changyin, semua orang diam-diam membuat prasangka.
Hal itu membuat Xuan Chen berwajah tidak senang dan memilih untuk memalingkan wajah ke tempat lagi. Ingin menolak kedatangan Qi Zhongma, tapi apa hak nya dia? Tentu dia berhak, tapi dunia ini masih belum mengetahui hubungan istimewa mereka.
"Kakak seperguruan?" Tanya Yi Changyin terdengar ramah.
"Bawalah ini." Qi Zhongma menyodorkan kotak kayunya pada Yi Changyin.
Yi Changyin menerimanya walaupun masih merasa ragu, takut pria di sampingnya marah. Bagaimanapun hari itu.. mereka sudah memutuskan sesuatu. "Apa ini?"
"Kau buka saja saat di tempat pertapaan nanti." Jawab Qi Zhongma dengan lembut.
"Ba.. baik."
Shen Lan yang melihat pertunjukan ini hanya tersenyum penuh arti. "Sudahlah, kita akan terlambat."
Setelah berpamitan, mereka bertiga pergi menuruni lembah. Tidak perlu menggunakan apapun, karena di lembah dekat puncak ada banyak sekali gua yang memiliki energi spiritual melimpah.
Setelah tak jauh berjalan, tiba-tiba Feng'er datang ke arah mereka. Tapi yang di sapa hanyalah Yi Changyin, "ibunda.."
"Aku tak pernah menyangka kalian sudah menghasilkan anak sebesar ini." Cetus Shen Lan tiba-tiba yang membuat keduanya terbelalak.
"Apa yang kau katakan! Ini bukan anak kandung!" Cerca Yi Changyin sambil memukul lengan Shen Lan. Tapi pria itu malah tertawa kecil.
"Oh ya?"
"Feng'er hanya mengaku-ngaku aku sebagai ibunya!"
"Terserah.." Jawab Shen Lan datar.
"Kau?!"
Namun pertengkaran mereka berakhir dengan suara Feng'er, "aku menemukan dua mulut gua tak jauh dari sini. Tapi.. keduanya terhubung dari dalam." Lapornya pada Xuan Chen.
"Bagus.. Kita pergi kesana." Jawab Xuan Chen menyetujui.
__ADS_1
"Hmph!" Yi Changyin pergi lebih dahulu dengan kaki yang dihentak-hentakkan sambil menyeret Feng'er di sampingnya. Dia sangat kesal karena hari ini banyak yang menggodanya. Termasuk kakak dan bunga rohnya sendiri!
"Changyin, kau akan melakukan pelatihan ganda?'
Tiba-tiba kata-kata kakaknya mengiang di kepalanya. Membuat dia terus bersungut-sungut tidak jelas. Namun bagi Feng'er kentara kalau Yi Changyin berkata, "sial! Sial! Sial!"
Feng'er bingung harus mengucapkan kata-kata seperti apa untuk menangkan Yi Changyin. Selagi telinganya mendengar sayup-sayup suara Xuan Chen dan Shen Lan yang sedang mengobrol.
"Ngomong-ngomong, aku belum bertanya tentang beberapa Minggu lalu." Ujar Xuan Chen pada Shen Lan.
"Apa?"
"Aku waktu itu mabuk di gudang, bagaimana aku bisa berada di kamarku?" Tanya Xuan Chen ketika teringat kejadian berminggu-minggu lalu. Dia belum sempat bertanya karena memfokuskan berlatih agar saat kembali tak tertinggal begitu banyak.
Shen Lan hanya tersenyum mengejek sambil membayangkan kejadian hari itu. Pertama dia menyeret Xuan Chen keluar dari gudang. Lalu mengeluarkan sulur-sulur tanaman yang berada di dekatnya. Membawa tubuh Xuan Chen menuju kamarnya secara diam-diam. Dan dia harus mati-matian menahan diri agar tidak bersuara.
"Maafkan aku merepotkanmu." Ujar Xuan Chen setelah mendengar pengakuan dari Shen Lan.
"Tidak apa. Tapi, itu memang salahmu sendiri karena tidak mau mendengarkanku."
Xuan Chen menghela nafas. "Aku hanya sedikit frustasi jadi meminum anggur yang terlihat menarik rasa penasaranku. Itu membuatku tenang, tapi setelah bangun semuanya kembali teringat. Bahkan sampai sekarang, besok dan tentunya untuk seterusnya."
"Anggur tidak bisa membuatmu melupakan semua yang kau lihat. Semua akan kembali seperti semula ketika kau sadar. Jadi, tidak ada gunanya sama sekali.." Jelas Shen Lan.
"Kau benar."
"Sama seperti takdirmu. Walaupun kau mati, ketika hidup kembali, itu semua tak akan terhindarkan.."
.......
.......
.......
Setelah berjalan lurus, mereka sampai di ujung. Benar saja, terdapat jalan lain yang pastinya menuju luar gua. Tak lama mereka pun masih ke ruang dimensi spiritual.
Tapi mereka langsung di sambut dengan pemandangan Heilong yang sedang mengikat semua kaki kalajengking hitam itu menjadi satu. Yi Changyin terbelalak dan lari menghampiri Heilong dengan amarah yang mengebu. Feng'er hanya meringgis melihatnya.
"Oh, jadi seperti ini yang kau lakukan pada hewan kecil tak bersalah ini! Semburnya sambil memukul kepala Heilong.
Membuat sang Naga meringgis dan segera bersujud di depan kakinya.
"Dimana singa api?!" Tanya Yi Changyin terdengar menggelegar di telinganya.
"Di.. di.. hutan persik." Jawab Heilong bergetar. Entah kenapa dia sangat takut pada Yi Changyin. Seperti pada ibunya sendiri.
Jawaban Heilong sontak membuatnya melangkah ke belakang bangunan, menuju hutan persik. Dengan perasaan tidak enak kalau kedua hewan ilahi itu memanfaatkan mereka untuk kesenangan pribadi. Merundung misalnya.
Sementara itu, Xuan Chen menepuk-nepuk pundak Heilong. "Lain kali tidak boleh melakukannya lagi. Atau ratu gunung berapi hidup akan segera meledak-ledak." Katanya sambil memberikan sedikit humor, tentu saja membuat Heilong tertawa kecil.
Entah apa yang terjadi jika Yi Changyin mengetahui dirinya di sebut dengan ratu gunung berapi hidup yang kapan saja bisa meledak. Terutama ketika ada yang mengganggunya. Tapi nyatanya Yi Changyin jarang marah-marah.
Selagi Xuan Chen melepaskan ikatan kalajengking hitam, Yi Changyin berlari menuju hutan persik. Mencari-cari keberadaan singa roh api yang sudah lama tak dia lihat. Setelah berkeliling, akhirnya Yi Changyin menemukannya.
Singa roh api malang korban perundungan itu sedang berbaring di bawah pohon dengan tubuh yang bergetar. Tubuhnya menyusut menjadi seukuran singa pada umumnya. Yi Changyin menghela nafas dan mengutuk Feng'er dan Heilong secara bergantian dalam hatinya.
Ia segera menghampiri singa roh api Berjongkok di hadapannya lalu mengusap-usap lembut bulu singa itu. Tapi bulunya terasa begitu dingin. Usapan lembut itu membuat singa roh api terbangun dengan waspada. Namun ketika melihat wajah Yi Changyin, dia mendengkur khas kucing yang sedang bermanja.
Singa roh api itu mengambil inisiatif untuk bersandar di pangkuan Yi Changyin. Entah apa yang terjadi jika Xuan Chen mengetahui hal ini.
"Apakah kau di siram oleh air?" Tanya Yi Changyin yang mendapatkan anggukan dari singa itu.
__ADS_1
Yi Changyin sedikit mengeram. Bisa-bisanya mereka begitu kejam. Singa ini memiliki unsur api dalam bulu-bulunya. Sangat tidak cocok dengan air. Apalagi sampai menyiramnya.
"Sepertinya, kau harus menyerap energi api bersamaku di gua api spiritual. Ya?" Tambah Yi Changyin yang membuat singa itu mengangguk.
Tak lama, kemudian Yi Changyin mengambil kotak yang di berikan Qi Zhongma tadi. Setelah membukanya, nampak batu berlian yang berkilap dan penuh dengan energi spiritual.
"Sebenarnya berlian seperti ini sangat banyak di dasar kolam." Gumam Yi Changyin sambil menatap batu permata itu.
"Sudahlah.. aku akan menghargai pemberian temanku." Tambahnya sambil memasukkan kembali berlian itu ke dalam kotak. Tampaknya Qi Zhongma memberikan berlian spiritual yang sangat baik untuk berkultivasi. Hanya saja, berlian semacam itu telah banyak berserakan di dasar kolam ikan.
Sayang sekali Qi Zhongma!
Tak lama kemudian, Yi Changyin mengajak singa roh api menuju gua api spiritual. Yang berdampingan dengan gua air dan salju. Saat itu mereka bertemu dengan Xuan Chen yang juga hendak memasuki gua.
"Kau masuk lebih dulu." Ujar Yi Changyin pada singa roh api.
Dan singa itu langsung menurut begitu saja. Selagi Yi Changyin berlari ke arah Xuan Chen dan memeluknya dari belakang. Xuan Chen terkejut sebelum akhirnya tersenyum karena mendapat pelukan tak terduga dari sang kekasih. Padahal baru saja dia mengharapkannya sebelum fokus berkultivasi.
Xuan Chen menelungkup kedua tangan yang melingkar di atas perutnya. Mengelus-elus lembut merasakan kulit putih yang sehalus bulu kelinci.
"Xuan Chen.. jaga dirimu."
"Kau juga.."
Hening sesaat.
"Xuan Chen.." Panggil Yi Changyin lagi. Entah kenapa setiap getaran yang lolos di bibir gadis itu, getaran yang menyebutkan dua kata namanya, membuat dia merasa nyaman dan senang.
"Apakah kau berniat melangkah ke tingkat bintang?" Tanyanya.
"Benar.."
'Agar aku lebih layak menjagamu.' Sambung Xuan Chen dalam hati.
"Kalau begitu, aku ingin menjadi bulan."
Membuat Xuan Chen terkekeh, "tidak ada tingkat kultivasi seperti itu.."
"Jika kau menjadi bintang, maka aku harus menjadi bulan. Mereka berpasangan bukan? Bersama-sama menerangi di langit malam yang indah." Jelas Yi Changyin yang membuat pria itu mempertahankan senyumannya.
"Benar, dan bulan hanya akan ada satu untuk bintang."
.......
.......
.......
Di langit malam yang gelap. Saat awan menurunkan salju-salju, perhiasan langit hanya terlihat sedikit. Tampak hanya bulan dan satu bintang yang saling berdampingan di sana.
Walaupun bulan lebih besar dari bintang, kentara jelas saat itu sang bintang tengah menemani sang bulan untuk menyinari bumi di malam hari. Berdua, mereka hanya berdua. Tidak ada yang mengganggu satu bintang pun yang lain.
Membuat Heilong yang menatap mereka dari bawah tersenyum puas. Walaupun sebenarnya dia keluar karena di hukum oleh Xuan Chen. Menyedihkan.
"Bulan dan bintang malam ini, memang berpasangan." Gumamnya.
Sementara di sisi lain, Yi Changyin dan Xuan Chen sudah berada di gua yang terpisah. Masing-masing mereka melindungi diri sendiri agar tidak terkena akibat berlebihan dari salju atau api spiritual. Setelah itu, mereka mulai bertapa dan menyerap energi spiritual yang terkandung di dalamnya.
.......
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉