The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXLIII - Sebelum Mencari


__ADS_3

Saat itu Hua Mu Dan kembali berbicara, "tuan agung, biarkan Ratu keluar. Hanya dia yang bisa mengembalikan alam peri. Kami bisa menyalurkan energi spiritual jik—"


"Jika kalian bisa melihat apa yang berada di tanganku, jangan mencarinya lagi." Potong Xuan Chen terdengar berat.


Hua Mu Dan dan yang lainnya tertegun untuk sesaat. Kemudian melirik benda yang tergantung di tangan Xuan Chen. Hatinya memiliki kejutan besar, badannya terhuyung kebelakang.


"Tidak mungkin!" Seru Hua Mu Dan tidak percaya. Yang lainnya juga merasa ini hanya mimpi. Sambil menangis pilu, Hua Mu Dan menekuk lututnya. Di susul dengan ketiga ketua alam peri yang lain, mereka ikut merasa sedih. Kemudian para prajurit di belakangnya turut menekuk lututnya.


Mereka memanggil nama Ratu dan segera bersujud dalam waktu yang lama. Sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk sang Ratu yang memimpin mereka.


Di antara mereka tidak ada yang bisa menerima kepergian Yi Changyin. Itu terlalu mendadak dan mengejutkan. Selain itu sang Ratu dikenal dengan pemimpin yang baik dan ramah, mereka semua merasa terpukul.


"Sudahlah." Ujar Xuan Chen yang membuat semua orang menegakkan tubuhnya, namun belum berdiri.


"Kalian tidak boleh memberi tahu siapapun tentang kematian Yin'er, cukup kalian yang berada di sini, Yue Xingfei dan penghuni ruang dimensi spiritual. Dan satu lagi, tidak boleh ada yang berkabung."


Mendengar kata-kata itu semua orang terkejut. Xuan Chen tidak masuk akal menurut mereka.


"Tuan agung ini..."


"Yin'er belum mati." Xuan Chen memotong kata-kata Hua Mu Dan.


"Tuan agung, aku tahu kau tidak bisa menerima kepergian Ratu. Tapi jangan bersikap seperti ini, kami harus menghormati kepergiannya." Hua Mu Dan kembali memberi protes, yang lain mengangguk setuju. Wanita itu memiliki sedikit emosi di hatinya.


Xuan Chen hanya tersenyum tipis. "Aku masih waras, Peony. Shui Jifeng, tuan agung terdahulu sekaligus mertuaku telah memberi tanggung jawab ini kepadaku." Katanya dengan yakin.


(Note : Peony yang dimaksudkan disini adalah Hua Mu Dan. Karena Mu Dan dalam bahasa China memiliki arti 'bunga Peony')


Ucapannya kali ini semakin membuat orang terkejut. Shui Jifeng? Tuan agung terdahulu? Akhirnya mereka mendirikan tubuhnya. Hua Mu Dan sudah tidak menangis lagi, dia menatap Xuan Chen dengan tatapan tak percaya.


"Tuan agung Shui, menemuimu?" Tanyanya dengan hati-hati. Bagaimanapun dia tahu Shui Jifeng sudah meninggal. Xuan Chen masih waras kan? Dia takut Xuan Chen akan gila karena istrinya yang pergi.


Xuan Chen mengangguk. "Benar, dia menemuiku sebelum pengembangan jiwanya sendiri dimulai. Aku akan mengatakan sesuatu pada kalian, tolong dengarkan." Jedanya.

__ADS_1


"Yue Xingfei harus tahu semua ini. Dia mungkin terkejut dengan kepergian bibinya, tapi kalian harus meyakinkan kalau Yin'er bisa kembali olehku. Setelah pulih dari keterkejutannya, angkat dia menjadi Ratu, alam peri butuh pemimpin."


"Lalu, aku akan menitipkan Sifeng dan Sijiu dalam waktu yang lama. Aku sendiri akan mencari benda penting untuk Yin'er nantinya, tolong jaga anaku. Sekalian, tolong carikan rumah yang pas di alam fana. Setelah aku menemukan apa yang dicari, aku akan tinggal di sana bersama anak-anakku dan merawat jiwa Yin'er sampai hidup kembali."


"Dan kalian para prajurit dan jendral, mohon rahasiakan ini. Jangan sampai selain kalian dan yang ditentukan ada yang tahu. Juga, jangan sampai informasi ini bocor ke luar alam peri. Aku tidak mau pihak klan rubah mengetahuinya.


Setelah Xuan Chen memberi perintah panjang lebar, mereka segera menyetujuinya. Perintah Xuan Chen mutlak, dia masih suami Ratu mereka. Dari kata-katanya saja, sepertinya Xuan Chen masih waras.


Setelah itu Xuan Chen sendiri yang mengembalikan alam peri, menghilangkan tempat tandus itu. Dia langsung menuju kamar Yi Changyin, tempat semua orang berkumpul. Dari kejauhan, dia cemas karena mendengar tangisan Sifeng dan Sijiu. Bayi kembar itu pasti memiliki firasat kuat pada ibunya.


Saat sampai di sana, tiba-tiba saja dia dikerumuni. Semua orang bak ingin mengintrogasinya, menanyainya hingga membuat kepalanya pening. Saat itu Hua Mu Dan segera menyeret semua orang untuk keluar. Terutama memberi tahu Yue Xingfei dan para penghuni ruang dimensi spiritual.


Xuan Chen meraih dua bayi kembarnya yang masih menangis di pangkuan pelayan. Saat tahu ayah mereka tiba, tangisan mereka berhenti. Para pelayan tersenyum lega dan segera keluar ruangan.


Kini ruangan terasa sepi. Xuan Chen mengusap-usap bayi kembar yang kini berada di atas kasur itu. Mereka tampaknya akan tertidur, lelah karena menangis.


"Jangan sedih.." gumam Xuan Chen. "Ayah akan berusaha yang terbaik untuk mengembalikan ibu kalian. Tunggu ayah."


Tak lama setelah itu, Sifeng dan Sijiu tertidur pulas. Mereka tenang ketika melihat ayahnya, dan mungkin bayangan ibunya.


Xuan Chen segera mencium kening keduanya. Menyelimutinya, lalu menutup tirai kelambu. Setelah puas menatap Sifeng dan Sijiu yang tertidur pulas, dia segera keluar ruangan.


Di halaman, dia langsung di sambut dengan tangisan Feng'er dan Heilong. Saat melihat dua keluar ruangan, dua bayi besar memeluknya sambil merengek.


Xuan Chen hanya tertegun, membiarkan hewan kontraknya itu memeluknya. Sementara itu Yue Xingfei tampak jatuh pingsan.


Xiaobai dan Xiaoxuan menangis tanpa air mata. Singa roh api meraung sedih ke langit. Kalajengking es menutupi mata dengan kedua capitnya, seperti sedang menyembunyikan tangis.


"Kalian tenang saja, aku akan mengembalikan Yin'er." Ujar Xuan Chen dengan tenang.


"Aku akan membantu!" Seru Feng'er dan Heilong tiba-tiba menegakkan tubuhnya.


Xuan Chen mengangguk tanpa ragu. "Baiklah, kalian bisa ikut denganku untuk mencari kristal jiwa. Sisanya tinggal disini untuk menjadi teman bermain Sifeng dan Sijiu."

__ADS_1


.......


.......


.......


Malam harinya Xuan Chen tidur menyamping sambil menatap Sifeng dan Sijiu yang selesai ditidurkan olehnya. Bayi kembar itu tidak menyusahkan, seperti mengerti beban ayahnya.


Malam ini dia akan memuas-muaskan diri untuk menatap Sifeng dan Sijiu. Sebelum akhirnya berkelana pergi mencari potongan jiwa Yi Changyin.


"Tunggu ayah kembali." Bisiknya. Kemudian ia memejamkan mata, dia harus beristirahat malam ini. Sebelum memulai perjalanan panjang esok pagi.


Keesokan harinya, Xuan Chen dibangunkan dengan suara tangisan bayi. Awalnya ia mengira mungkin bayi kembar itu lapar. Tapi saat Xuan Chen terbangun, mereka berhenti menangis dan tersenyum.


Xuan Chen yang merasa gemas menyentuh pipinya yang kenyal. "Kalian membangunkan ayah? Sungguh anak yang berbakti." Kemudian dia bergumam dengan ekspresi yang tidak percaya, "Padahal usia kalian belum mencapai tiga bulan."


Setelah mempersiapkan diri, akhirnya dengan enggan Xuan Chen pergi dari istana, meninggalkan si kembar. Berpencar dengan Feng'er dan Heilong. Dua orang itu sudah pergi ke luar alam peri. Jika menemukan sesuatu, maka hubungi.


Xuan Chen masih di daerah istana bulan. Dia berjalan menuju ruang kerja Yi Changyin, istana utama alam peri. Luas dan sepi, tanpa sosok yang menduduki tahta. Baginya, tidak ada pengecualian tempat untuk mencari. Semua tak akan terlewatkan.


Saat menatap singgasana tanpa adanya tirai kristal yang menghalanginya lagi, Xuan Chen tiba-tiba melamun. Hingga melihat sosok cantik yang sedang membaca gulungan, tiba-tiba muncul di sana.


Wanita itu begitu anggun. Pakaiannya berwarna putih elegan. Rambutnya yang hitam tergerai panjang, polos tanpa riasan. Bulu matanya berkedip indah, matanya bersinar terang.


"Yin'er?" Gumam Xuan Chen. Tiba-tiba matanya terasa panas, pelupuk matanya menggenang air. Benar, dia melihat sosok Yi Changyin yang sedang membaca gulungan.


.......


.......


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗

__ADS_1


__ADS_2