The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXIV - Bertemu Wei Qiao


__ADS_3

Bunga-bunga persik masih berguguran. Saling dahulu mendahului untuk mencapai tanah. Satu bunga turun dengan utuh, mendarat di tangan seorang pria. Xuan Chen tersenyum, kemudian menancapkan batang bunga itu ke atas telinga gadis yang tidur di pangkuannya.


Wajahnya yang ayu tampak tenang tidur di atas hamparan bunga Persik yang indah. Kepalanya tersandar pada paha Xuan Chen yang sedang menyandarkan tubuhnya di salah satu batang pohon berakar besar.


Xuan Chen tak berkedip, dia tak bisa mengalihkan pandangannya. Dia sungguh terpesona dengan wajah gadis itu. Entah karena pesona rubah begitu tinggi, atau karena dia jatuh cinta padanya. Menatapnya sama hal nya dengan melihat lautan hutan persik yang berguguran, mata ini sangat enggan untuk beralih.


Saat asyik-asyiknya memandang, tiba-tiba seseorang datang dengan langkah yang pelan. Wajah nya terlihat canggung melihat mereka berdua. Mungkin sekarang tahu alasan Xuan Chen waktu itu untuk membiarkan Yi Changyin menjadi nyonya di ruang dimensi spiritual itu, yaitu dia mencintainya. Mungkin.


Feng'er membungkuk. "Tuan, di dunia luar hari sudah siang. Nona pertama Yi bilang, dia akan segera berangkat."


"Aku bisa keluar nanti saat Yi Changyin bangun. Suruh mereka untuk berangkat lebih dulu. Asalkan kau bisa tetap bersama mereka, aku bisa keluar tepat di dalam kereta kuda."


Feng'er mengangguk tanpa membantah. "Baik, tuan."


Setelah Feng'er pergi, Xuan Chen menghirup udara segar di sana dalam-dalam. Seketika kolam dantiannya terisi agak banyak. Bahkan saat dadanya mengembang kempis untuk bernafas, dantiannya terisi sedikit demi sedikit. Di ruang ajaib ini, bernafas saja bisa meningkatkan tingkat kultivasi, apalagi menyerap dan memakan semua yang ada di dalamnya.


.......


.......


.......


Yi Xuemei terkekeh pelan saat mendengar alasan kenapa Feng'er bertingkah begitu canggung. Yaa sebenarnya mereka telah melihat kemesraan yang mereka lakukan di hutan persik itu. Walaupun tidak ada yang melibatkan keintiman, tapi tetap saja mereka seperti sepasang kekasih.


"Hanya seperti itu?" Cibir Yi Xuemei. "Aku bahkan melihat一"


"Berhenti!" Potong Shen Lan yang membuat gadis itu bungkam. "Tidak bisa kah kalian berhenti membicarakan hal yang tidak berguna seperti itu? Kita punya hal yang lebih penting untuk di bicarakan. Karena perkiraan sore ini kita akan sampai di penginapan kaki gunung." Jelasnya serius.


Yi Xuemei menatapnya malas. "Memangnya apa lagi? Kau mau aku membantumu untuk mendapatkan hewan roh?"


Shen Lan tersenyum penuh ejekan. "Kata siapa? Aku sudah mendapatkannya." Katanya bangga.


"Aku tidak melihatnya! Aku tidak percaya." Jawab Yi Xuemei acuh. Shen Lan tidak mungkin menyembunyikan hewan rohnya di cincin ruang. Atau Yi Changyin akan mengetahuinya dan memberi tahu semua orang dengan heboh.


"Heilong, hentikkan kudanya." Titah Shen Lan.


Heilong yang berada di luar pun segera menghentikan kudanya. Shen Lan keluar di susul dengan Yi Xuemei. Sedangkan Feng'er lebih memilih kembali ke ruang dimensi spiritualnya.


Shen Lan berdiri di depan kuda, Yi Xuemei di sampingnya dengan tanda tanya yang besar di wajahnya. Pria itu menyuntikkan energi spiritualnya ke tubuh kuda hitam pekat itu. Yi Xuemei masih memperhatikannya dengan teliti. Tidak tahu apa yang di lakukan Shen Lan. Apakah hewan rohnya di sembunyikan di kuda itu? Tidak mungkin!


Tiba-tiba sesuatu terpisah di badan kuda hitam itu. Masih berbentuk kuda, tapi warnanya putih bersih dengan aura hewan roh di sekujur tubuhnya. Sekarang kuda itu terbagi menjadi dua, mereka masih baik-baik saja. Tidak ada perubahan fisik apapun dari si kuda hitam.


"Aiyo! Kuda roh putih?!" Seru Heilong. "Mengapa dia bersembunyi di dalam kuda hitam ini?"


Yi Xuemei tak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin seekor kuda roh putih bersembunyi di tubuh kuda hitam ini?! Parahnya Shen Lan mengetahui hal itu dan bisa mengeluarkannya. Mungkin ini lah alasannya memilih kuda hitam yang tak ada bagus-bagusnya itu. Entah misteri apa yang di miliki Shen Lan dalam dirinya.


Kuda putih itu menoleh ke arah Heilong. Badannya meneriakkan kewaspadaan, dia tahu kalau Heilong adalah Naga hitam yang melegenda. Badannya mundur beberapa langkah, dia takut dengan aura Naga jantan yang tajam itu.


Heilong menghela nafas, dia mematikan auranya. "Sudahlah! Jangan takut, ceritakan pada kami mengapa kau bisa bersembunyi di tubuh kuda jantan biasa ini." Sejujurnya dia pun penasaran dengan apa yang terjadi.


Kuda putih itu mengubah wujudnya menjadi seorang pria tampan berpakaian serba putih. Yi Xuemei semakin terkejut melihatnya. Ternyata banyak sekali kejutan yang dia dapatkan selama perjalanan. Ah mungkin saat di gunung Tianjin nanti, kejutan akan datang lebih banyak.


"Awalnya aku adalah kuda golongan hewan roh dari alam langit." Kuda putih itu mulai bercerita. "Tapi saat turun ke dunia fana bersama kakak perempuanku, aku di kejar oleh kelompok asing. Aku lari hingga berakhir di klan rubah ekor sembilan dan terjebak di dalam tubuh kuda jantan ini. Tapi aku tidak tahu dimana kakak perempuanku berada."


"Apakah kau tahu ciri-ciri kelompok yang mengejarmu?" Tiba-tiba Yi Changyin datang dari dalam kereta dengan pertanyaannya. Di susul dengan Xuan Chen yang ikut keluar.


"Aku tidak ingat, ini sudah bertahun-tahun lalu. Tapi.. aku melihat simbol bunga Prem di lengan bajunya. Aku juga tidak tahu apa alasan mereka mengejarku."


"Bunga Prem?" Yi Changyin bergumam. "Ah, mungkin aku bisa menemukan siapa mereka dan di mana kakakmu." Ujar Yi Changyin tanpa pikir panjang. "Tapi, aku ingin kau bergabung dengan kami dan pura-pura menjadi hewan roh milik Shen Lan."


"Heh! Apakah kau yakin?" Tanya Yi Xuemei tidak percaya dengan keputusan Yi Changyin.


"Aku yakin! Kau tenang saja."


"Nona.. apakah kau serius?" Tanya kuda putih itu sedikit berbinar-binar.

__ADS_1


"Yi Changyin tidak akan pernah berbohong." Sahut Xuan Chen.


"Kalau begitu." Dia menekuk lututnya. "Aku harus berterimakasih pada nona Yi."


"Ah! Tidak perlu! Kau hanya perlu menjalankan tugasmu, dan itu semua imbang. Kau juga boleh menjadi teman kami selamanya." Ujar Yi Changyin tulus.


Kuda itu tersenyum penuh syukur. "Terimakasih nona Yi." Selama hidupnya ini, dia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang bisa membantunya. Bahkan dahulu dia pernah berfikir tidak akan pernah bisa keluar dari tubuh kuda hitam itu.


"Kalau begitu.. aku akan menamaimu Xiaobai." Celetuk Shen Lan yang membuat semua orang menatapnya penuh permusuhan.


"Dia ini besar, sejak kapan menjadi kecil?" Cibir Yi Changyin.


*Note : Xiao \= Kecil.


Shen Lan menatap semua orang dengan kesal. "Apa?! Kau ingin marah padaku?! Apakah kau tidak ingin ini?!" Serunya sambil menunjukan empat plakat yang bertumpuk di tangannya.


Yi Xuemei tersenyum penuh arti. "Tidak perlu mengancam."


Shen Lan menatapnya heran dan penuh kewaspadaan. Tanpa di sadari, tiga plakat itu sudah menghilang di tangannya. Hanya tersisa miliknya yang bertuliskan 'Shen Lan, keluarga Shen." Sedangkan yang lainnya sudah berada di tangan Yi Xuemei. Gadis itu langsung membaginya.


"DASAR RUBAH!!"


.......


.......


.......


Seorang gadis bersama pelayannya melewati jalan-jalan sempit yang penuh dengan bebatuan dan rumput liar. Pelayannya tampak membawa sekotak makanan yang cukup besar. Sementara gadis itu adalah putri Xuan Rong, yang hendak menjenguk kakak ketujuhnya di rumah.


Betapa terkejutnya dia saat mendapati rumah Xuan Chen yang berantakan. Taman-taman yang mulanya indah kini berubah menjadi seperti tak terurus dan bercampur lumut. Halaman yang penuh rumput pun hilang seperti di hancurkan oleh kaki-kaki seseorang yang tak bertanggung jawab.


Pintu di rumah itu sudah hancur berkeping-keping. Keadaan di luar rumah pun kacau berantakan. Untung saja di dalamnya masih terbilang masih sama walaupun agak berantakan.


"Kakak Ketujuh!! Dewi Changyin!!!" Xuan Rong memanggil nama mereka berdua sambil berlari ke dalam. Kilatan firasat buruk tak henti-henti datang menyerang hatinya. Di dalam tidak ada siapa-siapa, nafas Xuan Rong semakin berderu kencang! Jantungnya berdetak tak karuan. Bahkan pelayan yang bersamanya pun terlihat begitu cemas.


Kaisar Xuan Zhen terjatuh ke atas kursinya setelah mendengar kabar dari Xuan Rong. Kabar ini sangat mengejutkannya bahkan membuat hatinya terasa sesak. Walaupun dia yang membuang Xuan Chen, tapi dia tidak pernah membencinya. Kaisar Xuan Zhen menyayangi semua anak-anaknya, Xuan Chen apalagi. Tindakan tak berperasaan yang dia lakukan hanya sebatas keinginan gila permaisuri dan keluarganya.


"Kasim Wang!"


"Hamba di sini." Kasim yang terlihat patuh itu membungkuk. "Hamba di sini, yang mulia."


"Suruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Xuan Chen!! Apa pun yang terjadi, mereka harus di temukan!" Serunya dengan getaran kesedihan.


.......


.......


.......


Drukk!!


Kereta kuda yang dinaiki Yi Changyin dan yang lainnya berhenti mendadak, bahkan mereka hampir tersungkur karenanya.


"Beraninya kalian menghadang kereta nona kami?!!" Teriak seorang pria di luar sana.


Benar saja, di depan adalah jalan pertigaan. Mungkin sama hendak menuju ke akademi Tianjin, kereta itu tampak mewah dan diiringi beberapa pelayan dan pengawal. Pantas saja mereka tampak sombong dan beringas saat berhadapan dengan kereta Yi Changyin yang sederhana.


Xiaobai yang memegang kendali turun dari sana, menghampiri pria garang yang memarahinya. "Maaf, aku tidak melihat kalian." Katanya dengan datar.


"Banyak alasan! Nona kami hampir jatuh karena kereta mu!"


"Itu karena keretamu berpacu terlalu kencang. Kedepannya, perhatikan jalan di depanmu." Xiaobai memberi nasihat dengan ekspresi yang mengejek.


"Kau?!"

__ADS_1


"Orang miskin mana yang menghadang kereta ku?" Suara gadis yang lembut dan menggoda terdengar dari kereta kuda mewah itu. Tapi terdengar memuakkan bagi Xiaobai.


Setelah mengatakannya, gadis itu keluar dari kereta, tampak anggun. Wajah putihnya terlihat bersinar bak rembulan. Permukaannya terlihat lembut sempurna tanpa cacat. Dari riasan mewah dan pakaiannya, bisa di tebak kalau dia adalah berasal dari keluarga kaya. Sangat cantik, tapi sayang kesombongan telah menutupi semuanya. Mungkin di mata para penjilat dan pria hidung belang, gadis itu tetaplah seorang idaman.


Gadis itu menatap Xiaobai dari atas ke bawah. Tatapannya terlihat mengejek dan merendahkan. Dia mendengus, masih dengan senyuman sinisnya. "Dasar kau tidak tahu diri, sebaiknya kau singkirkan kereta jelekmu ini."


Xiaobai tidak marah, dia malah membalasnya dengan tatapan mengejek pula. Xiaobai menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu di penuhi dengan mutiara dan emas-emas, memamerkan kekayaan ayahnya. "Gadis sombong! Tukang pamer!"


"Kau?!"


"Beraninya kau menghina nona kami?!" Pengawal menjengkelkan itu membela. "Nona kami adalah putri Mentri kanan Wei dari kekaisaran Yunan! Kau berani seperti itu pada nona kami, hah?! Sebenarnya kalian ini keluarga miskin dari mana, hah?!"


Gadis itu tersenyum bangga saat mendengar dirinya di tinggikan. Sementara Yi Changyin dan Yi Xuemei tersenyum menahan tawanya. Lihatlah, lebih kaya mana keluarga Wei dan keluatga Yi pemilik klan Rubah ekor sembilan? Ingin sekali Yi Changyin tertawa puas di hadapan wajah gadis itu.


Dia adalah Wei Qiao, gadis paling populer di ibukota Sujing, kekaisaran Yunan. Ayahnya adalah Mentri kanan kekaisaran Yunan yang paling berpengaruh. Parasnya memang cantik, ekonominya sangat kaya. Menjadikan dia gadis yang sombong di seluruh kota. Tapi tak sedikit orang yang mengagumi kecantikan dan bakatnya.


"Apa peduli?" Xiaobai tampak acuh yang membuat keduanya merasa jengkel. "Kau dan nonaku, lebih cantik nonaku. Kau ini tidak ada bandingannya."


"Apa yang kau bilang?!! Aku adalah gadis tercantik dan terpopuler di daratan Zhongjian!! Beraninya kau menghinaku?!" Teriaknya kalang kabut. Bahkan hampir menangis karena tidak terima di kucilkan seperti ini.


"Sudahlah, Xiaobai.." Ujar Yi Changyin didalam sana.


Mendengar suara Yi Changyin, wajah Wei Qiao menjadi semakin beringas, bagaikan seekor hewan buas yang telah menemukan mangsanya. "Kau?! Keluarlah! Bukankah kau itu cantik menurut pelayanmu?!" Dia tersenyum miring. "Kita lihat siapa yang tercantik di antara kita!" Katanya menantang.


Tanpa pikir panjang, Yi Changyin keluar dari tenda, memamerkan c


kecantikan yang di milikinya. Bukan berniat pamer, tapi semua ini untuk melawan Wei Qiao. Semua orang tertegun saat melihat wajahnya. Tidak terkecuali Xiaobai yang merasa bangga.


Jika Wei Qiao cantik karena riasan dan perawatannya, tapi Yi Changyin cantik alami tanpa riasan yang mengubah penampilan. Bahkan Wei Qiao sempat mengangumi kecantikan Yi Changyin yang natural.


"Salam nona Wei.." Yi Changyin tetap mengutamakan kesopanan. Bagaimanapun dia sedang menyembunyikan identitas Dewi rubahnya. Dia tidak boleh meninggikan diri sendiri.


Tersadar, wajah sombong gadis itu kembali muncul. "Pura-pura sopan, dasar penjilat!" Cacinya.


Yi Changyin hanya tersenyum tipis, tidak marah. "Aku bukan penjilat, hanya memberi salam formalitas pada nona yang paling populer di kota Sujing."


Wei Qiao hanya mendengus kesal. "Aku tidak menyukaimu!!"


Yi Changyin mendekati Wei Qiao dengan senyuman miringnya. Dia berbisik, "tidak suka, atau iri dengan kecantikanku?"


"Kau?! Beraninya kau?!!"


Wei Qiao mendorong Yi Changyin hingga tersungkur kebelakang, mengundang Xuan Chen untuk keluar dari kereta. "Yi Changyin!!" Serunya sambil mendekati gadis itu, membantunya bangun. Sebenarnya dia tidak berniat keluar, tapi rubah kesayangannya di dorong sampai jatuh oleh bajingan itu.


Langit, pesona macam apa ini? Wei Qiao memerah saat melihat wajah tampan Xuan Chen. Setelah sekian lama dia hidup, sekian banyak pria yang memujanya, hanya satu yang menarik perhatian. Xuan Chen ini bagaikan mutiara di tengah-tengah kotoran sapi. Dia harus mendapatkannya!


"Nona, maaf."


Wei Qiao masih tersenyum menggoda, mungkin berusaha menarik perhatian pria itu. "Tuan muda.." Dia mendekat dengan anggun, berjalannya begitu gemulai seperti seorang jal*ng di rumah bordil. Wei Qiao berusaha menyingkirkan tangan Yi Changyin dari tangan Xuan Chen. "Kau tidak pantas menyentuh一"


"Diam!" Bentak Xuan Chen yang membuat gadis itu tersentak. "Maaf, nona berasal dari keluarga terhormat. Sangat tidak pantas bersikap langcang." Xuan Chen mulai menggendong Yi Changyin, membuat Wei Qiao sedikit geram. "Lain kali jika kita bertemu di gunung Tianjin, jaga sikapmu." Dia pun masuk ke dalam kereta kuda, membiarkan Xiaobai melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan Wei Qiao. Bahkan penjaga garang itu hanya bisa diam memendam amarah melihat nonanya tak banyak tingkah.


Walaupun sedikit kesal, tapi gadis itu masih terlihat memerah. Apalagi saat mengatakan gunung Tianjin? Apakah pria dari surga itu akan bersekolah di akademi Tianjin juga?


Gadis itu masih terdiam menatap kepergian kereta kuda Xuan Chen, wajahnya masih memerah terpesona. Pikirannya masih terbayang bagaimana lekukan wajah Xuan Chen yang tampan tanpa cacat. Sampai seorang pelayan memanggilnya, barulah dia tersadar.


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita." Katanya dengan wajah yang masih terpesona.


.


.


.


Nih Visual Wei Qiao yang cantik sedaratan tengah😌

__ADS_1



Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2