The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXXI - Sebenarnya siapa aku?


__ADS_3

Sekumpulan orang melewati jalur-jalur menuju puncak gunung dengan kecepatan tinggi. Masing-masing menggunakan senjata untuk terbang. Ada yang menggunakan pedang seperti Xuan Chen dan Yi Xuemei. Cambuk seperti Shen Lan dan Wei Qiao. Dan hanya satu orang yang menggunakan kipas, yaitu Yi Changyin.


Khusus bagi para guru, mereka menaiki bangau roh yang menjadi penjaga puncak gunung Tianjin. Hal semacam ini hampir sama dengan gunung Kunlun di alam langit, yaitu dijaga oleh bangau putih.


Disaat seperti itu, Wei Qiao menatap punggung Yi Changyin dengan ekspresi yang gemas. Ingin sekali dia menyerang gadis itu sekarang juga. Posisiya sangat tepat, tapi kondisi tidak memungkinkan. Dia harus memendam keinginannya sampai nanti malam.


Semakin naik gunung, keadaan semakin dingin. Walaupun bumi sedang dalam musim panas, saat berada di gunung Tianjin rasanya seperti musim gugur yang beberapa hari lagi akan memasuki musim dingin. Apa jadinya jika saat memasuki fase musim dingin.


Pemandangan disekitarnya pun tak kalah indahnya. Banyak tebing dan jurang yang terlihat seperti lukisan. Pohon-pohon yang menjulang dengan daun-daun rimbun, sampai menutupi masuknya cahaya matahari kehutan itu.


Banyak tumbuhan herbal langka yang tumbuh subur disekitarnya. Bahkan kerap kali terlihat hewan roh melintas diantara mereka. Sayangnya mereka tidak bisa berhenti sejenak untuk memanen tumbuhan langka itu, guru-guru disini sedang mengejar waktu.


Semakin masuk kehutan, semakin banyak perubahan. Daun-daun dari pohon besar semakin menutupi jalan masuknya sinar matahari. Semakin masuk, pohon-pohon raksasa berlumut itu semakin terlihat banyak. Mungkin hewan buas pun pasti ada berkeliaran disekitarnya. Dengan adanya bangau putih, mereka semua tidak akan ada yang berani.


Gunung Tianjin sangat luas. Ini sudah mencapai tengah hari. Mungkin ada waktu sekitar empat jam lagi untuk sampai di puncak gunung. Saat itu Yi Changyin diatas kipasnya merasa kelelahan. Alisnya merajut dengan keringat yang membahasi pelipisnya.


Akhir-akhir ini dia sering terluka, terutama saat bersama kalajengking hitam itu. Memang dia sering bertapa untuk memulihkan energi spiritualnya, tapi untuk luka dalam ilmu rubahnya pun akan sulit untuk menyembuhkan.


Jika saat organ dalam terluka lalu menggunakan sesuatu yang melibatkan energi spiritual, akan sangat menguras. Sebagai makhluk abadi di alam langit, tingkat Dewi sepertinya masih terbilang rendah. Yi Changyin tidak mungkin bisa tahan dalam kondisi yang seperti ini.


Xuan Chen yang selalu berada disampingnya menyadari hal ini, dia menoleh sambil mengerutkan kening. Gadis disampingnya ini sudah kekurangan energi spiritual.


Mereka terjalin darah kontrak, tentu saja Xuan Chen dapat merasakan kejanggalan ini sejak awal. Awalnya dibiarkan saja, tapi semakin lama energinya semakin lemah. Dan sekarang.. gadis itu bahkan sudah tidak kuat untuk membuka matanya.


Tiba-tiba kipas Yin Zhenjie-nya menghilang di udara kosong, semua murid terkejut. Tapi cepat-cepat Xuan Chen memasuka gadis itu ke ruang dimensi spiritual, menyuruh Feng'er dan Heilong untuk merawatnya. Semua yang melihatnya menghela nafas lega. Jika gadis itu sampai terjatuh, akan semakin repot urusannya.


Yi Changyin telah pergi ketempat yang tidak semua orang tahu, bahkan Yi Xuemei dan Shen Lan pun tidak menyadari kepergian adiknya. Wei Qiao mempercepat lajunya, mensejajarkan barisannya dengan Xuan Chen.


Gadis itu tersenyum dan menyapa dengan lembut, "tuan Ji.."


Xuan Chen hanya menoleh sekilas, sisanya dia fokuskan untuk mengikuti kecepatan bangau yang berada didepan. "Ada apa, nona Wei? Kita tidak bisa mengobrol sekarang."


"Ah tidak! Aku hanya ingin beriringan dengan tuan Ji, tidak masalah kan?" Tanyanya berharap.


Xuan Chen menghela nafas pasrah, "ada yang harus kubicarakan dengan nona pertama Yi." Xuan Chen segera melesat pergi meninggalkan Wei Qiao, menuju barisan Yi Xuemei dan Shen Lan didepan.


"Eh, Tuan Ji!!" Teriakan Wei Qiao diabaikan, gadis itu mendengus. Ingin menyusul, tapi murid-murid didepannya sangat padat dan kebanyakan laki-laki. Tidak mungkin jika dia harus menerobos kedepan.


Yi Xuemei dan Shen Lan terkejut saat mendapati Xuan Chen yang tiba-tiba ada disampingnya. Lebih terkejut mereka tidak mendapati Yi Changyin dimanapun.


"Xuan Chen, dimana Yi Changyin?" Tanya Yi Xuemei gelisah.


"Dia kehabisan energi spiritual. Sekarang Feng'er dan Heilong mungkin tengah merawatnya di ruang dimensi spiritual."


kening Yi Xuemei mengkerut, "bagaimana mungkin. Bukankah dia selalu melakukan perawatan diruang dimensi?"


"Cambukan petir, sama cambukan siluman dan luka yang diberikan pasukan formasi hitam tidak akan mudah disembuhkan begitu saja." Sahut Shen Lan menjelaskan.


"Aiyo, malangnya gadis itu." Ujar Yi Xuemei kasihan.


Ekspresi Xuan Chen terlihat masam, "semua ini gara-gara aku yang lemah dan tidak dapat melindungi diri sendiri. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membahagiakan dan melindunginya." Ujar Xuan Chen dengan serius. Dia benar-benar merasa bersalah dengan hal ini. Yi Changyin terluka demi dirinya yang menjadi beban dipunggung. Xuan Chen merasa ini sangat memalukan.


"Kau lakukan apa saja yang dia inginkan. Mungkin itu sudah cukup baginya." Ujar Shen Lan memberi saran. Bagaimanapun dia adalah seseorang yang paling mengerti Yi Changyin.


Dahulu ketika gadis itu merasa menyerah karena perlakuan Feng Chao, dia memaksa leluhur Yi Wutong untuk memberikan sesuatu yang berharga padanya.


Hari itu adalah pertama kali Yi Changyin terlihat sangat bahagia, Shen Lan dapat melihat hal itu dan dia merasa senang. Terutama ketika kipas merah muda yang menjadi pusaka klan rubah itu diletakkan di atas telapak tangannya, dia sangat senang.


Tapi mengingat kekuasaan Feng Chao, dia menjadi enggan menunjukkan kipas itu. Yang dia takutkan adalah Feng Chao atau Yi Xuemei yang dahulu merebut kipas itu darinya. Maka dari itu Shen Lan membuatkannya cincin ruang, yang menjadi tempat penyimpanan kesayangannya sekaligus tempat kipas Yin Zhenjie berada.


Sekarang Shen Lan dapat menyimpulkan sesuatu yang dapat membuat dia bahagia. Yaitu mengabulkan apapun yang dia inginkan. Selama itu tidak berbahaya baginya, Shen Lan yakin Xuan Chen akan menuruti keinginan gadis itu.

__ADS_1


"Sepertinya itu bukankah hal yang buruk." Ujar Xuan Chen. "Aku akan lebih memperhatikannya mulai sekarang."


Yi Xuemei tersenyum, "kupercayakan adikku padamu."


"Kau tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik." Itu adalah janjinya. Selain menjaganya dari marabahaya, Xuan Chen juga berjanji akan menjaga Yi Changyin untuk tetap berada disisinya. Dia berjanji!


.......


.......


.......


Feng'er, Heilong dan Xiaobai menyalurkan masing-masing energi spiritualnya pada seekor rubah yang terbaring lemah di atas kasur. Semenjak dimasukannya dia keruang dimensi spiritual, Yi Changyin sudah tak tahan hingga beristirahat menggunakan wujud rubahnya. Itu lebih baik.


Cahaya biru dari Feng'er, emas dari Heilong dan putih dari Xiaobai menyatu melewati titik-titik Meridian, sampai pada kolam dantian. Mereka sudah bertapa beberapa waktu lalu, jadi tidak akan khawatir soal kehabisan energi spiritual. Lagipula udara disini dapat mengisi kekosongan mereka kembali.


Cahaya putih pudar perlahan muncul membaluti tubuh rubah berekor sembilan itu. Raganya pun perlahan memudar diganti dengan bayang-bayang tubuh seorang gadis yang terbaring diatas kasur. Mereka bertiga hampir berhasil memulihkan kekuatan Yi Changyin.


Saat tubuh Yi Changyin sudah benar-benar terlihat utuh dan nyata, mereka semua berhenti.


Feng'er meyedekapkan kedua tangannya diatas dada, "Rubah yang malang.." Ucapnya dengan nada yang kasihan.


"Apakah luka dalamnya sudah sembuh?" Tanya Xiaobai.


"Luka cambukan petir dan yang lainnya sudah berangsur-angsur pulih. Tapi, luka cambukan siluman sangat susah untuk disembuhkan, kita belum bisa melakukannya." Ujar Heilong dengan serius.


"Aiyo! Manusia-manusia itu sungguh biadab!" Caci Feng'er kesal. "Seenak jidat mereka menuduh ras hewan suci alam langit sebagai siluman rendahan alam iblis. Sungguh tidak tahu malu! Jika daratan timur sudah dihancurkan oleh Gaoqing Dijun, mereka pasti akan menyesal sambil menangis dibawah kaki nona Yi."


Selagi Feng'er dan Heilong mencaci perilaku manusia-manusia itu, Xiaobai fokus pada hal lain. Dia menyingkirkan rambut yang menghalangi kening Yi Changyin. "Tanda lahir macam apa ini?" Tanyanya bingung.


Feng'er dan Heilong sontak berbalik, matanya langsung menuju pada kening Yi Changyin. Itu sangat samar, tapi masih bisa dilihat dengan jelas. Walaupun seperti ekor Phoenix, tapi menurut keduanya ini sangat jauh berbeda.


"Apa yang terjadi pada kalian?"


"Ini adalah一 Aww!!" Feng'er hampir mengatakan hal itu, tapi langit tidak mengizinkannya bahkan saat dia berada di ruang dimensi spiritual.


Heilong menyikut Phoenix dua warna itu. "Kau tidak bisa mengatakan hal itu!!" Cibir Heilong, masih dengan ekspresi yang sedih.


Xiaobai semakin kebingungan, "apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sudahlah.." Feng'er menyeka ujung matanyanya yang sedikit basah. "Kau akan mengetahui hal ini suatu saat nanti, lambat atau laun."


"Itu benar, ini adalah suatu rahasia." Heilong mulai melangkah keluar, diiringi dengan Feng'er. Langkah keduanya terlihat tak berdaya, ada beban yang dipikul oleh pikirannya.


"Xiaobai, suruh ib.. maksudku nona Yi untuk bertapa di air spiritual saat dia terbangun." Ujar Feng'er tanpa menoleh.


"Ba.. baik."


Feng'er dan Heilong berjalan keluar paviliun di dalam ruang dimensi spiritual itu. Mereka berdua duduk di gazebo terdekat. Mereka terdiam, tidak tahu harus melakukan apa atau berkata apa-apa lagi.


"Heilong.." Feng'er mendekati naga itu. Dia berbisik, "apakah benar nona Yi adalah ibunda? Jika benar, dugaanku saat pertama kali bertemu tidak salah."


Heilong mengangguk, tapi tiba-tiba dia menggeleng. Pendiriannya saat ini tidak tetap. "Aku tidak yakin. Tapi, yang memiliki tanda seperti itu di dahinya hanyalah ibunda."


Wajah Feng'er kembali mengungkapkan kesedihan. "Aku harap itu benar. Aku sangat merindukannya, merindukan kasih sayangnya. Walaupun kita bukan anak kandungnya, tapi selama puluhan ribu tahun ini dia selalu menjaga kita dengan baik. Bahkan menjadikan kita sebagai dua sosok yang terkuat." Dia tampak bernostalgia, mengingat-ingat kenangan dengan seorang wanita yang dia panggil sebagai ibunda itu.


Heilong menutup wajah dengan kedua tangannya, membayangkan hari-hari indah yang berlalu begitu saja. Rasanya puluhan ribu tahun itu hanyalah sekejap mata berkedip. Mereka sangat merindukan sosok itu, sosok yang dipanggilnya ibu.


Yi Changyin menatap mereka diambang pintu. Setelah mendengar cerita Xiaobai mengenai keduanya, dia menjadi memiliki perasaan yang campur aduk. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan masa lalu? Mungkinkah ada hubungannya dengan ingatan-ingatan aneh itu?


Dengan langkah cepat, Yi Changyin menghampiri mereka berdua. Feng'er dan Heilong terperangah kaget melihat kedatangan gadis itu secara tiba-tiba. Tatapannya begitu menyelidik membuat bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


"Nona Yi.." Sapa keduanya kaku.


"Katakan yang sebenarnya, sebenarnya siapa aku?" Tanya Yi Changyin langsung pada intinya.


Feng'er dan Heilong saling melirik sebelum akhirnya tersenyum kaku. "nona Yi, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau itu nona Yi." Ujar Feng'er


Yi Changyin melihat ketidak pastian di mata mereka berdua, dia merasa gemas dan memukul meja. Kedua bahu hewan ilahi itu terangkat. "Aku ingin kalian menjawabnya, mengapa sangat susah? Hanya memberitahu!!" Katanya dengan gemas.


"Ini.. ini.. adalah kebenaran yang dilarang alam langit. Kami sendiri tidak dapat mengatakannya. Hanya karena waktu itu aku dan Feng'er datang mengamuk pada Gaoqing Dijun. Dari situlah, kami tidak dapat mengatakan kebenarannya."


Yi Changyin berkedip dua kali, 'ternyata seperti itu. Apakah aku terlalu keras pada mereka?' Sekarang Yi Changyin merasa bersalah. Mungkin dimasa lalu hubungan mereka sangatlah istimewa, tapi sekarang Yi Changyin merasa sangat kasar. "Maaf, aku terlalu keras pada kalian."


Wajah keduanya kembali menjadi jelek. Mereka itu sangat kuat, tapi sangat manja. Apakah Yi Changyin dikehidupan sebelum terlalu memanjakan mereka?


Kedua binatang ilahi itu memeluk kaki Yi Changyin sambil menangis, dia sontak terkejut dengan apa yang dilakukan keduanya. "Apa yang kalian lakukan? Jangan seperti itu.."


"Aku sangat merindukanmu.. ibunda.." Rengek Feng'er.


"Ibunda?" Yi Changyin menjadi semakin tertarik. "Apakah dikehidupan sebelumnya aku ini binatang ilahi dan menjadi ibu kalian?" Tanyanya bodoh.


Heilong memukul kaki Yi Changyin, "aku tidak pernah mendengar binatang ilahi bereinkarnasi!"


Yi Changyin mengangguk paham. "Jadi.. sebenarnya kalian bukan binatang ilahi?"


Feng'er dan Heilong menghentikan tangisannya, dia menatap Yi Changyin dengan tajam. Tatapan itu membuat Yi Changyin kembali merasa bersalah. Manamungkin seseorang dapat menyamar menjadi binatang ilahi. Itu sangat tidak masuk akal.


"Sudahlah.. sudahlah.. kalian jangan marah." Bujuk Yi Changyin sambil mengelus surai lembut keduanya. Feng'er dan Heilong menyandarkan kepalanya diatas paha Yi Changyin dengan nyaman.


Perasaan ini.. begitu dalam. Bahkan Yi Changyin dapat merasakan kehangatan. Mungkin kedepannya mereka berdua harus diperlakukan dengan baik olehnya. Karena dia sudah disangka sebagai ibunya yang berada dikehidupan lalu. Akan sangat kasihan jika Yi Changyin menolak mereka mentah-mentah.


"Xiaobai bilang, aku harus pergi bermeditasi. Jadi, aku harus pergi terlebih dahulu." Ujar Yi Changyin dengan hati-hati.


Keduanya mendongkak, "kami ikut!"


"Aku.."


"Kami adalah anak yang berbakti." Ujar Heilong sambil menggandeng tangan Yi Changyin. Dia berdiri dan membawa gadis itu pergi dari gazebo. Disamping kanannya adalah Feng'er yang ikut menggandeng Yi Changyin.


Dia merasa canggung dengan kelakuan kedua bayi besar ini. Bagaimanapun dia bukan ibu mereka dikehidupan ini. Bahkan umurnya masih muda, manamungkin memiliki anak yang sebesar mereka.


Yi Changyin memasuki gua tempat air spiritual. Begitu masuk, suhu disana berubah menjadi lebih sejuk dan nyaman. Membuat siapapun yang merasakannya akan betah-betah tinggal disana.


Airnya sangat jernih dan berwarna biru terang. Memantulkan ombak-ombak didinding gua. Selain itu, banyak tanaman spiritual yang tumbuh subur disana. Didinding, dipinggir kolam, maupun di langit-langit gua.


Yi Changyin tersenyum, dia membuka Zhaoshan luarnya yang berwarna putih bersih. Menyisakan hanfu biasa yang juga senada dengan jubah. Putih polos namun terlihat agung dan suci. Feng'er yang memungut pakaian itu dan merapikannya di atas batu.


Perlahan Yi Changyin mencelupkan kakinya kedalam kolam. Sensasi dingin dan sejuk terasa olehnya yang membuat suatu kenyamanan didalam hati. Dia berjalan ke tengah-tengah kolam. Dan itu semakin dalam.


Tibalah dia menginjak sebuah batu besar, tepat di tengah-tengah kolam. Yi Changyin langsung mengambil posisi sila lotus. Hanya pundak sampai kepala saja yang terlihat dipermukaan air.


Yi Changyin memfokuskan pusat pemikirannya, menyerap ini spiritual dari air yang bermanfaat ini. Feng'er dan Heilong pun ikut bertapa di pinggir kolam. Mereka juga tidak boleh membuang-buang kesempatan untuk menambah waktu pertapaan.


.......


.......


.......


Feng'er & Heilong manggil Yi Changyin ibunda nih guys, sebenarnya siapa sih Yi Changyin itu?


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2