The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XCIV - Serangan Wanita itu


__ADS_3

"Ya, aku bersedia." Jawab Xuan Chen lembut dengan tatapan yang menggoda.


Tapi membuat Yi Changyin memberenggut kesal sambil memukul dadanya dengan keras. Seketika Xuan Chen mengaduh kesakitan bahkan sampai berbaring di atas ayunan. Bertingkah seperti orang yang sedang kejang-kejang.


"Aku tahu kau hanya bersandiwara!" Teriak Yi Changyin sambil mencubit kakinya. Seketika Xuan Chen menghentikannya aktingnya dan kembali tersenyum.


Senyuman itu menggerakkan Yi Changyin untuk memukul kakinya. Sejurus kemudian gadis itu bergegas pergi meninggalkannya sambil memberenggut.


Dengan cekatan, Xuan Chen segara bangun dan menyusul Yi Changyin. Kemudian berlari dan memeluknya dari belakang secara tiba-tiba.


Yi Changyin sempat tersentak, sebelum akhirnya tersenyum merona. Xuan Chen telah mendekapnya dari belakang dengan erat, seolah tidak ingin lepas walaupun hanya setengah detik.


(Note : Setengah detik / 0,5 detik cuman perumpamaan untuk waktu yang singkat)


'Aku harap.. kejadian tiga bulan lalu adalah bencana cinta yang ku impikan itu.' Pikir Xuan Chen sambil memejamkan matanya dan meletakan dagunya di atas pundak Yi Changyin.


'Sehingga semua ramalan itu selesai, dan kami akan bahagia untuk kedepannya. Setiap detik, setiap hari, setiap tahun, sampai selamanya.'


.......


.......


.......


Keesokan harinya, mereka semua masih berada di hutan gunung Tianjin. Saat itu Xuan Chen sedang tidak berada di ruang dimensi spiritual, menatap aliran sungai yang deras di tengah hutan kaki gunung. Sekaligus menyegarkan pikiran di pagi hari ini.


Namun entah kenapa instingnya mengatakan kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Itu sangat mencurigakan, hingga ia diam-diam berwaspada.


Benar saja, seseorang yang berpakaian serba putih diam-diam mendekatinya dengan sebilah pedang. Dia seorang wanita, yang wajahnya di tutupi topeng perak dan manik-manik yang merumbai dan menutupi seluruh wajahnya.


Ketika wanita itu hendak menebas punggungnya, Xuan Chen terlebih dahulu tersadar. Ia menghempasnya pedang itu ke arah lain dengan energi spiritual.


Namun pedang itu masih di tangan si wanita yang menyerang. Dan wanita itu kembali menyerang tanpa memberikan jeda. Membuat Xuan Chen segera mengeluarkan pedang dan melawan wanita itu tanpa takut.


Hingga dentingan pedang terdengar begitu cepat memenuhi volume udara di hutan. Mereka terus menyerang kemudian menghindar. Sama-sama kuat dan tidak ada satupun yang menandakan kekalahan.


Wanita bertopeng aneh itu terus menyerang, mengelak dan menangkis penuh irama. Hingga ketika melawan Xuan Chen, dia bagaikan menari dengan gaun putihnya yang berputar-putar.


Namun permainannya yang anggun itu begitu membunuh jika di biarkan lengah sedikit saja. Seakan dia ingin membunuh Xuan Chen sesegera mungkin.


Sejurus kemudian wanita itu terdorong kebelakang dengan keras ketika Xuan Chen menyerangnya dengan kekuatan penuh.


Ia mendongak dan terkejut saat Xuan Chen terus menyerangnya tanpa ampun. Hingga ia hanya bisa mengelak serangan-serangan cepat itu seadanya.


Sampai wanita itu terus menerus terdorong sampai ke dalam hutan dan mencapai jurang tanah dengan kemiringan yang lumayan hampir tegak.


Disanalah Xuan Chen memanfaatkan kesempatan. Ketika wanita itu berwaspada dan berfokus agar tidak terjatuh, Xuan Chen menepis pedangnya hingga terlempar jauh.


Ketika hendak menyerangnya dengan ujung pedang yang runcing secepat kilat, wanita itu menghindar ke samping. Hingga Xuan Chen akhirnya terpeleset dan jauh ke dalam jurang.


Lucunya, wanita itu malah hendak menolong Xuan Chen. Namun karena bobot berat badan yang berbeda jauh, wanita itu terbawa jatuh bersama Xuan Chen ke bawah sana.


Untungnya jurang itu hanyalah tebing tanah yang miring. Hingga mereka jatuh secara bersamaan, saling berpegangan dan saling bertumpang tindih secara bergantian sampai akhirnya berhenti.


Saat itu Xuan Chen yang berada di atas si wanita segera berkata dengan senyuman, "kau pikir aku tidak mengenali penyamaranmu?"


Sejurus kemudian Xuan Chen melemparkan topeng wanita itu kesembarang arah.


"Yi Changyin.." Tambahnya sambil terus menatap wajah Yi Changyin yang kini memerah malu.

__ADS_1


"Bagaimana一?"


Ucapannya terpotong ketika Xuan Chen menyeloroh cepat, "bagaimana kau bisa membahayakan dirimu sendiri?!"


Namun Yi Changyin hanya tersenyum tanpa dosa sambil mengelus pipi Xuan Chen. "Aku hanya ingin mengujimu.."


Xuan Chen hendak berbicara, namun kini giliran Yi Changyin yang mendahuluinya. "Apa? Apakah kau masih mengkhawatirkan wanita terkuat di seluruh alam semesta ini?" Katanya dengan bangga.


Yang membuat Xuan Chen menghela nafas. "Aku一!" Ucapannya terhenti ketika dia mengingat sesuatu di waktu kemarin. Ketika dia memeriksa denyut nadi Yi Changyin. Membuat ia tak jadi untuk memarahi gadis itu lagi.


Yi Changyin mengangkat sebelah alisnya karena merasa heran dengan Xuan Chen yang hanya terdiam, "apa?"


Namun sejurus kemudian Yi Changyin terbungkam karena bibirnya di renggut oleh mulut jahil itu. Tak ada penolakan dan membuat mereka berdua hanya menikmatinya perlahan, di alam terbuka.. di tengah hutan.


Tak berselang lama, Xuan Chen kembali melepaskannya dan menatap Yi Changyin dengan senyuman penuh minat.


Dalam waktu lama hanya diam menatap. Namun pandangan Yi Changyin terkecoh oleh pohon apel hijau liar yang berada di dekat mereka.


Warnanya yang terlihat hijau begitu terlihat segar dan membuat tenggorokannya tercekat.


"Xuan Chen, aku ingin itu." Pintanya dengan manja sambil menunjuk kepada pohon apel. Xuan Chen menoleh sekilas, kemudian beranjak bangun untuk memenuhi permintaannya.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Selagi Xuan Chen melangkah pergi menuju pohon, Yi Changyin beranjak bangun dan hendak menyusulnya. Namun baru satu langkah, tiba-tiba dia berhenti mematung, memegangi perutnya.


'Mengapa perutku sakit sekali..' Pikirnya sambil mengernyitkan dahi yang tiba-tiba saja sudah bersimbah keringat dingin. Namun ia berusaha menahannya, karena tak ingin terlihat oleh pria yang kini sedang berusaha meraih satu buah apel itu.


Namun tiba-tiba rasa sakit itu lenyap yang membuat ia bernafas lega. Kemudian menyusut keringat yang membasahi setengah wajahnya.


"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau berkeringat?!" Tiba-tiba saja Xuan Chen sudah berada di depannya dengan mata yang terlihat cemas.


Yi Changyin tersentak karenanya. Sebelum akhirnya dia menjawab, "tidak apa.. aku hanya sakit perut."


"Hanya sakit perut biasa, kau tenang saja."


Walaupun ragu, Yi Changyin tampak mengangguk-angguk. Kemudian menerima apel yang di sodorkan Xuan Chen.


"Oh ya, aku belum mengetahui bagaimana caranya kau dapat mengenaliku." Ujar Yi Changyin sambil memakan apelnya.


"Itu mudah.." Xuan Chen mulai berjalan sambil menggandeng tangannya.


Kemudian pria itu melanjutkan, "Pertama, saat kau banyak mengalah. Terutama saat di dorong olehku jauh ke dalam hutan. Padahal saat itu banyak kesempatan untuk melawan."


"Kedua, bukannya senang aku terjun ke dalam jurang. Kau malah ingin menyelamatkanku hingga berakhir dengan jatuh bersama kemari."


"Ketiga, hanya bau harum tubuhmu. Itu saja." Jelas Xuan Chen panjang lebar.


Yi Changyin hanya mengangguk-angguk. "Ternyata kau pintar."


"Maka dari itu.." Tiba-tiba Xuan Chen menghentikan langkahnya, membuat ia juga ikut berhenti dan berbalik menatap Xuan Chen. "Jangan mencoba-coba untuk menipuku. Karena kau terlalu bodoh untuk menyamarkan diri sendiri." Sejurus kemudian Xuan Chen tertawa lepas sambil terus berjalan.


Membuat Yi Changyin mematung dan selera makannya telah hilang. Dengan emosi yang terkumpul, Yi Changyin melemparkan apel yang telah tergigit sepotong itu ke punggung Xuan Chen.


"Dasar pria brengsek akan kubunuh kau?!" Teriaknya penuh emosi.


Xuan Chen hanya menatapnya dari kejauhan sambil tersenyum simpul. Membuat Yi Changyin mengambil langkah seribu, lalu mendorongnya karena telah menghalangi jalan.


Setelah itu Yi Changyin kembali berlari meninggalkannya dengan wajah yang terlihat dongkol.

__ADS_1


Sedangkan Xuan Chen hanya tertegun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia begitu terkesiap ketika Yi Changyin mendorongnya tiba-tiba.


.......


.......


.......


Setelah menempuh perjalanan satu malam. Dengan kereta tercepat yang di bawa oleh alam peri, mereka akhirnya sampai di pesisir daratan Dongfang.


Menyewa kereta menuju istana kekaisaran yang terletak di tengah-tengah. Sementara Yi Xuemei dan Shen Lan pergi ke rumah Xuan Chen, Yi Changyin dan Xuan Chen langsung menuju istana kekaisaran.


Di istana utama, keadaannya sungguh berbeda dari biasanya. Pesta perjamuan telah di gelar dengan mewah di sana. Berbagai hidangan telah tersedia khusus untuk keluarga kerajaan.


Setelah kemarin Yi Changyin memberi kabar kalau pangeran ketujuh mereka akan sampai hari ini, kaisar Xuan Zhen dengan semangat membuka jamuan yang mewah untuk keluarganya. Walaupun sedikit mendapatkan protes dari permaisuri Jiang Jinwei.


Namun karena dukungan Xuan Yao, Xuan Rong beserta ibu mereka, Permaisuri kalah telak dan terpaksa mengalah.


Selain mereka, tentu saja Wen Yuexin, Xuan Ye dan Xuan Hua juga hadir disana. Han Qiangshu dan beberapa selir bertingkat tinggi yang di undang.


"Yang mulia, untuk apa kau mengadakan jamuan seperti ini hanya untuk merayakan kedatangannya?!" Protes Jiang Jinwei yang tak pernah berhenti.


"Itu benar, ayah. Dia tidak pernah membanggakanmu di sini. Tapi kau malah memanjakannya." Sahut Xuan Ye. "Lagipula dia pergi tanpa pamit. Sungguh anak yang tidak tahu diri!"


Kaisar Xuan Zhen hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah tak ingin peduli lagi kepada mereka yang selalu bertolak belakang dengan keputusannya.


Suasana menjadi hening ketika salah satu pengawal mengumumkan kedatangan seseorang yang ditunggu-tunggu.


"Pangeran Ketujuh telah tiba!!"


Hal itu membuat Yang Qiujiu menutup mulutnya senang. Sebagian berseri bahagia, sementara sebagian lagi berwajah dongkol.


Pintu terbuka lebar, bersamaan dengan masuknya aura kultivasi bintang yang langsung menguar di udara. Di susul dengan pria bertubuh tegap, berambut panjang dan berwajah cerah.


Xuan Chen yang mereka lihat saat ini sangat berbeda dengan yang terakhir di lihat tiga tahun lalu. Membuat Jiang Jinwei dan antek-anteknya melongo melihat perubahan itu.


Tatapan Xuan Chen sungguh tidak terlihat seperti pangeran cacat yang terbuang. Justru sebaliknya, seperti seorang penguasa.


Kemudian seorang wanita cantik yang mengikutinya dari belakang. Sama seperti yang tiga tahun lalu mereka lihat. Masih cantik, ayu dan berpakaian serba putih. Namun auranya semakin sangat di samarkan.


Masuknya Yi Changyin dan Xuan Chen memberi cahaya pada seisi ruangan besar istana utama. Walaupun sebagian masih ada yang berwajah suram.


"Hormat kepada ayah kaisar dan Permaisuri."


"Hormat kepada kaisar dan permaisuri."


Mereka memberi hormat secara bersamaan setelah menekuk lututnya.


Kaisar Xuan Zhen tersenyum kepada mereka berdua. "Selamat datang kembali, anakku.."


Selagi Kaisar Xuan Zhen menyambut anaknya, mata Yi Changyin tiba-tiba tertuju pada Wen Yuexin. Gadis yang duduk di dekat Selir agung Han itu terasa memiliki kekuatan aneh dirasanya.


Dan saat menoleh, betapa terkejutnya Yi Changyin saat melihat kelopak mawar hitam di kening Wen Yuexin. Yang tentu saja hanya dia saja yang bisa melihatnya.


Wajah gadis itu terlihat pias. "Dewa kegelapan?" Gumamnya dengan tenggorokan yang tercekat.


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2