
Saat itu Feng'er maju ke hadapan Xuan Chen, sosoknya memang sangat menarik perhatian. Namun auranya sangat samar.
Pria berambut pirang itu mengambil sedikit abu dari mangkuk. Menatapnya dan menggosok-gosoknya.
"Astaga abu ini berwarna hitam. Mana mungkin abu Dewi tertinggi berwarna hitam." Nada Feng'er tampak penuh kemenangan.
Wen Yuexin meremas gaunnya gemas. Ia sungguh tak mengira hal ini akan terjadi. Xuan Chen yang mungkin sudah bergabung dengan Wu Yun itu semakin sulit dimanipulasi.
"Dengar, istriku belum meninggal. Dia hanya menghilang. Dan sampai kapanpun..." Jedanya. Dan kembali melanjutkan dengan nada yang memperingatkan, "aku tidak akan pernah mendirikan nisan istriku sampai kapanpun!! Kalian paham?!"
Mau tak mau semua orang mengiyakan keinginan Xuan Chen.
.......
.......
.......
"Apa kau bilang?!" Permaisuri Jiang Jinwei tampak marah setelah mendengar laporan dari Wen Yuexin. Han Qiangshu yang berada di sana hanya memijit pelipisnya.
Sejurus kemudian dia menggeram rendah. "Bagaimana itu bisa terjadi?!"
"Permaisuri, mungkin sekarang pangeran Zhaoyang sedang berupaya untuk mencarinya. Apa yang harus kita lakukan?" Han Qiangshu membuka suara.
"Apakah ikut mencarinya juga? Sedangkan kita sendiri tak tahu dimana keberadaan wanita rubah itu, pria yang serba biru telah membawanya kabur." Tambahnya.
Jiang Jinwei hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu. Masalahnya semakin runyam, upaya ingin menyingkirkan saingan anaknya sangatlah sulit.
"Wen Yuexin, apakah kau punya rencana lain?" Tanya Han Qiangshu pada putrinya.
Wen Yuexin mendesah pasrah. "Tidak ada yang bisa kulakukan lagi hanya menunggu saatnya tiba. Aku yakin Yi Changyin akan kembali."
"Tapi sialnya hal ini tidak bisa membuatnya hancur!" Jiang Jinwei memukul meja. "Ku kira pihak klan rubah akan turun tangan dan membuat pangeran cacat itu bertanggung jawab. Nyatanya tidak ada!"
'Benar, yang satu ini sangat aneh.' pikir Wen Yuexin.
"Ah, permaisuri.. mungkin untuk saat ini, kita biarkan saja dia. Kita hanya perlu menunggu aku menemukan seseorang yang dapat membuat Xuan Chen terikat pernikahan dan tunduk pada kalian."
Jiang Jinwei mengangguk-angguk dan berusaha menenangkan jantungnya yang memompa kencang. "Baiklah, kau benar."
"Aku harap kau menemukan orang itu, Xin'er." Sahut Han Qiangshu.
Wen Yuexin mengangguk-angguk. Kemudian tersenyum miring yang sangat samar.
'Sangat menyenangkan menggunakannya mereka berdua. Tenang saja, Shui Jifeng akan segera ditemukan.'
.......
.......
.......
Semilir angin dingin telah menyapu-nyapu permukaan kulitnya, menimbulkan gelenyar yang membuat kesadarannya perlahan pulih.
Cahaya terang menembus kelopak matanya, membuat Yi Changyin tiba-tiba tersadar. Dia dalam posisi terbaring, entah berada di mana. Langit-langit tempat ia singgah hanyalah batu.
"Nona Yi, kau sudah sadar?" Suara Shen Lan tiba-tiba menyapa telinganya. Membuat ia segera menoleh ke samping. Sangat silau, hingga membuat ia mengenyit.
Pria itu menghampirinya, membantu ia terduduk. Dan saat itu ia tersadar dengan dirinya yang masih menggunakan pakaian pengantin.
Shen Lan memberikan sekendi air putih. Dia langsung meminumnya. "Sudah berapa lama aku pingsan?" Tanyanya di sela-sela minum. Dia merasa sangat haus.
"Satu bulan empat belas hari."
Byur!!
Jawaban Shen Lan membuat Yi Changyin menyemburkan minumannya. Dia menoleh ke arah Shen Lan dengan tatapan yang tidak percaya.
"Apa kau bilang?!"
"Memangnya kenapa?" Jawab Shen Lan datar sambil menyodorkan sapu tangan.
Dia menghela nafas panjang sambil mengelap mulutnya yang basah. Kemudian menatap lekat-lekat benda putih mengkilap yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Luka luarmu sudah sembuh berkat pingsan dan perawatan dariku." Ujar Shen Lan sambil membenarkan jubahnya sendiri yang berwarna biru tua. "Tapi luka dalam sangat sulit jika dalam waktu dekat."
__ADS_1
"Tidak masalah, dan terima kasih, Shen Lan." Jawab Yi Changyin sambil tersenyum kearahnya.
"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi tugasku."
Yi Changyin merenung mendengar tuturan tulusnya. Terdiam memperhatikannya yang sedang membuat api unggun. Bukankah Shen Lan terlalu mengabdi padanya?
"Shen Lan.." panggilnya.
"Hmm?" Shen Lan hanya menjawab dengan gumaman
"Setelah perjalanan kali ini, kau boleh pergi dan menjalani hidup seperti yang kau inginkan. Aku tidak akan terus menahanmu."
Shen Lan menghentikan aktivitasnya. Namun ia masih terdiam, bergeming.
"Aku hanya menyelamatkanmu seadanya saat itu. Mengapa kau membalasku lebih?" Yi Changyin tersenyum. "Aku sangat senang jika kau hidup bahagia, sesuai apapun yang kau inginkan."
"Tapi aku sudah di takdirkan untuk melindungimu sampai aku mati." Jawab Shen Lan seadanya.
"Tapi bukan berarti harus mengorbankan impianmu bukan?" Sahut Yi Changyin cepat. "Aku tau kau mencintai Xuan Rong. Maka nikahilah dia, jangan terus menjadi perisai bagiku. Aku..."
"Kau akan tahu nanti alasannya, Yi Changyin." Shen Lan menoleh ke arahnya. Dia tersenyum, mungkin ini yang pertama kalinya.
"Kau memang benar. Aku juga ingin menggapai mimpiku. Tapi kebahagiaan itupun mungkin akan menjadi sesaat. Aku lebih baik menjalani tugasku untuk seumur hidup, sampai aku mati." Tambahnya.
"Tugas?" Yi Changyin mengenyit tak mengerti.
Shen Lan mengembangkan senyumannya, "kau akan tahu setelah aku mati kelak."
Kata-kata Shen Lan kali ini membuat dia berkaca-kaca. Yi Changyin meremas gaun pengantinnya dan menunduk. "Aku tidak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu, Shen Lan.."
"Hei... Aku bisa saja menikahi Xuan Rong asalkan dia setuju untuk tetap berada di sisimu."
"Tapi apa alasanmu?"
"Sudah kubilang, kau akan tahu ketika aku mati kelak."
"Tapi aku tidak akan membiarkanmu mati." Sahut Yi Changyin dengan tatapan yang sendu.
Shen Lan tertegun, kemudian tersenyum, lalu mendesis. Dia kembali membenahi kayu-kayu dalam api. "Kau bukan Dewi takdir yang bisa menentukan umur seseorang."
Yi Changyin terdiam. Tenggelam dalam emosi yang berkecamuk. Hatinya tak berhenti cemas. Jantungnya memompa kencang.
Kemudian Shen Lan pergi tanpa menunggu jawabannya. Menuju keluar gua menembus titik-titik salju yang turun. Yi Changyin hanya diam memperhatikan punggungnya sampai mengecil dan menghilang.
"Apa yang kau sembunyikan, Shen Lan?" Gumamnya curiga.
.......
.......
.......
Keesokan harinya, Yi Changyin dan Shen Lan telah bergegas pergi meninggalkan gua yang mereka tempati selama sebulan lebih. Menuju perbatasan alam baka yang kadang berpindah-pindah.
Sekarang mereka berhenti sejenak, menatap daratan yang berada di bawahnya. Sangat padat dan besar, yang tak lain dan tak bukan adalah daerah kekaisaran Xuan. Terlihat putih ditutupi salju.
"Setidaknya masih ada dua Minggu sebelum musim dingin berakhir." Ujar Shen Lan ikut menyaksikan pemandangan itu.
"Benar." Sahut Yi Changyin singkat.
"Dengan begitu, monster sungai alam baka tidak akan menyerang kita, karena dia sedang melakukan hibernasi."
Yi Changyin tak menggubris ucapan Shen Lan, karena ia tau itu. Yi Changyin mengeluarkan sebuah kertas yang tergulung. Itu adalah peta alam baka.
"Tempat matahari terbenam adalah tempat masuknya. Sekaligus tempat hutan Diaoshi berada. Hutan itu sangat luas hingga sampai ke selatan dan tengah. Dan Utara adalah neraka, tempat tinggal para raja neraka. Sementara timur adalah tujuan kita." Jelas Yi Changyin.
(Note : neraka disini adalah hukuman bagi orang-orang mati yang semasa hidupnya selalu menumpuk dosa, sebelum menyebrangi jembatan reinkarnasi. Hanya karangan author kok:v)
"Danau air kelupaan, sungai alam baka, jembatan reinkarnasi, dunia air pengembangan jiwa, istana Dewi takdir Yuan Ji ada di sana." Tambahnya.
"Tidak sulit bukan untuk mencapai kesana?" Tanya Shen Lan. Karena ia kurang tahu tentang hal ini.
"Alam baka penuh misteri, tempat orang mati, banyak jebakan, sebaiknya kita berhati-hati." Jawabnya sambil mengeluarkan liontin spiritual.
"Kau masuk saja kemari, aku pasti bisa mengurusnya soal masuk."
__ADS_1
"Dengan senang hati.." Ujar Shen Lan dramatis.
Yi Changyin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Shen Lan. Kemudian memasukan Shen Lan kedalam liontin spiritual miliknya, mengalungkan sendiri.
Sebelum memutuskan pergi, Yi Changyin menatap gelang pemberian Xuan Chen terlebih dahulu. Mengelus-elus lembut sambil tersenyum.
"Tunggu aku.." bisiknya pada angin. Dan berharap angin menyampaikan pesannya pada Xuan Chen.
Setelah itu dia mengubah wujudnya menjadi elang, agar mempercepat perjalanan. Melaju pergi menuju arah barat, berlawan dengan daratan Dongfang.
.......
.......
.......
Maafkan aku, aku terpaksa.
Dan sebenarnya aku selalu mencintaimu.
Xuan Chen,
Jangan mencariku.
Aku pergi dan berjanji akan kembali.
Aku berharap kau baik-baik saja saat aku pergi.
Tetap jaga dirimu.
Tetap tunggu aku.
Oh ya, jangan lupa bersihkan nisan Jinmi setiap hari.
Sekali lagi,
Aku mencintaimu
Istrimu, Yi Changyin.
Xuan Chen terus membaca surat yang Yi Changyin tinggalkan berminggu-minggu lalu, walaupun sedang berada di ruang kerjanya seperti sekarang. Ia senang, namun sakit dan pedih.
Benar, dia senang karena kata-katanya Shen Lan saat itu hanya untuk membuat dia merelakan Yi Changyin pergi.
Ya walaupun sepenuhnya tak berhasil. Dan mungkin karena ini Yi Changyin meninggalkan surat, ia merasa gagal untuk membuatnya melupakan.
Namun di balik itu dia sangat menderita. Mengingat Yi Changyin pergi, pasti dengan luka badai petir yang dia kira dari Wen Yuexin. Wanita itu sungguh meresahkan.
Dia selalu menunggu pintu terbuka, lalu menampilkan sosok yang dirindukannya. Menggunakan energi roh Wu Yun untuk melacaknya sampai ke pelosok alam peri, namun dia tidak menemukan jejak Yi Changyin.
Ya, dia juga belum membuktikan kalau Wu Yun tidak pernah membenci Bai Suyue. Semenjak mengambil kristal jiwa dari Wen Yuexin, ia ragu untuk menggunakannya.
Karena takut, jika sudah bangkit nanti, dia malah akan membenci Yi Changyin. Namun nyatanya tidak. Sekarang dia sudah menjadi Wu Yun sepenuhnya walaupun yang tahu hanyalah Feng'er dan Heilong.
Tidak, sebenarnya belum sepenuhnya. Masih ada satu kristal lagi yang belum ditemukan. Entah dimana itu.
Dan nyata, setelah menjadi Wu Yun, dia malah semakin menyayangi Yi Changyin. Apakah ada kepingan masa lalu yang telah dilupakan?
"Kakak Xuan Chen!"
Suara yang menusuk-nusuk sekaligus memuakkan itu menyentakan Xuan Chen dari lamunan. Sialan! wanita itu datang kembali! Hampir setiap hari! Setiap jam!
Dia hanya menggeram rendah sambil berusaha untuk tak peduli. Membuka gulungan dan membacanya acak. Namun tak di sangka Wen Yuexin tiba-tiba duduk di sampingnya.
Membuat sensasi panas dan Xuan Chen segera mendorong Wen Yuexin sampai gadis itu berdiri kembali. Wen Yuexin hanya merenggut kesal, sementara itu Xuan Chen segera bergegas pergi.
Sudah diduga sebelumnya, Wen Yuexin kembali menyambar Xuan Chen. Mendekapnya dari belakang. Namun dengan cekatan, Xuan Chen menarik tangan Wen Yuexin hingga kini berpindah posisi ke depan.
Xuan Chen menatapnya tajam. Lalu berkata dengan dingin, "jangan ganggu aku lagi, kau bisa?"
.......
.......
.......
__ADS_1
btw, maaf ya kalo susunan kata-katanya kurang mengenakkan, author nulis seadanya dulu, waktu mepet😢
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗