The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CLI - Kebahagiaan yang Kembali (2)


__ADS_3

Xuan Chen merasa tersambar petir mendengar kata-kata sikembar. Jadi dua anak itu sering datang ke kamarnya? Lalu melihat dia tidur di samping Yi Changyin yang belum sadar?


Yi Changyin melihat Xuan Chen dengan dengan tatapan tajam, menunjuk ujung hidungnya dengan jari telunjuk. "Apa yang kau lakukan saat aku tidak sadar? Apakah kau..."


Xuan Chen yang merasa Yi Changyin salah paham segera menyela, "Yin'er, aku tidak melakukan apapun padamu. Aku hanya memelukmu sepanjang malam."


Yi Changyin mendengus dan menghampiri Sifeng dan Sijiu. "Anakku, apa yang ayahmu lakukan lagi saat aku tidur panjang?"


Sifeng dan Sijiu tampak berfikir sesaat. Tak lama kemudian Sijiu menjawab, "benar! Ayah pernah memasuki rumah bordil!


Lagi-lagi Xuan Chen terkena tamparan mendengar hal itu. Dia memang pernah sekali masuk ke rumah bordil. Tapi hanya upaya untuk membantu Yue Xingfei menangkap pencuri di alam peri yang kabur. Bukan ada maksud lain.


"Bagus sekali kelakuanmu." Ujar Yi Changyin tampak ketus.


"Yin'er, aku tidak..."


"Sifeng, Sijiu, berapa kali ayahmu pergi?" Potong Yi Changyin dengan keji.


Dengan senyuman kejam, Sifeng menjawab, "seratus kali! Ayah bahkan menyewa gadis yang paling cantik dan berisi!"


"Hei itu bohong!!" Teriak Xuan Chen tidak terima dengan tuduhannya. Yang dikatakan Sifeng memang bohong, Yi Changyin juga tahu itu. Tapi demi menyenangkan anaknya, Yi Changyin harus mengorbankan suaminya di pojokan.


Dahulu Xuan Chen pernah menduga hal ini akan terjadi. Dimana Sifeng dan Sijiu pasti akan melakukan segala hal untuk merebut Yin'er nya.


"Bagus sekali kau Xuan Chen." Yi Changyin berpura-pura marah dan terbodohi yang membuat anak kembarnya itu tersenyum senang. "Malam ini kau tidur diluar!"


Setelah mengatakan itu Yi Changyin membawa anak kembarnya pergi memasuki ruangan. Tak memperdulikan Xuan Chen yang berteriak membela dirinya.


Pria itu ingin menangis tanpa air mata. Posisinya sebagai pria terkasih Yi Changyin telah tersingkir oleh dua setan kecil itu.


Saat Yi Changyin di dalam tiba-tiba...


"Ibunda kau sudah bangun!!!" Feng'er dan Heilong menghambur ke arah Yi Changyin dengan posisi hendak memeluk.


'Penganggu datang lagi.' begitulah yang berada di pikiran sikembar.


Belum beberapa meter mencapai Yi Changyin, Xuan Sifeng memutar balikan mereka menjadi membelakangi dengan elemen angin. Mereka berdua tidak bisa menghindar dan hanya terkesiap.


Di waktu yang singkat, Sijiu mengeluarkan sembilan ekor putihnya yang cantik dan memukul mereka berdua dengan keras hingga tersungkur dan mencium tembok.


Setelah itu mereka sikembar tertawa senang. Feng'er dan Heilong seperti cicak, mereka mengusap-usap bokongnya yang sakit. Sementara itu Yi Changyin menganga sampai di tutupi tangannya sendiri.


"Berani memeluk ibu kami.." Ujar Sifeng sengaja menjeda kalimatnya.


Kemudian Sijiu melanjutkan, "hadapi kami dulu." Mereka berdua kemudian berkacak pinggang. Yi Changyin terkekeh pelan dan memeluk mereka berdua. Anak kembarnya itu sungguh menggemaskan.


Sementara di luar, Xuan Chen hanya terbengong. Dia ingin menangis tanpa air mata lagi. Sepertinya untuk mendapatkan kasih sayang Yin'er kembali dan anak membuat keempat akan sangat sulit.


.......


.......


.......

__ADS_1


Malam harinya mereka berkumpul di pinggir danau dan membakar ikan. Xuan Chen, Feng'er dan Heilong yang mengurus semuanya. Mereka bertiga dihukum oleh sikembar karena berusaha mendekati sang ibu.


Xuan Chen hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Niatnya setelah Yi Changyin bangun dia akan memeluknya sampai puas dan tidak ada yang menganggu. Tapi nyatanya, dia kalah dengan sikembar. Tidak, lebih tepatnya Yi Changyin lebih memihak pada sikembar.


Sungguh ia menjadi suami yang terbuang.


Sekarang Yi Changyin dan sikembar sedang bersantai di ayunan rotan pinggir danau sambil memakan jagung bakar. Xuan Chen hanya bisa menatapnya dengan iri.


Sementara Yi Changyin sendiri tak memperdulikan suaminya. Hanya fokus mengobrol dengan sikembar dan mendapatkan banyak kejutan. Sifeng dan Sijiu menceritakan banyak pengalaman belajarnya.


Di umur yang hampir lima ratus tahun, mereka sudah mencapai kultivasi kristal. Terlebih ada ruang dimensi spiritual yang membantu mereka berkultivasi.


Singa roh api kini sudah mendapatkan wujud manusia, pria tampan dan telah berkontrak dengan Sifeng. Begitupun dengan kalajengking es.


Tak disangka ternyata dia seekor betina dan mendapatkan wujud yang cantik bergaun serba biru. Kalajengking itu telah menjadi binatang kontrak Sijiu.


(Author kan pelupa, pernah baca gak author menyebutkan gender si kalajengking es? (dulu dia kan kalajengking hitam ya) Kalo nggak sih ya Alhamdulillah. Sumpah author lupa catat. Kalo misalnya pernah disebutkan 'jantan' mau author ganti dan kalian lupain aja gendernya yang dulu. Kalo misalnya pernah disebutkan dan kalian ingat, sebutkan di bab mana atau pas adegan yang mana ya, mau author revisi. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏)


Mungkin lebih dari itu yang dia lewatkan selama tertidur. Xuan Chen harus menjadi pencerita yang baik nanti. Dalam hati, Yi Changyin juga ingin bersama Xuan Chen lebih lama. Tapi rasa pada buah hatinya lebih besar.


Jika suatu hari nanti dia harus memilih antara Xuan Chen dan anak-anak... 'Lebih baik tidak memilih.' Pikir Yi Changyin sambil tersenyum sendiri. Tapi jika serius, tentu saja Yi Changyin akan memilih anak-anak.


"Ibu, apakah kau ingin melihat seni bela diri yang telah dipelajari kami?" Tawar Sifeng tiba-tiba yang menyadarkan lamunannya.


Yi Changyin mengangkat alisnya. Sepertinya itu sangat menarik. Dia juga ingin tahu, sejauh apa ilmu yang telah diajarkan Xuan Chen pada anak-anak mereka.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Yi Changyin, Sifeng dan Sijiu segera turun dari ayunan. Merubah penampilannya menjadi seperti pendekar. Pakaian mereka berwarna biru seling putih.


Setelah saling melirik dan memberi aba-aba, mereka mulai berlari ke tengah danau. Menapak di atas air dan mulai mengeluarkan pedangnya masing-masing. Xuan Chen yang sedang membakar ikan tersenyum.


Sekarang di atas danau, mereka saling menyerang namun tidak berbahaya di atas air. Seperti mempertunjukkan tarian melalui ilmu pedang. Lebih cantiknya lagi, Sijiu mengeluarkan sembilan ekornya yang bercahaya. Dan Sifeng mengeluarkan sayap Phoenixnya yang berapi.


Mereka masih anak-anak, tapi sudah terlatih sejak kecil. Yi Changyin menjadi curiga Xuan Chen melatih mereka dengan keras.


Tak lama kemudian mereka kembali dengan kelelahan. Yi Changyin memberinya masing-masing kendi minum. Sekaligus langsung habis dan kosong.


Lalu tiba-tiba mereka mencium bau ikan bakar yang telah matang. Perut mereka menjadi lapar dan segera menghambur ke arah Xuan Chen. Sikembar langsung bergabung bersama yang lain dan makan.


Yi Changyin masih menyendiri di atas ayunan, ketika Xuan Chen menghampirinya dengan dua tusuk ikan bakar. Pria itu segera duduk di sampingnya, menyadarkan kepala ke ayunan rotan.


Ketika Yi Changyin tak sabar dan ingin meraih ikan itu, Xuan Chen menjauhkannya. Wanita itu mengerutkan kening. "Biar aku yang menyuapi." Ujar Xuan Chen dengan senyuman.


Yi Changyin tak berdaya dan membiarkan Xuan Chen menyuapinya. Pria itu dengan sabar memisahkan daging dengan duri-duri yang tajam.


Setelah makan, mereka masih berduaan di sana. Kepala Yi Changyin bersandar di bahunya dengan nyaman. Pria itu memeluknya hangat.


Tiba-tiba Xuan Chen teringat sesuatu. Wajahnya sedikit cemas, "Yin'er, soal ke rumah bordil tadi..."


"Aku tahu Sifeng berbohong." Sela Yi Changyin sambil mengusap-usap punggung tangannya.


Xuan Chen menghela nafas lega dan mencium keningnya lembut. Kemudian memeluknya lebih erat lagi.


"A Chen, apa yang terjadi selama aku tidur?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu Xuan Chen menarik nafas. Kemudian menceritakan peristiwa paling penting apa yang terjadi.


Terutama tentang hukuman mati Zhang Bixuan dan Qi Xiangma. Aoyi Jinqi yang menjadi Ratu iblis. Tentang Xuan Rong yang menjadi jendral wanita dan Yue Xingfei yang telah menjadi Ratu alam peri.


Lalu kematian Gaoqing Dijun dan Qi Zhongma yang menggenaskan. Dan terakhir, hal lainnya seperti perjalanan Xuan Chen mencari potongan jiwanya.


"Kau pasti menderita. Maafkan aku." Tutur Yi Changyin penuh rasa bersalah.


"Yin'er, kau yang lebih banyak berkorban untukku. Bahkan berani membuat rambutmu memutih. Sekarang, aku telah mengembalikan rambut hitammu. Seharusnya kau senang, jangan meminta maaf."


Kemudian Xuan Chen memeluknya dengan erat, tak peduli dengan keributan di belakangnya. Yaitu Sifeng dan Sijiu yang bertengkar dengan Feng'er dan Heilong.


"Dibanding dengan yang kemarin, hutangku padamu masih banyak." Xuan Chen melanjutkan. "Aku akan..."


"Bisakah kita memulai yang baru?" Sela Yi Changyin yang membuat kening pria itu mengkerut.


Yi Changyin melanjutkan sebelum pria itu bertanya, "biarkan yang lalu telah berlalu. Semua yang terjadi telah terjadi dan lebih baik ditinggalkan. Sekarang, kita fokus membangun keluarga disini. Jangan sampai karena masa lalu yang menyedihkan, kebahagiaan kita menjadi terbatas."


Setelah itu mereka saling menatap untuk waktu yang lama. Kemudian Xuan Chen tersenyum, mengecup dahinya sekilas.


"Aku juga ingin seperti itu, Yin'er. Tapi aku selalu merasa bersalah padamu." Katanya dengan suara yang bergetar. "Setiap hari selalu merasa, akulah pria terbodoh di dunia."


"A Chen..." Sela Yi Changyin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Andai saja waktu itu..."


Yi Changyin segera mencium bibirnya ketika Xuan Chen hendak berbicara yang macam-macam lagi. Kali ini Yi Changyin benar-benar ingin melupakan masa lalu. Kemudian memulai hidup baru yang lebih baik.


Setelah melepaskannya, mereka saling menempelkan kening. Merasakan hembusan nafas dari dekat, mata mereka terpejam.


"Hanya satu yang ku inginkan." Ujar Yi Changyin dengan pelan. "Yaitu hidup bahagia denganmu. Tanpa penghambat apapun terutama karena masa lalu. Membesarkan anak-anak dan memberikan kehangatan pada mereka bersama-sama."


Xuan Chen akhirnya menghela nafas dan membuangnya. Bayangkan saja buangan nafas kali ini adalah membuang masa lalu yang tidak semestinya untuk diingat ketika berbahagia.


"Baiklah." Xuan Chen tersenyum dan menatap matanya yang terpejam. "Aku berjanji... akan melupakan masa lalu dan mewujudkan kebahagiaan ini untukmu."


Setelah itu Xuan Chen kembali mempertemukan bibir mereka. Menekannya dengan lembut tanpa memperdulikan keributan di belakang. Yi Changyin melayaninya dengan baik, dia sangat merindukan sentuhan ini.


Hembusan angin malam menerbangkan rambut mereka. Kunang-kunang menyinari sekitarnya, sangat indah. Walaupun dingin, keduanya telah merasakan kehangatan. Bulan bintang telah menjadi saksi akan janji Xuan Chen.


Terima kasih pada Dewa karena telah mengizinkan kami untuk berbahagia sekali lagi.


Terima kasih karena telah meloloskan kami dalam ujian bencana cinta.


Semoga kebahagiaan selalu menghujani kami sebagaimana derasnya titik-titik hujan saat sore di musim semi.


"Yin'er, aku mencintaimu..."


"Aku juga mencintaimu, A Chen"


.......


.......

__ADS_1


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2