
"Pergilah!" Seru Yi Changyin dengan suara yang tercekat. Sambil mendorong keduanya hingga berubah menjadi abu untuk sementara dan masuk ke dalam ruang dimensi spiritual.
Dia kembali melangkah pergi dari sana menuju pintu. Suara petir tak membuat dia ragu untuk membuka pintu. Setelah menutupnya kembali, dia berlari ke halaman samping.
Namun petir itu tak sabar untuk menyambar tubuh Yi Changyin. Dia ambruk ketika tubuhnya di sengat dengan keras dan seteguk darah telah dia muntahkan. Dia tidak bisa melawan, karena ini hukum langit.
Yi Changyin berusaha bangkit, kemudian terbang tinggi untuk melompati tembok pembatas. Ia ingin segera keluar dari kediaman Adipati Zhaoyang. Dia takut akan pingsan di sini, dan semuanya akan sia-sia.
Namun saat berada di atas tembok pembatas, petir kembali menyambarnya tanpa ampun. Membuat ia terjatuh menabrak tembok pembatas, lalu jatuh ke atas tanah sampai berguling-guling.
Untung saja keluar dari kediaman Adipati Zhaoyang, bukan masuk kembali.
Namun petir terus menerus menghantam tubuhnya hingga tak ada waktu lagi untuk terbangun. Rasa sakit terus menjalar menggerogoti kesadarannya. Mengeluarkan berliter-liter darah.
Perlahan matanya memberat dan tak kuasa lagi untuk tetap sadar, walaupun benda menyengat itu terus menerus menghantam tubuhnya.
.......
.......
.......
"Kakak ketujuh!! Kakak ketujuh!!"
Suara itu terus menerus menusuk telinganya. Menarik raganya untuk kembali ke alam sadar. Namun raganya itu masih ingin menarik seseorang yang hendak pergi dalam mimpinya.
Namun seseorang itu telah tenggelam dalam kabut. Dan panggilan tadi berhasil membuat matanya terbuka. Lembut-lembutnya di tarik paksa hingga ia terbangun.
Pemandangan yang pertama kali Xuan Chen lihat adalah sosok gadis yang dia kenal sebagai adik tirinya, Xuan Rong.
Ia menoleh ke arah lain, mendapati Xuan Yao. Keduanya tampak gelisah melihatnya. Juga ada Feng'er dan Heilong yang berdiri di belakang mereka berdua.
"Kakak ketujuh, akhirnya kau sadar.." Xuan Rong tampak menghela nafas lega.
Kemudian mereka berdua membantu Xuan Chen untuk duduk di atas kasur. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Memijit kepalanya yang pening, sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
Namun ketika melihat pakaian pengantin merah yang dia pakai, Xuan Chen terbelalak. Ingatan-ingatan semalam mulai memasuki pikirannya, membuat kepalanya terasa kembali pening.
"Kakak ketujuh, minum dahulu." Xuan Rong menyodorkan secangkir air putih.
Xuan Chen menerimanya dan segera meminumnya. Mungkin pikirannya mulai menjadi jernih, hingga ia baru teringat pada seseorang.
"Dimana Yi Changyin?!" Tanyanya panik, menatap satu persatu wajah mereka berempat.
Feng'er dan Heilong hanya menunduk terdiam. Xuan Rong dan Xuan Yao saling melirik dengan ekspresi yang rumit. Hal itu membuat Xuan Chen semakin cemas.
"Apa yang terjadi?!" Tanyanya sekali lagi. Dengan jantung yang berdebar-debar penuh kekhawatiran.
Saat itu Xuan Rong berusaha menjawab, "itu.. seorang pelayan.."
Kata-katanya terhenti saat Xuan Yao menyenggolnya. "Jangan katakan sekarang.." bisiknya yang masih terdengar oleh Xuan Chen.
Pria itu berdiri mencengkram kedua bahu Xuan Rong. "Katakan apa yang terjadi?!"
Xuan Rong tidak menjawab, hanya menunduk dengan ekspresi yang takut.
Kemudian beralih pada Xuan Yao. "Xuan Yao?!"
Namun sang pangeran kedelepan itu malah menggeleng cepat, pertanda tidak mau menjawab.
__ADS_1
Jelas tingkah mereka berdua menimbulkan berbagai firasat buruk di kepalanya.
Mungkin tak ada gunanya menanyai kedua adiknya yang tiba-tiba membisu. Xuan Chen berbalik pada kedua hewan ilahinya.
"Feng'er? Heilong?" Ia berusaha bertanya dengan nada yang halus.
Feng'er hanya terdiam dengan ekspresi sedihnya. Sementara Heilong berusaha menjawab, "i.. itu.. ma.. malam tadi ibunda.." dia mendesis tak ingin melanjutkannya lagi.
"Apa yang terjadi padanya?!"
Tiba-tiba suara lain menyahuti dari luar, "seorang pelayan telah melihat apa yang terjadi semalam." Itu adalah Wen Yuexin, yang datang tanpa permisi.
Semua orang menatapnya tajam, termasuk Xuan Chen. Namun gadis yang datang bersama pelayannya itu tetap memasang senyuman yang samar.
Setelah berada dekat dengan mereka, Wen Yuexin membungkuk pada Xuan Chen. "Pangeran Zhaoyang, mungkin anda dapat menanyainya."
.......
.......
.......
Xuan Chen menatap ragu pelayan wanita yang bersujud di bawah kakinya itu. Yang katanya telah melihat semua yang terjadi pada Yi Changyin semalam.
Jelas, banyak pelayan yang diam-diam mengintip di aula utama itu. Perihal hilangnya permaisuri Adipati Zhaoyang pada malam pernikahan, membuat semua orang heboh.
Telah banyak penyelidik yang sedang berupaya mencari dan menyelidiki keberadaan anggota keluarga baru kekaisaran itu. Begitulah yang hanya bisa Xuan Rong menjelaskan.
"Jelaskan apa yang terjadi." Ujar Xuan Chen dengan nada yang dingin. Walaupun sebenarnya hatinya sedang dalam kehancuran.
Kemudian pelayan itu berusaha menjelaskan walaupun tubuhnya bergetar hebat. Seperti telah trauma karena melihat sesuatu.
"Jawab yang mulia. Saat malam hari di tengah-tengah hujan salju, banyak mata petir yang menyambar ke halaman kamar pengantin."
"Apa yang terjadi padanya?!" Bentak Xuan Chen sambil menggebrak meja. Dia sungguh telah kehilangan kesabarannya.
Pelayan itu mau tak mau kembali menjelaskan sambil menangis, "hamba melihat.. permaisuri Adipati tersambar petir berkali-kali. Tubuhnya terlihat lemah dan tak berdaya."
Hati Xuan Chen mencelos berkali-kali mendengarnya. Namun ia sedikit percaya dengan ceritanya yang ini. Karena yang terakhir dia ingat, adalah badai petir.
Lalu Yi Changyin membuatnya tak berdaya dan pergi keluar untuk menghadapi petir yang jumlahnya tak sedikit, mungkin itulah yang terjadi.
Pelayan wanita itu melanjutkan, "kemudian aku melihat beliau berusaha bangkit dan pergi ke halaman belakang. Aku terus mengikutinya sambil berteduh karena takut tersambar petir."
"Namun.. namun.." pelayan itu kembali menghentikannya, tiba-tiba menangis seakan tak kuat untuk melanjutkan. Membuat Xuan Chen merasa kesal.
"Namun apa?!"
"Aku.. aku melihat tubuh permaisuri Adipati yang terkulai lemah, saat badai petir telah berhenti. Aku hendak menolongnya tapi.. tiba-tiba.. tubuhnya menghilang, banyak sesuatu yang beterbangan ke atas langit."
Nafas Xuan Chen semakin berderu mendengarnya. Teringat dengan tubuh mungil Jinmi yang menghilang bersamaan dengan tujuh inti roh dan dua belas jiwanya beterbangan.
"Aku begitu takut dan berlari dari sana saat itu juga.."
"Tidak mungkin!!" Xuan Chen tiba-tiba kembali memukul meja.
"Kau pikir aku percaya pada karanganmu?! Yi Changyin adalah seorang Dewi tertinggi yang melegenda!! Tidak mungkin bisa mati semudah itu hanya karena petir yang hanya seperti cubitan bagi tubuhnya!" Teriaknya menggebu-gebu, dia begitu tak terima.
Begitupun dengan Xuan Rong, Xuan Yao, Feng'er dan Heilong. Ekspresinya menunjukan ketidak percayaan dengan cerita dari pelayan wanita itu.
__ADS_1
"Tapi yang mulia.." sahut Wen Yuexin dengan wajah yang penuh kemenangan. "Pelayan itu begitu takut sampai mengalami trauma. Aku yakin apa yang dikatakannya adalah kebenaran."
Xuan Chen mendengus. Matanya menatap tajam Wen Yuexin, telunjuknya mengarah pada pelayan wanita itu, "dia suruhanmu bukan? Kau pikir aku terlalu bodoh untuk mengenali?"
Wen Yuexin hanya tersenyum miring. "Bukannya dia adalah pelayan kediamanmu, yang mulia?"
"Memang benar, tapi apa saja bisa terjadi dengan kau, ibumu, permaisuri dan anak-anaknya yang bertindak."
Wen Yuexin terdiam sambil menunduk, menahan emosinya.
"Apa jangan-jangan.. kau yang telah mengirim petir itu, Wen Junzhu?"
Tuduhan Xuan Chen kali ini membuat semua orang terbelalak. Termasuk Wen Yuexin sendiri.
"Yang mulia, aku tidak bisa mengendalikan petir.. kau tau itu." Elaknya membela diri sendiri. "Bukankah karena hubungan kontrak kalian mendapatkan petir?"
Xuan Chen terkekeh pelan. "Apa kau tidak tahu kalau Shen Lan yang membuat perisai spiritual pelindung? Agar semua yang kami lakukan tidak terbaca Dewa guntur dan Dewi petir."
Wen Yuexin tertegun. Dia memaki dalam hati karena tidak tahu perihal ini. Ia terus menggerak-gerakkan matanya panik, sementara Xuan Chen semakin merasa menang.
"Aku memutuskan, kalau istriku belum mati. Tapi dia ada di suatu tempat." Tambah Xuan Chen.
"Kakak ketujuh kau yakin?" Bisik Xuan Rong merasa khawatir jika Xuan Chen terus yakin dengan angan-angannya.
Pasalnya tidak ada yang tahu dimana Yi Changyin saat ini. Termasuk Feng'er dan Heilong yang pernah menjadi binatang kontraknya.
Xuan Chen tersenyum meyakinkan adiknya. "kau tenang saja, kakak iparmu pasti akan kembali."
Xuan Rong hanya menghela nafas panjang. Dia tahu di balik senyuman kakaknya itu ada derita yang menyedihkan. Dia tahu kakaknya itu sedang berusaha menutupi rasa sakit di hatinya.
Seluruh ruangan hening, sampai tiba-tiba salah satu dari biro penyelidik istana datang menghadap. Membawa sebuah mangkuk porselen di tangannya. Dan melihat hal itu Wen Yuexin tersenyum penuh kemenangan.
Ketua biro itu memberi hormat, "salam pangeran.. kami melaporkan, kalau pihak kami telah menemukan abu ini di belakang rumah."
Bak tersambar petir di siang bolong, Xuan Chen beserta yang lainnya terkejut bukan main. Jantungnya semakin melompat-lompat bak ingin segera keluar.
"Kami menemukan abu ini tertutup salju. Namun seorang kultivator membantu kami untuk untuk memisahkannya dari salju." Sang ketua biro menjelaskan lebih lanjut. "Karena menurut keterangan pelayan itu, kami mengira kalau ini milik..."
"Bawakan itu padaku!" Potong Xuan Chen tak ingin mendengar embel-embel mereka kalau itu adalah milik Yi Changyin.
"Oh, baiklah.."
Bawahan ketua biro itu membawakan mangkuk porselen kepada Xuan Chen. Dengan hati dan tangan yang bergetar, perlahan Xuan Chen menerima mangkuk itu. Hatinya terus menerus dilanda kehancuran.
Dia menatapnya dengan seksama. Wen Yuexin semakin mengembangkan senyumannya. Pria itu ingin menangis, Xuan Rong dan Xuan Yao terus mengelus-elus punggungnya.
"Yang mulia, karena abu milik permaisuri Adipati telah ditemukan, maka kami menyarankan untuk segera membuat nisan dan kuburkan abunya dengan la一"
"Ini bukan abu dari istriku." Potong Xuan Chen dengan ekspresi yang gelap.
Wen Yuexin dan pihak biro terbelalak mendengarnya. Xuan Rong dan Xuan Yao hanya bisa saling melirik dengan ekspresi yang rumit. Sementara Feng'er dan Heilong mengangguk-angguk setuju.
"Tapi yang mulia, kami.."
"Apapun bisa dilakukan seseorang yang ingin menyingkirkan Yi Changyin." Potong Xuan Chen lagi sambil melirik ke arah Wen Yuexin, menyindirnya. "Termasuk orang-orang yang memalsukan kematiannya untuk tujuan tertentu
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗