
"Bai Suyue.. apakah kau sungguh membenciku?" Tanya Wu Yun dengan nada yang serius. Tidak mencemooh, bahkan tidak ada nada angkuh.
Bukan karena pertanyaannya, tapi karena nada bicaranya, Yi Changyin menjadi tidak bisa menjawab apa-apa. Tertegun dan menggulir-gulirkan bola matanya dengan cemas.
Lalu teringat dengan kata-kata Xuan Chen yang menyatakan kalau Wu Yun tidak punya rasa benci untuknya.
"Bahkan jika menjadi Wu Yun, tidak akan ada kebencian di hatiku."
Membuat ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengusirnya pergi dengan suara yang tercekat.
"Pergi dari sini!"
Wu Yun hanya tersenyum. Melihat punggungnya. Kemudian dia menghampiri Yi Changyin dan berjongkok di sebelahnya. Membuat gadis itu tersentak dengan nafas yang memburu.
Namun sejurus kemudian Wu Yun mencium kening Yi Changyin dengan lembut. Setelah itu memeluknya dengan erat.
Kehangatan itu justru membuat racun bereaksi. Bola racun yang sudah menghitam tiba-tiba menunjukkan reaksi untuk kembali memutih. Menimbulkan rasa sakit yang berlebihan dan membuat seteguk darah dia muntahkan.
Wu Yun tidak terkejut. Dia malah menekankan api spiritual di tangannya ke arah dada kiri Yi Changyin. Gadis itu terbelalak melihatnya.
"Api biru murnimu tidak bisa bekerja untuk racun ini, bukan? Maka dari itu aku membantumu dengan api Phoenix murni ini.." Katanya sambil terus menatap Yi Changyin.
'Api Phoenix murni?'
Memikirkannya saja membuat Yi Changyin terbelalak. Jangan-jangan obat satu-satunya untuk menghilangkan racun ini hanya ada dalam diri Wu Yun.
Buktinya sekarang dia merasa lebih baik.
Api Phoenix murni yang di ciptakan oleh peri Feng Lianlian kini telah di miliki Wu Yun. Api itu sangat langka dan berharga. Namun jika di gunakan secara berlebihan maka bisa berujung pada kematian.
Dan untuk memusnahkan racun dalam tubuh Yi Changyin, sangat membutuhkan lebih.
'Jangan sampai dia menyadari hal ini..' pikir Yi Changyin was was. Ia sungguh takut jika Xuan Chen berani mati untuknya.
Memikirkan hal itu membuat Yi Changyin berinisiatif untuk melukai diri sendiri. Yang semula tenang karena api Phoenix murni, kini dia memuntahkan sungai darah kembali.
Membuat Wu Yun terbelalak dan segera menghentikannya. "Ada apa denganmu?!" Tanyanya panik.
"Apakah kau akan membunuhku?" Yi Changyin balik bertanya dengan nada yang dingin.
Wu Yun mengenyit tak mengerti.
"Aku air, kau api, kau pikir itu akan membantu?!" Yi Changyin menatapnya dengan tajam.
Awalnya Wu Yun tertegun. Kemudian dia menunduk dan mengangguk-angguk. "Baiklah, aku yang salah."
"Pergi dari sini!" Yi Changyin mengusirnya lagi.
Wu Yun menganggukkan kepalanya lagi. Dan Yi Changyin dapat melihat kilat penyesalan dalam iris hitamnya. Ia berusaha tak peduli sambil memegangi dadanya yang terasa perih.
Sementara itu Wu Yun mulai berdiri. "Maafkan aku." Setelah itu dia pergi meninggalkannya sendirian.
Yi Changyin masih memperhatikan punggungnya yang menjauh. Rasa sakit mulai menjalar kemana-mana hingga membuat tangisannya kembali meledak.
Sedangkan Wu Yun masih memperhatikannya dari jauh. Menyaksikan Yi Changyin yang sedang menangis tersedu-sedu. Ia juga tidak tahu alasan mengapa Yi Changyin bisa seperti ini.
Ia kemudian berbalik, menyandarkan kepalanya di pohon. Sambil mengingat-ingat kejadian pertama kali dia hidup kembali. Dan langsung berhadapan dengan sosok wanita yang mengejutkan.
Flashback on.
"Aku tahu kau akan kembali."
Wu Yun menyedekapkan tangannya di dada. Kemudian menatap Wen Yuexin dengan tatapan yang mencemooh. "Kau lagi. Bisa-bisanya tidak mati."
Wen Yuexin terkekeh pelan. "Wu Yun, bekerja samalah denganku."
__ADS_1
"Tidak." Jawab Wu Yun cepat, singkat, padat dan jelas.
"Ayolah.. kau sudah tidak punya tempat tinggal lagi, Wu Yun. Alam peri tidak akan pernah menerimamu lagi. Dan semua pengikutmu sudah musnah." Wen Yuexin berusaha membujuk dengan menjabarkan keadaan yang sedang Wu Yun hadapi.
"Wu Yun, kita gelap, kita berada di pihak yang sama. Jangan ragu untuk bergabung denganku dan menghancurkan Bai Suyue." Tambahnya.
Wu Yun tertawa kecil. "Aku tidak ingin berperang dengan Bai Suyue lagi."
"Wu Yun, kau?!" Wen Yuexin menatapnya tak percaya.
"Lebih baik aku menjadi pelayan Bai Suyue dari pada bekerja sama dengamu." Wu Yun menatapnya penuh penghinaan.
Wen Yuexin hanya terdiam, menatapnya dalam keheningan.
"Lagipula aku sudah menikah.. dan memiliki anak dengan Bai Suyue, bukan? Jadi.. aku memutuskan untuk berdamai dengannya saja. Aku tidak mau anaknya tidak memiliki ayah."
Penjelasannya kali ini membuat Wen Yuexin terbelalak. "Bagaimana kau tau itu?!"
Wu Yun mendengus melihat kebodohannya. "Seseorang yang baru bangkit, akan mendapatkan petunjuk secara tidak langsung tentang tubuh yang selama ini menjaga kepingan jiwanya. Itu saja tidak tahu."
Detik berikutnya Wen Yuexin tertawa. "Baiklah.. aku tidak tahu. Tapi Wu Yun.. percayalah padaku. Aku.."
"Sudah kubilang aku akan tetap tinggal di alam peri." Potong Wu Yun kukuh dengan keputusannya.
"Bukankah kau dan Bai Suyue saling membenci?" Wen Yuexin merasa menang setelah mengatakan hal itu. Karena pada dasarnya semua orang tahu itu yang terjadi.
Namun jawaban Wu Yun membuat ia tak bisa berkata-kata lagi, "Bai Suyue mungkin begitu. Tapi aku.." Wu Yun menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil tersenyum. "Tidak! Bahkan tidak pernah membencinya."
"A.. apa?!"
"Aku tahu kau pasti terkejut. Tapi aku dulu melakukan hal itu demi hidup. Kau pasti tahu aku sangat benci kematian." Tambahnya dengan angkuh.
Wen Yuexin menggeram rendah. "Apapun yang terjadi.. aku akan tetap membuatmu berada di sisiku!!" Teriaknya dan mulai menyerang Wu Yun.
"Jangan harap.."
Flashback off.
Wu Yun masih menatap Yi Changyin yang sedang merenung di depan nisan putrinya. Dia kemudian tersenyum. "Tidak apa.. jika kau masih membenciku."
Ia semakin melebarkan senyumannya. "Aku akan tetap memaksa." Tambahnya sambil berlalu pergi.
.......
.......
.......
"Nona Yi, dia sudah menjadi Wu Yun." Ujar Shen Lan tiba-tiba datang di belakang punggung Yi Changyin sambil menyedekapkan tangannya di dada.
Yi Changyin tidak terkejut dengan kedatangannya. "Memangnya kenapa?" Tanyanya dengan datar.
"Bagaimana dengan Phoenix dan Naga beserta ruang dimensi spiritual milikmu? Bukankah ada padanya?"
Dan dengan santainya Yi Changyin berkata, "biarkan saja."
Shen Lan menatapnya tak percaya. "Bukankah itu sangat berharga bagimu?!"
"Jangan banyak bicara! Soal mereka tanyakan saja sendiri pada orang yang bersangkutan! Xuan Chen atau Wu Yun sudah menjadi tuan mereka. Jadi tinggal atau tidaknya terserah mereka berdua. Lagipula mereka sedang fokus berkultivasi, aku tidak ingin menganggunya." Mungkin baru kali ini Yi Changyin berbicara panjang lebar semenjak kematian Jinmi.
Shen Lan hanya terdiam. Menunggu Yi Changyin untuk kembali berbicara.
"Lupakan hal itu. Aku punya hal penting yang harus di bicarakan denganmu."
Shen Lan merasa tertarik dan berjongkok di sampingnya. "Apa itu?"
__ADS_1
Yi Changyin tersenyum miring. "Aku sudah menemukan motif mereka mengenai kematian Jinmi."
"Hanya dengan merenung beberapa menit saja?" Ungkap Shen Lan kagum. "Katakan apa itu."
"Mereka yang membangkitkan Wu Yun. Mereka ingin membuat seolah Wu Yun yang membunuh Jinmi dan membuatku menderita."
"Intinya mereka ingin membuatmu membenci Wu Yun lebih dari dulu?" Sahut Shen Lan sekaligus bertanya.
"Tepat sekali." Yi Changyin mengangguk. "Waktu itu aku pernah membuat taruhan dengan Gaoqing Dijun. Kau pasti tau."
Shen Lan mengangguk-angguk. "Ohh.. jadi dia berencana licik ini demi memenangkan taruhan? Bahkan berani membujuk dewa kegelapan?"
"Sesuai dugaanmu."
"Lalu? Apakah mereka akan melakukan sesuatu di hari pernikahan resmi dirimu?"
"Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Aku yakin beberapa orang yang tau tentang hubungan kontrakku akan menggunakan petir. Membuatku seolah mati di hadapan Xuan Chen. Mungkin.. itu semua hanya tebakanku."
Shen Lan tampak berfikir keras. "Apa tujuannya?" Gumamnya heran.
"Ya, selama aku pergi mereka akan merencanakan sesuatu. Mereka tahu dengan Jinmi, aku tidak akan semudah itu dimanipulasi. Ketika aku pulang, pasti sesuatu akan terjadi." Jelas Yi Changyin yang membuat Shen Lan semakin paham tujuan mereka.
"Lalu mereka ingin membuatku membalas dendam dan membuka pengadilan langit. Karena tidak mungkin, alasan membunuh Jinmi hanya ingin membuatku menuduh Xuan Chen, bukan?"
"Aku mengerti!" Seru Shen Lan. "Mereka ingin mengungkap hubungan kontrakmu di pengadilan langit dan mendapatkan hukuman. Lalu menggunakan kesempatan saat kau lemah untuk membunuhmu dengan cara apapun."
"Tapi jika gagal, mereka akan menjalankan rencana berikutnya." Sahut Yi Changyin. "Yaitu di pernikahan Qiao Jirong dan Gaoqing Dijun."
Shen Lan hendak membuka suara, namun tiba-tiba Yi Changyin kembali menyambar.
"Dan soal Qiao Jirong, dia adalah Wei Qiao."
"Apa kau bilang?!" Shen Lan tampak terkejut.
Yi Changyin hanya tersenyum miring. "Formasi itu masih rapi, karena di dalamnya ada Qi Zhongma.."
"Apa?!" Shen Lan tambah melotot. "Artinya..." Bahkan dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Begitulah.."
"Tapi bagaimana kau tau?!" Shen Lan masih belum mengerti untuk hal yang satu ini.
"Coba pikir, kemunculan Qiao Jirong sangat tiba-tiba, sangat aneh. Dan selain dia, siapa lagi yang bisa memikirkan rencana seperti ini? Mengingat apa yang dilakukannya padaku di akademi Tianjin, lalu keluarga Wei yang tidak merasa kehilangan, semua sudah jelas."
Shen Lan hanya menjatuhkan rahangnya. Namun detik berikutnya dia bertanya, "kau sudah punya rencana?"
"Aku akan mengikuti apa yang mereka inginkan.. lalu menggagalkan setiap rencananya." Yi Changyin mendengus. "Jangan harap bisa membuatku hancur." Dia mencengkram erat jari jemarinya. "Hanya aku yang memutuskan ingin hancur atau tidak, mereka tidak akan bisa."
Shen Lan masih terdiam. Sedangkan Yi Changyin menarik-narik lengannya. "Aku punya rencana untuk Xuan Chen."
"Apa itu?"
Yi Changyin melambai-lambai tangannya, kemudian membisikkan sesuatu dalam waktu yang lama. Setelah selesai dia kembali ke posisi semula.
"Dengan cara seperti itu.. kau yakin Xuan Chen tidak akan membencimu atau melupakanmu?"
Yi Changyin termenung sesaat. Sebelum akhirnya menjawab. "Aku akan menyelesaikan apa yang terjadi begitu pulang. Aku juga akan memanfaatkan kepergianku untuk mencari apa yang kuinginkan."
Kemudian dia tersenyum simpul. "Jika dia melupakanku atau bahkan membenciku, aku tidak akan memaksanya."
"Dan jika benar itu terjadi, setelah semua selesai.. aku akan memberikan tahta kepada Yue Xingfei dan berkelana mencari ayah. Lalu membiarkan Xuan Chen hidup sesuai pilihannya, aku tidak akan memaksa ataupun menganggu."
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗