The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XLVII - Aku mencintainya, jangan halangi aku..


__ADS_3

Aula utama akademi dipenuhi dengan hamburan murid-murid menuju aula Zhisi. Atau lebih tepatnya tempat ruang pengetahuan yang memiliki lebih dari seribu gulungan dan buku.


Yi Changyin berjalan menyusuri lorong-lorong yang di batasi rak kayu dengan berbagai gulungan dan buku. Sambil sesekali melihat apa judul kitab yang dia temui nya, juga isinya. Tapi tak satupun yang bisa menarik perhatiannya.


Sampai saat ini pikirannya masih di penuhi dengan kesembuhan Xuan Chen. Entah kenapa dia selalu merasa di perpustakaan ini ada gulungan yang dapat menjawab semua keingin tahuannya. Walaupun selama tiga bulan, setiap kali kemari, hanya berakhir dengan membaca gulungan dan buku lain sebagai tambahan pengetahuan.


Sejak pertama kali perasaan indah ini tumbuh hingga mekar, dia merasa untuk tidak menundanya lagi. Dia tidak tahu apakah bisa menjadi cinta abadi. Seperti yang di lakoni beberapa Dewa dan Dewi.


Semakin menelusuri setiap lorong-lorong, semakin sepi keadaannya. Bahkan tidak ada ada satu murid pun di lorong samping kanan ataupun kiri. Ia terus berjalan sambil terus sesekali membaca sedikit-sedikit yang ada dalam gulungan atau buku.


Namun sampai pada persimpangan, Yi Changyin dan sengaja berpapasan dengan Xuan Chen. Membuat mereka harus saling berbagi tatapan mendalam untuk beberapa saat. Namun tak lama mereka kembali tersadar dan saling menampilkan senyuman canggung.


"Xuan Chen, sedang apa kau disini?" Tanya Yi Changyin terdengar bodoh. Untuk apa lagi jika selain membaca?


Xuan Chen berdehem. "Aku hanya sedang mencari yang benar-benar menarik untuk di baca. Hingga tak sadar sampai di sini."


Hening sesaat.


"Bagaimana.. denganmu?" Tanya Xuan Chen memecah keheningan.


Yi Changyin tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju lorong di sebelah kiri. Xuan Chen mengikutinya dari samping. "Sama sepertimu.."


Xuan Chen ikut tersenyum. Namun tiba-tiba dia mendorong tubuh Yi Changyin hingga rak-rak penuh gulungan itu menahan tubuhnya. Gadis itu sampat tertegun. Namun kembali tenggelam dalam tatapannya yang dalam.


"Xu.. Xuan Chen?" Yi Changyin berusaha berbicara walaupun terasa kelu.


Namun pria itu tidak menjawab. Dia tersenyum nakal yang membuat Yi Changyin sedikit merinding. Gadis itu memukul-mukul dadanya.


"Jangan mencari-cari kesempatan!" Cibirnya.


Xuan Chen lagi-lagi tak menanggapi ucapannya. Pria itu malah semakin mendekatkan wajahnya dengan senyuman nakal. Buru-buru Yi Changyin mendorong dadanya hingga mundur beberapa langkah. Xuan Chen makin melebarkan senyumannya selagi Yi Changyin berlalu di hadapannya.


Namun Xuan Chen menarik tangannya hingga ia melangkah mundur. Lalu pria itu menangkapnya, mendekapnya dalam pelukan dari belakang. Yi Changyin berontak, berusaha menolak. Mengingat posisi mereka sekarang. Murid atau guru bisa saja berlalu kemari!


"Xuan Chen!!"


"Tetaplah seperti ini sebentar saja.." Bisik Xuan Chen tepat di daun telinganya. Hingga desiran-desiran lembut berhasil membuat telinganya memerah.


Yi Changyin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa terdiam kali ini. Membiarkan pelukan nyaman ini melekat di tubuhnya. Pelan-pelan tangannya menelungkup kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.


Xuan Chen meletakkan dagunya di pundak Yi Changyin dengan nyaman. Menikmati wangi bunga persik pada tubuh gadis itu. Menenangkan pikirannya yang terus-menerus mengingat mimpi terburuk sepanjang masa. Nyaman, walaupun dia harus sedikit membungkuk karena gadis ini terbilang cukup pendek darinya.


Yi Changyin dapat merasakan detak jantung pria di belakangnya. Yang berdebar kencang seperti tengah di landa kecemasan. Dia mencoba melirik kesamping, melihat wajah besar yang tampak sangat tampan ini. Jelas, wajahnya menunjukkan kalau dia sedang menenangkan sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.


Yi Changyin dapat menebak. Terakhir kali dia melihat Xuan Chen mengeluarkan setetes air mata saat terbangun dari tidurnya. Apakah benar-benar dia bermimpi buruk? Seburuk itu kah? Sampai-sampai tak bisa menahan bendungan air matanya. Namun Yi Changyin tidak pernah berani untuk menanyakannya.


"Xuan Chen.." Akhirnya Yi Changyin memberanikan diri untuk memanggilnya. Dan pria itu hanya membuka matanya.


"Apa yang kau cemaskan?" Tanya Yi Changyin lagi. Namun langsung mendapatkan pelukan yang lebih erat dari sebelumnya.


"Xuan Chen?"


Namun Xuan Chen melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Yi Changyin hingga sempat saling menatap. Lalu kembali menenggelamkan wajah gadis itu dalam pelukannya.


"Yin'er, berjanjilah kau tidak akan pernah..." Kalimat Xuan Chen terhenti.


'Yin'er, aku memimpikan hal itu lagi semalam...'


"Xuan Chen, ada Legenda kalau seekor rubah akan setia pada satu pasangannya.." Ucap Yi Changyin.


"Kau jangan lihat dari ayahku yang punya banyak istri.."


Kali ini Xuan Chen terhibur dengan kata-katanya, dia tersenyum.


"Tapi, nyatanya ayahku hanya menyayangi nyonya Feng dan ibuku. Pernikahan dengan wanita-wanita itu hanyalah sekedar politik antar klan." Tambahnya.


"Dan aku tidak akan mengikuti jejak ayahmu." Sahut Xuan Chen. "Aku hanya akan menikahi dan mencintaimu.."


"Janji?"


"Tentu.."


Tiba-tiba Yi Changyin melepaskan pelukannya. Menarik Xuan Chen untuk kembali berjalan menyusuri lorong. Membaca sebagian judul buku dan gulungan sambil senyum-senyum sendiri.


"Oh ya, Xuan Chen. Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Ujar Yi Changyin masih sambil memeriksa buku-buku dan gulungan.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Apa yang kakek bulan berikan padamu?"


Xuan Chen tersenyum. "Hanya batu pemanggil. Itu akan berfungsi untuk memanggil nona Hua Mu Dan atau nona Yue Xingfei, bahkan kakek bulan itu sendiri." Yi Changyin mengangguk-angguk paham. "Bagaimana denganmu?"


"Batu teleportasi." Mengingat batu itu membuat Yi Changyin menggaruk tengkuknya. "Yang membawaku pergi ke kamarmu.."


Xuan Chen terkekeh, "kita harus berterima kasih pada batu itu." Mendengar hal itu membuat Yi Changyin memukul lengan Xuan Chen. Dan pria itu kembali tertawa.


Namun tiba-tiba mata Yi Changyin terpaku pada satu tempat. Membuat dia sedikit berbinar dan berlari ke arahnya. Tak menyangka mereka telah berada di pojok paling dalam ruang pengetahuan yang luas ini.


Dari luasnya ruangan, hanya terdapat rak buku dan gulungan yang tersusun rapi. Dia tidak pernah melihat dua lemari yang berada di hadapannya ini. Pasti lah di dalamnya berisi pengetahuan yang langka.


Tempat ini sangat sepi. Mungkin terlalu jauh dari pintu masuk yang membuat malas para murid. Ada yang dekat, untuk apa memilih yang jauh? Kira-kira seperti itulah pemikiran hampir seluruh murid.


Perbedaan tempat itu menarik Yi Changyin untuk membuka salah satu. Lalu menyuruh Xuan Chen untuk membuka yang satunya. kini mereka tengah sibuk-sibuknya mencari yang mereka cari.


Dalam pikirannya mereka hanya, 'Semoga ada di sini.. semoga ada di sini..'


Yi Changyin pastinya berharap menemukan gulungan yang berguna untuk kesembuhan Xuan Chen. Sedangkan Xuan Chen, tengah mencari-cari informasi tentang 'mimpi'.


Lama tak menemukan apapun. Mungkin jika ada murid atau guru yang melihat mereka, akan menepuk jidatnya frustasi. Padahal hanya tinggal membaca saja, tidak perlu pilih-pilih.


Namun Yi Changyin menarik salah satu gulungan yang lumayan tipis. Membuat dia ragu-ragu untuk membukanya. Namun tujuannya sebenarnya datang kemari adalah mengetahui sesuatu, bukan menemukan sesuatu yang menarik untuk di baca.


Di sisi lain Xuan Chen pun menemukan satu gulungan. Namun miliknya tiga kali lebih tebal dari yang di pegangi Yi Changyin. Mereka sama-sama membuka gulungan itu walaupun tak saling mengetahui apa yang masing-masing dilakukan.


Yi Changyin langsung terbelalak ketika membaca sedikit saja. Kemudian dia melirik Xuan Chen yang juga sedang membaca sesuatu. Diam-diam dia memasukan gulungan itu ke dalam cincin spiritual. Tenanglah.. tidak akan ada yang tahu..


Sementara Xuan Chen dapat melihat judul dari gulungan yang dia dapatkan. Kitab 'mimpi', karya Dewi Malam Qing Feiyu. Sepertinya ini adalah Dewi malam generasi terdahulu. Bukan yang sekarang. Tak sempat membacanya, buru-buru Xuan Chen menyembunyikan gulungan itu. Meminta Feng'er untuk menyembunyikannya tanpa sepengetahuan Yi Changyin.


Kemudian keduanya sama-sama mengambil gulungan yang acak. Lalu membacanya dengan buru-buru. Seolah mereka tidak mau diketahui semua orang atas perbuatannya. Termasuk Yi Changyin atau Xuan Chen sendiri.


.......


.......


.......


"Shen Lan.."


Panggilan itu membuatnya berbalik. Menatap Yi Changyin yang datang dengan senyuman mengembangnya. Shen Lan pun membalas senyumannya.


Yi Changyin mengeratkan jubah hangatnya, menghalau rasa dingin di tengah-tengah hutan gelap. Lalu dia mensejajarkan langkahnya dengan Shen Lan, dan memberikan sebuah gulungan padanya.


Sempat heran, tapi Shen Lan segera menerimanya walaupun masih tak yakin. Namun beberapa saat kemudian dia terbelalak setelah membacanya.


"Formasi ini?" Gumamnya dengan mimik wajah yang sedikit tak percaya.


Yi Changyin mengangguk sambil tersenyum.


Shen Lan yang menatapnya bertambah kebingungan. "Kenapa kau tersenyum?"


"Tentu saja aku bisa menyembuhkannya.." Jawab Yi Changyin antusias membuat Shen Lan menghela nafas.


Pria serba biru itu mengacak-acak puncak kepala Yi Changyin. "Anak bodoh, kau pikir bisa melakukannya dengan tingkat kekuatan yang seperti ini?"


"Aku bisa menjadi Dewi tertinggi.."


Shen Lan tertawa kecil. "Kau bodoh dua kali lipat. Kau pikir menjadi Dewi tertinggi hanya bisa sekejap waktu? Butuh waktu ribuan bahkan..."


"Shen Lan!" Potong Yi Changyin. "Bukankah aku sudah bilang, aku pasti bisa!" Katanya dengan yakin. Membuat Shen Lan menghela nafas frustasi.


Kemudian Yi Changyin melanjutkan. "Dan sekalian.. aku bisa membentuk pita suara baru dengan darah rubahku."


"Bodoh!" Cerca Shen Lan. "Tatacara dalam buku yang di berikan putri Xuan Rong tidak sepenuhnya bisa berguna.."


Membuat Yi Changyin memberenggut. "Lalu?"


"Kau masih perlu ganggang hijau di sungai alam baka. Sungai yang dipenuhi dengan roh roh yang akan memakan dagingmu. Atau menenggelamkanmu di sana!"


"Aku akan mengambilnya saat menjadi Dewi tertinggi!"


"Kau pikir menjadi Dewi tertinggi itu mudah?!" Bentak Shen Lan. "Coba kau pikirkan bagaimana menderita dan susahnya di kurung dalam pagoda penyucian itu? Yang bahkan bisa membuatmu mati sia-sia.

__ADS_1


"Belum lagi kau harus menerima lima puluh cambukan petir, apakah kau akan kuat di umurmu yang masih muda ini?"


"Shen Lan, aku.."


"Setelah itu kau akan mengorbankan darah suci rubahmu?! Lalu mengabiskan setengah energi spiritual untuk memecahkan formasi?" Shen Lan berdecak kesal. "Aku sungguh tak yakin kau akan selamat jika seperti itu.."


"Dan.. aku takut apa yang kau perjuangkan akan sia-sia.."


Membuat Yi Changyin mendongkak, matanya mulai berkaca-kaca.


Tak habis pikir, Shen Lan bahkan tidak tahu apa yang berada di pikiran gadis itu. Bayangan Shen Lan, dalam otak Yi Changyin sudah terdapat benang-benang kusut yang tak dapat lagi di pisahkan. Sudah benar-benar kacau!


Dia masih berusaha sabar, mengingat gadis itu seperti akan menangis. Hatinya sangatlah tidak tega. Lalu dia bertanya dengan nada yang lembut, "adik kecil, atas dasar apa kau begitu ingin berkorban untuknya. Apakah kau punya hutang padanya?"


"Aku mencintainya! Mohon jangan halangi aku!" Teriak Yi Changyin kalang kabut.


Membuat Shen Lan berkerut heran. "Cinta?!" Dia mendengus. "Memang benar, orang-orang yang dimabuk cinta akan seperti yang kau alami saat ini. Aku bahkan tidak yakin kalau pria itu akan mengerti perjuanganmu!"


"Apa peduli?!" Sahut Yi Changyin.


"Shen Lan,. kau tidak mengerti hatiku.."


"Kau juga tidak mengerti apa itu cinta.."


"Seumur hidupku hanya ingin melakukan apapun yang ku mau. Jika aku mau mati.. mengapa kau masih menghalanginya?"


"Kau?!" Shen Lan terbelalak. Kata-kata gadis itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.


"Shen Lan, semakin di ulur, waktu akan semakin berjalan dengan cepat. Aku tidak mau hal itu berlalu begitu saja.." Tambahnya sambil menahan tangis.


"Aku akan mengubah hukum langit! Aku tidak percaya menjadi Dewi tertinggi akan memakan waktu sepanjang itu!"


"Aku bisa menahan semuanya! Aku yakin!"


"Dan aku yakin semua itu tidak akan sia-sia!"


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi.. beri aku waktu selama empat tahun."


"Empat tahun?!" Shen Lan sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi. Berakhir dia harus menelan amarahnya lagi, dengan alasan tidak tega. Tentu saja dia sangat terkejut. Mengingat dalam sejarah, tidak ada Dewi tahap awal yang bisa menjadi Dewi tertinggi dalam waktu empat tahun.


"Aku tidak percaya kau akan menyelesaikannya dalam waktu dekat.." Tambah Shen Lan terdengar dingin.


Yi Changyin menekuk lututnya, memegangi kaki Shen Lan yang sedang acuh. "Aku tidak tahu kenapa, merasa kalau tidak mendapatkan izinmu semuanya akan kacau." Jedanya. "Jadi.. tolong izinkan aku.."


Shen Lan mengeratkan rahangnya. Dia mendorong Yi Changyin menggunakan energi spiritualnya hingga terpental kebelakang. Lalu hendak menyerangnya. Tapi buru-buru Yi Changyin terbangun dan menahan serangan Shen Lan.


Dua cahaya antara biru muda dan biru tua saling berlawanan menyatu dengan kegelapan. Angin disekitarnya berhembus kencang membuat anak rambut mereka saling beterbangan.


Namun Shen Lan merasa tidak tega dengan Yi Changyin. Akhirnya dia melepaskan energinya. Membiarkan serangan Yi Changyin mengenai tubuhnya.


Shen Lan kemudian terpental. Punggungnya menabrak batang pohon hingga seteguk darah dia muntahkan. Yi Changyin terbelalak dan segera berlari menghampirinya.


"Shen Lan?! Kau baik-baik saja?! Mengapa kau malah menerima seranganku?"


Namun Shen Lan tidak menjawab. Membuat Yi Changyin berinisiatif untuk memeluknya. "Mengapa kau melukai diri sendiri?"


"Maaf.." Shen Lan mengusap puncak kepala Yi Changyin. "Aku hanya menghukum diri sendiri karena telah membuat adikku menangis."


Yi Changyin terkekeh pelan.


"Baiklah, aku mengizinkanmu.."


"Benarkah?!" Suara Yi Changyin tampak kegirangan.


"Yaa. Setelah lulus dari akademi, kita akan menuju alam langit untuk meminta penyucian. Setelah kau menjadi Dewi tertinggi, kita pergi ke alam baka untuk mencari ganggang hijau. Ku dengar, di sana juga ada ulat sutra roh yang dapat menghisap darah kontrak."


"Terima kasih Shen Lan.." Hanya itu yang bisa dia ucapkan dari ribuan kata untuk memuji roh bunganya. Dia benar-benar sangat senang Shen Lan ataupun langit telah mengizinkannya.


Tapi percayalah, Shen Lan berkata seperti itu hanya untuk memenangkan 'adik kecil'nya. Lubuk hatinya yang paling dalam masih merasa tak terima dengan keinginan dan ego cinta Yi Changyin.


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2