
Usia Sifeng dan Sijiu sudah seratus tahun. Bayi kembar itu baru bisa berjalan selangkah dua langkah, berkata agak jelas dan berambut tebal dan sedikit panjang. Mereka juga agak gemuk karena diurus dengan baik.
Saat melihat ayahnya, mereka menyambut antusias. Xuan Chen sangat senang karena bayi-bayi itu tidak melupakannya.
Xuan Chen membawanya ke rumah di alam fana dan menyuruh Xiaoxuan dan Xiaobai yang menjaga mereka di kala ia sibuk sesuatu.
Tapi apa yang harus disibukan Xuan Chen setelah membangunkan jiwa Yi Changyin? Sekarang dia dan istrinya telah masuk ke dalam jajaran tetua alam peri, walaupun wajahnya tak menua sekalipun.
Harta akan terus mengalir, dia pun bisa mengelola kebun. Banyak ikan dan hewan buruan lainnya di sekitar. Selain itu di hutan banyak kebutuhan lain yang cukup memadai.
Tapi kali ini dia melepaskan urusan si kembar dan fokus pada Yi Changyin. Beberapa benda kini berada di atas kasur, Xuan Chen berdiri tak jauh dari letak kasur. Itu adalah liontin berisi abu Yi Changyin, inti roh Shen Lan dan Shui Jifeng dan segundukan kristal jiwa.
Feng'er dan Heilong sudah bersiap untuk membuat energi spiritual Xuan Chen stabil. Mereka ingin semua proses berjalan dengan lancar. Ingin wanita yang dicintai banyak orang itu kembali.
Tak menunggu lama lagi Xuan Chen mengangkat kedelapan kristal jiwa itu dengan energi spiritual khusus. Satu yang paling besar di kelilingi oleh tujuh kristal jiwa yang kecil.
Kedelapan bongkahan kristal itu bergerak ke udara kosong tak jauh dari tangan Xuan Chen. Setelah berhenti, ada cahaya redup yang menyelubungi. Energi spiritual yang berada di telapak tangan Xuan Chen adalah pengendalinya.
Untuk menyatukan jiwa yang berupa kristal itu membutuhkan energi yang lebih banyak. Oleh karena itu, Feng'er dan Heilong segera bersiap dan menyalurkan sejumlah energi spiritual.
Perlahan-lahan tangan Xuan Chen digerakkan untuk mengepal. Melakukan itu saja sangat sulit, harus menekan energi yang berada di telapak tangannya.
Semakin jari-jari Xuan Chen terkepal, semakin menyatu ke intinya. Sampai ketujuh kristal itu mulai menyatu, Xuan Chen menggertakan gigi, semakin sulit untuk mengepalkan tangannya. Dia membutuhkan energi spiritual yang lebih besar lagi. Namun jika terlalu memaksa, sama saja akan melukai diri sendiri.
Tak lama jari jemari Xuan Chen berhasil mengepal. Kristal jiwa itu menyatu dan berhasil menjadi lebih besar. Awalnya menimbulkan ledakan spiritual yang kecil, lama-lama kristal itu melayang-layang seperti biasa.
Ujung bibir Xuan Chen mengalirkan sungai darah. Pria itu segera mengelapnya dan merasa ini tidak masalah. Dia segera menoleh ke arah Feng'er dan Heilong, mereka tampaknya baik-baik saja.
"Ambil inti roh ayah mertua dan Shen Lan. Aku akan menyatukan kristal jiwa ini dengan abunya." Dia memberi perintah, Heilong segera maju untuk mengambil inti roh yang dimaksud dengan tangan penuh energi spiritual.
__ADS_1
"Feng'er, pasang perisai pelindung dan ambil alih kristal jiwa ini terlebih dahulu.." Katanya lagi.
Feng'er segera mengangguk dan memasang perisai pelindung tak jauh dari pintu, kemudian mengambil alih kristal jiwa. Sementara itu Xuan Chen segera mengeluarkan sebuah gelembung spiritual di ruang dimensi spiritual. Itu sudah di siapkan oleh Heilong sebelum proses ini dimulai.
Penutup liontin di buka. Abu itu perlahan keluar dan memasuki gelembung spiritual. Setelah selesai, Xuan Chen segera memasukan liontin itu ke dalam ruang dimensi spiritual. Lalu meletakan gelembung di atas kasur dan melayang-layang.
Feng'er memberikan kristal jiwa itu yang langsung diterima oleh Xuan Chen. Dia mendorongnya dengan hati-hati menggunakan energi spiritual. Dengan perlahan, kristal jiwa memasuki gelembung yang memiliki ukuran sama besar itu.
Selama proses masuk, angin besar sedikit tercipta. Menerbangkan anak rambut Xuan Chen ke belakang. Setelah masuk sepenuhnya, Xuan Chen melepaskan kendalinya.
Angin tiba-tiba berhembus kencang di dalam perisai yang di pasang Feng'er itu. Auranya sangat menekan hingga mereka harus memasang masing-masing perisai untuk melindungi diri. Terutama Heilong yang mati-matian melindungi inti roh Shui Jifeng dan Shen Lan.
Sementara itu kristal jiwa yang mencampur dengan abu dan gelembung itu bersinar terang. Semakin turun ke bawah kasur dan membentuk garis-garis tipis berwarna emas. Perlahan namun pasti, garis-garis itu membentuk setiap lekuk tubuh manusia.
Setelah proses selesai, angin kencang dan aura itu hilang. Mereka bertiga mengambil nafas untuk memperbaiki tubuh. Heilong segera memeriksa inti roh Shui Jifeng dan Shen Lan, itu baik-baik saja.
Sejurus kemudian mereka terkejut melihat bentukan tubuh manusia yang berbentuk garis-garis tipis berwarna emas itu.
Xuan Chen yang berbahagia, tak bisa menunggu lebih lama lagi. Heilong memberikan inti roh Shui Jifeng dan Shen Lan dengan hati-hati. Inti roh itu sangat rentan, mereka tidak mau ada kerusakan sedikitpun.
Seperti menyatukan kristal jiwa, Xuan Chen sedikit kesulitan untuk menyatukannya dengan garis-garis tubuh itu. Membutuhkan tekanan yang besar dan dorongan yang kuat. Feng'er dan Heilong tak luput dari membantu.
Setelah menyatu, inti roh itu melebur dan meluas sampai batas garis-garis. Kali ini hanya bersinar sedikit terang, tidak sampai menciptakan angin besar dan aura yang menekan.
Xuan Chen dan kedua makhluk ilahi itu sedikit terpana melihat prosesnya. Bentuk wajah dan tubuh Yi Changyin mulai terbentuk dan berwarna sedikit keemasan, walaupun masih tembus pandang. Pakaiannya terlihat berwarna putih polos.
Ada banyak benda-benda kecil seperti kecebong putih bercahaya yang berenang-renang. Feng'er dan Heilong bilang, itu adalah dua belas jiwa dan tujuh inti roh baru yang telah tercipta. Mereka akan memadatkan tubuh seiring dengan berjalannya waktu.
Tangan Xuan Chen bergetar melihat wajah tembus pandang yang tengah terpejam itu. Dia menyentuh pipinya dengan hati-hati dengan jari telunjuk, menciptakan riak seperti air yang telah di sentuh. Namun Xuan Chen merasakan seperti telah menyentuh angin.
__ADS_1
Tak di sangka, tiba-tiba benda mirip kecebong putih bercahaya itu mengerumuni jari telunjuk Xuan Chen. Pria iru merasa tertahan sekaligus tertarik oleh mereka dan segera panik. Dia takut ada yang salah.
Feng'er segera menghampiri dan berbisik dengan lembut, "ibunda... Tenanglah..."
Setelah berkata seperti itu, benda yang mirip kecebong itu seperti mengeri. Mereka melepaskan jari telunjuk Xuan Chen dan kembali berenang-renang acak, seperti ikan.
"Apa itu tadi?" Tanya Xuan Chen dengan wajah yang masih terkesiap.
Feng'er mengulum senyum. "Tentu saja itu ibunda. Dia sepertinya sangat merindukanmu."
Xuan Chen yang mendengar hal itu merasa haru dan akan menyentuhnya lagi, namun Heilong segera menahan. "Tuan, jika mereka terus berkumpul khawatir akan menganggu pemadatan jiwanya. Bahkan udara dan aura lain tidak boleh mengganggunya."
Mendengar hal itu membuat Xuan Chen mengurungkan niatnya. Kegagalan mengembalikan Yi Changyin adalah hal yang paling dia takuti.
Dia segera memasang perisai spiritual yang kuat dan tebal menyelimuti kasur tempat jiwa Yi Changyin tertidur. Aura kuat pun tak bisa menembus, apalagi udara.
"Kalian bilang ini dua belas jiwa dan tujuh inti roh baru yang tercipta. Apakah Yi Changyin akan kehilangan ingatannya juga?" Xuan Chen sangat khawatir dengan hal yang satu ini.
Saat itu Heilong segera menjawab, "menurut buku yang ku baca, selama jiwa belum meminum air sungai kelupaan maka ingatannya masih sama."
Xuan Chen menghela nafas mendengar hal itu, ada rasa lega di hatinya. Feng'er segera membuka perisai pelindung yang berada di dekat pintu, mereka berdua keluar terlebih dahulu. Sekarang sampai seterusnya yang dia lakukan hanya menunggu.
Setelah puas menatap wajah Yi Changyin, akhirnya dia pergi keluar dan menemui si kembar. Seharian ini dia berjanji pada diri sendiri untuk bermain seharian dengan mereka. Xuan Chen merindukan putra putrinya tercinta itu dan banyak hal lain yang harus diurus.
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗