The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XLVI - Kau Kekasihku


__ADS_3

Xuan Chen masih menatap lekat-lekat wajah Yi Changyin yang tertidur damai di pelukannya. Dia sangat senang kejadian itu hanyalah mimpi. Namun mimpi itu sangat menghantui pikirannya. Sangat mengganggunya.


"Aku sudah berkorban untukmu. Tapi.. kau malah melukaiku.."


"Aku sudah berjuang untukmu. Tapi.. sangat di sayangkan hatimu tidak bisa menghargai.."


"Tapi kau malah melukaiku bahkan membunuhku!!"


"Aku kecewa.."


"XUAN CHEN AKU MEMBENCIMU!!"


Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya. Membentuk belati lalu mencabik-cabik hatinya tanpa belas kasihan. Itu hanya mimpi, tapi entah kenapa baginya ini adalah kenyataan. Membuat dia tak sengaja mengeluarkan setetes air mata, menuruni pipinya.


Namun tiba-tiba tangan halus dan putih mengusap air matanya. Membuat dia tersentak dan segera melihat Yi Changyin yang sudah terbangun. Xuan Chen terkejut dan segera mengusap-usap matanya yang memang terasa basah.


Yi Changyin tersenyum sambil menatapnya, masih berada di atas dadanya. "Xuan Chen, kenapa kau menangis?"


Sontak membuat Xuan Chen menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Tidak.. aku hanya mimpi buruk."


Yi Changyin kembali menenggelamkan kepalanya sebelum akhirnya menjawab dengan suara berat, "mimpi apa yang membuatmu menangis? Aku pergi? Atau.. aku mati?"


Pandangan Xuan Chen menjadi menerawang, kembali membayangkan kematian Yi Changyin dalam mimpinya. Hanya mimpi tapi sangat menyakitkan! Namun pikirannya sangat tak menyangka Yi Changyin dapat menebak hal itu. "Aku.."


"Xuan Chen, jangan takut.." Yi Changyin menggenggam tangannya. Xuan Chen pun membalasnya dengan erat. "Aku tidak akan pergi.." Tambahnya.


Namun kembali membuat hatinya gundah. Xuan Chen memeluk Yi Changyin dengan erat. "Yin'er.. tenang saja, suatu hari nanti aku akan membalaskan semua luka yang kau dapat."


Tapi Yi Changyin terkekeh pelan. "Kapan aku meminta imbalan, Xuan Chen?"


"Walaupun kau tidak meminta, aku akan memaksa.."


"Cukup satu yang ku inginkan, yang mungkin bisa membalaskan semua hutang budimu." Ujar Yi Changyin sambil tersenyum lebar.


"Apa itu? Cepat katakan!" Xuan Chen tampak tidak sabar.


Yi Changyin mendongkak, menatap pria itu. Masih dengan senyumannya. "Kau sembuh sepenuhnya. Lalu.. kita hidup bahagia di tempat yang sunyi tanpa gangguan apapun."


Xuan Chen tampak murung, "sembuh?" Tanyanya dengan ekspresi yang tidak yakin. "Aku cacat dari lahir, masih berharap aku sembuh?"


Tapi tiba-tiba dia teringat dengan mimpinya. Dimana saat Yi Changyin menyerahkan ekornya yang terputus untuk kesembuhan luka yang dibawa sejak lahir. Buru-buru dia mencengkram pundak Yi Changyin, membatalkan gadis itu untuk berbicara.


"Berjanjilah padaku.. jangan pernah melukai diri sendiri demi aku. Yaa?"


"Aku bisa一"


"Jangan pernah! Aku tidak akan menerima jika kau sampai melakukan hal itu!" Ujar Xuan Chen sedikit membentak.


Mengundang tatapan kecewa dari Yi Changyin. Dan ingatannya kembali mengingat mimpinya tadi. Tatapan kecewa dari Yi Changyin yang sangat menusuk-nusuk hatinya. Tatapan itu sama persis dengan yang dia lihat saat ini.


Membuat hatinya luluh dan menarik Yi Changyin kedalam pelukannya. "Sudah kubilang bahwa aku sangat menyayangimu lebih dari apapun. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.. Yin'er, mengertilah.." Katanya lirih, sambil mengusap surai hitam Yi Changyin dengan lembut.


'Maafkan aku..' Jawab Yi Changyin dalam hati. Kemudian dia berkata, "aku tak pernah menyangka kalau Xuan Chen sangatlah pengertian.."


Hal itu mengundang tawa kecil Xuan Chen, "sudah kubilang aku..".


"Menyayangimu" Cibir Yi Changyin, kembali membuat Xuan Chen tertawa kecil dan mendekapnya dengan gemas.


"Xuan Chen!" Protesnya saat merasakan pelukan ini begitu erat dan susah dilepaskan.


"Yin'er.. aku akan bertapa, agar bisa menjadi Dewa.."


Tertegun sesaat, kemudian Yi Changyin menatap Xuan Chen dengan tatapan yang tidak percaya. "Xuan Chen.. itu sangat tidak mudah."


Namun Xuan Chen membelai pipinya lembut dari wajah yang sedang khawatir itu. "Mungkin selama dua tahun cukup untuk mencapai bintang." Katanya dengan sangat yakin. "Setelah itu.. aku tidak tahu."

__ADS_1


"Bagaimana dengan pelajaran akademi? Kau akan meninggalkanku?" Mata Yi Changyin mulai berkaca-kaca.


"Yin'er.. aku akan bertapa di ruang dimensi spiritual. Tapi aku akan menyembunyikannya di lembah. Agar semua orang tidak curiga kalau aku memiliki benda berharga itu."


Wajah Yi Changyin kembali cerah. Seakan mata berkaca-kaca nya itu hancur lebur seketika. "Kalau begitu, aku akan melihatmu kapanpun yang aku mau. Lalu.. aku ingin ikut bertapa selama satu tahun. Ya?"


Xuan Chen mengangguk-angguk sambil mendekap Yi Changyin. "Baiklah, besok kita akan meminta izin pada tetua dan guru." Tubuh mungil ini sangat pas dan nyaman di tubuhnya. Membuat dia tak rela untuk melepaskannya. Dan aroma cendana Xuan Chen membuat Yi Changyin tenang dan nyaman. Hingga tak ada penolakan lagi bagi keduanya.


'Walaupun begitu.. aku berharap masih bisa melindungimu, Xuan Chen.' Pikir Yi Changyin sambil tersenyum lebar.


'Yin'er.. aku harap setelah itu, aku dapat melindungimu dengan layak. Tunggu aku..' Pikir Xuan Chen sambil tersenyum juga.


Tiba-tiba terbesit ide di benak Xuan Chen. Membuat dia tersenyum sendiri.


"Yin'er.." Panggilnya lembut, menarik gadis itu untuk mendongkak.


Sedetik kemudian, Xuan Chen mengeluarkan sesuatu dari tangannya. Sebuah tusuk rambut dengan hiasan bulu api Phoenix berwarna emas. Sangat indah dan menawan. Tapi membuat Yi Changyin berkenyit heran.


Sebelum dia bertanya, Xuan Chen sudah terlebih dahulu menjelaskan. "Tusuk rambut ini adalah benda berharga yang diberikan ayahku pada ibuku sebagai tanda cinta. Lalu ibuku memberikannya padaku. Dia bilang, berikan ini pada orang yang ku cintai."


Membuat hati Yi Changyin menghangat. Tahu maksud pria itu.


"Karena kondisiku yang seperti ini, aku tak yakin memiliki orang yang ku cintai secara tulus. Namun setelah mengenal rubah kecilku, itu semua salah.."


Xuan Chen memasangkan tusuk rambut itu para gelungan kecil di puncak kepala Yi Changyin. Tepatnya di sela-sela ikat rambut perak yang masih dia pakai walaupun dengan rambut tergerai. Gadis itu merabanya sebentar, dengan senyuman lebarnya.


"Sekarang.. aku berikan ini padamu, terimalah.. Dan kau.. resmi menjadi calon istriku.."


Yi Changyin tidak menjawab, dia menabrak dada Xuan Chen dan menenggelamkan wajahnya di sana. Menyembunyikan pipinya yang merona. Membuat pria itu menarik kedua ujung bibir untuk tersenyum. Lalu kembali merengkuhnya dengan hangat.


"Tampaknya, ayahmu sangat mencintai ibumu.."


Xuan Chen menghela nafas, matanya terlihat menerawang. "Menurut pengakuan selir De dan selir Xian.. Sejak ibuku datang ke istana belakang, ayah selalu memperhatikannya penuh cinta. Namun semua itu terhalang oleh kekuasaan permaisuri dan selir agung."


"Hingga hanya menjadikan ibuku sebagai selir biasa, bahkan yang terendah. Padahal waktu itu.. seharusnya ibuku menjadi Selir Shu. Berkat permaisuri.." Xuan Chen mengeratkan kepalan tangannya, "yang iri pada ibuku, hidupku dan ibuku hancur.."


'Ternyata seperti itu..' Pikir Yi Changyin merasa iba. 'Pantas saja mereka sangat membenci Xuan Chen, bahkan sampai keturunan kedua iblis kejam itu juga...'


Yi Changyin segera menelungkup tangan Xuan Chen yang terkepal erat. "Maafkan aku. Kau jadi bercerita tentang masa lalumu yang suram."


"Tidak apa. Tidak masalah jika kau mengetahui seperti apa masalah di lingkungan istana yang suram dan lebih kejam dari medan pertempuran."


Hening sesaat.


"Apakah kau pernah berharap untuk meneruskan tahta ayahmu?" Tanya Yi Changyin yang membuatnya tertegun.


"Itu.."


"Aku bisa membantumu!" Potongnya dengan cepat.


"Yin'er.." Xuan Chen menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu hanyalah harapanku saat masih kecil, hanya karena sudah muak di rundung oleh pangeran mahkota.."


Xuan Chen melanjutkan, "lagi pula.. aku tidak mau jika suatu hari kau harus menikah dengan gelar permaisuri.."


Yi Changyin memerah. Ya, karena kata 'menikah', jelas tahu kalau Xuan Chen tengah membicarakan pernikahannya. Yang antara mungkin dan tidaknya untuk terjadi.


"Yang akan memberatkanmu.." Tambahnya.


"Tapi.. tetap saja aku tak rela jika Xuan Ye yang meneruskan tahta Kaisar Xuan Zhen suatu saat." Ujar Yi Changyin dengan ketus.


"Sepertinya.. aku harus membuat Xuan Yao menjadi kaisar." Tambahnya yang membuat Xuan Chen terkekeh.


"Itu akan sulit.." Sahut Xuan Chen membuat Yi Changyin memberenggut.


'Ratakan saja tempat itu.. semuanya beres!' Pikir Yi Changyin tanpa dibilas. Padahal meratakan suatu tempat tidak semudah yang di bayangkan. Apalagi daratan Dongfang termasuk daratan dengan kerajaan yang kuat walaupun terbilang daratan terkecil.

__ADS_1


"Yin'er.." Panggil Xuan Chen pelan diiringi dengan desiran-desiran lembut di rambutnya.


"Apa?"


Namun Xuan Chen malah mencium keningnya dengan lembut. Membuat dia tersenyum dengan pipi yang merona. Sentuhan lembut itu belum saja terlepas, membuat Yi Changyin mendongkak. Tapi sentuhan itu berangsur turun ke bibirnya.


Tangan Xuan Chen memegangi pipi Yi Changyin dengan lembut. Gadis itu hanya diam menerima, sambil menikmatinya. Kedua tangannya mulai merengkuh di belakang tengkuk.


Brakk!!


"Kakak seperguruan!"


Tiba-tiba Zhu Guhuo datang tanpa aba-aba dan tidak ada pertanda apapun. Yi Changyin dan Xuan Chen terbelalak. Tentu saja Zhu Guhuo melihat pemandangan di depannya, dia langsung berbalik dengan wajah yang memerah.


"Kakak seperguruan.." Katanya dengan suara yang bergetar. "Beraninya kau.. membawa seorang gadis ke asrama kita."


"Ini aku.." Sahut Yi Changyin dengan suara yang pelan, bahkan hampir tak terdengar. Sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Xuan Chen. Tapi membuat Zhu Guhuo terbelalak karena suara itu sangatlah dia kenal.


Zhu Guhuo berbalik sambil menunjuk ke arah gadis yang sedang bersembunyi itu. "Kakak seperguruan kesembilan? Kau?!"


"Sudahlah.. adik seperguruan, aku mohon dukunganmu. Jangan beri tahu siapapun tentang apa yang kau lihat hari ini." Ujar Xuan Chen datar.


Zhu Guhuo terkekeh sambil menghampiri mereka. Lalu duduk di tepian kasur. "Kakak seperguruan tenang saja.." Jawabnya yang membuat Xuan Chen tersenyum sambil mengangguk-angguk.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Xuan Chen penasaran.


"Haiya, kakak seperguruan.. kamar ini adalah tempat tidurku juga, wajar saja jika aku keluar masuk sesukaku."


"Tapi.. dari ekspresimu saat pertama kali masuk, sepertinya ada sesuatu yang perlu untuk di bicarakan."


Zhu Guhuo termenung sejenak. Namun tiba-tiba dia terperanjat kaget dan menoleh ke arah Xuan Chen. "Benar juga.. aku punya sesuatu yang lebih, yang pastinya harus kalian berdua tahu.."


"Hal penting?"


"Benar. Pelaku yang mengacaukan akademi sudah tertangkap!" Jawab Zhu Guhuo antusias.


"Siapa?"


"kakak seperguruan keempat belas, Wei Qiao."


"Dia?!" Sahut Yi Changyin terkejut sambil menyembulkan kepalanya.


"Itu benar!"


Kemudian Zhu Guhuo bercerita bahwa semua itu di awali dengan ketidak sengajaan sang murid bungsu yang di kenal dengan Xiang Jinqi. Lalu guru Yu Qinghan melihat dua benda jatuh dari kantung Wei Qiao. Dan Yu Qinghan mengenali hal itu.


Setelah di selidiki secara menyeluruh, akhirnya Wei Qiao terbukti bersalah. Walaupun gadis itu terus menerus membela dirinya dan menuduh siapapun yang terlintas di benaknya. Kemudian tetua Ling Zhao dan tuan besar pemilik akademi Fu Jingyun memutuskan untuk menghukum Wei Qiao dua tahun lamanya.


"Dua tahun?!" Sahut Yi Changyin tak kalah terkejutnya.


Jika Wei Qiao dihukum selama dua tahun, pendidikannya akan rugi besar. Dia akan tertinggal pelajaran selama dua tahun, dan hanya akan belajar di akademi ini selama satu tahun. Namun hukuman itu sepertinya setimpal dengan kekacauan yang dia buat.


Kedua pemimpin akademi tidak memutuskan untuk mengeluarkan Wei Qiao secara paksa. Karena takutnya hal ini akan bermasalah dengan keluarga Wei dan kekaisaran Yunnan. Bagaimanapun plakat itu resmi milik keluarga Wei. Jadi sebaiknya akademi menyelidiki hal ini terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh.


Di akhir ceritanya, Zhu Guhuo tertawa kecil. "Sangat lucu.. saat gadis malang itu di seret ke penjara dingin akademi.." Katanya di sela-sela tertawa.


Dia terus tertawa sambil membayangkan Wei Qiao yang memberontak sepanjang perjalanan. Yang membuat para penjaga kewalahan karena gadis itu lebih bertenaga dari biasanya. Sampai akhirnya tetua Ling Zhao memutuskan untuk memberi asap yang mengandung obat tidur padanya.


"Sangat lucu!"


"...."


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2