The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LVIII - Rencana Qi Xiangma (4)


__ADS_3

Teriakan Yi Changyin sontak membuat kedua orang yang hampir menyatu itu menoleh. Benar, penglihatan Yi Changyin tidak salah. Pria di sana adalah Xuan Chen dan Wei Qiao.


Dia tidak salah lihat kan?! Dan pemandangan itu berhasil membuat matanya panas bak terbakar. Dadanya sesak terhimpit bebatuan cemburu dan kecewa. Bayang-bayang kedua orang di depannya melebur terhalang oleh air mata yang berbalapan untuk keluar.


Sementara di sisi lain Xuan Chen memegangi kepalanya yang terasa pening. Matanya terpejam kuat dan meringgis kesakitan.


"Tuan Ji, apakah kau tidak apa-apa?" Suara lembut tapi memuakkan itu menusuk-nusuk telinganya.


Dengan cepat Xuan Chen membuka matanya dan menoleh ke samping. Pria itu amat terkejut demi mendapati Wei Qiao yang sedang tersenyum manis ke arahnya.


'Bukankah yang tadi disini adalah Yi Changyin?!' Pikirnya dengan nafas yang memburu. Karena sekeras apapun dia mengelak, dalam ingatannya gadis di hadapannya adalah Yi Changyin. Dia hampir saja menyentuh gadis sialan yang tadi berwajah kekasihnya itu.


Xuan Chen menoleh ke arah lain, dia terkejut demi melihat Yi Changyin yang berdiri mematung di sana. Dengan mata yang menggenang air dan wajah yang memerah. Xuan Chen melangkahkan, kemudian berlari menghampiri gadis itu.


Namun terlambat, Yi Changyin lebih dahulu berlari ke arah dimana dia datang. Dengan kecepatan tinggi berlari tanpa arah tujuan. Tak peduli Xuan Chen mengejarnya dari belakang. Padahal tadi dia sangat ingin menghajar Wei Qiao terlebih dahulu. Tapi menghindarinya adalah pilihan Yi Changyin untuk saat ini, demi memenangkan emosi yang bergejolak.


Gadis itu berhenti sejenak di persimpangan. Wajahnya kentara bingung harus berlari ke arah yang mana. Dia mempunyai dua sandaran di tempat yang berbeda. Entah kenapa dia menjadi bingung memilih.


Namun suara langkah seseorang yang sedang berlari menyadarkannya. Memaksa ia untuk kembali berlari ke arah asrama pria walaupun dada sesak dan mata penuh air. Sesekali dia menggisik matanya demi menyingkirkan butiran air mata.


Namun baru setengah jalan, dia menabrak sesuatu yang kokoh dan memaksanya untuk berhenti. Pria yang terdorongnya itu sedikit mencengkram lengan atasnya. Menatapnya dengan lekat.


"Kau baik-baik saja?"


Suara lembut dan penuh kekhawatiran itu menarik matanya untuk melihat keatas. Harinya sungguh sial, mengapa ia harus bertemu dengan pria cabul yang menjebaknya di malam itu?!


Namun suara kaki yang lari tergesa-gesa itu telah membuat tubuhnya pasrah di tarik ke dalam dekapan walau sebenarnya tak berminat sedikitpun.


Sampai Xuan Chen datang, pria itu mematung demi memandangi apa yang terjadi di depannya. Sempat emosi namun dia tak tinggal diam dan langsung menghajar Qi Zhongma hingga punggungnya mencium batang pohon.


Yi Changyin terbelalak ketika Xuan Chen menarik tangannya. Namun ia menepisnya kembali. Tapi pria itu malah memeluknya dengan erat. Sialan! Jika begini, Yi Changyin tidak akan pernah marah.


"Aku di jebak, percayalah padaku." Tuturnya seraya mengelus surai hitam Yi Changyin dengan lembut.


"Bagaimana kalau aku tidak percaya?" Jawab Yi Changyin dengan suara yang pelan. Namun berhasil membuat jarum-jarum kecil yang menembus kulit dan menusuk jantung Xuan Chen.


Matanya memerah sering dengan tergenangnya air mata. Bahkan Xuan Chen sudah mengira dirinya sebagai pria tercengeng di dunia ini. "Apa aku sudah terlihat tidak bisa dipercaya lagi, Yin'er?" Tanya Xuan Chen seraya mengeratkan pelukannya.


Namun Yi Changyin sama sekali tak berniat untuk membalas ucapannya.


Xuan Chen mengerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha menelan kesepedihan ini walaupun tenggorokannya tercekat. Dia mengangguk-angguk mencoba mengerti mengapa Yi Changyin bersikap seperti ini kepadanya.


"Aku mengerti. Kau pasti cemburukan? Oleh sebab itu kau menjadi pemarah. Benar bukan?" Katanya berusaha memastikan walaupun yakin kalau tidak sepenuhnya benar.


Dan Yi Changyin hanya diam tak berkutik. Hanya suara hati yang membalas ucapan Xuan Chen,


'Aku tidak tahu! Hatiku sangat bimbang..'


Namun suara itu tak di dengar Xuan Chen selagi komunikasi telepatinya terputus. Dan gadis di dalam dekapannya tak kunjung menjawab ucapannya walaupun dengan satu kata.


Kemudian Xuan Chen mengambil inisiatif untuk melepaskan pelukannya. Masih memegangi lengan atas Yi Changyin dan menatap hangat wajah dingin itu.


"Kumohon jangan bersikap dingin." Xuan Chen meraih pipinya, mengelus-elus pelan penuh kasih sayang.


Perlakuan manis itu nyaris membuat Yi Changyin meleleh. Namun ia segera menepiskan dua tangan yang menempel di tubuhnya itu. Xuan Chen hanya terdiam sambil menelan duri-duri tajam.


"Kalau begitu.." Xuan Chen meraih tangannya, menggenggam erat membuat Yi Changyin sedikit terkejut. Bahkan di saat-saat seperti ini pria itu masih saja bisa bersikap manis. Dia melanjutkan, "mungkin genggaman tangan ini kau akan menyukainya."


Dengan mata yang memanas Yi Changyin menghempaskan tangannya. "Berhentilah bersikap manis! Enyahlah!" Teriaknya bertubi-tubi. Di akhiri dengan deru nafas yang tak karuan.

__ADS_1


"Lalu aku harus apa?" Tanya Xuan Chen lembut. Dan Yi Changyin semakin gelisah menahan segala emosinya. "Apakah.. aku harus mati demi membuatmu senang?"


Membuat dia mendongkak, menatapnya. "Apa?"


"Bukankah kau ingin aku enyah?"Xuan Chen tersenyum gentir, kemudian ia menekan dadanya sendiri. "Aku.. bersedia mati jika bisa membuatmu senang."


"Apakah mati ada gunanya?" Tanya Yi Changyin dengan sinis.


"Tentu tidak. Itu demi.."


"Jika kau mati aku akan merindukanmu. Merindukan kata-kata manismu, pelukanmu, ciumanmu.. dan perlakuan hangatmu."


Xuan Chen menunduk menarik bibirnya walaupun masih ada sisa luka di hati.


"Dan juga.. aku tidak akan pernah merasakan lagi rasa berbeda dari makanan buatanmu."


Kali ini Xuan Chen mendesis sambil tersenyum menahan tawanya.


"Itu tidak lucu!" Teriak Yi Changyin tidak terima dan Xuan Chen masih saja tersenyum. "Apakah kau sungguh tega membuatku seperti itu?!"


Membuat senyuman Xuan Chen menghilang, dia mendongak menatap gadis itu. Seraya menggelengkan kepala karena tak setuju dengan kata-kata Yi Changyin. Dia tidak bermaksud seperti itu..


"Xuan Chen.. tetaplah hidup, walaupun aku membencimu.. atau tidak di sisimu lagi."


"Apa yang akan kau lakukan?!" Tanya Xuan Chen mulai cemas.


Namun Yi Changyin menggeleng. "Tetaplah hidup walaupun badai hendak menerjang. Atau.." Yi Changyin sengaja menjeda kalimatnya. "Jiwaku.. akan hancur."


Xuan Chen menelan slivanya susah payah walaupun terasa perih dan sakit. "Aku harap kata-katamu itu adalah omong kosong."


"Tidak! Xuan Chen, apapun yang terjadi selanjutnya.. tetaplah hidup." Setelah mengatakan hal itu Yi Changyin berlari menjauhinya. Menuju tempat asrama laki-laki. Mungkin untuk menemui Shen Lan.


"Ini bukan waktunya untuk bertarung!" Geramnya sambil mendorong pundak Qi Zhongma. Memberikan jalan baginya untuk mengejar Yi Changyin.


Qi Zhongma tidak mencegahnya lagi. Dia hanya tersenyum menatap punggung kepergian Xuan Chen yang pastinya hendak menyusul Yi Changyin.


"Tunggu besok.. akan ada kejutan besar untukmu." Gumamnya yang di akhiri dengan tawaan bengis.


.......


.......


.......


Di sisi lain Yi Changyin berlari menyusuri lorong yang kebetulan sepi. Mungkin seisi asrama sedang melakukan rutinitas sore yang di adakan dalam waktu-waktu tertentu, yaitu memasak bersama. Tapi dia yakin Shen Lan tidak akan ikut serta. Pria itu hanya akan mendapatkan bagian 'makan' saja.


Berlari menyusuri lorong sepi yang bersisakan suara sepatunya yang menginjak lantai. Entah apa yang akan di lakukan para guru jika melihat seorang gadis berkeliaran di asrama pria. Tapi Yi Changyin tidak peduli.


Setelah tak lama menyusuri lorong yang gak ada bedanya, dia mendapati pria yang di carinya. Shen Lan dengan tenangnya sedang membaca gulungan di temani dengan teh berasap mengepul.


Entah kenapa hatinya terus menerus memanas hingga tak bisa lagi menahan tangisan. Dia terisak dan menghambur memeluk pinggang Shen Lan. Membuat pria itu terkejut setengah mati, namun tak lagi ketika menyadari Yi Changyin duduk di atas tanah sambil memeluk pinggangnya. Juga menangis.


Ya, Yi Changyin sedang tak kuasa menahan api cemburu. Walaupun dia sendiri tidak percaya pada kenyataan itu. Dan percaya kalau Xuan Chen sama sekali tidak melakukannya.


Shen Lan mengerti apa yang terjadi walaupun sepenuhnya tidak tahu. Dia hanya bisa menenangkannya menggunakan usapan halus di puncak kepalanya yang naik turun lantaran terisak. Shen Lan menatap puncak kepalanya dengan cemas.


'Apakah kau terluka karena cinta lagi?'


'Apakah kejadian dua ribu tahun lalu terulang kembali?'

__ADS_1


Sederetan pertanyaan untuk diri sendiri itu membuatnya teringat kejadian yang hampir di lupakan semua orang. Dimana Yi Changyin yang masih berumur empat belas ribu tahun menghambur ke arahnya, sama seperti sekarang ini.


Rambutnya yang kusut dan mata yang sembab. Penampilannya begitu berantakan, menyedihkan karena diiringi dengan isak tangis. Lalu di susul dengan Yi Wang yang datang dengan segudang emosi di kepalanya. Membuat dia semakin erat menyembunyikan Yi Changyin dalam dekapannya.


Shen Lan menghela nafas, menyingkirkan ingatan yang telah dilupakan dunia itu.


'Sudahlah.. lagipula Yi Changyin telah melupakannya.' Pikirnya lagi.


Namun kali ini dia terpokus pada Yi Changyin yang kini tangisannya mulai mereda.


"Cinta bisa menjadi obat dan racun. Maka dari itu.. lebih baik tinggalkan cinta." Ujar Shen Lan yang sudah seperti orang bijak.


"Tapi tanpa cinta.." Jawab Yi Changyin sedikit terisak. "Dunia tidak akan berwarna."


Shen Lan menghela nafas. "Jika begitu.. maka pilihlah obat yang tepat. Jangan sampai menjadi racun untukmu."


Terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Shen Lan melanjutkan, "aku takut kau seperti seseorang dalam dongeng. Seseorang itu sangat menyukai kacang. Namun tabib mengatakan kalau dia alergi kacang setelah dia sendiri memeriksakan diri,"


"Tapi karena kecintaan seseorang itu terhadap kacang, dia tidak mengikuti apa nasihat tabib. Seseorang itu terus menerus memakan kacang sampai ia mati keracunan. Orang itu sama sekali tidak memperdulikan sebab akibat dari perbuatannya."


"Itu hanya dongeng." Balas Yi Changyin singkat padat jelas.


Membuat Shen Lan terkekeh. "Memangnya kenapa? Dongeng itu seperti penggambaran seseorang yang melawan takdir."


"Kau menyindirku?" Tanya Yi Changyin sinis.


"Aku tidak tau." Jedanya. "Aku tidak tahu kalian takdir atau bukan. Tapi jika bukan takdir, aku takut.. Aww!!"


Shen Lan meringgis saat Yi Changyin memukul pahanya sambil meruntuk, "kau bahkan mengatakan kata-kata yang buruk!"


"Aku hanya.."


"Yin'er!!"


Teriakan itu berhasil mengalihkan fokus keduanya. Namun Yi Changyin tetap terbenam dan tidak mau beranjak. Dan Shen Lan telah melihat kedatangan Xuan Chen yang terengah-engah karena mungkin sehabis berlari mengejar Yi Changyin. Tatapan Shen Lan begitu menakutkan dan misterius.


"Yin'er.." Panggilnya pelan sambil menghampiri mereka berdua secara perlahan. Dia bertekuk lutut di belakang punggung Yi Changyin.


Xuan Chen memandangi punggung Yi Changyin dengan tatapan yang nanar. "Yin'er, percayalah padaku..."


BRAKK!!


Tiba-tiba saja Shen Lan memukul meja dengan sangat keras. Membuat cangkir dan teko di sana hampir beterbangan.


"Apa yang kau perbuat hingga membuat Yi Changyin seperti ini?" Tanyanya dengan tatapan yang mengerikan. Bahkan Xuan Chen sudah tak berani untuk menatapnya lagi.


"Shen Lan, itu semua hanya salah paham."


"Salah paham seperti apa?! Bukankah salah satu janji pernikahan adalah tidak menyakiti satu sama lain?! Lalu mengapa kau malah membuatnya seperti ini?!!"


.......


.......


.......


maaf gabisa up banyak-banyak, authornya lagi cape mikir hehe:v


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2