The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CIX - Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Mata Xuan Chen berbinar. Dia tak bisa mengendalikan apapun dengan benar saat mabuk. Dengan langkah yang masih sempoyongan, dia menghampiri Wen Yuexin dan berusaha mengambil kristal jiwa itu.


"Berikan padaku!"


Namun Wen Yuexin menyembunyikannya di balik kepalan tangan membuat Xuan Chen menggeram rendah.


"Aku akan memberikannya tapi dengan satu syarat."


Xuan Chen mendengus. Sudah dia duga, pasti Wen Yuexin akan ada maunya ketika Xuan Chen meminta kristal jiwa. Memanfaatkan kesempatan ini, apalagi saat ia mabuk. Sungguh cerdik.


Xuan Chen terkekeh. "Apa yang kau inginkan?"


"Tinggalkan Yi Changyin dan menikahlah denganku."


"Kalau begitu aku tidak menginginkannya lagi." Sahut Xuan Chen dengan cepat, bahkan tanpa berfikir dua kali.


Hal itu membuat Wen Yuexin menggertakan giginya. Sekarang Xuan Chen sama menjengkelkannya dengan Wu Yun.


Kemudian Xuan Chen melanjutkan dengan nada yang masih seperti orang mabuk, "Ingatlah iblis, aku tidak akan meninggalkan Yi Changyin apapun yang terjadi." Ejeknya sambil berbalik, melangkah menuju tempat semula.


"Kau yakin?" Tanya Wen Yuexin meyakinkan. Dengan suara yang berat dan emosi yang tertahan. Sebenarnya dia sangat marah ketika Xuan Chen menyebutkan iblis.


"Yakin.." jawab Xuan Chen tanpa menoleh.


'Yi Changyin mungkin berhasil tapi dia tidak..' geram Wen Yuexin dalam hati. Detik berikutnya ia berbalik pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan.


Namun sejurus kemudian dia dikejutkan dengan penyerangan tiba-tiba di belakangnya. Auranya tak terdeteksi hingga ia hanya bisa terkejut.


Dan saat itu Xuan Chen tiba-tiba berada di hadapannya dengan kristal jiwa di tangannya. "Aku mendapatkannya." Katanya dengan sombong.


Wen Yuexin menatapnya tak percaya. Dia mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya. Tak menyangka jika Xuan Chen akan memainkan permainan seperti ini.


"Terima kasih." Tambahnya sambil tersenyum mengejek. Kemudian menghilang di udara kosong.


"Arghh!!" Wen Yuexin melemparkan udara. Dia sangat kesal! Pria itu telah menggagalkan rencananya.


"Jendral Houjing!!" Dia berteriak sekuat tenaga. Hingga seseorang berpakaian serba hitam dan bertopeng kasar. Aura kegelapannya sangat tidak biasa.


Dan dia adalah Houjing, yang selama ini selalu menjaga istana Dewa kegelapan. Sekaligus bawahan setianya.


Pria itu membungkuk ketika berhadapan dengan Wen Yuexin. "Apa titah yang mulia.." Suaranya terdengar berat dan menggema.


"Cari orang alam peri yang sedang mengelana di dunia ini. Dia keturunan peri air dan berwujud bunga mawar biru. Umurnya sudah tua tapi wajahnya masih muda. Setelah bertemu dengannya, tahan dia dan lapor padaku!" Wen Yuexin menjelaskannya perintahnya


"Baik, yang mulia.."


Kemudian dia mengeluarkan sebuah gulungan dengan energi spiritualnya, dan memberikan itu pada Houjing.


"Ini adalah lukisannya." Perjelas Wen Yuexin. "Namanya Shui Jifeng, mantan pendamping rahasia Ratu Bai Jiyuan."


"Baiklah, hamba pamit, yang mulia.."


Setelah kepergian Houjing dalam asap hitam, Wen Yuexin tersenyum miring. Kemudian tertawa menggelegar dan berkata dengan nada yang bergetar,


"Bai Suyue... Kita lihat apakah kau bisa melihatnya? Dan Wu Yun.. aku yakin kau akan membuat keputusan yang tepat." Dan tawanya semakin menggelegar.


.......


.......


.......

__ADS_1


"Kakak ipar, makan dulu, ya?" Xuan Rong tampak membongkar rantang yang sempat Xuan Chen rapikan tadi, sebelum pergi bersama Shen Lan.


Yi Changyin masih terdiam ketika Xuan Rong kembali berbicara, "supnya sudah dingin.." Keluhnya sambil memeriksa sup.


"Sebaiknya aku menghangatkannya terlebih dahulu." Xuan Rong mulai berdiri. "Kakak ipar, kau harus makan.." Tambahnya memperingatkan sambil berlalu pergi.


Tak lama kemudian dia kembali dengan sup yang sudah dihangatkan. Mau tak mau Yi Changyin harus memakannya untuk menghargai. Bagaimanapun Xuan Rong tidak tahu menahu tentang masalah terpendamnya.


Di tengah-tengah makan tiba-tiba Xuan Rong bertanya, "kakak ipar, seperti apakah Shen Lan itu?" Suaranya sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.


Mungkin gadis itu berharap kalau Yi Changyin tidak mendengarnya dan dia bisa menelan pertanyaannya sendiri.


"Dia sangat dingin. Namun akhir-akhir ini berubah semenjak bertemu denganmu." Jawab Yi Changyin sambil tersenyum simpul. Dia sedikit mengada-ada cerita. Namun memang kenyataannya seperti itu.


Kata-katanya sukses membuat Xuan Rong tersipu, wajahnya memerah malu dan gadis itu memegangi pipinya yang memanas.


Saat itu Yi Changyin melanjutkan, "dan dia sangat bertanggung jawab. Apakah... kau menyukainya?"


Xuan Rong tersentak mendengar pertanyaannya. Wajahnya tambah memerah dan perlahan dia sembunyikan di balik telapak tangannya. Xuan Rong terus tertawa-tawa kecil yang terdengar tertahan karena tangannya.


Yi Changyin hanya tersenyum tipis melihat Xuan Rong. Dia sendiri tidak bersemangat untuk menggoda gadis itu lebih jauh. Hidupnya lebih banyak beban. Dan hatinya masih memikirkan perasaan Xuan Chen.


Siang harinya, Xuan Chen kembali datang. Seperti biasa, dengan makanan dan senyuman. Pria itu terus menghiburnya seakan Shen Lan tidak pernah mengatakan apapun.


Membuat hatinya semakin rapuh. Dilema membawanya untuk tetap terdiam.


Setelah selesai melihatnya makan Xuan Chen kembali pergi dari sana. Dia bilang masih banyak pekerjaan dari kaisar. Tapi baguslah.. setidaknya Xuan Chen akan baik-baik saja tanpa dirinya.


Namun saat malam hari Xuan Chen kembali mendatanginya. Membawa makan malam. Dan seperti siang tadi, Xuan Chen menunggunya makan sambil sesekali menghiburnya.


Dia seperti tak menyerah walaupun mendapatkan ekspresi datar dari Yi Changyin. Bola racun di hatinya sedikit membantu. Setidaknya bisa membuat Xuan Chen tidak merasa dipermainkan.


"Mari pulang." Ajak Xuan Chen sambil membereskan rantang makanan.


Xuan Chen berhenti dan menatapnya. "Baiklah, aku akan menemanimu."


Yi Changyin menatapnya dengan tak percaya, membuat iris mereka saling bertemu sesaat. Sebelum tersihir, Yi Changyin yang telah terlebih dahulu menurunkan pandangannya.


"Tinggalkan aku sendiri."


Namun Xuan Chen tidak menjawab. Dia malah mengangkat tubuh Yi Changyin secara tiba-tiba dan melangkah menuju rumah lamanya.


Yi Changyin tidak berkomentar, hanya bisa terdiam. Sampai Xuan Chen membaringkannya di atas kasur. Dan menyelimutinya dengan hati-hati. Lalu mencium keningnya dalam-dalam. Setelah itu pergi keluar rumah.


Yi Changyin menatap pintu yang tertutup. Air matanya meleleh, dia tak bisa menahannya. Sementara di luar, Xuan Chen merosot di atas pintu. Satu titik dua titik air perlahan membasahi pipinya.


Mereka sama-sama menangis walaupun saling tak mengetahui. Mereka ingin berpelukan namun perasaan itu terus terpendam.


Xuan Chen melihat bulan yang tergantung indah bersama taburan bintang. Di malam hari yang gelap dan penuh dengan semilir angin dingin.


'Bulan apakah aku bisa berharap padamu? Jika bisa, maka tolong buat Yi Changyin bahagia..'


.......


.......


.......


Hal yang sama terus berulang-ulang sampai sepuluh hari lagi menuju pernikahan resmi mereka berdua. Yaitu Xuan Chen yang datang setiap jam makan dan membuatnya tertidur nyaman.


Memberi hiburan kecil yang terasa hambar di telinganya. Bercerita tentang pengalamannya di pengadilan, saat Xuan Chen mendapatkan kepercayaan lebih dari kaisar Xuan Zhen.

__ADS_1


Dalam hati Yi Changyin turut senang. Namun ia belum bisa menunjukkannya.


Namun di hari ketiga puluh ini Xuan Chen membawa hal yang spesial. Dimana ketika Dewi musim mulai bekerja, memberi dunia hujan salju dan menurunkan suhu di dunia fana menjadi dingin.


Karena cuaca yang dinginlah, Xuan Chen memindahkan nisan Jinmi ke dalam rumah. Dihias sedemikian rupa menjadi nyaman.


Malam itu sangat dingin, namun berkat jubah alam peri yang pernah Xuan Chen berikan berbulan-bulan lalu, dia menjadi tak perlu khawatir.


Setelah memakan sedikit makanan, Xuan Chen memberikan kotak persegi yang agak tipis kepadanya. Yi Changyin menerimanya tanpa ragu dan menatap kotak itu dengan perasaan yang campur aduk.


"Itu adalah hadiah pernikahan dariku."


Kata-kata itu membuat Yi Changyin menatapnya rumit. Seperti berusaha menyembunyikan emosi yang terpendam. Namun sejurus kemudian gadis itu segera membuka tutup kotak dan melihat isinya.


Tampak gelang berwarna putih terang mengkilap yang sangat cantik. Terdapat tiga permata bersinar yang tertanam di atasnya, satu besar dan sisanya kecil.


"Itu dari mutiara bunga Peony." Xuan Chen mulai menjelaskan gelang itu. "Ketika membereskan rumah ini kemarin, aku menemukan kotak yang sengaja disimpan Xuan Rong.


"Ternyata di dalamnya ada lima mutiara bunga Peony yang tersisa dan mungkin tersimpan sangat lama. Aku telah melupakannya."


"Maka siang tadi aku berencana untuk membuat hadiah pernikahan dengan itu. Membentuk lima mutiara menjadi gelang yang secantik dirimu." Xuan Chen tersenyum sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghampar di wajahnya.


Jika di pikir-pikir, penampilan Yi Changyin sangat berantakan saat itu.


"Terima kasih." Ujar Yi Changyin datar sambil mengelus-elus gelang itu dengan ibu jarinya.


"Oh ya, ada satu lagi yang harus aku tunjukan kepadamu." Xuan Chen tampak bergegas pergi keluar ruangan tanpa menunggu tanggapannya.


Tak lama kemudian kembali dengan kotak yang lebih besar. Wajahnya masih dipenuhi dengan keceriaan. Namun jika Yi Changyin teliti dalam-dalam, hatinya terlihat penuh dengan retakan.


Xuan Chen sendiri yang membuka kotak itu, menunjukan isinya dan mengeluarkannya sendiri. Dan ternyata itu adalah gaun pengantin wanita.


Yang dirancang sedemikian rupa untuk tema musim dingin. Tetap indah namun akan terasa hangat. Mengingat pernikahan mereka tepat memasuki musim dingin, ternyata Xuan Chen amat teliti untuk memikirkan hal ini.


"Ini adalah buatanku sendiri, Xuan Rong dan ibu yang mengajariku."


Hal itu membuat hati Yi Changyin mencelos. Dia ingin berteriak, menangis dan memeluk erat pria itu sekarang juga. Tidak akan pernah di lepaskan dan menjadikan dia sebagai ekornya sendiri.


Namun keinginan itu ia kubur dalam-dalam. Menjaganya dengan baik, dan menggalinya ketika urusan telah selesai.


Xuan Chen tampak bahagia sembari menjelaskan bagaimana perjalanannya membuat gaun itu. Mulai dari salah jahit, sampai ukuran yang jauh dari kata pas. Namun berkat bimbingan ibu dan adiknya, dia bisa selesaikan secepat itu.


Xuan Chen terus ceria, bagai tak memperdulikan respon datar dari Yi Changyin. Mungkin baginya, menghibur Yi Changyin adalah kebahagiaan tersendiri.


Sampai Xuan Chen merapikan kembali pakaian itu, Yi Changyin masih terdiam.


Namun sejurus kemudian dia mengeluarkan sesuatu dengan energi spiritualnya. Sebuah gulungan putih dengan kepala emas. Ukurannya sedang dan pas jika digenggam tangan.


"Bisakah kau, jaga ini untukku." Ujar Yi Changyin sambil menyodorkan gulungan itu pada Xuan Chen.


Dengan cepat pria itu menyambarnya, dan mengurai gulungan itu menjadi sedikit panjang. Terdapat lukisan dua orang di sana.


Seorang perempuan berpakaian khas alam peri sedang duduk di atas kursi singgasana. Dan seorang pria yang berdiri di samping kursi singgasana.


Lukisan sketsa kedua orang itu sangat mirip dengan Yi Changyin jika rupa wajahnya dibagi dua. Tampak indah dan elegan. Auranya sangat menenangkan.


.......


.......


.......

__ADS_1


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2