The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXXXIX - Ketika Racun Bereaksi


__ADS_3

Gemerisik daun yang bergesekan karena angin, berhasil menyadarkannya dari pingsan yang entah berapa lama.


Xuan Chen terbangun, rasa hangat terasa menerpa wajahnya. Itu adalah matahari sore yang terasa terik.


Dia bukan lagi berada di alam peri, melainkan hutan di puncak gunung Tianjin. Lalu di seberangnya terdapat Yi Changyin yang tengah tertidur. Punggungnya tersandarkan pada pohon besar, sama sepertinya tadi.


Dan entah kenapa ia merasa ada yang aneh. Harusnya Yi Changyin tertidur di sampingnya bukan? Bersandar pada bahunya, bukan pada pohon.


Tidak, dia bukan cemburu pada pohon. Melainkan ini sangat aneh dimatanya.


Xuan Chen bergegas menghampirinya. Berjongkok di hadapannya dan berniat menyingkirkan beberapa helai rambut yang berserakan di wajahnya. Namun tangan Yi Changyin bergerak untuk menghentikannya. Gadis itu sudah terbangun lebih dulu.


"Ternyata kau sudah bangun." Ujar Yi Changyin sambil tersenyum.


Kening Xuan Chen mengkerut. Ia merasa senyuman itu tidak tulus. Bahkan terlihat seperti dipaksakan.


"Kita harus kembali ke akademi." Tambahnya sambil beranjak bangun. Kemudian pergi tanpa mengajaknya lebih dulu.


Karena biasanya, Yi Changyin pasti akan bergelayut di tangannya. Atau meminta di gendong saking manjanya. Tapi sekarang?


Xuan Chen masih berusaha untuk berfikiran yang baik. Ia lantas berlari untuk mengejarnya. Lalu memeluk Yi Changyin dari belakang.


"Apa kau marah? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?" Tanyanya lembut sambil menatap wajah Yi Changyin dari samping.


Namun Yi Changyin memalingkan wajahnya ke sisi lain, seakan tidak ingin dilihat olehnya. Dan masih terlihat kalau Yi Changyin sedang tersenyum samar, masih seperti seseorang yang terpaksa.


"Tidak." Jawabnya singkat.


Xuan Chen tidak bersuara lagi. Sedangkan Yi Changyin melepaskan pelukannya dengan kasar, kemudian berlalu pergi tanpa menghiraukannya. Xuan Chen hanya mematung di tempat.


Namun tiba-tiba langkah Yi Changyin terhenti. Ia meremas pakaian yang berada di bagian atas dadanya. Ia mendesis karena merasakan ada yang sakit di dalam jantungnya.


Karena jauh di dalam sana, racun tembus pandang yang pernah di tanam seseorang itu telah beraksi. Sebagian bola tembus pandang itu telah berubah menjadi hitam.


Rasanya seperti hewan-hewan kecil sedang menggerogoti jantungnya. Membuat Yi Changyin tak kuat untuk berdiri lagi dan ambruk ke atas tanah. Xuan Chen dengan sigap berlari ke arahnya.


Ia masih menggerang kesakitan sambil memegangi dadanya. Dahinya sudah berkeringat besar. Dan tubuhnya bergetar ketika Xuan Chen meraihnya ke dalam pelukan.


"Apa yang terjadi padamu?!" Ia bertanya sedikit keras. Entah kenapa ia merasa kalau Yi Changyin seperti ini ada hubungan dengannya.


Namun saat itu Yi Changyin sudah tak menggerang kesakitan. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya, dan rasa sakit itu benar-benar hilang.


'Racun ini bergerak saat aku merasakan rasa kecewa.' Pikirnya.


'Ini sangat sakit! Ditambah dengan racun yang tadi kuserap dari tubuh Xuan Chen!"


"Aku baik-baik saja." Katanya buru-buru sambil beranjak bangun. Wajahnya masih terlihat pucat, namun sedang berusaha menghindarinya.


Ia ingin bertanya kenapa dirinya bisa pingsan kemudian terbangun disini. Namun semua itu harus ia telan karena kondisi yang tak memungkinkan untuk bertanya.


Akhirnya ia mengejar Yi Changyin kembali. Menarik tangannya hingga jatuh ke dalam pelukannya, lalu mendesak bibirnya dalam-dalam. Lama dan perlahan menghanyutkan.


Kening Yi Changyin hanya berkerut. Seperti bingung harus melakukan pencegahan atau membiarkan ini berjalan.


Tak lama Xuan Chen kembali melepaskannya, hingga mata mereka saling bertautan. Membuat Yi Changyin merasakan kehangatan, bahkan ketika Xuan Chen tersenyum ke arahnya.


Namun entah kenapa Yi Changyin segera menepis pemikiran itu dan berlalu pergi. Xuan Chen segera berinisiatif untuk meraih tangannya.


Namun begitu bersentuhan, Yi Changyin menepisnya dengan kasar. Dengan wajah yang kesal dan tak terima dengan perlakuan seperti itu.


"Yin'er?"

__ADS_1


Namun melihat wajah Xuan Chen yang terlihat sedih, membuat hatinya melebur dan meraih tangan Xuan Chen kembali. Pria itu tersenyum dan akhirnya berjalan beriringan. Ia sendiri hanya terdiam, menatap kosong kedepan selama berjalan.


Pikirannya yang liar, dan tak pernah bisa dikendalikan. Hanya bisa mengingat kejadian tadi. Dimana saat Xuan Chen yang telah menghangatkan hatinya.


Sedangkan dia sendiri tidak tahu mengapa bisa tiba-tiba membenci perlakuan seperti itu.


'Apakah racun itu bisa berpengaruh pada emosi? Berpengaruh pada benci atau tidaknya pada seseorang? Sangat tidak masuk akal.'


Tapi anehnya, setelah melihat kejadian mengejutkan dari Xuan Chen. Entah itu yang mengecewakan dan menyakiti hatinya, rasa benci itu akan muncul.


Lalu saat mendapatkan perlakuan hangat, jantungnya akan terasa seperti digerogoti oleh sesuatu. Namun rasa benci itu perlahan berkurang.


Mendapati pemikiran seperti itu, membuat Yi Changyin mengambil inisiatif untuk memeluk Xuan Chen dalam waktu lama. Ia tahu betul bagaimana sikap Xuan Chen saat dipeluk lebih dahulu.


Benar saja, pria itu membalas pelukannya dengan erat seakan tak mau lepas. Wanita mana yang tak nyaman dengan posisi ini.


Tapi jelas saat itu Yi Changyin berkeringat. Ia mulai menelan ludahnya berkali-kali karena merasa tak nyaman. Mengeratkan remasannya pada pakaian belakang Xuan Chen.


Tubuhnya mulai menegang. Dan tiba-tiba rasa sakit di jantungnya mulai menyerang. Yi Changyin berusaha menahannya, namun desisan serta nafas yang memburu tak bisa menyembunyikan hal itu dari Xuan Chen.


Pria itu menyadarinya, segera menarik Yi Changyin. Menatapnya sambil memegangi kedua pundaknya. Tapi gadis itu malah ambruk ke atas tanah.


"Apa yang terjadi padamu?! Cepat katakan padaku maka aku akan menyembuhkannya!"


"Aku.. aku.. racun.."


Hanya itu yang bisa di katakan Yi Changyin. Ketika rasa sakit semakin kuat menggerogoti jantungnya dan membuat seteguk darah ia muntah kan berkali-kali.


"Racun?!"


Xuan Chen segera mengeluarkan energi spiritualnya, demi menekan racunnya secepat mungkin. Namun tangan Yi Changyin menahannya. Gadis itu menggelengkan kepala.


"Energi spiritual.. tidak akan berguna." Ujar Yi Changyin dengan suara yang tertahan


"Itu.."


Sepertinya Yi Changyin tidak bisa berkata-kata lagi. Ia terus saja menahan sakitnya. Mengerang, mencengkram sangat kuat, bahkan sampai menangis.


Sedangkan Xuan Chen yang akan melakukan tindakan selalu Yi Changyin tahan. Bahkan ketika mengambil beberapa pil dari dalam, Yi Changyin membuangnya.


"Peluk ibunda dengan erat, itu adalah obatnya." Ujar Feng'er tiba-tiba.


"Apa?!" Xuan Chen mengenyit tidak mengerti.


"Ini bukan racun yang bisa di sembuhkan oleh sembarang tindakan. Kami yang berada di dalam sini masih menyelidiki penawarnya, juga pada ketua di alam peri."


Kini Xuan Chen mengerti. Racun yang menyerang Yi Changyin pastilah bukan racun biasa. Gadis reinkarnasi Bai Suyue yang bahkan sudah kembali pada jiwa masa lalunya itu adalah sosok yang terkuat. Racun kecil tidak akan bisa menyentuhnya.


Jika seseorang berhasil meracuninya sampai menderita, maka racun beserta seseorang yang membuatnya bukanlah sesuatu yang biasa.


Seperti yang diinstruksikan Feng'er, Xuan Chen memeluk Yi Changyin dengan erat. Namun gadis itu semakin menderita di dalam pelukannya. Semakin menggeliat kesakitan, bahkan membuat pakaian Xuan Chen berantakan dan bersimbah darah hasil muntahannya.


Sementara di dalam tubuh Yi Changyin. Racun bulat tembus pandang itu sudah menghilangkan sebagian warna hitamnya. Secara perlahan menghilang, dan mungkin inilah yang membuat Yi Changyin kesakitan.


Kehangatan orang-orang tertentu akan menahan racunnya secara berkala. Namun semua akan muncul kembali ketika mendapati perlakuan yang mengecewakan.


"Bertahanlah.. Feng'er bilang ini yang bisa menyembuhkanmu."


Namun sejurus kemudian, tubuh Yi Changyin melemas. Ia sudah tidak menggeliat ataupun mengacak-acak pakaian Xuan Chen.


Xuan Chen tahu gadis itu pingsan. Melihatnya wajahnya yang pucat, bahkan seperti mayat hidup, membuat ia ingin menangis.

__ADS_1


"Siapa yang berani.." Gumam Xuan Chen sambil mengeraskan rahangnya.


"Dewa kegelapan" Feng'er menyahuti dari dalam.


Membuat ia semakin merasa tidak mengerti. "Apa? Bukankah beliau sudah meninggal karena berbuat jahat?"


Kemudian Heilong menjelaskan, "Itu benar, tapi dia meninggalkan racun pada tubuh ibunda. Racun itu tidak bisa disembuhkan dengan mudah. Karena dahulu, dialah sosok yang mendominasi dunia. Hanya ketika Bai Suyue dan Wu Yun bersatu, Dewa kegelapan bisa terkalahkan. Itupun di bantu dengan racun alam peri."


"Mengapa dia berbuat seperti itu?! Apa salah Bai Suyue?" Xuan Chen semakin penasaran sekaligus geram.


"Yang itu.. kami tidak tahu." Balas Feng'er dan Heilong secara bersamaan.


"Apakah ada yang bisa menekannya untuk sementara?"


"Jamur Lingzhi!" Seru Feng'er dan Heilong secara bersamaan.


"Menurut peri bunga Hua, racun yang berada dalam tubuh ibunda bersifat dingin. Sedangkan danau Lingzhi bersifat panas, maka hanya itulah yang bisa digunakan." Tambah Feng'er.


"Jamur Lingzhi?" Gumam Xuan Chen merasa agak asing dengan nama herbal spiritual itu. "Bagaimana aku bisa mendapatkannya?"


"Di ruang dimensi spiritual kita ada beberapa."


Membuat Xuan Chen berseru senang. "Bagus!"


"Tapi disini tidak ada tungku untuk membuat pil." keluh Heilong.


"Tenang saja, di akademi ada tungku yang bisa membuat pil dengan bahan yang tidak biasa. Dan aku tahu cara membuat pil. Aku yakin semuanya akan sama saja." Jelas Xuan Chen merasa yakin.


"Tapi tuan.." Nada Feng'er terdengar tidak setuju. "Pembuatan pil ini akan menghabiskan banyak energi spiritual. Kau belum mencapai tingkat kultivasi dewa. Takutnya..."


Ucapan Feng'er terpotong diudara karena kesengajaan Xuan Chen. "Apapun pasti akan kulakukan demi dirinya, Feng'er. Selama aku mampu, jangan menghalangiku."


"Sekarang, keluarlah dan bantu aku untung mengangkat Yi Changyin kebelakang punggungku."


.......


.......


.......


Akademi Tianjin.


Gerbang disana terlihat tentram seperti biasa. Tembok pembatas disana semakin gelap karena hari bergerak pada kegelapan. Dengan penjaga yang berbakat dalam senjata serta kultivasi setia berdiri siang malam.


Namun ketenangan mereka berubah menjadi kewaspadaan saat mendengar gesekan antara orang yang sedang berjalan dan tanah berumput.


Mereka mulai bersiaga dengan senjatanya, namun urung ketika melihat sosok pria berpakaian acak-acakan yang berlumuran darah, dan membawa seorang gadis tak sadarkan diri di punggungnya.


Mereka berdua sangat terkejut dan segera menghampiri Xuan Chen yang baru datang itu.


"Pangeran ketujuh, apa kau baik-baik saja?!" Ucap salah satu mereka dengan cemas.


Namun panggilan kedua pengawal itu membuat Xuan Chen terhenyak kaget. "Siapa yang kau panggil pangeran ketujuh?!"


"Ah, pangeran ketujuh.. aku akan membantu membawa orang pingsan ini." Yang satu lagi mulai mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Yi Changyin.


Yang langsung mendapatkan pelototan dari Xuan Chen. "Jangan sentuh istriku!"


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2