The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXIV- Penyelamatan Sang Dewi Rubah


__ADS_3

Ia terbelalak ketika sampai di pelukan Xuan Chen, demi mendapati sebagian besar dari panjang pedang itu sudah menembus punggung pria itu.


"Aku tidak melakukannya.. aku tidak melakukannya.." Dia mengulangi kata-kata seperti seseorang yang sudah kehilangan kewarasannya.


Detik berikutnya ia berteriak marah, mengarahkan segumpalan energi spiritual pada tempat dimana seseorang itu bersembunyi. Dan seseorang itu terkejut karena tak menyangka kalau Yi Changyin menyadarinya secepat itu. Padahal ia.. menggunakan sesuatu yang tidak bisa orang lain tembus.


Segumpalan energi spiritual itu berubah menjadi tali berwarna merah. Mengikatnya di batang bambu dengan erat. Hingga 'wanita' itu sama sekali tidak bisa melarikan diri.


'Sejak kapan akademi mengajarkan ilmu seperti ini?!' Pekiknya dalam hati. Dia merasa heran karena Yi Changyin berbeda dari biasanya.


Sementara di sisi lain, Yi Changyin memasuki ruang dimensi spiritual dengan Xuan Chen yang masih hidup di dalam pelukannya. Berbentrokan dengan Feng'er yang sedari tadi ingin keluar.


"Kau?!"


"Bunda?!"


"Untuk apa kau disini!!"


"Tuan mengunciku, entah kenapa. Tapi.." Dia baru tersadar dengan sesuatu yang berada di tubuh tuannya. Hingga terbelalak dan hampir menjerit.


"Dasar Phoenix manja! Cepat bawa dia ke paviliun!" Teriaknya kalang kabut.


Membuat dia cepat-cepat mengangguk dan memapah Xuan Chen yang hampir kehabisan nafasnya menuju paviliun. Sedangkan Yi Changyin lari terbirit-birit menuju Paviliun lebih dulu. Keadaan di ruang dimensi spiritual saat itu begitu sepi.. entah kemana penghuni yang lain.


Dan Yi Changyin tidak peduli akan hal itu. Dia langsung mengacak-acak rak buku dan gulungan mencari-cari sesuatu. Melemparkan apa yang bukan dia cari sembarang arah.


Sementara Feng'er sudah tiba dan meletakan Xuan Chen di atas kasur dengan posisi miring. Pria itu masih terbatuk-batuk dengan lemah. Berusaha hidup walaupun mungkin sudah tak bisa lagi.


"Feng'er cepat bantu aku mencari sesuatu!!" Teriaknya lagi.


Phoenix itu segera berlari tak bisa berlama-lama lagi dan langsung mencari sesuatu di rak buku sebrang Yi Changyin. Namun di tengah-tengah mencari dia tersadar akan sesuatu...


"Apa yang harus aku cari?!" Tanyanya setengah berteriak.


"Apa saja asal yang bisa mencegah seseorang untuk mati! Tuan mu yang dulu telah menciptakan tempat kecil ini, pasti dia memilik sesuatu bukan?!" Jawabnya sambil terus mencari-cari dengan cemas.


"Baiklah!"


Tak lama kemudian, tiba-tiba sesuatu yang merah bercahaya, berkedip-kedip di lengan mereka berdua. Mereka berhenti sejenak demi melihat bagian dalam tangannya, kemudian terbelalak. Mereka amat terkejut.


Jelas, itu adalah hubungan kontrak antara tuan dan hewan. Hanya karena ketika sang tuan mati, kontrak itu akan terputus dengan sendirinya. Dan darah Xuan Chen yang berada di tangan mereka berdua sudah memberi tanda-tanda akan menghilang.


Mereka terbelalak dan melihat ke arah Xuan Chen. Dan ternyata pria itu mencabut sendiri pedang yang bersemayam di tubuhnya. Feng'er hendak menuju ke sana, namun terhenti oleh teriakan Mak comblang Yi Changyin.


"Apa yang kau lakukan! Cepat cari sebisamu!!" Teriaknya sebelum akhirnya pergi menghampiri Xuan Chen. Dan Feng'er hanya bisa menurutinya.


.......


.......


.......


Sementara di sisi lain. Heilong, Xiaobai dan singa roh api berjalan menyusuri hutan gelap aneh dan penuh mistis. Tapi tak lupa dengan kalajengking hitam yang kini sudah berubah menjadi biru, berada di puncak kepala singa roh api.


"Aku tidak tahu mengapa tuan memutuskan semua komunikasi. Aku tidak bisa merasakan apapun darinya." Keluh Heilong sambil terus berjalan. "Apakah dia mengetahui kami pergi diam-diam lalu marah?"


Lantas Xiaobai menjawab, "kau tenang saja. Kita sedang dalam perjalan pulang. Karena ini adalah perintah nona Yi, tuan tidak akan marah. Benar bukan?" Pria itu mencoba menghibur Heilong.


"Benar juga.." Naga berwujud pria itu mengangguk.


Namun tak lama kemudian sinar merah berkedip-kedip muncul di lengan Heilong, kaki singa roh api dan capit kalajengking es . Bahkan itu terlihat oleh Xiaobai yang sama sekali tidak terikat kontrak dengan Xuan Chen.


Membuat mereka berdua terkejut bukan main.


"Gawat tuan dalam bahaya!!" Teriak Heilong.


.......


.......


.......


Yi Changyin segera meraih kepala Xuan Chen, meletakkannya dalam pelukan sambil menangis. "Bertahanlah.."

__ADS_1


Perlahan Xuan Chen membalas pelukannya, mengusap-usap punggung gadis itu. "Baik, aku akan tetap bertahan. Kau tenang saja."


Dan tangisan Yi Changyin semakin meledak. "Semua ini gara-gara perbuatanku. Tapi.. aku sungguh tak tahu mereka berencana untuk membunuhmu juga. Aku sungguh tidak tahu..." Tuturnya di sela-sela tangis.


"Apakah.. menghindari ku.. adalah.. bagian dari rencanamu?" Xuan Chen berkata terputus-putus.


Yi Changyin mengangguk pelan. Dia mulai mengambil sapu tangan dan mengelap darah yang terus-menerus Xuan Chen muntahkan. "Benar, aku selalu menyelidiki mereka tanpa ingin melibatkanmu. Dan aku juga mencari tahu kenapa tingkat kultivasi bintang dapat terasuki dengan mudah."


Kemudian Yi Changyin bercerita kalau dia melakukan penyelidikan ini di tengah malam. Menyelinap ke paviliun Zhishi dan mencari sesuatu di sana. Lalu pengetahuannya tentang beberapa jebakan Wei Qiao beserta teman-temannya.


"Tapi.. aku sungguh tidak tahu kalau.. kalau dia.. akan.."


"Sudahlah.." Pria itu meraih pipinya. "Ini bukan salahmu.."


"Bertahanlah, aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu." Ujar Yi Changyin dengan yakin.


Namun detik itu Xuan Chen memuntahkan seteguk darah.


"Xuan Chen!"


Yi Changyin segera membaringkan Xuan Chen di atas kasur. Dan tiba-tiba pria itu sudah tak sabarkan diri. Membuat jantungnya berpacu kencang dan hati yang cemas. Yi Changyin menangis sesegukan di sampingnya.


Namun ia sadar, semua itu hanya akan menyia-nyiakan waktu. Ia segera berdiri. Merentangkan kedua tangannya, membuat energi spiritual terkumpul dan menyelimuti tubuhnya. Perlahan di dalam mulutnya keluar bola-bola kecil berwarna putih bersinar seperti bintang. Membuat Feng'er yang melihatnya terbelalak.


'Ini adalah satu yang kecil dari ketujuh inti roh ku. Bukan yang paling besar, tapi setidaknya dapat mencegah kau untuk melepaskan jiwa dan rohmu.'


(Note : Makhluk abadi alam langit memiliki dua belas jiwa dan tujuh inti roh. Inti rohnya kecil seperti bola kelereng, namun diantara tujuh ada satu yang besar. Dan itu merupakan yang paling inti, sumber dari segalanya. Khusus makhluk abadi yaa~)


Kemudian bola kecil bersinar itu ia arahkan pada Xuan Chen. Masuk ke dalam mulutnya secara perlahan. Yang membuat Feng'er semakin menganga. Tubuh Xuan Chen bersinar sekilas, lalu kembali pudar. Namun matanya masih terpejam, wajahnya begitu pucat.


Setelah melepaskannya, Yi Changyin memuntahkan seteguk darah. Kini di tubuhnya hanya tersisa enam inti roh. Padahal dia seorang Dewi alam langit. Sungguh di sayangkan. Dan kehilangan satu inti roh bahaya kematian akan meningkatkan sepuluh persen. Jika yang paling besar menghilang, maka bahaya kematian akan hampir mencapai seratus persen.


Feng'er hendak menghampirinya, namun Yi Changyin segera mengangkat tangannya pertanda berhenti.


"Jangan banyak tingkah, cepat cari!" Membuat si Phoenix kembali berbalik dengan helaan nafas pasrah.


.......


.......


.......


Tapi kali ini mereka sudah pergi. Membuat ia berinisiatif untuk menghampiri tahanan milik Yi Changyin sambil mengenakan topengnya. Demi menyamarkan identitas yang bisa saja di lihat melalui wajah.


Walaupun wajahnya tertutupi topeng, tapi aura mengerikan itu terasa oleh seseorang yang berada dalam ikatan. Membuat dia yang tadinya bergerak berusaha melepaskan diri kini terdiam.


Aoyi Jinqi sudah berada selangkah di depannya. Membuat keringat dingin membanjiri wanita yang bertopeng perak itu. Dengan kesal Aoyi Jinqi membuka topengnya. Dan dia terbelalak demi melihat wajah wanita itu.


Namun dia mendengar langkah kaki dan aura tak biasa yang mendekat. Aoyi Jinqi segera memasangkan kembali topeng itu pada si wanita dan menghilang dari sana.


Tak lama kemudian, sosok Heilong, Xiaobai dan singa roh api muncul di balik gelapnya malam. Mereka tampak tergesa-gesa sambil tercengang melihat keadaan tempat yang pernah mengadakan upacara pernikahan itu hancur.


Namun sedetik kemudian, Heilong melihat simbol Phoenix dan Naga mengambang. Tentu di antara mereka hanya Xiaobai yang tidak melihatnya. Dan ia bisa masuk hanya karena memiliki darah binatang roh kuno.


"Itu dia!" Serunya yang membuat Xiaobai beserta yang lainnya berlarian kesana. Namun ketika ia akan ikut berlari, ia urung demi merasakan pergerakan di sisi sana.


Benar saja, dia melihat seorang wanita di ikat oleh tali yang dipenuhi energi spiritual kuat. Heilong menyedekapkan tangannya di atas dada. Menghampiri wanita itu dengan tatapan yang mengejek.


"Tahanan.. baik-baik di sini ya!" Ujarnya dengan nada yang mengejek. "Sangat di sayangkan, kau tidak akan mudah lepas jika terikat oleh matra alam peri!" Setelah tertawa kecil, ia berbalik pergi menyusul semua orang.


Wanita itu menggeram rendah dengan berbagai macam kutukan di hatinya, ketika Heilong menghilang dari udara kosong.


.......


.......


.......


Begitu masuk ke paviliun dalam ruang dimensi spiritual, Heilong amat terkejut melihat sang tuan yang terbaring lemah di atas kasur. Dengan bibir pucat dan penuh darah. Terutama di bagian dada. Xiaobai sedang sibuk membersihkan darah itu.


Lalu Feng'er dan Yi Changyin yang sedang sibuk mencari-cari sesuatu dengan wajah yang gelisah. Sedangkan singa roh api dan kalajengking es hanya diam menonton di dekat kasur.


"Ketemu!!" Tiba-tiba Feng'er berseru selagi Yi Changyin membaca fokus satu gulungan yang ada di tangannya.

__ADS_1


Yi Changyin segera melemparkan gulungan di tangannya dan merebut milik Feng'er. Membacanya seksama selagi Heilong menghampiri mereka berdua dengan tanda tanya besar di wajahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya pada Feng'er dengan suara yang sepelan mungkin karena tidak mau menganggu sang ibunda angkat. Atau ia akan terkena marah dan di maki-maki kalau dia sama sekali bukan anaknya. Bahkan tidak akan di akui.


Baru saja Feng'er mau menjelaskan, tiba-tiba...


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!! Ayo lakukan!!" Sergap Yi Changyin yang membuat semua orang terkejut.


Gadis itu sudah berjalan lebih dahulu menuju tempat tidur. Feng'er dan Heilong membuntutinya dari belakang.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya mereka berdua serempak.


Namun gadis itu semakin cepat berlalu. Membuat mereka harus mengikutinya dengan langkah yang cepat.


"Aku.." Kata-katanya tergantung ketika ia sampai di depan Xuan Chen. Yi Changyin memejamkan matanya, mengumpulkan keyakinan. "Aku akan menggunakan teknik darah sembilan ekor rubah untuk menghidupkannya kembali."


"Apa?!" Membuat Heilong dan Xiaobai terkejut. Begitupula dengan singa roh api dan kalajengking hitam. Terkecuali Feng'er, karena dialah yang menemukan gulungan itu.


"Tapi nona, teknik itu sangat berbahaya bagi tubuhmu." Tutur Xiaobai dengan cemas.


"Itu tidak akan membuat aku melayangkan nyawa bukan? Lagipula.. aku harus bertanggung jawab atas kejadian ini." Jawab Yi Changyin dengan yakin.


"Ibunda, tadi kau sudah memberikan satu inti roh kecil untuk menahan jiwanya keluar. Apakah mampu?" Tanya Feng'er dengan. suara yang pelan.


"Apa kau bilang?!" Heilong melotot. "Ibunda ini.."


"Jangan banyak bicara!" Bentaknya yang membuat semua orang terdiam seribu bahasa. "Aku minta kalian suntikan energi spiritual padaku selagi menggunakan teknik itu." Tambahnya.


Feng'er, Heilong dan Xiaobai saling melirik satu sama lain. Jelas mereka tidak setuju. Teknik itu akan menggunakan hampir dua puluh lima persen dari seluruh darah pada ekor Yi Changyin. Sementara butuh sembilan ekor untuk itu.


Percayalah, darah yang tersedot akan terasa sakit. Seperti pernah mati sekali. Apalagi jika harus memotong ekornya. Tapi untung saja Yi Changyin masih waras akan hal ini.


Dalam legenda, tubuh Dewa Dewi Rubah ekor sembilan memang bisa di jadikan obat. Namun hal itu di tutupi jutaan tahun silam karena tak ingin ada pertumpahan darah karena itu. Hanya segelintir orang yang dapat mengetahuinya.


"Pikirkan sekali lagi, ibunda." Ujar Heilong cemas.


"Nyawa Xuan Chen lebih berharga dari apapun yang ada di tubuhku ini. Jadi.. CEPAT BANTU AKU!!"


Ia berteriak di akhir kalimatnya, membuat semua orang terkejut. Mereka pikir akan ada kalimat-kalimat menyedihkan, tapi nyatanya begitu mengagetkan.


Detik berikutnya mereka mulai membentuk formasi. Yi Changyin berada di depan kasur. Sementara Feng'er, Heilong dan Xiaobai berdiri di belakangnya dengan jarak yang renggang.


Mereka bertiga mulai menyuntikkan energi spiritual masing-masing selagi Yi Changyin membentuk formasi rumit di tangannya. Dia terlihat begitu serius, sambil membayangkan kesembuhan Xuan Chen. Juga membayangkan kehancuran musuh-musuh yang selalu menanggungnya.


Kesembilan ekor berwarna putih bersih dan berbulu halus itu sudah berkibar-kibar di bokongnya. Kemudian ia merentangkan tangannya, mengangkatnya perlahan. Seperti membawa bobot yang begitu berat.


Namun masing-masing dari kesembilan ekornya perlahan mengalir banyak darah, berlalu ke depan dada Yi Changyin. Membuat gadis itu mengenyitkan dahi, meringgis dan menahan sakitnya mati-matian. Dan ketiga orang yang berada di belakangnya langsung memberikan asupan energi spiritual yang lebih besar.


Bibir Yi Changyin sudah memucat ketika darah itu sudah terkumpul. Ia mengganti formasi sihir mengelilingi darah yang perlahan-lahan menggumpal menjadi benda aneh itu.


Kemudian pelan-pelan dia arahkan pada Xuan Chen. Walaupun kelihatannya mudah, tapi sebenarnya ia sangat kesulitan mendorong. Untung saja banyak yang membantu. Atau darah yang gagal terdorong akan tumpah sia-sia. Untung saja dia cepat tanggap untuk menangkap semua tatacara dalam gulungan itu.


Setelah darah itu berhasil masuk ke dalam luka Xuan Chen, Yi Changyin sedikit terpental kebelakang. Begitupun dengan Feng'er, Heilong dan Xiaobai.


Saat itu Yi Changyin ambruk ke atas lantai. Dia meringgis di sana dengan wajah yang pias dan bibir yang pucat. Heilong segera berinisiatif untuk meletakkan tubuh ibunda angkatnya ke dalam pelukan. Lalu di kerumuni oleh semua yang yang berwajah sendu. Bahkan singa roh api dan kalajengking hitam terlihat seperti seseorang yang akan menangis.


"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" Tanya Feng'er setengah berbisik.


"Antarkan aku untuk berendam di air kolam spiritual. Setelah itu...," Yi Changyin menarik bibirnya, tersenyum miring. "Kita akan kembali pada rencana awal, menghancurkan lawan!" Bahkan dia sempat tertawa kecil sebelum akhirnya jatuh pingsan.


.......


.......


.......


Info :


Jangan lupa mampir novel modern campur fantasi pertama author,


Beautiful In The Storm


Setelah otak mandet di novel pertama, munculah berbagai ide baru untuk novel ketiga, wkwk:v

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2