
(Untilted : Tidak berjudul) Ya, author bingung mau kasih judul apa:D
.......
.......
.......
Gaoqing Dijun membulatkan matanya saat menatap Qi Xiangma yang masih bertekuk lutut. Namun sedetik kemudian dia mendengus dan tersenyum miris.
"Apakah kau tidak bisa memecahkannya?!" Cerca Gaoqing Dijun sambil memukul meja dengan keras. Wajahnya terlihat menyeramkan yang membuat Qi Xiangma semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
"Formasi.. formasi itu terlalu kuat, Dijun." Qi Xiangma berkata dengan terbata. Apalagi ketika aura Dewa tertinggi menguar memenuhi setiap volume udara dalam ruangan.
Gaoqing Dijun tak lagi berbicara, hanya auranya saja yang menyiratkan kemarahan dan berbagai makian.
"Aku.. aku.. sudah mencoba berkali-kali.." Qi Xiangma kembali berusaha menjelaskan.
"Tapi.. formasi itu benar-benar kuat dan tidak bisa di pecahkan.." Tambahnya sambil membayangkan betapa susahnya ia berusaha membuat formasi menjadi retak dan hancur. Sampai-sampai terpelanting berkali-kali dan memuntahkan seteguk darah.
Tapi Gaoqing Dijun tidak akan pernah mengerti. Apalagi mempercayai.
Aura menyeramkan itu sudah padam. Membuat Qi Xiangma kini bernafas lega. Tapi ekspresi Gaoqing Dijun masih tidak baik untuk di lihat.
"Kau pergi jemput Qi Zhongma, aku akan memeriksa apakah yang di katakanmu benar atau tidak."
"Baik, Dijun.." Setelah itu Qi Zhongma menghilang di udara kosong, pergi untuk menjemput saudaranya secara paksa. Tanpa memperdulikan status mereka lagi sebagai murid akademi Tianjin.
Sementara itu Gaoqing Dijun mulai berdiri. "Yutong, ikut denganku.."
"Baik, Dijun.." Pria serba hitam dan bertopeng itu mengangguk. Mulai bergegas mengikuti langkah atasannya. Meninggalkan kediaman istana, menuju tempat yang di maksudkan oleh Qi Xiangma.
.......
.......
.......
Di sisi lain, di hutan yang gelap. Xuan Chen masih berjalan mengukur jalan sambil menggendong Yi Changyin di punggungnya. Gadis itu sudah berkali-kali terkantuk dan hampir jatuh.
Xuan Chen sangat khawatir dan menyuruhnya untuk beristirahat di ruang dimensi spiritual. Tapi Yi Changyin bersikukuh untuk terus menemaninya menuju akademi.
"Yin'er?" Panggilnya memastikan.
Namun tidak ada jawaban dari belakang. Hanya deru nafas teratur yang terdengar olehnya. Pertanda gadis itu sudah terlelap tanpa berfikir ia akan menjadi beban nyata bagi Xuan Chen.
Sementara ia tidak mengeluh sekalipun. Membiarkan gadis itu nyaman di belakang punggungnya. Walaupun jelas terasa bobot tubuhnya mungil yang berat ini, ia tak peduli.
Baginya, ini adalah detik-detik berharga dalam hidupnya. Menghabiskan dengan satu-satunya orang yang di cintai. Ditemani dengan kunang-kunang yang kadang kali mengelilinginya. Memberikan kesan tersendiri yang tak bisa dilupakan. Ya, sangat indah..
Jika bisa meminta.. ia berharap waktu akan berhenti di detik ini saja. Waktu di saat keheningan melanda dan mendengarkan setiap deru nafas yang tenang. Jantung yang berdetak dan tubuh mungil yang tersampai di belakang punggungnya.
Berhenti di sini saja, tanpa harus kembali berjalan yang pastinya akan mengarah pada masalah baru. Yang membuat saat-saat seperti ini akan sulit di dapatkan.
Bersama gadis yang terkadang lembut, kasar, serius, keras kepala, manja dan sebagainya. Gadis penuh perjuangan yang memiliki luka dalam besar di tubuhnya. Ia merasa bodoh, tidak tahu luka akibat apa yang berada di tubuhnya, apalagi tidak sama sekali berusaha untuk menyembuhkannya.
Tapi ia berjanji akan mencari tahu!
Jika luka itu karena dirinya, Xuan Chen benar-benar hanya berharap waktu bisa berputar dan kembali dimana saat hari pertama bertemu dengannya. Seharusnya hari itu dia tidak ikut dengan kedua adiknya ke pasar kota, mungkin tidak akan bertemu.. lalu menyusahkan gadis itu.
Sudahlah.. ia justru terlalu bahagia selepas bertemu dengannya. Menjadikan hari abu-abunya menjadi berwarna. Menjadikan...
"Xuan Chenku yang tampan hihii!"
Ia tersentak ketika mendengar gadis itu mengigau. Bahkan sampai memukul-mukul dadanya dan terus cekikikan sendiri. Tak lama kemudian gadis itu kembali terlelap. Masih dengan seulas senyum yang perlahan memudar.
Sempat tertegun, akhirnya ia tertawa. Gadis ini sangat lucu.
Namun tanpa di ketahui olehnya, Yi Changyin telah membuka mata, terbangun dari tidurnya. Dan melihat mereka masih berada di hutan yang gelap.
"Turunkan aku.." Gumamnya serak.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?" Xuan Chen terlebih dulu memastikan.
Setelah Yi Changyin mengangguk, barulah ia menurunkan gadis itu perlahan. Namun masih terlalu mengantuk, Yi Changyin kembali jatuh ke dalam pelukannya.
Namun tangannya masih sanggup mengeluarkan batu teleportasi yang di berikan kakek bulan. "Gunakan ini.." Katanya dengan serak.
Xuan Chen mengangguk dan meraih batu itu. Mengangkat tubuh Yi Changyin ke dalam pangkuannya. Langsung menghilang ketika membacakan sesuatu yang samar. Kembali muncul di kamar asrama tempat Yi Changyin tidur.
Dengan dua kasur bersebrangan dan dua kasur lagi berderet berhadapan dengan pembatas ruangan. Yang sudah terisi oleh para wanita.
Xuan Chen menuju kasur di sebelah kiri ruangan. Meletakkan gadis itu di atas kasur dalam posisi terduduk dengan lembut. Kemudian mencium keningnya kekilas.
"Jika masih mengantuk, tidurlah.." Gumamnya yang di angguki oleh Yi Changyin. Sejurus kemudian wajahnya mereka maju untuk saling menyentuh, namun..
"Astaga.. sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki ponakan."
Suara Yi Xuemei sontak membuat mereka terkejut. Langsung tertuju pada kasur di sebrang sana dan langsung menyuguhkan pemandangan Yi Xuemei yang sedang menatap mereka dengan senyuman mengejek.
Namun sejurus kemudian Yi Changyin dan Xuan Chen hanya meringgis malu.
.......
.......
.......
Setelah mengantarkan Yi Changyin, kini Xuan Chen kembali ke asramanya sendiri menggunakan teleportasi. Namun baru saja ia hendak membuka pintu, sekelebat bayangan putih berhasil menarik perhatiannya.
Dengan waspada ia menoleh dan melihat bayangan putih itu meloncat ke atas atap kamar asrama yang berada di sebrang dengan cepat.
"Siapa di sana?!" Seru Xuan Chen yang membuat seseorang itu menoleh.
Namun saat Xuan Chen mengejarnya ke atas atap, sosok putih itu sudah menghilang tanpa sisa. Bahkan tak terlihat di manapun, walaupun memantau dari atas. Xuan Chen berusaha menggunakan instingnya untuk mencari, tapi tidak ada jejak sekalipun.
Ia menghela nafas karena tak menemukan petunjuk lagi. Akhirnya Xuan Chen memutuskan untuk kembali turun menuju asramanya. Dan berharap hal itu tidak menyebabkan masalah.
Xuan Chen Merebahkan diri di atas kasur dengan mata yang melotot. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Karena sudah cukup tertidur pulas di ruang dimensi spiritual.
.......
.......
.......
Pagi harinya, akademi di hebohkan dengan kehilangan tiga murid sekaligus dalam satu malam. Yang tak lain dan tak bukan adalah Wei Qiao, Qi Xiangma dan Qi Zhongma.
Dari kabar para guru, mereka menghilang tanpa jejak yang jelas. Semua samar bahkan nyaris tak terlihat. Membuat kelas di liburkan dan semua orang sibuk mencari mereka bertiga.
Kini semua orang ribut mencari mereka bertiga ke hutan.
"Tak ku sangka akan seperti ini, sialan Wei Qiao!" Umpat Yi Changyin miris sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Yi Xuemei.
"Maksudmu?!" Yi Xuemei tampak terkejut karena mungkin telah menebak secuil kemungkinan dari kata-kata Yi Changyin yang terdapat beribu alasan.
Kini mereka sedang berada di tengah hutan demi berpartisipasi untuk mencari ketiganya. Aih membosankan!
Tapi ini adalah hal wajar. Bagi Yi Changyin mereka yaitu Wei Qiao, Qi Xiangma dan Qi Zhongma adalah orang-orang kurang ajar yang harus ditendang keluar. Namun bagi para guru dan teman-teman yang tidak tahu menahu, mereka adalah murid akademi Tianjin. Tanggung jawab semua orang.
Yi Changyin menatap kakaknya dengan senyuman manis. Membuat Yi Xuemei bergidik ngeri dan menunjuk adiknya.
"Kau.. yang.. melakukannya?" Tanyanya setengah berbisik.
Yi Changyin hanya menaikkan kedua bahunya. "Tidak semua." Jawabnya enteng yang membuat kakaknya terbelalak.
"Rubah kecil kita sudah semakin berani." Shen Lan yang berada di atas pohon turut menimpali. Ia tak terkejut sama sekali karena sudah menebak semua ini dari awal.
Dimulai dari menghilangnya Xuan Chen semalaman. Dan dengan susah payah ia menjelaskan pada teman-teman sekamarnya kalau Xuan Chen sedang berkultivasi di cincin ruangnya.
Karena tidak mungkin ia harus mengatakan ruang dimensi spiritual. Yang sering di bahas tetua Ling Zhao ketika pelajaran. Atau mereka akan semakin tidak percaya.
Begitupula dengan Yi Xuemei. Mengatakan hal yang sama seperti Shen Lan pada teman-teman sekamarnya.
__ADS_1
Untung saja mereka semua percaya.
"Apa yang terjadi semalam?" Tanya Shen Lan.
"Itu panjang.." Kemudian Yi Changyin menceritakan seluk beluk kejadian semalam. Tapi ia belum memberitahu kalau Xuan Chen sempat mati suri disana. Hanya mengatakan kalau dia terluka sedikit.
"Jadi kau tidak tahu tentang Qi Zhongma?" Tanya Yi Xuemei setelah Yi Changyin menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Yi Changyin menggeleng.
"Tunggu, Yi Changyin.. aku dapat mendeteksi kebohonganmu." Tiba-tiba Shen Lan bertanya dengan mata yang menyelidik, membuat ia meringgis malu.
"Apakah semua yang di katakan Yi Changyin adalah kebohongan?" Yi Xuemei membulatkan matanya.
"Tidak!" Shen Lan menepis praduga buruk Yi Xuemei. "Tapi hanya mengenai luka kecil Xuan Chen.."
Membuat Yi Changyin menelan slivanya susah payah.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Shen Lan mendesak ia hingga berkeringat dingin.
Tidak mungkin ia harus mengatakan tentang Xuan Chen dan cara mengobatinya. TIDAKK!!
Shen Lan kembali mendesak, "sikapmu menunjukkan kalau.."
"Ya! Ya! Benar!" Ralat Yi Changyin tidak sabar. "Benar, Xuan Chen tertusuk pedang dan hampir mati.."
"Bagaimana kau bisa mengobatinya hingga menjadi sehat bugar seperti itu?!" Bentak Shen Lan yang membuat Yi Changyin tersentak kaget. Namun Yi Xuemei masih mengkerut tidak mengerti.
"Itu.. itu.." Yi Changyin menggigit bibirnya. Ia tidak mau mengatakan hal itu tapi..
"Tunggu!" Yi Xuemei menyadari sesuatu. "Jangan bilang kalau kau menggunakan..."
"Ya aku menggunakan itu!!" Ralat Yi Changyin lagi dengan frustasi.
Membuat Yi Xuemei semakin terkejut dan Shen Lan yang mengelus dadanya dengan sabar.
Perlakuan Yi Changyin kali ini benar-benar menguras emosinya!
Dan gadis itu sangat pintar menyembunyikan lukanya!
Yi Changyin hanya menunduk takut dan mulai terisak. Tanpa berkata-kata lagi, Shen Lan bergegas meninggalkannya sambil menarik pakaian Yi Xuemei. Dan mereka berdua telah pergi dalam keheningan yang mengartikan amarah.
Mereka berdua marah.. dan kecewa.
Air mata yang membeludak tak bisa terbendung lagi. Entah kenapa ia merasa sakit saat Shen Lan bersikap dingin padanya. Hanya karena pria itu mengkhawatirkan keadaannya. Semua ini salahnya.. dan ia hanya bisa menangisi keadaan di bawah pohon yang rindang.
Saat-saat seperti ini lebih perih dari kulit yang tersayat-sayat oleh pedang. Karena bagaimanapun Shen Lan adalah Keluarganya.. pria yang selalu berada di sisinya sejak kecil.
Melihatnya marah karena kelakuan dia sendiri, membuat Yi Changyin merasa sakit dan bersalah.
Dan dari kejauhan Xuan Chen terenyuh melihat Yi Changyin menangis di bawah pohon. Hatinya turut merasa sakit melihat hal itu. Dia tidak tahu alasannya karena barusan pergi mengambil serantang makanan untuk gadisnya itu.
Ia segera berlari dan berjongkok di hadapannya, meletakkan rantang itu kesembarang arah. Mengapit kedua pipinya dengan tatapan cemas.
"Yin'er, siapa yang melukaimu?" Suaranya begitu lembut.. namun masih bisa menyayat-nyayat hati Yi Changyin.
Yi Changyin menggeleng rendah dan mulai menenggelamkan kepalanya di dalam pelukan Xuan Chen. Barulah ia merasa lebih tenang dan nyaman.
Dan Xuan Chen tidak lagi bertanya, ia hanya sibuk mengelus-elus punggungnya sambil sesekali mencium puncak kepala. Berupaya untuk menenangkan gadisnya.
Dalam hati Yi Changyin menjawab pertanyaan Xuan Chen tadi, 'Akulah.. aku yang melukai diriku sendiri.. dan, melukai orang-orang terdekatku..'
.
.
.
Readers, ada yang penasaran apa yang bakal di lakuin Gaoqing Dijun? Gabakal author kasih tahu sih, soalnya bakal muncul ketika konflik yang masih berhubungan ini mencapai klimaks. Dan sekarang yang di munculnya hanya secuil saja (nanti ada deh), yang mungkin bisa kalian tebak apa yang akan terjadi.
karena ini adalah RAHASIAA
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉